
Sekitar pukul 11.wib. Laras sudah benar-benar tidak kuat lagi menahan sakit. Dan ingin sekali ngeden. Dokter dan perawat sudah berkumpul, laki-laki yang ada di sana cuma Ibra yang benar-benar di butuhkan menemani sang istri.
Kini Laras siap dengan proses melahirkan, dan Posisinya sudah benar-benar siap untuk ngeden. Dokter memberikan instruksi pada Laras, dan juga Ibra untuk membantu sang istri. Apa saja yang harus dilakukan saat ini, kedua kaki Laras sudah terbuka dan menekuk, tangan berpegangan pada sisi ranjang dan satunya berpegangan erat pada tangan Ibra.
Dokter menyuruh Laras untuk tarik napas dengan teratur. Untuk mengumpulkan semua tenaganya. Saat ini adalah detik-detik waktu yang amat menegangkan, bagi Laras, Ibra dan keluarga. Dimana Laras benar-benar di tuntut untuk berjuang. Antara hidup dan mati, demi menjadi seorang ibu yang seutuhnya.
Peluh yang terus membasahi seluruh tubuh bumil menjadi salah satu penghias betapa penuh pengorbanannya seseorang yang mau melahirkan.
Saat proses melahirkan, sakitnya seperti 20 tulang yang patah bersamaan. Melahirkan adalah ujung dari proses penantian yang panjang selama kehamilan. Pada manusia usia kehamilan hingga melahirkan rata-rata 280 hari.
Dokter terus memberi instruksi agar Laras mengejan. Tarik napas ... lepaskan! tarik napas ... lepaskan! 1 kali, 2 kali. Barulah kelihatan kepalanya. Laras tampak lemas, seakan tak bertenaga lagi.
"Aku gak sanggup lagi," rintih Laras lemas.
"Ayo semangat Nyonya, kepalanya sudah kelihatan nih. Ayo semangat." Kata dokter.
"Iya sayang, ayo semangat sayang. Itu kepalanya hampir keluar." Tambah bu Rahma.
Ibra yang sedari tadi memegangi tangan Laras, sesekali menciumnya. Ia menangis tak kuasa melihat perjuangan sang istri. "Maafkan aku sayang, gara-gara aku. Kamu susah begini?" berkali-kali mencium kening Laras.
"Semangat sayang, semangat! sedikit lagi anak kita akan keluar." Bisik Ibra di telinga sang istri, memberinya semangat.
Mendengar semua memberi semangat, Laras menarik napas panjang, mengumpulkan kembali segenap tenaganya. Memejamkan mata sambil berucap. "بسم الله الرحمن الرحيم lahaula walakuata illabillaah ...."
Laras berusaha mengejan sekuat tenaga, dengan tangan mencengkram kuat tangan Ibra. Hingga akhirnya terdengar suara si kecil memenuhi ruangan tersebut.
"Sedikit lagi Nyonya, ayo sekali lagi mengejan nya." Pinta dokter tersebut.
Kedua kelopak mata Laras terbuka, setelah mendengar suara tangisan si kecil. Hati Laras merasa lega, akhirnya keluar juga janin yang selama ini ia kandung. Terbesit senyuman bahagia di bibir Laras, apalagi setelah semuanya sudah keluar.
Berkali-kali Ibra mendaratkan kecupan hangat dan penuh cinta, di kening dan pipi sang istri. seraya berbisik. "Anak kita dah lahir sayang." Senyumannya mengembang bahagia.
"Ya Allah ... cucu ku," bu Rahma sangat antusias. Seakan bersorak melihat baby laki-laki yang sedang dibersihkan oleh suster.
Detik-detik yang menegangkan telah berakhir. Berganti dengan senyuman yang merekah dari bibir masing-masing. Namun seketika senyuman Ibra yang mengembang memudar, melihat mata Laras terpejam walau wajahnya menunjukan senyuman dan tenang.
Hati Ibra melengos, kedua kaki serasa bagai tak berpijak. Rasa panik di wajahnya tak bisa tergambarkan lagi, rasa ingin menjerit. Namun suaranya tercekat di tenggorokan. Hanya tangan yang menggoyangkan bahu sang istri dan air mata yang berjatuhan bagai air hujan yang turun deras ke bumi. Kemudian memeluk tubuh sang istri yang tak bergeming.
Bu Rahma tertegun melihat putranya menangis pilu dan memeluk tubuh sang istri. Mata yang semula berkaca-kaca karena bahagia, berubah jadi rasa cemas. Sedih yang mendalam. Khawatir yang tak terhingga, meskipun belum tau apa yang terjadi! sesungguhnya.
Lututnya bergetar lemas. Tubuhnya pun turun ke lantai dengan tatapan semakin berembun, hatinya berkecamuk. bercampur menjadi satu.
Suster yang lain membantu bu Rahma berdiri dan mendudukkan durinya di sofa. Sementara dokter memeriksa kondisi sang pasien. Melihat Ibra menangis sesegukan, dokter tersenyum tipis.
"Tuan, jangan panik. Nyonya cuma kecapean, dan dia sedang tidur tanpa di beri obat tidur. Biarkan dia istirahat."
Ibra menoleh ke arah dokter, menatap bingung. "Ha? maksud dokter. Istri saya ...."
"Istri Tuan cuma tertidur." Dokter mengangguk dengan senyum yang meyakinkan.
Jari Ibra di tempelkan ke permukaan hidung Laras. Masih hangat dan kini napas dengan teratur. "Masya Allah ... sayang." Mengusap wajahnya yang basah. Bibirnya kembali mengukir sebuah senyuman.
Netra mata Ibra menoleh pada si kecil yang di letakkan di atas dada sang istri. Oleh dokternya, kemudian ia mencoba mengadzani sebisanya. Sebab ada yang berpendapat, bahwa baby yang baru lahir di Sunnah kan di Adani pada telinga kanan dan iqamah di telinga kiri.
Namun ada juga yang berpendapat bahwa mengadzani baby yang baru lahir itu hukumnya mubah (boleh) dan makruh.
Bu Rahma yang tadinya berwajah pucat. Akhirnya kembali berdarah dan berseri. Menghampiri putra dan cucunya. "Ya Allah sayang ... jantung Mama hampir copot," mengusap dadanya.
Akhirnya pak Marwan masuk setelah ada suster yang keluar. "Mana cucu ku?" Langsung langkahnya menghampiri ranjang. Melihat sang cucu yang kini berada dalam gendongan sang istri.
"Pa, lihat Pa. Matanya terbuka, bibir mungilnya bergerak. Masya Allah ... akhirnya kita punya cucu juga Pa?"
"Iya, Mah. Wah lucunya cucu ku ..." ucap pak Marwan dengan senyuman merekah.
"Eh. Ini cucu ku, Pa. Cucu Mama." Akunya bu Rahma sambil memeluk si kecil.
Laras langsung di pindahkan ke ruangan khusus vvip. Dan si kecil bu Rahma yang bawa. Ibra turut mendorong brangkar ke ruang vvip. Sebagai suami siaga, Ibra tak sedikitpun jauh dari sang istri kecuali ke toilet dan salat.
Apalagi sekarang. Ruangan sudah semakin memadai, jadi salat pun Ibra bisa di sana. Irfan menyuruh Irfan membeli buat makan siang. Kebetulan tadi pagi Ibra gak sarapan, saking perasaan yang gelisah penuh kecemasan. Dengan keadaan yang memacu adrenalin. Bikin tegang.
Sudah lebih setengah jam. Laras masih belum sadar. Membuat Ibra kembali cemas. Menatap sang istri yang masih tertidur.
__ADS_1
"Bangun sayang. Nak kita sudah rindu di gendong Mammy nya." Suara Ibra pelan di telinga sang istri. Kemudian mengecup kening Laras penuh cinta. "Terima kasih sayang."
Setelah itu, kepala Laras bergerak. Sedikit memicingkan matanya, melihat Ibra dan mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan mewah tersebut. Kesadarannya yang belum pulih, membuat ia sedikit bengong. "Di mana?"
"Di rungan vvip sayang." Lagi-lagi mengecup kening sang istri. Senyumnya mengembang, senang melihat Laras bangun.
Laras masih bengong. Memori di kepalanya masih mengingat apa yang telah terjadi. Netra matanya tertuju ke box baby, kemudian tangannya meraba perutnya yang kempes. Lalu memejamkan mata sejenak, barulah ia sadar sepenuhnya. Kalau ia habis melahirkan.
Laras bangun dan ingin duduk bersandar, Ibra pun membantunya. "Itu baby kit, kan?" menatap ke arah Ibra dengan mata yang berbinar.
"Iya, sayang. Putra kita." Ibra mengangguk. "Makan ya sayang? pasti lapar kan!"
"Aku mau menggendong dulu baby kita." Suara Laras lirih dan penuh permohonan.
Bu Rahma langsung membawa debay pada Laras. "Ini sayang ... si gantengnya. Cakep ya cucu mama?"
"Cucu Papa, Mah ..." timpal pak Marwan.
"Putra aku Pa." Sela Ibra bersuara.
Laras menggendong si kecil yang langsung bangun ketika mencium bau tangan sang bunda, matanya bergerak-gerak. Melihat kanan dan kiri, begitupun bibir mungilnya. Seperti ingin meminum sesuatu.
Bibir Laras tak berhenti tersenyum, melihat si kecil yang mungil dan lucu.
"Sepertinya, dia haus sayang. Coba bari asi. Kasian," titah bu Rahma ketika debay pun mulai merengek kepalanya bergerak mencari asi.
"Tapi, Mah ... sakit gak? ngisapnya!" netra mata Laras menatap sang mama mertua yang membuka kancing piyama nya.
"Sakit dikit mah wajar sayang, lebih sakit di isap papinya lah," jawab bu Rahma. "Biar asi nya tambah subur. Banyak makan sayur juga biar tambah banyak."
Laras tersenyum. Namun sebelum mau memberikan asi nya, matanya melihat ke arah Ibra yang tangah menatap dirinya dan si kecil. "Menjauh dulu, aku mau--"
"Emang kenapa sayang? aku sudah sering menikmatinya kok, sebelum putra kita juga, kan aku dulu." Memotong ucapan Laras sambil menyeringai.
Laras sedikit membelalakkan matanya, melotot. Ia pikir gak malu apa bicara seperti itu di hadapan orang tau.
"Iya, sayang. Gak papa, ayo kasian si kecilnya. Tuh sudah mencari mimi." Timpal bu Rahma.
"Nanti juga akan terbiasa sayang." Kata bu Rahma sambil mengusap kepala sang mantu.
"Geli, Mah ..." ucap Laras meringis.
"Geli mana? bapaknya atau anaknya." Goda pak Marwan dari jauh, Bikin Laras tersipu malu.
Ibra pun mesem-mesem. Beberapa kali ia menelan saliva nya. Melihat mainannya menjadi sumber asi buat sang putra.
Tangan Ibra mengambil makan siang buat Laras. Dengan air minumnya juga. "Makan sayang." Ia suapi Laras dengan tangannya sendiri.
Zayn datang. Membawa beberapa rangkaian bunga ucapan dari rekan-rekan kerja. "Siang? mana ponakan ku yang ganteng pastinya." Zayn bergegas menghampiri box baby. Kebetulan si baby sudah di letakkan kembali di sana, setelah merasa kenyang.
"Dede baby nya baru saja bobo Om Zayn," ucap bu Rahma yang berada dekat box.
"Wah ... ganteng nya mirip aku nih," akunya Zayn sangat percaya diri.
"Mirip saya lah. Aku yang tanam benihnya, emang kamu merasa tanam benih!" Ibra mendelik ke arah Zayn.
"Tanam saham sih ... enggak tapi lihat aja. Mirip kan cakep nya." Tangannya mengelus pipi lembut sang baby.
"Awas tangan mu kotor!" jelas Ibra kembali.
"Ck ... bawel amat! sudah bersih nih." Zayn melihat kedua tangannya yang ia rasa sudah bersih.
Ibra terus menyuapi Laras. Sampai tandas. Laras benar-benar kelaparan. Dan tenaganya yang sudah terkuras habis. Akibat melahirkan.
"Assalamu'alaikum?" suara Jodi yang muncul dari balik pintu. "Wah ... sudah melahirkan. Selamat ya?"
Ibra dan Jodi saling berjabat tangan. Tak ketinggalan dengan Laras. " Makasih!"
"Paman. Belum ke sini?" tanya Laras pada Jodi.
"Aku dari kantor, langsung ke sini. Mungkin nanti sore aku ajak ke sini." Jodi tersenyum dengan raut wajah yang sumringah ikut bahagia, senang. Lega, bila sudah selesai melahirkan. Kemudian Jodi mendekat ke baby yang ada di samping ranjang Laras.
__ADS_1
"Lucunya ... cakep. Pasti bila besar sangat tampan nih." Gumam Jodi menatap sang ponakan.
"Tentu." Jawab Ibra.
"Gimana persalinannya lancar?" tanya kembali Jodi.
"Em ... alhamdulillah ... lancar." Ibra mengangguk pelan.
"Syukurlah." Jodi tersenyum senang mendengarnya. Netra matanya tak lepas dari tatapan ke si kecil yang tidur nyenyak.
"Siapa namanya?" Selidik Jodi. Mengalihkan pandangan pada Ibra dan Laras.
"Em ... namanya, Khasatria Ibrahim." tegas Ibra.
"Khasatria, bagus!" Jodi mengangguk setuju.
Kemudian Jodi duduk di sofa bersama pak Marwan dan bu Rahma. Juga Zayn, berbincang bersama di sana.
"Sayang, makasih ya?"
"Makasih buat apa?" Laras mengernyitkan keningnya.
"Makasih. Sebab ... kamu sudah rela berkorban, memberikan sesuatu yang teramat berharga buat Abang." Ibra merangkul Laras dan mencium kening dan puncak kepala sang istri.
"Oh, sama-sama!" Laras membalas pelukan sang suami.
"Berarti, aku harus puasa ya? dari mulai sekarang!" Gumam Ibra di telinga Laras.
"Puasa ... maksudnya?" kurang mengerti dengan maksud sang suami.
"Iya, puasa 40 hari, pada masa nipas. Kuat gak ya?" gumam Ibra lagi.
"Ooh ... itu." Laras senyum-senyum. "Kasian ... kasian." Laras tersenyum puas.
"Permisi ..." Dian membawa sebuah rangkaian bunga ucapan selamat. Menghampiri Laras dan Ibra. "Selamat ya?"
"Makasih." Gumamnya Ibra pelan.
"Laras, selamat ya? atas lahirnya si kecil. Boleh gak aku menggendongnya. Bentar saja." rajuk Dian, menatap ke arah Ibra dan Laras bergantian.
"Em ... Boleh kok." Laras mengangguk.
Ibra mengangkat si baby dan diberikan pada Dian. "Hati-hati."
Dian langsung menyambut si kecil. Dengan riang, akhirnya bisa menggendong juga baby nya Laras, yang rencananya dulu akan menjadi asuhannya. "du-du-du ... ganteng amat sih nih anak?"
Jodi mendekat pada Dian dan menatap baby Satria dengan intens. Anak itu memang masih merah namun ganteng banget.
"Kamu, kenapa ninggalin aku? Sudah aku bilang. Aku juga mau jenguk si baby ini," ucap Dian melirik Jodi.
"Aku dari pertemuan dengan kolega ku." Kata Jodi.
"Ganteng ya?" Dian lagi-lagi menoleh ke arah Jodi yang berdiri di samping nya.
"Ya, banget. Pasti jadi anak yang tampan nantinya," ungkap Jodi, mengusap kepala baby.
Laras dan Ibra saling pandang. Dengan senyuman yang merekah, penuh kebahagiaan. Tangan Laras. Ibra genggam sangat erat.
Dian, meletakkan baby di tempat semula. "Sekali lagi selamat buat mu Laras. Kamu sungguh beruntung, mendapatkan suami yang sangat sayang sama kamu. Mempunyai momongan yang lucu, sementara aku?" menunduk dalam.
Laras menoleh ke arah sang suami yang berbaring di sampingnya. Tampak tidur. Mungkin kecapean, akibat semalam kurang tidur. Kemudian menoleh kembali ke Dian. "Kak Dian yang sabar ya? insyaAllah, suatu saat nanti akan menemukan seseorang yang lebih dari segalanya."
"Hem ... aku iri sama kamu. Kamu mendapatkan yang seharusnya jadi milikku." Jelas Dian. Dengan sekilas senyuman getir.
"Maaf, bukan maksud ku mengambil darimu. Apalagi sampai membuat mu tersisih, bukan niat ku," ujar Laras dengan tulus.
Pandangan Dian mengarah ke arah Ibra yang tertidur. "Seandainya kita masih jadi keluarga?" kemudian tatapan Dian mengarah ke arah Laras.
Laras menatap lekat pada Dian, yang sepertinya masih terobsesi pada mantan suaminya ....
****
__ADS_1
Reader ku semua, semoga kabar kalian di saat ini baik-baik saja ya? makasih juga kalian masih setia menanti up nya SKM ini🙏 ayo mana yang selalu menanyakan Laras lahiran?