Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Siap bersaing


__ADS_3

Belum sembuh luka yang barusan Laras torehkan di hati Dian, di tambah lagi sekarang! sebuah pemandangan yang bikin tidak enak hati. Berusaha menghela napas panjang.


Terlihat dari ekor matanya Dian datang, Laras menurunkan jemarinya dari jas Ibra yang selesai ia kancing kan. Kemudian mundur mendekat pada bu Rahma.


"Ayo sayang berangkat?" Ibra menghampiri Dian dan merangkul pinggangnya.


Membuat hati Dian menghangat, angkuh dan sombongnya keluar lagi. Merasa kalau dia lah yang paling di cintai oleh suaminya Ibra.


Mereka berangkat, dalam satu mobil ke bandara mengantar kepergian Ibra dan Dian yang mau pergi ke luar Negeri.


Laras duduk di belakang bersama ibu mertua. Sementara Dian dan Ibra di depan Laras, asalnya Laras, Ibra suruh duduk bersamanya. Namun Dian mendahului sehingga Laras mengalah, duduk bersama mama mertua, pak Marwan duduk di depan dengan supir.


Dian menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, yang di respon dengan belaian mesra di rambut Dian. Tentu saja bikin hati Dian kian berbunga-bunga. "Aku lah yang paling di cintai suamiku."


Pandangan Laras lepas keluar jendela mobil yang berpacu dengan roda empat lainnya.


Perutnya mulai mual, kepala juga pusing pusing-pusing. "Aduh! harus kuat dong ... masa mau pingsan di sini, nanti di bilang manja lagi," gumam Laras dalam hati.


Ia Berusaha kuat, biarlah nanti pulang terkulai lemah. Tapi jangan sekarang, Laras berusaha menahan mual dan pusing.


Sepanjang perjalanan. Ibra dan orang tua nya berbincang, sementara Dian terus saja gelendotan seakan memamerkan kemesraan bersama suami.


Sesampainya di bandara, semuanya turun termasuk pak Barko yang mengeluarkan barang-barang Dian dan Ibra. Zayn yang sudah lama menunggu menyambut kedatangan Ibra.


"Mah, Laras cari toilet dulu ya? eneg nih," ucap Laras pada bu Rahma dengan wajah meringis.


"Cari toilet?" bu Rahma menatap Laras yang langsung berlari menjauhi bu Laras.


Ekor mata Dian melirik langkah Laras Yang tergesa-gesa. Ibra pun mengobrol dengan Zayn dan berdiri jauh dari posisi Laras tadi, memutar kepalanya ketika Laras berlari.


Karena penasaran, Ibra bertanya pada sang bunda. "Laras mau ke mana Mah?"


"Dia ... mau cari toilet," sahut bu Rahma, sambil menunjuk dengan kepalanya.


Ibra langsung mengayunkan langkah lebarnya mengikuti Laras yang setengah berlari. Kebetulan masih ada waktu untuk penerbangan.


Laras terus berlari mencari toilet, walau susah, akhirnya ketemu juga, Laras masuk dan membungkuk di depan wastafel. Oek, oek. Oek. Laras memuntahkan isi perutnya, segera membasuh mulut dan mengelap dengan tisu. Kebetulan di sakunya membawa minyak angin. Laras hirup agar mengurangi rasa eneg, mengoleskan di pelipis dan batang hidungnya.


Blak!


Pintu toilet di dorong dari luar, tampak Ibra berdiri dengan wajah cemas. "Kau tidak ke napa-napa?" sambil mendekat.


Di balik keterkejutannya, Laras menggeleng. "Tidak, cuma mual dan pusing saja, sudah biasa! ngapain ke sini bukannya nunggu keberangkatan?" sahut Laras sambil memasukan tisu bekas ke tong sampah.


Ibra merasa kasihan, melihat Laras terus mual dan muntah. Kalau bisa biar dirinya saja yang menggantikan!


Sambil menghela napas dan melirik jam di tangannya, Ibra semakin mendekat. "Masih ada waktu 45 menit lagi."

__ADS_1


"Ngapain pintu di tutup? aku mau keluar." laras heran pada Ibra yang malah menutup pintu. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya.


Ibra dan Laras berdiri berhadapan, kedua tangan Ibra meraih kedua tangan Laras di genggam jemarinya yang lentik itu. "Aku ingatkan, jangan ke mana-mana tanpa seijin ku, dan Zayn akan mengantar mu bila seandainya ingin pergi," ujarnya lirih. Manik mata Ibra menatap manik mata Laras yang teduh itu.


Laras hanya diam merasakan jantung nya yang terus berpacu cepat, kemudian sedikit mengangguk, mereka saling pandang. Seakan menyelami hati masing-masing, sementara suasana di toilet ini begitu hening.


Semakin lama, semakin terbawa perasaan, wajah Ibra menunduk dan mendekati wajah Laras yang mendongak. Karena jari telunjuk Ibra mengangkat dagunya. Seakan tidak dapat menahan diri lagi Ibra semakin mendekat sehingga hembusan napas menyapu kulit wajah Laras.


"Ya-yang lain, pasti sudah menunggu," elak Laras dangan mata yang tak lepas dari wajah suaminya, bila semakin di perhatikan. Wajah Ibra Memanglah jelas sangat tampan. "Nanti terlambat gimana?" menutupi mulutnya dengan telapak tangan.


Ibra tersenyum. "Kan ada penerbangan lain."


"Kalau gak ada gimana?" tanya Laras lagi mencoba mengalihkan niatan Ibra.


"Ada ..." menyingkirkan tangan Laras dari bibirnya dan tidak membuang waktu lagi, langsung saja Ibra menyentuhnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


Saking menikmati lembutnya ******* bibir Ibra. Tanpa sadar kaki Laras menjinjit naik. Namun tidak ingin semakin hanyut dalam perasaan dan hasrat. Laras mendorong dada Ibra segera dan menjauh. "Jangan perlakukan aku seperti itu, a-aku ... takut kecewa!" lirih Laras.


"Takut kenapa? kau istri ku. Istri sah ku, bukan selingkuhan dan kamu bukan merebut ku dari wanita lain, justru kamu yang terbawa arus dalam bahtera rumah tangga ku. Aku tak mungkin memperlakukan mu selayak nya istri. Kalau kamu bukan istri sah bagiku." Ibra menatap sendu ke arah Laras.


"Tapi ... kita tidak saling mencinta!" keluh Laras.


"Sekalipun kita awalnya tidak saling cinta, namun pada akhirnya kita akan saling menyayangi. Saling membutuhkan satu sama lain. Karena hubungan kita di awali dengan ikatan yang lebih suci. Ya itu ... pernikahan," ujar Ibra sambil melenggang meninggalkan Laras di toilet sambil termenung, memikirkan maksud perkataan Ibra.


Laras memutar tubuhnya menghadap cermin, menatap pantulan dirinya di cermin. Merapikan rambut ikal yang terurai ke bawah bahu, ia rapikan dan ia ikat di atas. Simpel namun cantik.


Setelah melewati serangkaian proses, akhirnya Ibra akan memasuki pesawat dan take off mata Ibra terus menatap ke arah Laras. Yang berdiri dekat ibu mertua.


"Mah, aku pergi dulu." Ibra memeluk sang bunda dan sang ayah bergantian.


Terakhir, Ibra memeluk tubuh Laras. "Ingat pesan ku, dan jaga diri baik-baik." Bisik Ibra sambil mengusap lembut punggung Laras.


"Iya, aku ingat kok," sahut Laras lirih.


Ibra membingkai wajah Laras menatap dengan tatapan sangat lekat. Rasanya berat tuk meninggalkan, kemudian Ibra mendaratkan kecupan lembut di kening Laras. Membuat Laras sedikit canggung pada Dian.


Dian membuang wajahnya, malas bila harus melihat adegan itu.


Ibra berbincang dengan Zayn. "Nanti bila aku perintahkan jaga dia, kemanapun dia pergi. Kau harus laksanakan."


"Siap bos, siap banget." Zayn mengangguk dan melirik ke arah Laras. Penampilannya yang nampak anggun dan selalu memakai pakaian yang termasuk sopan.


"Eh, jaga mata mu!" Ibra menepuk bahu Zayn yang langsung menoleh dan nyengir. ke arah Ibra.


"Mah, Yah, Dian pergi dulu." Dian memeluk mertuanya bergantian.


Kemudian Dian mendekati Laras yang entah melihat kemana. "Jaga diri baik-baik, jaga anak ku jangan manja! suami mu bersama ku dulu," ucap Dian dengan sedikit sinis.

__ADS_1


Laras mengangguk dan sedikit berucap. "Iya, sampai jumpa lagi."


Ibra dan Dian berangkat mendorong tas kopernya. Untuk yang terakhir kalinya, Ibra kembali menoleh ke arah orang tua dan istrinya yang sedang melambaikan tangan. Terutama Laras yang juga memandanginya.


Entah kenapa hati Ibra terasa berat untuk meninggalkan Laras. Wanita yang baru beberapa bulan ini ia nikahi.


laras mendapat tatapan dari Ibra yang jauh di sana menunduk, hatinya gelisah tak menentu. Sedih, haru bercampur aduk jadi satu.


"Ayo, sayang. Pulang?" ajak bu Rahma, menarik tangan Laras yang bengong.


"Iya, Mah," sahut Laras, mengikuti langkah bu Rahma dan pak Marwan. Menuju parkiran.


Kini Mereka sudah berada berada di mobil, melaju dengan kecepatan rendah. Beriringan dengan mobil Zayn.


Pandangan Laras tembus ke keluar jendela, memandangi cuaca yang teduh dan langit pun berubah memerah. Tanda matahari akan segera tenggelam.


Sayup terdengar suara adzan magrib. Laras menghela napas panjang, tidak ada yang sepatah pun mengeluarkan suaranya. Selain gerungan suara mesin dari kuda-kuda besi yang berlalu lalang di jalan raya ini.


"Jangan melamun sayang, Abang pasti secepatnya pulang, semoga aja gak sampai satu minggu di sana." Bu Rahma mengusap bahu Laras yang sedari tadi melamun, pandangannya jauh dan menerawang.


Lagi-lagi Laras menghela napas, lalu melirik bu Rahma. "Nggak kok, Mah," sambil tersenyum tipis. "Lagian, biar saja, kan di sana juga sama istrinya, biarlah mereka bersenang-senang."


"Iya sih, tapi ... Mama pastikan kalau putra Mama akan merindukan mantu Mama yang cantik ini," puji bu Rahma menatap Laras penuh kasih sayang.


"Oya, Mama jadi berangkat besok?" tanya Laras. Tak ingin membahas Ibra lagi.


"Jadi, ya, Yah. Jadikan besok pagi pulang?" melirik suaminya yang berada di depan bersama supir.


"Jadi, Mah." Pak Marwan menoleh sang istri.


"Tuh ... jadi sayang, gimana ikut kita saja yu ke luar Negeri?" ajak bu Rahma.


"Mau sih, tapi kayanya lain kali aja deh Mah, sekarang ini naik mobil aja pusing Mah." tolak Laras.


"Ya, sudah. lain kali aja, jaga diri baik-baik ya di mension, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mama ya?" sambung bu Rahma.


Laras mengangguk dan mengulas senyumnya.


Sesampainya di mension Laras langsung masuk ke kamarnya. Dengan gontai masuk kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Bergegas menunaikan salat magrib.


Mata Laras memandangi ponsel yang berada di atas meja yang sunyi tidak ada notifikasi sama sekali, Laras berharap ada pesan dari Ibra.


Tiba-tiba pintu kamar Laras, di gedor dari luar ....


****


Selamat membaca reader ku. Semoga tidak bosan ya? terus beri aku dukungan, semangat untuk terus menulis.

__ADS_1


__ADS_2