Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Dari lamunan


__ADS_3

Kini keduanya sudah bersih-bersih dan berada di depan cermin, Laras sedang mengeringkan rambutnya dan Ibra tengah mengancingkan lengan bajunya.


"Aku akan pergi ke kantor, sebentar, sebelum magrib juga akan kembali," ucap Ibra menatap Laras dari pantulan cermin.


Laras menghentikan kegiatannya. menoleh jarum jam yang menunjukkan pukul 15.30 wib. Kemudian menatap cermin yang ada pantulan Ibra di sana.


"Sore-sore gini? kamu belum sembuh benar, nanti kena hujan lagi, sakit lagi. Besok aja lah ke kantornya? suruh aja orang kantor ke sini," suara Laras memelas.


Ibra tersenyum dan menangkupkan tangannya di wajah Laras dari belakang. "Sayang, aku tidak apa-apa, sudah sembuh nih. Apa kamu tidak menyadari kalau aku begitu perkasa tadi?" ungkap Ibra sambil nyengir.


"Iih ... bukan itu, semalam kamu demam, gak nyadar apa?" Laras sedikit mencibirkan bibirnya.


"Aku ada urusan di kantor, sekalian mau ke dokter pribadi ku, lagian. Kalau mereka yang ke sini kejauhan sayang ... kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus jadi pemimpin yang memberi contoh yang teladan," ujar Ibra sambil memainkan matanya dan membantu mengeringkan rambut Laras dengan handuk kecil.


Laras mesem-mesem. Lalu berdiri berhadapan dengan Ibra. "Aku temenin ke dokter nya ya?" dengan tatapan yang lekat pada suaminya itu.


Ibra terdiam sesaat. "Kalau kamu ikut, otomatis ikut ke kantor dulu sayang. Karena tujuan ku bukan cuma ke dokter saja, apa kamu gak akan bosan?"


"Nggak ah, gak jadi. Aku di hotel saja." sambil mengalungkan tangan di leher Ibra.


"Lagipula ... kalau kamu ikut, aku gak bisa konsen kerja sayang. maunya dekat kamu terus," mengelus pipi Laras dengan punggung jarinya.


"Ah, itu sih terlalu lebai aja," sahut Laras.


"Emang begitu, rasanya pengen nempel terus," bisik Ibra yang menarik bahu Laras ke pelukan.


"Perangko kali ah ..." lirih Laras sambil membalas pelukan Ibra. Kini Laras terlalu hanyut dalam kebersamaan nya dengan Ibra, teramat menikmati kebahagiaan bersama Ibra sebagai suaminya dan mungkin juga kini mengisi hatinya pula.


"Iya, mungkin." Gumam Ibra. "Kalau di mension, gerak kita pasti terbatas. Belum tentu selalu berdekatan seperti ini." Batin Ibra, mengusap punggung Laras dan mencium pucuk kepalanya.


"Aku tahu, mungkin sekarang saja kita dekat seperti ini. Gak mungkin sikap mu seperti ini lagi bila di mension nanti, secara ada Dian di sana yang akan mengikat gerak dirimu," gumam Laras dalam hati.


"Sayang, kamu jangan dekat-dekat dengan wanita ini, nanti kamu jatuh cinta sama dia. Dan itu tidak boleh terjadi, kamu suami ku yang akan tetap jadi suami ku. Tidak boleh ada wanita lain di hati mu sayang," ucap Dian yang berdiri berpangku tangan.


Ibra hanya menoleh dan sama sekali tidak menggubris ucapan Dian. Ia terus mencumbu istrinya, Laras. Tidak menghiraukan tatapan Dian yang tidak bersahabat.


Karena sikap Ibra yang mendiamkannya, tak ayal Dian semakin geram melihatnya. "Sayang, hentikan!" ucap Dian dan kali Ini Ibra menghentikan kegiatannya.


Ibra mengarahkan pandangan pada Dian. "Kenapa? dia istri ku juga."

__ADS_1


"Iya, dia istri mu, tapi cuma untuk mendapatkan anak saja, bukan untuk kamu cintai. Bukan untuk kamu perhatikan setiap waktu! sebab hanya aku yang akan memiliki mu sayang." Sambung Dian.


"Siapa bilang? aku akan mencintai dia seperti aku mencintai mu," ujar Ibra dan menatap lekat ke arah Laras. "Dan ... aku sudah mulai--"


"Tidak, kamu itu hanya milik ku, dan kamu Laras! hentikan menggoda suami ku, kau yang selalu merayu suami ku, kan? jangan harap, kamu bisa memiliki suami ku seutuhnya. Karena kamu itu hanya istri kontrak!" hardik Dian dengan tatapan sangat tajam ke arah Laras.


"Maaf, Kak Dian. Aku tidak pernah menggoda dia, dia sendiri yang terus mengejar ku. Dan kamu! kamu jangan lupa, kalau aku ada diantara kalian itu ... karena dirimu juga, jadi jangan salahkan orang dong. Aku sebelumnya tidak mengenal kalian berdua, apalagi punya niatan mengambil suami mu. Tidak! tapi kamu malah menyeret ku ke dalam biduk rumah tangga kalian. Sementara kamu salahkan aku yang telah menggoda suami mu, ha. Gak salah tuh ... Ini semua kamu juga yang mulai, jadi ... bukan salah ku bila aku menuntut hak aku sebagai istri dan calon ibu dari anaknya." Timpal Laras dengan tenangnya.


Dian melotot dengan sempurna ke arah Laras dan tangannya menarik ke arah belakang Laras. Tak ayal tubuh Laras condong ke belakang. "Kurang ajar kamu Laras! dasar wanita tidak tau malu, wanita pela***, wanita penjual rahim demi uang yang banyak. Wanita yang haus sentuhan laki-laki, enyah kau dari kehidupan ku?" teriak Dian sehingga suaranya bergema di seluruh ruangan.


Tangan Dian bersiap menampar Laras. Laras pun terkesiap dan seketika memejamkan kedua matanya, pasti telapak tangan itu akan bersarang dan menimbulkan rasa panas juga sakit. Namun telapak tangan Dian tidak juga sampai di pipi mulus Laras.


Rupanya Ibra langsung pasang badan sehingga menghalangi tubuhnya dengan tubuh kekar itu. Menghadang tangan Dian yang sudah melayang di udara.


"Sayang ... aku mau pergi," ucap Ibra sambil mengusap kepala Laras yang melamun di pelukannya.


Laras tidak merespon ucapan Ibra sama sekali. Seakan tidak mendengarnya.


Dengan lembut Ibra mengelus rambut Laras dan mencium kening Laras yang anteng dalam pelukan. "Sayang ... aku mau pergi," melihat jam yang melingkar di tangan.


Sampai akhirnya, Laras menggercapkan kedua matanya. Ia tersadar dari lamunan, setelah Ibra berkali-kali memanggil dan mencium keningnya.


"Ha, apa?" Laras menjauh dan melepas pelukan dari tubuh Ibra.


"Ah, nggak. Ya sudah, kalau mau berangkat. Hati-hati ya?" sambung Laras sambil melukiskan senyumnya.


"Oke," lagi-lagi mendaratkan ciumannya di kening sang istri. tadinya mau mencium ***** Laras. Namun Laras menghindar.


"Ya ..." Laras merapikan kerah Ibra dan mengenakan jas ke tubuh Ibra.


Ibra pun melangkahkan kakinya keluar kamar hotel tersebut. Laras mengantar sampai pintu saja.


"Baik ya di sini? jangan nakal juga. Kalau mau jalan ke pantai, boleh tapi hati-hati banyak laki-laki iseng," ungkap Ibra sambil mengusap pipi Laras yang bikin ia gemas.


"Aish ... bilang jangan nakal sama aku, emangnya aku nakal apa?" tanya Laras sambil memegang gagang pintu.


"Nakal lah, sekarang, kan kamu lebih nakal dan berani," lanjut Ibra sambil menyeringai dan pergi.


Laras menatap kepergian Ibra yang terburu-buru, meninggalkan kamar tersebut. Kemudian menutup pintu, dan melangkah mendekati jendela. Cuaca yang lumayan indah sehabis tadi hujan.

__ADS_1


"Aku, mau jalan ah ke pantai, sambil mencari jajanan. lapar nih pengen ngemil," gumam Laras sambil beranjak dari sofa dan mengambil tas nya. sebelum ia soren, ia cek isinya. Seperti dompet, ponsel ada di sana.


Ia mengayunkan langkahnya keluar kamar dan menuju lobby terlebih dahulu untuk menitipkan kartu kamar hotel tersebut.


Setelah beberapa saat kini Laras sudah berada di pesisir pantai. Berjalan-jalan menikmati suasana sore yang indah ini. "Indah banget sore ini, ya Allah ... sungguh besar kuasa mu. Yang telah menciptakan alam dan isinya."


Laras melihat langit yang begitu jauh ia berada, namun serpihan cahaya menerangi bumi. Dan menghangatkan tubuhnya.


Langkah Laras menyusuri pantai dan agak jauh dari keramaian. Duduk dan menikmati angin yang sepoi-sepoi menyapa kulit.


Tiba-tiba, ada dua pemuda menghampiri dan menggodanya. "Hi ... cantik, sendiri aja dari tadi? kemana cowok nya?"


Laras terkesiap, seketika berdiri dan mundur beberapa langkah. "Maaf," Laras dan berjalan menghindari dua pemuda itu.


Namun langkahnya di hadang oleh salah satu pemuda itu. "Eeh ... mau kemana? kenalan dulu, siapa tahu kita bisa menjadi teman." Ucapnya dengan tatapan yang sulit di artikan dengan kata-kata. Terhadap Laras.


Yang satu, memegang tangan Laras, segera Laras tepis. Tidak suka. "Jangan pegang-pegang ya, yang sopan dong!"


"Sorry," ucap pemuda yang berkemeja hitam itu. "Kamu cantik, ngapain sendirian aja? apa sedang menunggu cowok mu. Atau memang sedang mencari teman kencan, kami berdua siap memuaskan mu malam ini," sambil menaik turunkan alisnya. Di iya kan oleh kawannya yang berkaos putih.


Laras menatap sebal sama orang yang seperti ini. Ia mengamati penampilannya sendiri, kali saja ada yang aneh mungkin di dalam pandangannya. Biasa aja sopan malah, gak seksi ataupun mengundang syahwat, Laras mendongak kembali melihat kedua orang tersebut.


"Jangan kurang ajar ya? aku ini wanita baik-baik. Jangan asal ngomong deh, jaga tuh mulut." menatap tajam.


Ha ha ha ... "Berani juga ni cewek," si baju hitam tertawa dan mengangguk di barengi sama temannya yang mencoba mencolek pipi Laras.


"Iya, nih ... sok berani dia melawan kita. Paling nanti kalau sudah dalam pelayanan kita, dia ke enakan. Dan minta tambah. Ha ha ha ...."


"Aish ... omongan kalian bikin jijik tau gak?" sahut Laras dan bersiap pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Bikin jijik? tapi nanti juga suka, kan?" hendak mencolek lagi pipi Laras.


Dan lagi-lagi Laras tepis. "Sekali lagi, aku jelaskan ya? jangan kurang ajar, aku wanita baik-baik dan aku bersuami." Jelas Laras.


"Bersuami? ha, saya tidak peduli, yang jelas saat ini kau sendiri dan mau melayani kami, ha ha ha ..." suara pemuda itu menakutkan.


Ucapan kedua pemuda itu semakin membuat Laras mual dan jijik, omongannya yang ngelantur, entah mabuk. Entah sadar? yang jelas omongannya melecehkan. Martabat ia sebagai wanita.


Tidak pikir panjang lagi, Laras berlari menjauh. Meninggalkan pemuda tersebut, namun dua pemuda itu malah mengejar langkah Laras ....

__ADS_1


****


Hi ... aku up lagi nih, eh ... bilang dong ... sama kawan, adik. Kakak reader semua, tentang novel ini. Siapa tahu mereka juga suka dengan novel ini. 🤭🤭 ah makasih banyak ya sudah menunggu novel ini up.


__ADS_2