
Zayn begitu serius bicara di telepon, sesekali Ibra menoleh nya. Penasaran dengan obrolan Zayn, usai bicara di telepon Zayn mendekati Ibra.
"Ada apa serius banget?" tanya Ibra langsung tanpa harus menunggu Zayn bicara sendiri.
Zayn menatap tajam ke arah Ibra yang tampak penasaran menunggu jawaban darinya.
"Menunggu ya?" tanya Zayn sambil nyengir.
Ibra yang sedikit tegang, melempar ballpoint nya pada Zayn. "Nggak lucu kau."
"Siapa bilang aku badut?" mengembalikan benda yang Ibra lempar barusan. "Itu, sidang berjalan lancar. Dan kemungkinan besar tidak akan membutuhkan waktu lama ke sampai selesai itu," ujar Zayn.
"Oh ... baguslah." Ibra kembali membuka lembaran kertas yang di meja. Akhirnya berkurang satu yang jadi benalu dalam rumahnya.
Ibra menghela napas panjang lalu ia hembuskan secara perlahan. Tinggal memikirkan kedepannya gimana, dalam pikiran Ibra dia tak akan pernah melepaskan Laras bagaimana pun nantinya. Apalagi sekarang dia sedang mengandung dari benihnya, jadi Ibra akan sekuat tenaga untuk mempertahankan Laras.
****
Tengah hari yang sangat terik. Laras meminta Susi membuatkan rujak buah muda yang langsung dari pohonnya, tapi justru Laras minta Ibra lah yang memetiknya, langsung dari pohon samping rumah.
Susi kebingungan. "Tapi ... Nyonya, tuan masih di kantor, Susi aja yang petik ya? atau Susi suruh tukang kebun."
"Nggak-nggak Sus, aku maunya tuan yang memetiknya, gak mau yang lain." Laras menggeleng. Hatinya kekeh ingin buah muda yang di petik oleh suaminya, namun ia enggan bicara dan memintanya pada Ibra.
"Baiklah, nanti saja bikin rujaknya kalau tuan sudah pulang, sekarang Susi mau menyiapkan makan siang dulu. Susi permisi Nyonya muda." Susi memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Laras, yang bersiap untuk turun menyambut kepulangan Ibra.
Susi bergegas ke tempat masak, di sana bu Rika sedang sibuk membantu menata masakan di meja. Susi menghampiri bu Rika. "Bu. Nyonya muda minta dibikinin rujak buah muda."
Bu Rika menoleh pada Susi yang langsung turun tangan membantu asisten lainnya. "Ya ... bikinin dong Sus. buah muda tinggal metik di belakang." Menatap Susi yang mengelap sendok dengan tisu.
"Nah ... justru itu masalahnya," ungkap Susi.
"Masalah apa?" bu Rika tidak mengerti. "Kalau buah muda nya gak ada sih gak mungkin, kemarin saya lihat sangat lebat kok."
"Bukan itu. Bu Rika masalahnya." Jawab Susi.
"Apa dong?" bu Rika tambah bingung.
"Nyonya, mau buahnya hasil metik tuan sendiri, gak mau Susi ataupun tukang kebun, yang ngambilnya." Susi menjelaskan.
"Oh, gampang. Tinggal ngomong saja sama tuan, nanti juga tuan pasti ambilkan," bu Rika yakin.
"Tapi, kan Bu? tuan gak ada waktu."
"Harus!" penekanan bu Rika.
Susi terdiam, setelah bu Rika bicara begitu.
Laras sudah di lobby menunggu kedatangan seorang Malik Ibrahim, ia duduk santai di sana. "Aduh, kok berasa sudah di lidah nih makan rujak, air liur sudah mengumpul di tenggorokan," gumam Laras.
Bu Rika menghampiri Laras yang sedang melamun. "Nyonya muda, anda mau rujak buah muda bukan? saya bikinkan ya?" menawarkan diri.
"Kalau sambalnya boleh siapa aja yang bikin. Tapi ... buahnya pengen tuan yang petik," ucap Laras.
__ADS_1
"Em ... sudah bilang sama tuan?" tanya bu Rika kembali.
Laras menggeleng. "Belum, gak berani. Bu." Laras nyengir.
"Halah ... gak berani ... sama suami kok nggak berani? sebaiknya Nyonya muda harus berani sama tuan, apalagi menyangkut kehamilan. Harus berani Nyonya." Sambung bu Rika kembali.
"He ... he ... he ... malu. Bu."
Bu Rika menggeleng. Iringan mobil mewah masuk pekarangan, yang diantaranya mobil yang di kendarai Ibra. Dia keluar dari mobil, berjalan menuju lobby, penuh dengan kharisma di ikuti oleh asisten pribadinya. Siapa lagi kalau bukan Zayn. Asisten setia.
Laras berdiri menyambut kedatangan sang suami, meraih tangan dan menciumnya seperti biasa. "Tuan mau mandi dulu apa langsung ke ruang makan?" tanya Laras.
Ibra memandangi Laras sangat lekat pengen cium kening tapi gengsi.
Bahu Zayn menyenggol bahu Ibra. "Di mana-mana, kalau istri mencium tangan suami itu, balas dengan kecupan di kening. Di pipi ke atau juga di bibir ke, kan enak di lihatnya bukan bengong gitu."
Ibra menarik sudut bibirnya tersenyum. "Dasar kau nimbrung aja."
Laras tersipu malu, begitupun bu Rika mesem-mesem.
"Tuan, Nyonya muda ingin rujak buah muda, tapi buahnya ingin Tuan yang petik dari pohonnya langsung." Bu Rika dengan berani bilang keinginan Laras.
Ibra menatap ke arah Laras yang menunduk. "Emang gak bisa suruh orang untuk memetiknya? gak harus nunggu saya." tanya Ibra pada bu Rika.
"Tuan, mungkin ini bawaan orok," sahut bu Rika.
Ibra diam sebentar. Kemudian membalikkan badan mengayunkan langkahnya ke luar mension, bergegas menuju kebun buah. Diikuti oleh Zayn dari belakang.
Laras bengong melihat kepergian Ibra bersama Zayn, bu Rika mengajak Laras untuk naik ke lantai atas. "Sebaiknya kita naik saja Nyonya, nanti juga tuan akan segera kembali membawa yang Nyonya mau."
"Ini, buahnya." Ibra memberikan pada bu Rika.
Mata Laras memandangi buah yang ada di tangan bu Rika, rasanya sudah tak sabar ingin segera mencicipinya.
"Saya mau mandi dulu, siapkan semua keperluan saya," ucap Ibra pada Laras yang begitu antusias melihat buah muda.
Netra mata Laras bergerak melihat Ibra. "Iya. Tuan." Laras segera mengikuti langkah Ibra yang bergegas menuju kamarnya.
Langkah Ibra terhenti dan menoleh ke arah Laras, setelah Laras berada dekat. Ibra membimbing Laras masuk lift. "Lain kali ... kalau siang, kamu cukup menunggu di kamar pribadi saya, nggak usah menunggu di lobby atau teras. Nanti kamu kecapean, Nona. siapkan saja keperluan saya di kamar."
"I-iya. Tuan."
"Apa? ulangi lagi, saya bilang panggil saya--"
"Abang," suara Laras memotong perkataan Ibra.
"Nah ... itu kau tau. Kalau kamu panggil saya Tuan, kesannya saya ini ... majikan kamu. Bukan suami kamu," sambung Ibra menatap lekat wajah Laras.
Laras menunduk, tidak sanggup membalas tatapan mata Ibra yang bikin jantung Laras berdegup lebih dari normal. Tangan Ibra mengelus pipi Laras yang halus, tatapan Ibra semakin lekat.
Seer ... pintu lift terbuka membuat mata ibra bergerak dan langkahnya melintasi pintu lift, tangannya menuntun lengan Laras menuju kamar pribadi Ibra.
Sesampainya di kamar. Ibra langsung membuka jasnya ia simpan di sofa, kemudian Laras menyiapkan air di bathub. Kemudian mengambil pakaian Ibra di wardrobe.
__ADS_1
Ibra bergegas masuk kamar mandi, untuk bersih-bersih. badan tambah lengket, habis dari kebun buah juga, ngambil buah buat yang ngidam.
Laras duduk di sofa, menunggu Ibra yang lagi mandi. Tidak lama ibra muncul dari balik pintu kamar mandi, bergegas mengenakan pakaiannya, menyemprotkan minyak wangi sampai menyeruak di setiap sudut ruang. Laras begitu nyaman menghirup wanginya minyak wangi milik Ibra. "Em ... wanginya," kelopak mata Laras tertutup, pas buka mata ia terkesiap sebab Ibra sudah berdiri depan Laras.
Ibra melihat jam yang melingkar di tangannya. "Yu, sudah terlambat nih. Semua pasti sudah menunggu."
Laras beranjak mengikuti langkah Ibra yang lebih dulu berjalan menuju tempat makan.
Sesampainya di ruang makan, semua sudah menunggu dan siap untuk makan siang, usai kedatangan Ibra. Makan siang pun di mulai. Ibra menyuruh Laras untuk makan namun Laras menggeleng, setelah mengambil makan buat Ibra. Laras hanya diam memperhatikan Ibra makan, ia sendiri lebih tergoda buah muda dan berharap Susi sudah membuatkan sambalnya.
"Kenapa tidak makan?" tanya Ibra menoleh Laras yang bengong.
"Tidak berselera."
"Makan dulu, bukannya mau makan rujak? makan terlebih dahulu, takutnya nanti kena lambung, lebih berabe." Bujuk Ibra setengah berbisik.
"Tapi, tidak mau makan." Laras kekeh.
Ibra menyendokkan nasi beserta sayurnya, ia sodorkan ke mulut Laras. "Aa ... buka mulut mu?" ucapnya penuh penekanan.
Laras menatap Ibra kemudian melihat semua rekan Ibra yang sedang makan, kembali menatap Ibra dan akhirnya ia membuka mulut. Mengunyah hasil suapan Ibra. "Em ... enak sih, tapi enek. Bikin mual." Laras menutup mulutnya dan berlari ke toilet.
Mata Ibra menatap punggung Laras, yang lain pun melihat kepergian Laras. "Silakan lanjutkan makannya, saya tinggal dulu!"
Ibra mengikuti Laras ke toilet. Oo ... oo ... memuntahkan isi perutnya, sampai ke air-airnya yang terasa getir di lidah, perutnya masih terasa enek dan naik ke atas. Oo ... oo ... memuntahkan lagi.
Laras merasa ada yang memijat pundaknya dari belakang, ia mengangkat wajahnya dan melihat pantulan wajah Ibra di cermin, berdiri di belakang Laras. Lantas Ibra mengoleskan minyak angin ke pundaknya. "Sudah belum muntahnya?" tanyanya dengan lirih.
Laras mengangguk sambil membasuh mulut dan juga wajahnya.
"Sus, mana minumnya?" ucap Ibra pada Susi yang langsung memberikan air putih pada Ibra.
"Minum dulu," lagi-lagi Ibra langsung memberi minum Laras dari tangannya langsung.
"Tisu juga," pinta Ibra lagi pada Susi. Susi pun dengan sigap memberikan yang majikannya minta.
Tangan Ibra mengelap bibir Laras dengan tisu. "Mau langsung ke kamar atau--"
"Aku mau ke ruang makan lagi, Sus. Sudah bikin belum sambalnya? pengen makan rujak, sudah tidak sabar nih." Laras melihat Ibra dan Susi bergantian.
"Sudah siap. Nyonya," sahut Susi.
"Baiklah." Ibra membuang tisu bekas melap bibir Laras ke tong sampah.
Ibra menuntun Laras ke meja makan, Susi mengekor dari belakang sambil senyum-senyum sendiri. "So sweet nya tuan sama Nyonya."
Di meja sudah kosong, rekan-rekan Ibra sudah pada balik ke kantor yang ada cuma Zayn yang sibuk dengan ponselnya, dan asisten yang sedang beres-beres.
Susi langsung menyajikan rujak permintaan Laras. Laras pun langsung melahapnya, entah kenapa Ibra pun ikut mencicipinya, padahal mana suka Ibra sama yang asam-asam. Paling anti dia.
Dari tangga sedang berjalan menuju ruang makan dengan wajah sumringah. "Sayang ... kami datang ...."
,,,,
__ADS_1
Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.