
Kemudian wajah Ibra menelusuri dua bukit yang ada di hadapannya. Ia kecup beberapa kali. Namun lagi-lagi Laras menghindar.
Ibra jadi semakin kesal, sesaat keduanya saling tatap dengan sangat lekat. Ibra merubah posisi tidurnya menyamping. Memunggungi tubuh sang istri, Laras bengong. Memandangi punggung suaminya. Ia pikir, marah apa?
Laras merubah posisi tidurnya memeluk pinggang sang suami. Namun entah kenapa Ibra merasa kesal banget. Sehingga menjauhkan tangan Laras dari bagian tubuhnya.
Hati Laras bagai terhiris. Sakit, baru kali ini suaminya bersikap kaya gini dalam marah sekalipun. Laras tak putus asa, ia kembali mendekatkan tubuhnya. Kembali memeluk dengan sangat erat, menempelkan wajahnya di punggung itu.
"Aku ngantuk," gumam Ibra sambil melepas kembali pelukan Laras.
Laras tambah bengong. Hatinya menjadi gusar, tapi biarlah. Pikirnya sambil memejamkan mata. Kantuk yang menyerang membuat Laras tak ingin banyak pikiran.
Begitupun dengan Ibra ia tidur bersama hati yang kesal pada sang istri. Harus menyimpan keinginannya dulu.
Bagi Laras setiap malam terasa begitu panjang, disebabkan seringnya terjaga. Pengen pipis lah, haus lah. Tidak nyaman dengan posisi tidur lah, membuat sering kali Laras meminta agar Ibra jauh-jauh. Agar ia merasa leluasa.
Seperti saat ini, Laras terjaga. Duduk bersandar di bahu tempat tidur. Memandangi punggung sang suami yang tadi ngambek. "Abang ..." gumam Laras.
Namun Ibra, terlihat sangat nyenyak. Dan mengeratkan pelukan ke guling, malam dingin ini serasa semakin dingin dan sepi. Tangan Laras membelai rambut Ibra dengan lembut. "Aku minta maaf, telah membuat mu kesal. Semoga besok kamu gak marah lagi."
Sampai menjelang subuh, Laras lebih sering terjaga nya ketimbang tidur malam. Dan dari pukul 03.00 dini hari, Laras terduduk di atas sajadah. Berzikir dan memohon ampun, ia terus kepikiran dengan sikap kesal sang suami. Tadinya ia gak serius, tapi malah menimbulkan kemarahan.
Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak memenuhi ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) akan mendapatkan laknat para malaikat sampai subuh." (HR Muslim).
Laras melonjak. "Astagfirullah, aku gak mau kena laknat para malaikat." Menoleh putaran jam yang masih menunjukkan pukul 03.30.
Laras segera menyimpan alat salatnya. Kemudian merangkak naik mendekat tubuh Ibra yang kini posisi tidurnya terlentang. Dengan lirih Laras memanggil. "Abang ...."
Tak ada respon, lalu Laras mengusap dan mengecup pipi sang suami. "Sayang, bangun?"
Kali ini barulah ada pergerakan dari anggota tubuh Ibra. "Hem." Tanpa membuka matanya.
"Bangun, bukannya semalam ingin sesuatu?" bisik Laras di telinga Ibra.
"Hem, ngantuk. Dah gak mood," sahutnya dengan suara berat dan serak.
Kalau saja terlihat, kedua mata Laras berkaca-kaca penuh sesal. Kemudian tangannya bergerak, mengusap dada Ibra menyelusup ke dalam piyama nya. Memainkan benda kecil dan hitam di sana. Membuat tubuh Ibra bergerak bagai kena setrum. Namun tetap terpejam.
Bibir Laras tersenyum senang. Kemudian mendekatkan bibirnya yang ranum itu ke bibir sang suami. Mulanya cuma menempel, tapi lama-lama mengecupnya dengan mesra.
Ibra yang masih anteng memejamkan mata, terkesiap. Matanya mendadak terbuka lebar, merasakan benda kenyalnya ada yang menempel dan sedikit menggigit. Namun Ibra pura-pura masih tertidur.
Laras sebentar melepas. Namun kembali menempelkan nya lagi, lama bermain di sana. Tangannya terus mengusap dada Ibra, Lalu bergerak turun meraba ular yang ternyata sudah bangun. Segera menarik kembali, bibir Laras menyungging kan senyuman. "Bangun, jangan pura-pura tidur," menepuk pipi suaminya, dan menghujani nya dengan kecupan kecil yang lama-lama penuh gairah.
Ibra pun tersenyum senang. kemudian membuka kembali matanya dan terkekeh, membuat Laras merasa heran.
"Kenapa?" selidik Laras sambil mengerutkan keningnya.
"Nggak, lucu aja. Istri ku memulai bercinta." Tangannya bergerak meraba yang menggantung indah dan empuk.
"Aku minta maaf, sudah membuat mu marah. Aku gak mau kena laknat malaikat sampai subuh. Karena sudah menolak kehendak suami."
Kening Ibra mengerut. Mencerna maksud sang istri. Namun tak menghentikan kegiatannya me***** bukit yang menggantung. "Jadi?"
"Sebelum subuh, kita--"
"Hem, dah gak tahan ya?" bisik Ibra. Kini giliran Ibra yang berperan penting dalam hal ini, saat ini Laras berada di bawah kungkungan Ibra.
"Jadi ceritanya istri aku yang cantik ini takut kena marah malaikat, gara-gara menolak berhubungan." Suara berat Ibra.
Laras mengangguk pelan. Jari-jarinya membuka kancing piyama Ibra.
Suasana dini hari semakin dingin, namun lain dengan pasangan ini yang justru menciptakan suasana yang panas. Sehingga peluh mereka bercucuran, pergulatan yang hebat terjadi di bawah selimut tebal milik mereka berdua.
Suhu pendingin ruangan tak mampu menyejukkan panasnya tubuh mereka berdua yang panas itu. Ketika merasakan puncak kenikmatan, tubuh keduanya menegang hebat. Lalu sang pria terkulai lemah dengan napas yang tak beraturan.
Sesaat kemudian, Ibra kembali memberikan kiss di wajah dan leher Laras. Masih penuh hasrat yang menggebu-gebu.
"Sudah," ucap Laras dengan lirih, suaranya masih terdengar berat.
"Bentar lagi sayang," kembali mencumbu sang istri penuh gairah, sehingga terjadi lagi ritual yang ingin Laras sudahi. Namun apa daya Laras harus pasrah dan akhirnya turut menikmati kembali. Sampai merasakan kepuasan yang kesekian kalinya. Lagian tak ingin membuat marah lagi suaminya. Ia ingin membuat suaminya bahagia dan puas.
Setelah bersih-bersih bersama. Dan tidak lupa mengerjakan subuh, Laras menyiapkan pakaian formal buat Ibra. Lalu bersih-bersih kamar dan membuka gorden juga jendela biar udara pagi dapat masuk ke dalam kamar.
Kemudian Laras, duduk di sofa dekat Ibra yang sudah mulai berkutat dengan laptop nya.
"Hari ini, aku harus ke kantor cabang bersama Zayn, gak pa-pa, kan? gak lama kok, sore juga langsung pulang ke sini." Melirik sang istri.
"Oh, ga pa-pa. Pergilah, jangan khawatirkan aku." Balas Laras.
"Ya, sudah. Aku mau ganti pakaian dulu, harus lebih pagi berangkatnya." Ibra menutup laptop dan mengambil pakaian yang sudah Laras siapkan.
Laras pun mulanya cuma melihat sang suami yang mengenakan pakaian. Kemudian berdiri, membantu memakaikan jas dan dasi. "Hati-hati ya? dan semoga mendapat kelancaran." Gumam Laras sambil menarik dasi.
"Aamiin, sayang ... makasih doanya." Ibra mengusap pipi Laras lembut.
"Sama-sama, kan sudah seharusnya. Istri di rumah itu mendoakan suaminya." Tangan Laras melingkar di pundak Ibra. Menjinjit kan kakinya, agar dapat menjangkau wajah sang suami. Cuph mendaratkan kiss pagi nya di pipi.
Ibra pun mendaratkan kecupannya kecil di kening sang istri. Kemudian turun ke pipi kanan dan kiri. "Baik-baik di rumah ya, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku." Mengusap perutnya sebentar.
Laras membalas dengan anggukan. Kemudian memakaikan sepatu dan memberikan sebuah jam tangan dari laci.
"Makasih ya sayang, kamu selalu memanjakan Abang," ucap Ibra sambil mengelus pipi Laras.
__ADS_1
"Itu, kan sudah kewajiban ku sebagai istri bukan? aku aja minta maaf jika masih banyak kekurangannya." Balas Laras.
"Rasanya, justru aku--"
"Ssttt ..." jari Laras menempel di bibir Ibra. "Jangan bicara lagi. Lebih baik kita ke meja makan, mau aku buatkan apa buat sarapan?"
"Em ... apa ya, susu hangat udah. Asli malah," celetuk Ibra sambil memperlihatkan senyumnya. "Air putih hangat dan nasi goreng keju ya? yang simpel aja lah."
"Baiklah, aku bikinkan ya." Laras mengayunkan langkahnya menuju dapur, sementara Ibra mengikuti dari belakang.
Begitu sampai di tempat masak. Laras segera menyiapkan yang Ibra pinta.
"Mau bikin apa Nyonya? Susi sudah siapkan sarapan. Sini Susi aja yang kerjakan." Suara Susi menghampiri.
"Nggak usah, Sus. Biar aku aja cuma bikin nasi goreng buat tuan," sahut Laras sambil menunjukkan senyumnya.
"Oh, ya udah." Susi mengangguk.
"Masak apa sayang?" tanya Bu Rahma yang baru muncul di situ.
"Ini, Ma ... Abang minta di bikinkan nasi goreng," sahut Laras sambil anteng memasak nasi goreng.
"Hem ... itu Susi sedang menyiapkan sarapan.
Ibra yang duduk di kursi mengawasi sang istri yang sedang memasak. Tiba-tiba Zayn datang di tempat itu.
"Pagi Bos?" langsung duduk di depan Ibra.
"Berkas-berkas penting di bawa?" tanya Ibra menatap datar pada Zayn.
"Sudah, ada di mobil. Tenang, semuanya sudah siap!" sahutnya Zayn sambil menaik turunkan alisnya.
"Baguslah."
"Eh, Nak Zayn sudah datang?" sapa bu Rahma.
"Iya, pagi Tante ... ini mau ke kantor cabang." Jawab Zayn sambil mengambil piring dan menuang nasi dan lauk pauknya.
"Oya, iya Bang? mau ke kantor cabang!" tanya bu Rahma menoleh sang putra.
"Iya, Ma ... titip Laras, tapi sore juga pulang kok. Gak bakalan nginep," sahut Ibra.
"Oh, iya. Hati-hati saja." Bu Rahma mengusap bahu Ibra.
Nasi goreng buatan Laras sudah siap, dan langsung menyajikannya di meja tepat di depannya Ibra. "Sudah siap ... silahkan makan."
"Makasih sayang." Ibra menarik piringnya, lalu langsung makan.
"Baru 5 menit yang lalu Om," kata Zayn sambil melihat jam di tangannya.
"Oh, jadi ke kantor cabang nya?" pak Marwan menatap Zayn dan putranya.
"Jadi, Pa ... titip Laras ya." Ibra menoleh ke arah sang ayah.
"Iya, tentu. Itu sudah kewajiban kami," jawab pak Marwan sambil melahap sarapannya.
Semua menikmati sarapannya masing-masing. Setelah selesai makan, Ibra berpamitan. Dan Laras mengantar ke teras.
"Baik-baik di rumah ya?" Ibra mengecup kening sang istri. Kemudian tangannya mengelus perut Laras.
Laras mengangguk dan mencium punggung tangan sang suami. Memeluknya sebentar sebelum membiarkan suaminya pergi.
Ibra memasuki mobil Zayn, melambaikan tangan seiring melajunya mobil tersebut dan meninggalkan tempat itu.
Laras kembali memasuki rumah sambil memegangi perutnya. Melihat meja makan sudah bersih, Susi sedang mencuci perabotan. Menoleh ke luar terlihat sang mama mertua sedang menyiram bunga. Pak Marwan sedang menonton televisi.
Akhirnya Laras memutuskan pergi ke kamar untuk menunaikan duha. Mumpung masih pagi, Langkahnya keluar dari kamar mandi. Namun perutnya terasa kram yang taramat sangat. Laras memaksakan diri menumpuk bantal untuk kakinya biar ia berbaring, kakinya lebih tinggi dari kepala. Itu yang di sarankan dokter kandungan, ketika bila terjadi kram. Laras berbaring, bibirnya meringis menahan sakit.
Laras mengingat saran dokter.
Saat kram perut melanda, berbaringlah untuk meredakan nyeri. Jika nyeri di bagian kiri, berbaringlah ke arah kanan atau sebaliknya. Sebisa mungkin posisikan kaki lebih tinggi dari kepala dan gunakan bantal sebagai pengganjal. Sebaiknya menghindari melakukan gerakan tiba-tiba saat kram perut melanda.
Ia mengikuti saran itu. Sampai rasa kram itu pun berkurang. "Huuh ... berkali-kali membuang napas dari bibir. "Ya allah. Jika nanti waktunya melahirkan, mudahkan lah ya Allah." Gumamnya Laras. Sambil terus membuang napasnya.
Laras gak mau merepotkan orang, selagi ia masih bisa sendiri mengatasinya. Setelah beberapa waktu, setelah beberapa waktu. Akhirnya rasa kram pun berangsur hilang, Laras bisa kembali duduk dan melanjutkan niatnya untuk salat duha.
"Pa, apa hari ini Papa gak mau keluar?" tanya bu Rahma pada Suaminya.
"Tidak, lagian kan Ibra sudah wanti-wanti. Menitipkan Laras sama kita selagi dia tidak ada, Irfan juga gak ada. Ibunya sakit, masa mau kita tinggalkan?"
"Iya sih, kalau gak salah sudah memasuki bulan ke 9 pula. Gimana kalau dia mau lahiran, terus cuma ada Susi? di rumah. aduh ... mantu Mama kasian amat ya," bu Rahma segera beranjak dari duduknya dan langkahnya menuju kamar sang mantu. Ia mendadak khawatir.
Perlahan tangannya memegang handle pintu dan di dorongnya pelan. Tampak Laras sedang duduk bersimpuh mengenakan mukena. "Alhamdulillah ..." bu Rahma mengusap dadanya merasa lega.
Kedua netra mata Laras menoleh pada sang mama mertua yang berdiri di tengah-tengah pintu. "Ada apa Ma?"
"Ah, nggak Mama cuma merasa khawatir aja. Takut kamu merasa ingin melahirkan gitu." Bu Rahma masuk, lalu duduk di sofa.
"Oh, belum Ma ... tadi iya sih perut kram banget. Rasanya di tarik gitu--"
"Apa? Papa, Susi? Laras mau lahiran," bu Rahma mendadak panik dan mendekati Laras. Serat merasa bingung harus gimana?
Laras heran. "Mama kenapa?"
__ADS_1
"Kamu, mau lahiran bukan? Papa mana sih! papa ... telepon Ibra, mobil patroli eh ambulance," tampak bu Rahma panik.
"Mama ... aku cuma kram aja, itupun tadi, bukan sekarang. Sekarang aku gak merasakan apa-apa lagi," sambung Laras.
"Ha? tadi. Bukan sekarang! bukan mau melahirkan," selidik bu Rahma menatap cemas pad sang mantu.
Laras menggeleng. "Bukan."
"Huwalah ... Mama paniknya." Mengusap dadanya.
"Ada apa Mah? ribut," suara pak Marwan muncul dari balik pintu.
Bu Rahma menoleh ke arah suaminya. "Hehehe, nggak Pa ... cuma kepanikan Mama aja yang berlebihan."
"Hem ... dikira ada apa?" menatap istri dan mantunya. "Papa lagi mandi, Papa kira ada apa, makanya buru-buru datang."
Memang benar. Pak Marwan bertelanjang dada hanya berbalut handuk melilit di pinggangnya.
"Maaf, Pa. Mama nih." Laras melihat bu Rahma yang nyengir.
"Sudah, Papa lanjutkan mandinya sana. Malu." Titah bu Rahma pada sang suami.
Pak Marwan pun memutar badan untuk melanjutkan mandinya. Sambil menggerutu. "Dikira ada apa si Mama, bikin kaget aja."
Laras berdiri. Dibantu bu Rahma yang melirik tempat tidur Laras yang menumpuk bantal bekas tadi baring.
"Mau baring lagi sayang?" tanya bu Rahma sambil memegangi tangan sang mantu.
"Iya, Ma ... boleh."
"Bantal mau tetap seperti ini atau di pindahin?" Tambah bu Rahma.
"Biar aja Mah. Gitu." Laras kembali berbaring namun kali ini tidak meletakkan kaki seperti tadi. Sekarang ia merasa ngantuk akibat semalam kurang tidur.
"Aku ngantuk Ma, malam suka kurang tidur." Laras beberapa kali menguap.
"Ya sudah, tidur aja. Nanti kalau merasa kram lagi perutnya panggil Mama ya? jangan sungkan, pokoknya apapun bilang, panggil Mama. Jangan sendiri aja."
"Iya, Ma ... huah ..." kembali menguap, kemudian memejamkan matanya.
Bu Rahma pergi, meninggalkan Laras yang sudah mulai tidur. Sebelumnya menyentuh perut Laras. Tidak lupa menutup pintu.
Bu Rahma menuju kamarnya. Di sana pak Marwan sudah selesai mandi dan kini sedang duduk santai di sofa.
Melihat istrinya masuk. "Ada apa Mah?"
"Nggak. Tadi, katanya perut Laras kram. Makanya Mama panik bukan main. Padahal kram nya ketika dia sedang sendiri."
"Oh, gitu. Tapi bukan mau melahirkan?" selidik pak Marwan.
"Nggak ah. Masih lama dari Perkiraan kok," ungkap bu Rahma.
"Mah?" panggil pak Marwan.
"Hem!" sahut bu Rahma sambil memainkan ponselnya.
"Sudah beberapa hari nih, tidak ehem. Kayanya sekarang waktu yang tepat nih." Memainkan mata genitnya.
"Papa apaan sih?" bu Rahma tersipu malu.
"Ayo. Burung nya lepas nih, ke sarang orang gimana?"
Mata bu Rahma melebar, melotot dengan sempurna. "Apa? sembarangan nih, masih utuh. Mau cari yang gimana lagi!" Sambil menunjukkan semua miliknya pada sang suami, yang menyeringai nakal dan pandangan mengarah pada sang istri yang seolah menantang dirinya.
****
Jodi sedang membawa sang ayah ke sebuah Rumah sakit dan konsultasi ke salah satu dokter ahli. Apakah sang ayah masih bisa sembuh? dan katanya masih bisa dengan cara terapi yang rutin, bila perlu di rawat di sana.
Demi kesembuhan sang ayah. Jodi pun menyetujui kalau sang ayah akan di rawat sampai sembuh. Namun bukan di Rumah sakit, melainkan di rumah miliknya.
Dokter pun menyetujui dan merekomendasikan seorang perawat yang akan menjaga dan merawat pak Mulyadi. Dan nanti siang perawat itu akan di kirim ke rumah.
Setelah melewati serangkaian pemeriksaan. Pak Mulyadi kembali pulang. Usai mengantar sang ayah pulang, Jodi pun berangkat ngantor. Sebelumnya ia perlihatkan perawat yang akan datang dan merawat sang ayah.
Seorang perawat muda nan cantik, berkerudung. Bernama Caca, dengan nama lengkap Caterina Cantika. Kalau ia datang, langsung tempatkan dia di kamar tamu," pesan Jodi pada asisten dan ayahnya.
"Baik, tuan." Asistennya mengangguk.
Setelah itu, Jodi melanjutkan niatnya tuk pergi ke kantor. Mobilnya melaju dengan cepat, pikirannya sudah mulai tenang. Setelah Laras di temukan. Sang ayah mau berobat di Jakarta yang sebelumnya kekeh tidak mau.
Matanya melihat ke depan. Sesekali melihat ke belakang dari kaca spion, bibinya mengeluarkan siulan, menandakan hati yang bahagia.
Ting!
Ting!
Ting!
Sepertinya sebuah pesan masuk ke ponsel miliknya, Jodi tak segera membuka. Melainkan terus mengemudikan mobilnya ....
****
Aku minta maaf jika tulisan ada yang kurang berkenan di hati reader semua, oya aku mau tanya pada kalian semuanya. Apa menurut kalian cerita ini terlalu vulgar? ayo mana nih like nya juga, biar aku tambah semangat nih.
__ADS_1