
Setelah mengunci pintu, tentunya Ibra tidak membuang waktu lagi. Ia melanjutkan pemanasan yang barusan tertunda. Laras yang sudah pasrah di balik selimut menatap ke arah Ibra yang sedang membuka semua yang dikenakannya.
Laras langsung buang pandangan, gak kuasa bila harus melihat sesuatu yang muncul menyeruak di balik ******* Ibra.
Ibra menyeringai melihat Laras yang memalingkan mukanya, lalu menutup wajah dengan selimut tebal itu.
Kemudian terjadilah pergulatan yang amat memanas dan lama-lama menegangkan. pertempuran yang sangat menguras tenaga sehingga lelah pun menyapa keduanya. dengan rasa puas menyelimuti hati keduanya, membuat melukiskan senyuman yang bahagia di bibir mereka berdua.
Mereka menghentikan ritualnya setelah Satu jam lebih, pergulatan panas berlangsung di bawah selimut. Sebenarnya Ibra masih ingin, namun kasian sama istrinya takut mengganggu kehamilannya.
Laras menggelinjang bangun. Mau langsung mandi dan nanti mau masak buat makan siang, Laras segera turun dengan menjepit selimut di bawah ketiak.
"Kemana sayang?" tanya Ibra sambil menangkap pergelangan Laras yang hendak turun.
"Mau, bersih-bersih. Dan mau menyiapkan buat makan siang." Menatap ke arah suaminya.
Ibra menarik tangan Laras hingga jatuh ke pelukannya kembali. Laras terkesiap dan netra matanya bertemu, tangan Ibra malah merangkul punggung Laras yang berada di atas dada Ibra.
"Lepas, aku mau masak." rengek Laras.
"Nggak boleh. biar Susi aja yang masak, itu sudah tugas dia. Kita teruskan saja ritual yang tadi hem?" bisik Ibra di telinga Laras, dan dengan nakalnya menghujani bahu Laras dengan kecupan kecil serta menggelitik pinggangnya.
Laras. Menggeliat dan terkekeh geli, Ibra makin menjadi. Suka dengan gerakan geli nya Laras, sementara tubuhnya masih polos. Selimut pun turun tidak menutupi bagian atasnya lagi.
"Ih ... kamu nakal," ucap Laras sambil menjepit selimut dengan kedua tangannya. Balik menggelitik pinggang Ibra, sehingga Ibra pun menggeliat hebat seperti cacing kepanasan.
Inilah kali pertama, mereka bercanda dengan riang, penuh kebahagian yang jarang-jarang mereka hadirkan. Setelah puas mereka berbaring dan memeluk satu sama lain.
"Aku senang, melihat mu tertawa seperti barusan. Teruslah tersenyum agar tambah cantiknya." Mengusap pipi Laras dengan lembut.
Laras mendongak. "Meskipun sendiri, gak ada orang mesti tertawa gitu?" mencolek hidung Ibra yang bangir.
"Ha ha ha ... nggak lah sayang, kalau sendiri gak usah tertawa ataupun tersenyum. Cukup ada aku saja." Sambung Ibra.
"Jadi, kalau sama yang lain harus judes, muka musam. Ditekuk gitu ya?" canda Laras menggoda.
"Bukan, gitu juga sayang, ah kamu suka bikin bingung." Lagi-lagi menggelitik pinggang Laras.
"Sudah, ampun-ampun. Cukup," rengek Laras sembari menangkap tangan Ibra.
Dasar Ibra, biarpun tangannya dikunci oleh tangan Laras. Namun bibirnya bisa aja. mendaratkan kecupannya di bagian badan Laras.
"Ih ... sudah ... sudah ... aku mau bersih." Laras menggelinjang dan melepas tangan Ibra. Sekilat mengecup pipi Ibra, lalu meraih pakaiannya segera ia pakai dan berlari ke kamar mandi.
Ibra terkejut mendapat kecupan hangat dari Laras. Ia mengusap pipinya. "Ah ..." Ibra seraya menghela napas panjang, hari ini hatinya amat berbunga-bunga penuh kebahagiaan yang menyelimuti hati dan perasaan.
Ibra segera turun dan mengenakan celana pendeknya. berjalan ke arah Pintu yang Laras kunci dari dalam, diketuknya dan memanggil.
Tok ....
Tok ....
__ADS_1
Tok ....
"Sayang ... buka, mandi bareng ya?" pekikan suara Ibra.
"Nggak mau ... kamu suka nakal, tunggu aja dulu. Aku gak lama kok," pekik Laras dari dalam kamar mandi.
Tak selang lama Laras keluar dengan mengenakan bathrobe. "Sana mandi, aku dah selesai," ucap Laras sambil melenggang melintasi Ibra yang menatap ke arah dirinya.
Ibra menangkap pinggang Laras dari belakang sehingga tubuh Laras berputar menghadap Ibra dan Ibra memeluk tubuh sang istri. Kedua tangan Laras menempel di dada Ibra, tatapan mereka bertemu sesaat. Kemudian Laras menundukkan pandangannya.
Jari Ibra mengangkat dagu Laras. Entah kenapa apa yang ada di diri Laras seolah menjadi candu untuknya, Ibra menyatukan ***** nya, napasnya menyapu kulit yang barusan kena air hingga terasa dingin.
Ibra makin memperdalam ***** nya. Tangan mengunci tengkuk Laras agar tidak bergerak.
"Su-sudah ..." Laras mendorong dada Ibra. "Katanya mau mandi."
Ibra menggenggam kedua tangan Laras. Dengan tatapan penuh arti, ia berbisik. "Sekali lagi ya?"
Laras membalas tatapan Ibra yang nampak mendamba. jantung nya bergemuruh, berdegup begitu kencang. keduanya saling bertatapan, Ibra Laras memberi persetujuan.
"Nyonya, Tuan ... makan siang sudah siap." Pekik Susi dari balik pintu.
Laras menoleh ke arah pintu dan jam dinding bergantian. Ibra mengacak rambutnya frustasi sembari bergumam. "Gagal lagi."
Netra Laras bergerak melihat Ibra yang bergumam barusan. Sudah siang," buru-buru Laras masuk kamara mandi lagi. Tidak lama kembali dan mendekati alat salatnya.
Pun Ibra masuk kamar mandi untuk bersih-bersih. Mengisi air di bathtub sambil bersiul menandakan alangkah bahagia nya hari ini.
Laras menyiapkan pakaian buat sang suami. Hingga akhirnya Ibra keluar dengan handuk melilit di pinggang, mengekspos dada yang bidang dan sedikit berbulu.
Selepas mengenakan pakaian, Ibra langsung menunaikan salat. Usai itu ... Ibra meneruskan merapikan pakaiannya, memakai minyak wangi dan lain-lainnya. Di bantu oleh Laras dengan tulus.
Kemudian keduanya menghampiri meja makan, yang Sudah di tunggu oleh Susi. "Tuan, dan Nyonya, tidur siang terus? emang kalau malam, gak tidur apa?" celetuk Susi sambil mengambil makan buatnya sendiri.
Ibra dan Laras saling pandang. Belum tau harus jawab apa? Laras memgambil makan buat Ibra lebih dulu, setelah itu baru mengambil untuknya.
"Oh, iya. Tuan kan suka sibuk, biarpun malam. Masalahnya tadi pintu dalam keadaan tidak di kunci, ponsel dan laptop tergeletak begitu saja di meja, kalau ada yang masuk gimana? kalau aku gak cepat pulang dan ada yang masuk gimana coba?" cerocos Susi.
Ibra menoleh ke arah meja yang memang benar ponsel, laptop masih tergeletak di sana. "Sorry, tadi saya lupa."
"Ya ampun ... Sus, Iya, tadi aku lupa kunci pintu, lagian aku pikir kamu gak jadi belanja. Habis kamu gak bilang sama aku Sus." Elak Laras sambil memasukan sendok ke mulut.
"Nyonya, tadi Susi titip pesan sama Tuan. Kalau Susi mau belanja, emang Tuan gak bilang ya?" melirik Ibra yang pura-pura fokus dengan makannya.
"Em ..." gumam Laras sambil menggerakkan ekor matanya pada Ibra.
"Oy, Nyonya. Di depan kok jadi tempat nongkrong para pemuda sih?" sambung Susi.
"Nggak tau, aku belum lihat--"
"Orangnya pada ganteng, gak usah lihat juga." sambar Ibra memotong perkataan Laras.
__ADS_1
"Iya, bener Nyonya. Tuan aja tahu kalau mereka ganteng-ganteng," ucap Susi membenarkan ucapan Ibra.
Laras melihat ke arah Ibra. "Emangnya, kenapa gak boleh lihat?"
"Nanti kamu suka!" sahut Ibra sambil tetap fokus dengan makannya.
"Tapi, Nyonya ... Jodi lebih ganteng bila dibandingkan dengan mereka, lagian Jodi lebih kelihatan tajirnya. Beda dengan mereka. Kalau Jodi itu ... sejajarlah dengan tuan Zayn," ungkap Susi tidak segan-segan memuji Jodi dan Zayn.
Ibra, seketika menatap Susi yang asik makan dan menunduk. Hatinya panas seperti terbakar, mendengar nama Jodi yang jelas-jelas ia cemburui. "Apa maksudnya apa? nyebut nama dia, apa kalian sering ketemuan tanpa setau saya?" Ibra mentap curiga pada Susi dan Laras bergantian.
Laras ingin melotot sama Susi, ngapain sih Susi nyebut nama Jodi segala? sementara Ibra itu jeles sama Jodi. Laras menggeleng. "Tidak, itu tidak benar. Kami gak pernah sengaja ketemuan kok, kecuali ... tidak disengaja."
"I-iya, Tuan ... kami hanya sekali saja bertemu. Waktu membeli sate ya? Nyonya." Melirik Laras yang berwajah cemas, takut Ibra marah.
Ibra menatapa Laras dengan tajam. "Apa ... dia tau rumah ini?"
"Tidak, aku rasa tidak tahu." Laras menggeleng.
Ibra menatap Laras dengan tatapan curiga dan berkata ketus. "Kamu istri ku, bukan gadis lagi."
"Iyalah, Tuan. Kalau sudah nikah, sudah tidak gadis lagi. Tuan gimana sih? hi hi hi ..." unkap Susi.
Laras diam, Ibra menekuk wajahnya kesal, makan pun jadi tak berselera. Hatinya masih terbakar api cemburu, cemburu buta.
Netra mata Laras mengarah ke piring Ibra yang masih tersisa, padahal dia suka benget dengan menunya. "Kok gak di habiskan makannya?"
Ibra menyandarkan punggung nya ke kursi sembari menggeleng dingin. "Gak berselera."
Laras termenung. "Tuh, kan? jadi mengganggu pikiran dan hatinya, bahkan selera makan." Batin Laras.
Kemudian Laras menjauhkan piring nya. "Ya udah, aku juga jadi kenyang."
"Kamu sedang hamil, harus banyak makan," ketus Ibra sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Kamu juga, harus banyak makan. Biar sehat dan kuat, bukan cuma aku saja. Aa ... buka mulutnya." Laras membujuk dan langsung ambil tindakan, untuk menyuapi Ibra. Ia paling gak suka melihat makanan tersisa, kecuali benar-benar kepepet.
Dengan terpaksa Ibra membuka mulutnya meski dadanya masih terasa panas dan sesak.
"Iya, Tuan. anda juga harus makan biar sehat dan kuat, apalagi punya istri dua, ups aku ngomong apa sih barusan?" Susi menutup mulutnya dengan tangan.
Ibra dan Laras menatap lekat ke arah Susi yang tersipu malu sendiri. Keduanya lalu tersenyum dan saling tukar pandangan. Akhirnya makan pun selasai dan tandas.
Laras. Mengambil sapu untuk bersih-bersih, dari dalam sampai teras. Ketika laras tengah menyapu.
"Suwit-suwit." Suara pemuda dari depan, tepatnya luar pagar.
Laras menoleh, ternyata pemuda yang yang kemarin lusa mengikuti. "Aduh ... mau apa sih mereka di situ? sudah di bilang juga sudah bersumi. Kok ngotot sih. Aduh ... cari masalah aja." Gumam Laras.
"Hi ... cantik? kenalan dong, boleh dong!" suara keras pemuda itu. Pandangannya tertuju pada Laras yang sedang menyapu teras.
Tiba-tiba Ibra muncul Dari dalam, dengan tatapan tajam ke arah mereka berdua. Menyingsingkan lengan jas nya ....
__ADS_1
****
Hi ... aku up lagi nih, semoga suka dan terima kasih masih setia menunggu novel SKM ini. Selamat membaca reader ku.