Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Persis wanita ngidam


__ADS_3

Dian kaget, melihat Ibra muntah. "Kenapa sayang?" wajah Dian cemas dan mendekati ke arah suaminya.


Tangan Ibra di angkat memberi kode agar Dian tidak mendekat. "Jangan-jangan mendekat," suara berat Ibra sambil kembali duduk di bibir bathtub.


Dian merasa aneh dan cemas. "Kenapa sayang? ada apa?"


Ibra mengibas-ngibaskan tangan depan hidungnya. Merasa bau dengan aroma tubuhnya Dian yang sebenarnya wangi, namun entah kenapa beda dengan penciuman hidungnya. "Kenapa kau bau sekali?" tanya Ibra menatap ke arah Dian.


"Bau apa?" tanya Dian tidak mengerti maksud Ibra, maju selangkah namun lagi-lagi Ibra melarang.


"Tubuh mu bau, aku gak kuat!" Oo ... oo ... Ibra berjongkok dan muntah lagi.


"Aku gak ngerti, bau apa? tubuh ku wangi begini. Kau bilang bau, kan aneh?" sambil mendengus mencium napasnya sendiri dan aroma tubuh yang menurut dirinya wangi itu.


"Tapi aku mencium bau sekali." Ibra membasuh mulutnya.


Dian menggeleng, sungguh tidak mengerti dengan semua ini. Dengan rasa kecewa dalam hatinya, sesak memenuhi hatinya. Kemudian ia melucuti pakaiannya dan memencet tombol shower, ia berdiri di bawah air shower yang hangat, memberi body wash dan menggosok seluruh tubuhnya supaya bersih dan wangi.


Ibra sendiri berendam di bathub. Dengan pikiran melayang, kenapa Dian bau? sementara Dian tidak pernah sekalipun tanpa menggunakan minyak wangi, dia selalu wangi dan segar. Tapi kali ini sungguh berbeda.


Dian sudah selesai mandi, meraih jubah handuk, bergegas keluar untuk mengganti pakaian. Selepas mengenakan gaun malam yang baru, Dian berdandan dan menyemprotkan minya wangi ke seluruh tubuh dan lekuk-lekuknya. "Hem ... wangi," gumamnya. sambil mendengus betapa aroma wangi keluar dari tubuh seksi itu, melirik ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Dan Ibra masih betah berada di sana.


Dengan jalan menggoda Dian menghampiri sang suami yang rupanya sudah mengenakan handuk, berdiri di depan cermin.


Dian segera mendekapnya dari belakang. "Sayang ... aku dah mandi lagi, dah mandi dan pastinya sudah wangi gini," menempelkan pipi di punggung sang suami. Tangan nakal Dian tidak ragu meraba sesuatu milik Ibra di balik handuk.


Ibra melepas rangkulan tangan Dian, seraya berkata. "Aku mau pakai baju dulu, kedinginan nih," sambil mendengus, di hidungnya masih saja menempel bau tidak sedap, dari arah Dian.


Ibra mencari pakaian dan segera memakainya, bercermin menyisir rambut juga tidak lupa memakaikan minyak wangi ke tubuhnya.


Melihat Ibra sudah rapi, Dian kembali mendekati sang suami yang kini duduk di tepi tempat tidur. Ia duduk di pangkuan Ibra dan merangkul lehernya mesra.


Ibra membuka rangkulan tangan Dian yang melingkar di lehernya. "Lepas, tubuhmu masih bau. Aku gak kuat."

__ADS_1


Dian berdiri dari pangkuan Ibra sambil menatap tajam ke arah Ibra. "Maksud kamu apa sih sayang? kamu tahu. Kalau aku sudah mandi dan wangi gini kamu bilang bau? jangan gila deh, sayang. Aku berharap, kita di sini bukan cuma urusan kerja saja, tapi juga untuk hanymoon, tapi ... belum juga kita merasakannya di sini." Keluh Dian.


Ibra hanya Diam tak merespon perkataan Dian.


Wajah Dian lesu. Namun ia tidak putus asa dengan penolakan Ibra, Dian mendorong dada Ibra sehingga terdorong ke belakang. Langsung Dian menindihnya.


Ibra menatap wajah Dian yang sudah penuh dengan hasrat, napasnya memburu, tatapannya sangat mendambakan sesuatu yang sedari tadi. Sudah merasakan gelenjaran aneh dari tubuhnya, meremas benda pusaka Ibra yang tetap tertidur lesu. Dian semakin geram dan mencium seluruh wajah Ibra. Begitu liar.


Sementara Ibra tetap santai tidak berbuat apa-apa, sama sekali tidak tergugah sedikitpun oleh sentuhan liar dari Dian. Yang dia rasakan hanya bau aneh dan semakin lama, bau itu kian menyeruak di hidung Ibra.


"Sayang, kenapa tubuh mu bau sekali?" menggelinjang bangun menjauhi Dian di tempat tidur.


Sungguh tak terbayang gimana perasaan Dian saat ini? nyesek, kecewa. Sakit hati, marah. Sedih, bercampur jadi satu. Dadanya yang bergemuruh, pengap, panas. "Ah ... bau apa? aku gak bau!" teriak Dian. Dia tetap tidak merasakan yang Ibra bilang.


"Aku, tidak tau, yang jelas bikin perut ku eneg. Oo ..." ucap Ibra mulau merasa mual lagi.


Bibir Dian bergetar menahan amarah, akhirnya Dian menangis sejadi-jadinya. Memeluk selimut yang menutupi tubuhnya, ia kecewa teramat sangat, bantal ia lempar, guling juga dilempar ke lantai. Membuat lantai berserakan.


Di tempat tidur, Dian masih menangis sejadi-jadinya, ia kecewa dengan sikap suaminya yang super dingin, sedingin salju. Sebuah sikap yang baru kali ini ia terima, sikap yang kini ia rasakan sangat menyakitkan.


Matanya sembab. air mata yang hangat membanjiri pipi dan membasahi selimut yang ia peluk. Betapa pilunya hati Dian saat ini, selama pernikahan, bari kali ini mendapat penolakan mentah-mentah dari sang suami. Malam pun kian larut, Dian tertidur setelah merasa capek menangis. Sementara Ibra sudah terdengar suara ngoroknya sedari tadi.


Sudah 4 hari ini Dian berasa sendiri, merasa tidak berarti meskipun Ibra berada di sekitarnya. Ibra selalu merasa mual dan pusing-pusing, sesekali muntah. Persis wanita ngidam dan selalu bilang kalau Dian itu bau. Jangankan untuk menyentuhnya, berdekatan saja Ibra tidak mau.


Hari-hari Dian dirundung duka, kecewa dan uring-uringan sendiri. Marah-marah pada benda yang ada disekitarnya, sore ini Dian keluar dari apartemen untuk sekedar cari angin dan menghilangkan pikiran yang penat. Dikarenakan sebuah keadaan yang tidak mendukung dirinya bersama sang suami.


Ibra pulang ke apartemen dan tidak mendapati istrinya di sana, dan katanya dia mau jalan-jalan refreshing sebentar. Kemudian Ibra Membuka jas nya lalu duduk di sofa membuka laptopnya. di pikirannya terlintas wajah Laras yang menari-nari di kelopak matanya.


Ibra mencari kontak Laras lalu membuat sambungan vc dengan Laras. Setelah tersambung, tampak Laras sedang duduk di tempat tidur, sedang membaca buku.


"Sedang apa sayang? apa kabar anak ku dan dirimu di sana?" tanya Ibra menatap ke arah Laras.


"Baik, seperti yang kau lihat," jawab Laras dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Apa kau merindukan ku?" sambung Ibra lagi dengan tatapan penuh rasa rindu.


"Aku? biasa saja, buat apa aku merindukan mu? bukannya sekarang saja kita saling tatap ya?" ketus Laras.


"Benarkah kamu tidak merindukan ku? bagaimana kau masih sering mual dan pusing?" sambung Ibra kembali.


Laras diam seakan berpikir. "Em ... sepertinya berkurang tuh, buktinya yang biasanya tiduran, sekarang lebih suka menghabiskan waktu di dapur. Oya, aku suka belajar membuat masakan loh atau pun kue," sahut Laras.


"Oya, baguslah kalah sudah berkurang mual nya. Oo ... oo ..." membuat Ibra beranjak dan berlari ke kamar mandi.


"Tuan, kenapa? eh, Abang kenapa sakit bukan?" tanya Laras seketika berwajah cemas melihat Ibra menghilang dari layar.


Tidak lama berselang, Ibra kembali duduk menghadap layar laptopnya. "Maaf, barusan aku tinggal ke kamar mandi sebentar."


"Abang, kenapa sakit bukan, sudah minum obat belum. Kak Dian mana? kesehatannya di jaga dong," ucap Laras tampak cemas.


Ibra menyeringai puas. "Katanya tadi tidak merindukan ku? tapi tampak cemas begitu, sudah sayang kah sama Abang mu ini ha?" menaik turunkan alisnya, genit.


Membuat Laras tersipu malu dan menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya. "Siapa bilang? aku cuma bertanya," gumamnya Laras.


"Hi ... buka dong, bukunya! jangan kamu pakai untuk menutupi wajah mu, aku jadi gak bisa memandang wajah kamu itu." Goda Ibra sambil melukis senyumnya.


"Rasanya lama banget aku di sini, ingin segera pulang. Padahal baru empat hari, tapi bagiku seperti sudah sebulan saja." tarikan napas Ibra lesu.


Laras yang menurunkan buku dari wajahnya hanya mengerucutkan bibirnya, tanpa bicara apapun. Memang benar yang Laras rasakan juga sama, empat hari ini berasa seminggu ataupun sebulan. Lama sekali.


Mata keduanya bertemu, saling menatap beberapa waktu mereka hanya saling menatap satu sama lain. "Aduh, melihat dia dari jauh saja benda pusaka ku bangun. Padahal apa sih yang menariknya? gaun pun setelan sopan." gumam Ibra jadi gugup dan salah tingkah. Apalagi merasakan sesuatu yang mendesak.


Laras menunduk, merasa aneh melihat tingkah Ibra yang mendadak gugup dan salah tingkah seperti itu ....


****


Hi ... reader ku semua ... aku up lagi nih, semoga kalian puas ya? dan semoga kalian semua puas dengan alur cerita di bab ini. Ayo dukung aku. Agar lebih semangat lagi menulisnya.🙏

__ADS_1


__ADS_2