
Ibra memutar badan, melihat ponsel Laras yang ada di atas meja. Menyimpan ponsel miliknya dekat ponsel Laras, hati Ibra jadi gundah, namun mau nyari, gak kuat badan terasa lengket. Akhirnya ia memilih untuk bersih-bersih dulu, langkahnya terburu-buru ke kamar mandi. Mengucurkan air shower ke tubuhnya.
Tak selang lama, Ibra keluar dari kamar mandi. Dan mengambil pakaian yang sudah ada di tempat tidur mungkin Laras siapkan sebelum pergi. Setelah siap ia mengambil ponsel miliknya dan milik Laras kemudian bergegas keluar kamar.
Ibra ingat, kalau semalam Laras ingin ke pantai, jadi pikir Ibra. Saat ini Laras pasti berada di pantai, makanya dia bergegas menuju ke sana.
Sambil berlari-lari, mata Ibra terus mencari keberadaan Laras yang belum nampak di matanya. "Kamu dimana sayang? jangan buat aku khawatir dong." gumam Ibra sambil sesekali bertanya pada orang yang berada di sana. Dan menyebutkan ciri-cirinya, namun mereka bilang gak tau.
langkah Ibra terus menyusuri tepi pantai. Hingga akhirnya manik matanya mendapati seorang wanita tengah duduk di tepi pantai, di bawah pohon rindang, jauh dari keramaian. Senyum Ibra muncul kembali setelah beberapa saat menghilang. Ia berjalan mengendap-ngendap, mendekati wanita tersebut.
Setelah dekat pada target, kedua tangan Ibra menangkupkan di mata Laras. Mengahalangi pandangannya.
Laras yang mulanya anteng dengan pandangan jauh ke air laut. Sangat terkesiap mendapati tangan yang menutupi matanya, namun kemudian ia mengira itu pasti Ibra, siapa lagi? dia bangun pasti mencari-cari dirinya yang tidak berada di tempat.
"Aku tahu, siapa kamu?" ucap Laras sambil membuka tangan itu yang menutup matanya. Kemudian menoleh ke arah Ibra dengan senyuman bahagianya.
Ibra memeluk dari samping, dan mencium pipi Laras dengan sangat lembut. "Kenapa meninggalkan ku hem ... aku cemas mencari mu, mana tidak bawa ponsel lagi, sulit aku hubungi," tangannya menyelipkan rambut di telinga Laras.
"Tadi aku sudah bangunkan, kamu gak bangun juga, jadinya aku tinggal," sahut Laras sambil memandangi laut yang terbentang luas.
Ibra pun melihat yang Laras pandangi. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Laras lagi. "Kamu suka tempat ini? hem ... suka gak."
Laras mengangguk dan melukis senyumnya. "Aku suka. Kapan-kapan boleh ya? ke sini lagi." Tanya Laras dengan raut wajah yang sumringah, bahagia.
"Boleh, tentu boleh. Syukurlah kalau kamu suka dan bahagia!" mencium pucuk kepala Laras.
"Bener? mau mengajak ku ke sini lagi," tanya Laras menatap lekat ke arah Ibra.
"Iya, sayang ... iya!" jarinya mengelus pipi Laras. "Oya, sudah makan belum?"
"Gimana mau makan? aku gak bawa dompet." Keluh Laras dengan nada manja.
Lagi-lagi, Ibra mencium kepala Laras penuh rasa kasih. "Ya ... sudah, kita cari makan dulu yu?" menarik tangan Laras agar berdiri.
Setelah mereka berdiri, Krucuk-krucuk! suara bunyi perut keduanya berbarengan. Membuat keduanya tertawa lepas merasa lucu, lucunya seperti janjian. Perut yang keroncongan minta jatah makan.
Ibra menggandeng tangan Laras untuk mencari makan. "Mau makan di mana sih?" tanya Laras sambil menghentikan jalannya.
Ibra menoleh ke arah Laras yang langkahnya terhenti dan memandangi warung sate. "Apa mau makan sate?" tanya Ibra, sebab mata Laras tertuju ke sana.
__ADS_1
Laras mengalihkan pandangannya pada Ibra dan mengangguk. "Mau. Aku ... mau makan di sana!" rajuk Laras. setau dia Ibra belum tentu mau makan di warung kecil seperti itu.
Ibra menatap tempat itu sejenak lalu melihat Laras kembali seraya berkata. "Ayu ... bumil ku, kita makan di sana, tapi dengan satu syarat."
Hati Laras yang sudah berbunga-bunga jadi menciut kembali. "Apa?" penasaran.
"Kalau warung itu bersih. Tapi ... kalau sebaliknya, aku gak mau. Oke?" menatap ke arah Laras.
Namun Laras, malah menatap gak suka pada Ibra.
"Aduh salah lagi." Gumam Ibra sambil menggaruk tengkuknya. "Yu, kita pesan sate nya. Lapar nih," menarik tangan Laras menuju warung sate itu.
Setelah sampai, kebetulan warungnya terlihat bersih, keduanya duduk berhadapan. Sebelum satenya datang, di meja tersedia kentang goreng. Laras pun memakan kentang goreng tersebut. "Aku lupa, Abang, kan tidak terbiasa makan di tempat seperti ini ya?" ucap Laras, namun Ibra menggeleng. Membuat Laras tak bicara lagi hal itu.
"Silakan sate nya Nyonya dan Tuan, selamat menikmati." ujar orang yang mengantar pesanan.
"Makasih, Mas." Ibra mengangguk. Dan menyodorkan sate ayam ke Laras, sementara ia sendiri sete kambing.
Laras segera melahap sate itu dengan nasi putih nya. Dengan beberapa saat saja sate milik Laras raib, tinggal tusuknya saja. Ibra melongo sambil menyunggingkan bibirnya, melihat sang istri makannya begitu lahap.
Laras yang merasa diperhatikan oleh Ibra, ia menoleh dan memperlihatkan gigi putihnya. "Apa, lihat-lihat? baru ya melihat orang kampung makan." Sambil mendelikkan ekor matanya.
"Nggak ah, sudah cukup. Nanti di kira kesurupan lagi," sahut Laras sambil menggeleng. Kemudian meminum minumannya.
Ibra menggeleng, lanjut menghabiskan makannya. Diakhiri dengan segelas air putih, lalu membayar yang sudah di makan barusan. "Nona, mau beli gak? buat di hotel nanti," menatap ke arah Laras yang juga melihatnya.
"Nggak mau ah," sahutnya sambil melangkah ke luar warung tersebut. Diikuti oleh Ibra dari belakang.
Keduanya kembali berjalan. Tangan Ibra tidak lepas dari tangan Laras yang terus di gandeng nya, jalan menyusuri pantai. Sesekali mendekat ke air yang terbawa oleh ombak kecil ke pesisir, senangnya hati dapat terus bersama pasangan.
Sesekali Laras menyandarkan kepalanya di bahu Ibra. Dan Ibra rangkul dengan mesra tubuhnya. Sesekali kecupan hangat mendarat di kening Laras.
Langkah Laras terhenti melihat pohon kelapa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Buah kelapa itu seolah terus melambai agar di petik nya. "ih ... kanya segar deh minum air kelapa itu ..." gumam Laras sambil menelan saliva nya.
Mendengar gumaman Laras. Ibra menoleh dan menatap wajah Laras yang memandangi pohon kelapa tersebut. "Kalau kamu mau, itu di sana ada yang jualan air kelapa, beli yu?" sambil menarik tangan Laras.
Namun Laras menarik tangannya dari genggaman tangan Ibra. "Nggak sayang, aku pengen dari pohonnya langsung."
"Apa? tadi kamu bilang apa? coba sekali lagi," Ibra memasang telinganya ingin mendengar sekali lagi yang Laras barusan ucapkan.
__ADS_1
"Ha, maksud aku. Aku ingin dari pohonnya langsung." Ralat Laras setelah sadar yang tadi ia ucapkan.
"Nggak, bukan itu." Ibra menggeleng.
"Yang mana?" tanya Laras kebingungan.
"Yang tadi, sebelum kata-kata itu. kamu panggil aku sayang, coba ucapkan sekali lagi." bisik Ibra.
"Nggak ada ah, aku pengen minum air kelapa, tapi Abang yang petiknya dari pohon itu." Laras menyeringai.
"Apa sayang, aku yang harus metiknya? aku gak bisa naik pohon loh sayang!" Ibra kaget dengan permintaan Laras yang macam-macam ini.
"Tapi, aku maunya gitu ... Abang sendiri yang harus metik langsung dari pohon." Laras kekeh.
Ibra menangkupkan kedua tangannya di wajah Laras. "Sayang ... dengar aku, berapa pun aku belikan kelapa mudanya, tapi jangan suruh aku untuk memetiknya. Atau suruh orang aja ya? yang petik buat kamu." Bujuk Ibra sambil mengelus pipi Laras dengan punggung jarinya.
"Aku maunya, hasil metik kamu, bukan hasil orang," lirih Laras sambil menggelengkan kepalanya. "Ya ... sudah gak usah lah, kita balik saja ke hotel." Laras berjalan untuk pulang.
"Sayang ... sayang, dengar aku?" Ibra menarik kedua tangan Laras.
"Apa lagi? aku mau pulang," dengan rasa kecewa. Hati nya terasa sakit. "Aku sudah bilang, jangan aja. gak usah, aku sudah gak pengen," segera Laras hempas kan tangan Ibra.
Ibra langsung memeluk tubuh Laras yang merajuk. "Maafkan aku sayang?" ia dekap erat dan di cium keningnya. "Jangan marah. Aku akan memberikan yang kamu mau. oke?"
Laras mendongak. "Jangan. Aku gak mau lagi, lain kali aja. Lagian ... tadi Abang bilang, gak bisa naiknya," akunya Laras.
"Nggak-nggak, sekarang juga aku akan petikan untuk mu, untuk anak kita. Kamu duduk di sini ya?" Ibra menyuruh Laras duduk di kursi, yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Laras menurut dan duduk di kursi tersebut. Mengamati Ibra yang katanya mau mengambilkan kelapa muda untuknya. "Tadi bilangnya, gak bisa manjat pohon, sekarang malah bilang mau metik, gimana sih?" gumam Laras dalam hati sambil terus mengamati langkahnya Ibra.
Ibra, meminta tolong pada seseorang, untuk membantunya manjat pohon kelapa. Meskipun tidak bisa naik pohon. Namun ia harus berusaha untuk si calon baby nya. Ia berjalan menuju sebuah pohon kelapa yang Laras tunjuk tadi.
Setelah di bawah pohon itu. Ibra berdiri dan mendongak. "Aku harus bisa memanjat pohon ini, terutama memetik buahnya. Masa gak bisa naik pohon kelapa ini aja? malu dong! apa kata Laras nanti. Kalau aku gak bisa naik dan memetik kelapa."
Ibra bersiap naik pohon itu. Dibantu oleh beberapa orang dari bawah akhirnya ia sudah berada di tengah. Betapa ngerinya ketika melihat ke bawah, beda dengan pandangan dari atas gedung atau dari ketinggian lainnya. berasa aneh saja, dibarengi lutut yang bergetar. Tangan pun seperti kesemutan.
Berkali-kali Ibra menghela napas, kemudian ia hembuskan dan begitu seterusnya. Keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya, tatapannya tertuju ke buah kelapa muda ....
****
__ADS_1
Tadinya, mau up semalam, tapi rasa kantuk benar-benar tak bisa di kompromi. Tidak lagi bersahabat dengan keinginan ini, akhirnya baru bisa up sekarang🙏 ayo dong ... mana like dan komennya yang banyak? agar aku tambah semangat lagi.