
Hatinya mendadak sakit, dia termangu depan pintu. Tak sadar air bening menggenang di sudut matanya. Dian langsung seka. Seraya berdehem. "Ehem ...."
Sontak yang ada di dalam kamar terkejut dan langsung menoleh kearah Dian.
"Dian?" gumam Ibra dan melepas tangan Laras.
Laras mundur beberapa langkah. Menjauh dari Ibra kepalanya menunduk dan hatinya tak karuan.
Dian langsung menghampiri Ibra dan memeluknya. "Sayang aku berangkat dulu ya," memeluk erat. Matanya melihat kearah Laras sangat tajam, yang juga melihat kearah dirinya.
"Oke, hati-hati! di antar pak Barko ya?" Ibra pun membalas pelukan Dian.
"Iya, aku akan sangat merindukanmu," ungkap Dian dengan lirih.
"Aku juga," cup mengecup kening sang istri lama ... membuat Dian memejamkan matanya, setelah beberapa saat barulah melepas pelukannya,
"Jaga diri baik-baik ya?" Dian menatap Ibra sangat lekat.
"Kau juga, pergilah nanti terlambat," ucap Ibra kembali.
"Baiklah, aku pergi dulu! Laras titip suamiku," lalu Dian menoleh Laras yang sudah sampai ke pintu.
Langkah Laras berhenti dan menoleh Dian, kemudian ia hanya mengangguk, mengiyakan ucapan Dian, detik kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Kenapa gak sedari tadi sih aku keluar dari kamar itu? ngapain juga melihat adegan mesra mereka. Dasar tulalit-tulalit." Laras mengumpat dirinya sendiri.
Segera berjalan ke tempat masak +ruang makan. Laras ikut menyiapkan sarapan.
Tengah asik Laras menata piring di meja makan. "Laras, ikut saya sebentar," suara Dian dari belakang Laras.
Laras memutar tubuhnya dan menoleh kearah sumber suara, di mana Dian berdiri dan dibelakang nya Ibra berada.
__ADS_1
"Ikut saya sebentar." Dian mengulang ucapannya. Laras mengangguk dan mengikuti langkah Dian.
Setalah berada jauh. Dian berdiri menatap Laras dengan tangan menyilang. Wanita yang mengenakan pakaian formal itu mulai bersuara.
"Selama saya berada di luar Negeri, jaga suami saya, layani dengan baik.Yeah, I know you've been good.
"Ya! saya tahu itu, selama ini kau bersikap penurut pada suami, jadi istri yang baik untuknya, okay?" tatapan Dian begitu lekat pada Laras yang menunduk tangannya bertaut.
"Baik Kak." Laras mengangguk.
"Saya paling lama seminggu di sana. Jujur saya senang kau lebih dekat dengan suami saya. Ketimbang dengan yang lainnya, meski kadang saya merasa sakit bila kau dekat dengan suami saya tapi ... never mind demi masa depan kami juga," sambung Dian sambil menghela napas panjang.
"Maafkan saya Kak?" Laras menunduk merasa bersalah akan kejadian itu, namun kenapa Laras berada dalam keadaan ini? sebab dia juga yang memaksa agar Laras masuk di dalam biduk rumah tangganya.
"Oke, saya harap setelah saya kembali sudah ada kabar baik," ucap Dian hendak melangkahkan kakinya.
"Kabar baik, maksudnya?" Laras bingung tak mengerti yang di maksudkan oleh Dian.
Laras terpaku menatap kepergian Dian, setelah puas melongo barulah Laras menghampiri meja makan, di sana sudah ada Yulia dan Mery yang duduk samping kiri dan kanan Ibra.
Laras duduk tepat depan mereka, lantas mengambil piring di tuangi nasi goreng dan ayam goreng. Laras mengambil sendiri ketimbang diambilkan asisten, ia langsung melahap sarapannya.
Ibra memperhatikan Laras yang makan dengan lahapnya, sehingga belepotan, Ibra mengambil tisu dan mengusap bibir bawah Laras yang ada bumbu dari ayam goreng yang dia makan. Laras tersipu malu dan langsung mengambil tisu itu dari tangan Ibra, sekilas senyumnya melintas di bibir Ibra.
Laras membersihkan bibirnya dengan tisu tadi. Sementara Yulia dan Mery menatap tajam penuh rasa ketidaksukaan pada dirinya, membuat Laras menjadi kikuk.
Yulia dan Mery merasa kesal dan cemburu. Sekarang suaminya lebih perhatian pada istri mudanya itu, dan bersikap cuek, dingin pada mereka berdua. Dengan kesal Mery memasukan makanan ke mulutnya sengaja dibuat belepotan. Namun Ibra diam saja seakan tidak perduli, meskipun jelas-jelas Ibra melihatnya.
Laras jelas melihat cara makan Mery yang belepotan. Laras tersenyum sambil menunduk agar tidak terlihat orang. Seraya bergumam dalam hati."Kasihan Mery, tidak di anu sama tuan Ibra."
"Sayang. Aku pasti pulang awal hari ini, biar banyak waktu sama Mamah mertua," ujar Mery berharap Ibra memperhatikannya.
__ADS_1
Ibra menoleh, melihat dagu Mery yang kotor. "Kau jorok banget ih. Sampai makan ke dagu segala gitu, nih tisu, lap jorok banget." Ibra malah cuma mengambilkan tisu buat Mery.
Dedek, kesal, marah dan sebagainya, kenapa sama dia Ibra malah cuek, tapi pada Laras lain.
Seraya menghentakkan sendok dan garpu ke piring. Mery mengelap mulutnya kasar, hatinya terlalu kesal.
"Tidak sopan," lirih Ibra sambil minum air jus.
"Kamu sudah tidak sayang sama aku lagi," hardik Mery sembari membuang tisu ke tong sampah yang ada di dekatnya.
Ibra kaget. "Apa maksud kamu? Tiba-tiba bicara begitu di sini? nada suaramu juga tinggi," menatap tajam kearah Mery.
"Itu karena kamu yang lebih sayang sama dia. Wanita baru dalam rumah ini, wanita miskin, gak punya orang tua. Ooh mungkin saja orang tuanya sengaja meninggalkan dia di panti." Mery menunjuk dan mencemooh Laras.
Yulia yang asik makan kaget, apa lagi Laras dia tidak menyangka sama sekali bahwa Mery akan berani bicara begitu.
"Mery jaga bicara mu itu," tegas Ibra menatap tajam Mary.
"Ooh, kau mau menikah sama suami yang sudah punya tiga istri juga pasti karena harta kan? Jelas-jelas Tuan Ibra, kan, seorang CEO kaya raya," sambung Mery sambil menyilang kan tangannya di dada.
"Mery, jaga bicaramu itu," lagi-lagi Ibra ingin menghentikan cemoohan Mery.
Mery hanya melirik. "Oiya, kan? semua demi uang, makanya malam pertama saja langsung pasrah. Padahal wajar kalau tidak secepat itu. Secara menikah dadakan sama pria yang baru dikenal, kok segampang itu ngasih kesucian, oh ... jangan-jangan kau sudah tidak suci lagi ya," bicara Mery makin ngelantur gak jelas.
Bak di sambar petir di tengah hari bagi Laras, ia menelan saliva nya. Sambil menatap Mery dengan tatapan berkaca-kaca! dan tak bisa berkata-kata, bibir bergetar. Air matanya mengalir tak dapat di bendung, ia terus menggeleng sebagai ungkapan bahwa semua yang dikatakan Mery itu tidak benar.
Melihat Laras menjatuhkan air mata. Ibra terenyuh hatinya, kemudian melihat Mery yang mondar-mandir dengan penuh emosi dan merasa puas melihat Laras tak berkutik. Ibra geram pada Mery kalau gak ingat bahwa dia seorang wanita ingin rasanya menampar pipinya.
Merasa berada di atas angin Mery semakin leluasa mengungkapkan isi hatinya. "Benarkan? makanya kamu gak bisa membantah omonganku hem ... dasar wanita mura--"
,,,
__ADS_1
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terima kasih sebelumya.