
"Antar kan saya pulang sekarang? panas mata saya di sini lama-lama."
Ibra melepas pelukannya di tubuh Laras, Laras pun menjauh dan meneruskan masaknya itu. saking malunya berasa tak punya muka.
"Ada, pak Barko. Pulang saja sama dia." Ibra merasa malas.
"Sayang, aku maunya pulang sama kamu. Ngapain pulang sama supir, kamu juga ada," ucap Dian sambil menyilang kan tangan. Hatinya tambah kesal, sudah dibikin sakit mata. Sakit hati tambah lagi disuruh pulang sendiri! lengkap sudah.
Laras menyajikan nasi goreng permintaan Ibra. "Ini makannya." Lalu ia mengambil air minumnya.
"Buat saya mana?" tanya Dian menoleh Laras.
Laras menoleh sambil menyimpan gelas di depan Ibra. "Aku cuman bikin satu porsi, buat Abang saja," sahut Laras. Lalu duduk di samping Ibra.
"Sayang, bikinlah sendiri. Masih mending Laras bikinkan buat aku, apa salahnya kamu bikin?" ucap Ibra dengan lirih pada Dian.
"Ih ... aku ini di sini tamu loh sayang, wajar dong kalau aku minta di layani! mana Susi?" ungkap Dian sambil mendudukkan dirinya di sebelah Ibra.
"Susi, kayanya sibuk bersih?bersih di depan sama bu Rika," timpal Laras.
"Tapi pada kenyataannya, di mension juga kamu ingin selalu di layani?" jelas Ibra sambil menyiapkan nasi goreng ke mulutnya.
Tangan Laras yang di bawah meja menyentuh paha Ibra, berharap Ibra tidak perlu menyudutkan Dian, apalagi di depannya. Gak enak hati jadinya.
Mata Ibra bergerak melihat tangan Laras yang berada di atas pahanya. Kemudian Ibra melirik ke arah Laras yang menggeleng.
"Susi mana Susi?" gumam Dian kembali.
"Di depan sayang ... sedang bersih-bersih." Kata Ibra yang kini lebih memilih menikmati nasi gorengnya.
"Uh ... lama banget. Sus ... Susi?" teriak Dian tanpa malu.
Hening!
Susi tidak menjawab, apalagi memenuhi panggilan Dian, entak mendengar entah tidak.
"Sus ... kesini dong? Susi ..." pekik Dian kembali.
Laras dan Ibra saling pandang. Ibra menggeleng pelan.
"I-iya, sebentar ..." sahut Susi dan tidak lama kemudian muncul juga dengan langkah yang terburu-buru.
"Lama amat di panggil-panggil? tuli apa, bikinkan saya mie goreng seperti biasa." Ketus Dian pada Susi.
"Ya, ampun Nyonya. Apa tidak bisa bikin sendiri ya, saya lagi sibuk juga." gerutu Susi, namun ia segera menyiapkan permintaan Dian.
"Aish ... kamu menggerutu, gak mau saya suruh? saya pecat kamu." Sambung Dian.
"Loh, bukannya aku ini sudah tidak bekerja di tempat Nyonya ya? lagian selama ini yang gaji saya langsung dari, Tuan," gumamnya Susi sambil melirik Ibra yang sedang makan.
"Kamu, mentang-mentang sudah tidak di mension lagi. Semakin berani ya sama saya!" Dian makin dibuat kesal.
Tidak lama mie yang Dian pinta pun sudah matang. Susi langsung suguhkan di depan Dian yang bermuka masam.
"Sus ... aku makan mie nya pake apa? sumpit gak ada, sendok garpu juga gak tersedia. Apa harus pake tangan ya?" ketus Dian melotot ke arah Susi yang kembali ke depan kompor.
"Sayang. Itu tempat sendok ada di depan mu, tanggal ngambil dan tidak perlu kamu angkat pantat mu itu." Ibra menunjuk tempat sendok yang ada di meja itu juga.
__ADS_1
"Apa susahnya sih? ngasih mie itu sama sendok dan garpu nya." Kekeh Dian lagi.
"Kalau Nyonya mau, silakan langsung pake tangan juga boleh tu," suara Susi yang menatap ke arah Dian.
Laras menggeleng menyaksikan drama ini. Tangannya mengusap perut seraya bergumam. "Astagfirullah ... amit-amit jabang bayi."
"Kalau mau makan, cepetan. Tapi kalau gak mau, sudah tinggalin. katanya mau diantar pulang?" ujar Ibra sembari menyimpan gelas minumnya.
Dian menoleh. "Iya, makan dulu."
Laras mengambil piring dan gelas bekas Ibra, ia bawa ke wastafel untuk ia cuci. Namun Susi ambil alih.
"Biar Susi aja yang cuci Nyonya muda, kalau Susi gak kerja dengan baik, bisa-bisa Susi di pecat Nyonya muda, iya, kan?" suara Susi sedikit menyindir Dian dan melirik dengan ekor matanya.
Sebab merasa tersindir, Dian pun mendelik ke arah Susi.
"Tidak apa Sus. Aku aja padahal." Timpal Laras. Kemudian Laras ke kamar meninggalkan Ibra dan Dian di meja makan.
Sesampainya di kamar, Laras duduk di depan cermin. Membuka kerudungnya dan menyisir rambutnya yang di bawah bahu dan bergelombang.
Membersihkan make up yang masih tersisa. Mengganti setelan dengan daster, saking asiknya dengan aktifitasnya. Sampai-sampai tak menyadari kalau ada seseorang berdiri dan bersandar di daun pintu.
Hingga akhirnya ekor mata Laras menangkap bayangan itu. Membuat Laras terkejut bukan main, sama sekali ia tak mendengar suara derap langkah ataupun suara pintu.
"Astagfirullah, sejak kapan Abang berdiri di sana?" mengusap dadanya kaget.
"Sejak ... kamu mau ganti pakaian," sahutnya sambil mengulum senyumnya.
"Ya, ampun ... kenapa gak mengetuk dulu kek, ngomong kek, bikin orang jantungan aja," gerutu Laras yang memang merasakan degupnya jantung yang tak beraturan.
"Aih ... apaan sih?" ucap Laras sambil tersipu malu.
Laras mau menyimpan pakaian kotor ke kamar mandi, namun tangan Ibra menangkap tubuh Laras dan berbalik menghadap Ibra. Dipeluknya tubuh yang hampir oleng itu.
Laras terkesiap, dengan refleks mengalungkan tangan ke pundak Ibra takut terjadi jatuh. "Apaan sih ... gimana coba kalau aku jatuh?" Laras menatap sendu dengan jantung berdegup kencang, napasnya kembang kempes. Benar-benar terkesiap dibuatnya.
"Iya, maaf sayang, maaf?" ungkap Ibra sambil memeluknya erat.
"Sekali lagi maafkan aku sayang?" cuph mengecup pucuk kepala Laras yang menyusup di dadanya. "Aku tidak ada niat mencelakai mu," berkali-kali Ibra mencium kepala Laras.
Laras menjauhkan diri dari tubuh Ibra. Namun tangannya masih dalam genggaman Ibra. "Katanya mau antar kak Dian?"
"Dia sedang siap-siap dulu, gak pa-pa, Kan? aku antar dia pulang dulu, di sini juga cama bikin rusuh ha ha ha ..." ujar Ibra tertawa kecil.
"Huus, itu istri mu." Laras mesem. Bukan berhati jahat, tapi kenapa ia ingin pindah? sebab ingin hidup lebih tenang.
"Siapa bilang, dia bukan istri ku? yang ini juga istri ku," netra matanya menatap ke arah pemilik wajah cantik itu. Ibra menyelipkan rambutnya ke belakang telinga Laras.
Kemudian mengecup bibir Laras dengan lembut. Tangannya bergerak mengunci kepala Laras, sementara tangan Laras memegang kedua siku Ibra.
Sementara waktu Ibra melancarkan aksinya itu. M****** dengan sangat lembut dan ******** penuh gairah b**** itu.
Laras memejamkan mata, larut dalam suasana yang penuh suka itu. Dan menikmati yang Ibra berikan saat ini. Sesaat Ibra melepaskan serta mengendalikan napas mereka yang tidak beraturan itu.
Namun Ibra kembali melanjutkan aksinya yang selalu bikin candu. untuk keduanya. Namun Laras mendorong dada Ibra perlahan. Meski tidak semudah itu juga Ibra menghentikan aksinya, tidak serta merta mengabulkan pemintaan sang istri.
Laras kembali mendorong dada Ibra agar menjauh dan melepaskannya. "Pergilah, dia menunggu mu," ucap Laras sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
Ibra menatap sendu dengan napas yang masih tidak beraturan. Sebenarnya belum puas untuk menikmati yang barusan. Jarinya mengusap bibir sang istri yang basah dengan air liur darinya. "Oke. Aku pergi dulu ya?"
Tanpa menoleh, Laras mengangguk pelan. Ia duduk di sofa, tidak melihat Ibra sama sekali. Ibra akan menghampiri, namun terdengar suara teriakan Dian sari luar kamar.
"Sayang, aku sudah siap nih." Teriak Dian dengan suara sangat nyaring.
Ibra menoleh ke arah sumber suara. "Iya, sebentar!"
Tangan Ibra mengusap pipi Laras dengan lembut. "Aku pergi dulu ya, sebentar juga aku akan kembali." cuph! mengecup kening Laras.
Laras hanya menatap sekilas tatapan Ibra yang nampak berat meninggalkan Laras. Ibra menyambar jaketnya dan kunci mobil pribadinya, hendak mengantar Dian pulang ke mension.
Laras menatap kepergian Ibra yang meninggalkannya. Helaan napasnya yang berat mengiringi langkah Ibra yang menutup pintu.
"Ayo sayang?" Langkah Ibra yang lebar penuh semangat untuk mengantar sang istri pulang ke habitatnya.
Mereka berjalan bergandengan dengan penuh mesra. Melintasi teras, dimana tempat mobil terparkir.
"Semangat amat?" tanya Dian yang melihat wajah Ibra yang nampak heppy sekali.
"Sudah pamit belum sama mama dan papa?" selidik Ibra, tak ingin membahas yang Dian pertanyakan. Ia menanyakan apa istrinya sudah pamit pada kedua orang tua nya atau belum? Kebetulan beliau sepertinya di saat ini sedang tidur siang.
"Tadi sih, sudah bilang. Sepertinya mereka belum bangun deh sayang." Dian celingukan, ke arah kamar bu Rahma yang nampak sepi itu.
"Pak Barko, jangan dulu pulang ke mension kalau saya belum balik," pesan Ibra pada pak Barko.
"Oh, iya Tuan." Pak Barko mengangguk hormat.
"Kenapa?" tanya Dian mengerutkan keningnya heran.
"Ya ... itung-itung berjaga. Lagian biar bantu-bantu bersih-bersih Susi dan Rika." Ujar Ibra kembali.
"Oh," gumam Dian.
"Ya, Sudah. Kita jalan sekarang!" gumamnya Ibra, membuka kunci pintu mobil lalu membukakannya buat Dian.
Dian pun masuk sambil menenteng paper bag di tangan. Ia simpan di jok belakang.
Sementara dia sendiri duduk di samping kemudi. Ibra mengitari mobilnya memasuki pintu bekalang setir.
Mobil melaju cepat, setelah keduanya mengenakan sabuk pengaman. Membelah jalanan yang lumayan ramai, pandangan Dian tembus ke jendela.
Mengingat semua yang terjadi di rumah Laras. Sampai kejadian yang belum lama ini membuat matanya panas dan sakit. Dan juga ketika malam yang ia kira Ibra bersamanya sepanjang malam, ternyata hanya bantal guling yang menemaninya sampai pagi.
Sakit hati ini sakit ... "Kau mencintainya?" selidik Dian. Melirik dengan ujung matanya ke arah Ibra.
"Hah ... maksud mu apa sayang?" tanya Ibra pura-pura gak ngerti.
"Kamu cinta, kan. Sama Laras?" ulang Dian.
"Oh, wajarlah, dia itu istri ku juga. Masa harus aku biarkan sih," sahut Ibra. Dengan pandangan fokus ke jalan raya.
Dian tertegun sesaat. "Apa kah kamu akan menceraikan dia? setelah melahirkan," tiba-tiba bertanya hal itu ....
****
Hi ... aku up lagi nih, ayo ... mana jempolnya nih? makasih juga atas setia nya menunggu SKM up. Komentar kalian bikin aku ketawa, mesem-mesem sendiri🙏
__ADS_1