
Setelah berada di dalam, Ibra menyuruh tunggu sebentar dan meminjam kursi untuk duduk, Laras pun duduk menunggu. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat tersebut.
Sesaat kemudian Ibra kembali membawa beberapa ukuran sendal, sebab ia belum tahu ukuran kaki Laras. "Sayang, coba nih yang mana, aku bawakan beberapa ukuran, habis aku belum hapal ukuran kaki mu,"
"Itu ukuran 37. Kaki ku, kan mungil," sahutnya sambil menunjuk sendal ukuran kakinya.
Ibra berjongkok memasukan sendal ke kaki Laras. "Padahal kenapa gak pake sendal hotel aja tadi?"
"Nggak enak, itukan punya
hotel masa mau bawa?" jawab Laras sembari berdiri mencoba nyaman atau nggak nya.
"Tak apalah, di bayar kalau kamu pake." Ibra berdiri. "Gimana nyaman gak?"
"Sudah, nyaman, makasih ya?" Laras melempar senyumnya pada Ibra.
"Ya sudah, kita cari lagi sendal. Sepatu ukuran kaki mu," Ibra menunjuk tempat sepatu dan sendal.
Sendal-sendal yang tadi sudah di bawa lagi sama penjaganya.
Ibra berjalan ke tempat sendal-sendal. Laras mengikuti dari belakang, lihat-lihat barang yang ia suka.
"Pilih saja mana yang suka," ucap Ibra sambil planga-plango. Melihat Barang-barang wanita.
Laras hanya menoleh dan kembali fokus melihat-lihat semua barang yang ada.
Ibra mengambil beberapa pasang sendal dan sepatu buat Laras. Dengan ukuran kaki Laras.
Melihat Ibra mengambil dengan ukurannya semua heran, dan memberanikan diri untuk bertanya. "Itu ... sepatu dan sendal buat siapa?"
"Buat kamu sayang, buat siapa lagi?" sahut Ibra sambil mengedarkan pandangan ke lain tempat.
"Jangan banyak-banyak, nanti gak ke pake, sayang mubazir." ucap Laras. Netra matanya melihat sendal dan sepatu itu.
"Kita beli pakaian ya?" ajak Ibra sambil menyeret pelang sang istri ke konter pakaian.
"Iih ... baju banyak, ngapain sih beli lagi?" menggaruk tengkuknya.
Ibra merangkul bahu Laras. "Sayang ... gak nyadar apa? sebentar lagi perut mu membesar, apa pakaian yang ada akan tetap cukup di tubuh mu hem?" menatap mata Laras dalam-dalam.
Laras terdiam sesaat, sambil menggerakkan manik matanya melihat perut yang sekarang saja sudah mulai membulat.
Ibra mengusap purut Laras dengan lembut. "Sekarang aja, perut mu sudah mulai ketara sayang. Sudah mulai membulat nih, apa yakin gak mau beli pakaian baru?" tanya Ibra kembali.
"Mau, beli aja seperti daster," Laras mengangguk pelan, setelah berpikir sejenak.
Ibra tersenyum senang, dan menggandeng tangan Laras diajaknya jalan menuju konter pakaian wanita. Setiap konter pakaian wanita mereka datangi.
Di sana Ibra memilihkan pakaian bumil, seperti daster, pakaian yang longgar. Seperti setelan bra juga tidak ketinggalan ia ambilkan. Lagian sekarang Ibra sudah tau ukuran dada Laras. Bahkan dia tau kalau bumil lingkaran dadanya akan mengembang, jadi dia membeli juga yang ukurannya lebih besar.
Laras mesem-mesem sendiri, melihat Ibra yang tidak segan-segan. Membeli pakaian dalam wanita, kerjaan Laras hanya mengikuti Ibra dan melihat dia ambil ini itu.
Kemudian, Ibra mengajak Laras ke toko tas yang bermerek. Ibra menunjuk tas merek LV, yang ukurannya kecil. Mungil seperti tas Laras yang talinya putus itu.
"Apa ... tidak kemahalan? itu bandrolnya, gila ... mahal banget," ucap Laras setelah mengintip harga tas tersebut.
"Kamu, suka gak yang ini?" menunjuk yang ia pegang dengan warna biru tua.
Laras bengong, memandangi tas tersebut. Harganya aja mencapai 50,7jt. Ia menggeleng. Tercengang dengan harganya.
"Ck, mau nggak?" Ibra berdecak dan menyimpan tas tersebut ke tempatnya.
Laras menatap tas itu. "Mau ... tapi mahal! kita beli di tempat lain saja yang lebih murah," bisik Laras, mengedarkan pandangannya ke penjaga.
"Aku cuma butuh jawaban dari kamu, mau apa nggak? itu aja, dan kamu gak perlu memikirkan harganya." Ibra menatap lekat ke arah sang istri yang ragu, beli barang yang harga mahal.
Laras menatap tas itu. seraya berkata. "Mau."
"Nah ... cuma gitu aja kok repot."
Ibra mengambil kembali, dan diberikan ke penjaga agar di kemas rapi.
Semua keperluan Laras sudah Ibra belikan termasuk susu bumil beberapa kemasan yang ukuran besar.
"Jangan terlalu banyak, apalagi ukuran besar. Nanti gak habis, mubazir." ungkap Laras menggantikan susu bumil dengan ukuran sedang.
"Hadeh ... bisanya komen mulu," timpal Ibra. Sembari menyimpan ukuran besar lainnya.
"Emang, begitu. Nanti tidak habis mubazir. Kamu tau? mubazir itu kawannya setan." ketus Laras memandangi ke arah suaminya.
"Iya, sayang ... iya ..." sahut Ibra sambil membawa belanjaan ke kasir.
Selanjutnya, Ibra membawa Laras ke konter furniture minimalis. Untuk isi rumah baru yang akan di huni Laras nanti.
"Buat apa ajak aku ke sini?" tanya Laras pada Ibra dengan heran.
Di sana, sudah ada Zayn menunggu dan melihat-lihat barang di sana.
"Kamu suka yang mana sayang?" tanya Ibra sambil mengajak Laras duduk di sofa.
"Ha, buat apa?" tanya Laras tidak mengerti.
"Em ... gini aja, seandainya kamu punya rumah baru, kamu pasti butuh perabotan. Nah ... pilih kamu butuh apa saja? kamu tinggal tunjuk saja. Dari mulai sofa, lemari, tempat tidur dan meja rias pokonya apapun?" Ibra menunjuk satu-satu.
Laras melongo, jadi bingung. Berpikir sejenak. "Jika aku ... punya rumah baru, apa aja yang harus aku beli?" netra matanya terus bergerak memperhatikan barang-barang rumah yang ada di situ. Kemudian dia gak mau ambil pusing, ia tunjuk aja yang disukai dan Zayn mencatat dan diberikan pada penjaganya.
"Tapi, Bang ... ini semua mau di bawa ke mana?" menatap heran.
"Em ... nanti aja kalau sudah ada tempatnya, tinggal konteks dan mereka tinggal kirim. Tenang saja," jawab Ibra senyum senang.
Laras menggoyangkan bahunya, tidak mau pusing. Ia hanya mengikuti saja yang Ibra suruh. Tangan Ibra menggandeng tangan Laras sambil jalan-jalan di Mall tersebut.
Gruk! gruk, gruk ... suara yang datang dari perut Laras. Ibra menoleh ke perut dan ke wajah Laras. "Sayang, lapar lagi?" tanya Ibra menggerakkan matanya naik turun.
__ADS_1
Laras mesem dan mengusap perutnya sambil mengangguk. "He'em."
"Ya sudah, kita pulang dan cari makan dulu. Kebetulan sudah siang juga." Ibra menoleh jam yang melingkar di tangannya.
Netra matanya mencari keberadaan Zayn. Kemudian Ibra mengambil ponsel yang nyelip di saku jas nya.
Ibra: "Halo, di mana?"
Zayn: "Iya, bos. Saya sudah di mobil, bos di mana? pacaran mulu? ha ha ha ...."
Ibra menutup kembali. Menyimpan ponsel di saku celana. "Yuk, pulang. Zayn sudah di mobil.
"Belanjaan kita di mana?" tanya Laras celingukan.
"Sudah di mobil, sama Zayn." sahut Ibra sembari menggandeng tangan Laras.
"Semua?" Laras menatap ke arah suaminya.
"Iya, sayang ... semuanya." Sembari berjalan.
"Segitu banyaknya?" gumam Laras.
Mereka berjalan keluar dari Mall tersebut. Langkahnya tertuju ke sebuah parkiran, sesampainya di dekat mobil. Ibra membukakan pintu buat Laras dan dia langsung menggeser duduknya agar Ibra masuk di pintu yang sama.
"Pulang, eh cari restoran dulu." ucap Ibra pada Zayn yang langsung membalas dengan anggukan.
Zayn segera melajukan mobilnya. Membelah jalanan yang lumayan ramai, berpacu dengan kendaraan lainya.
Jari Ibra terus saja bertaut dengan jemari lentik Laras di atas pangkuan Laras. Netra mata Laras sesekali menatap tangan itu, kemudian melihat Ibra yang pandangannya lepas keluar jendela.
Helaan napas tampak berat, berat untuk berpisah dari pria yang beberapa hari ini bersamanya. kepala Laras memutar melihat ke belakang ke sebuah gerobak bakso.
"Bakso, itu bakso. Abang kita beli bakso itu ya?" Laras menoleh Ibra yang anteng dengan lamunannya.
"Ha, apa? yang mana!" tanyanya sambil menoleh ke arah yang Laras tunjukan.
Zayn pun yang mendengar keriuhan di belakang, memelankan laju mobil. Sembari menunggu perintah dari sang bos.
"Zay, putar arah. Balik ke tukang bakso gerobak yang di belakang itu," titah Ibra jarinya menunjuk gerobak bakso yang Laras inginkan.
"Oke ..." sahut Zayn, kemudian memutar kemudi mencari tempat untuk putar arah.
Selang waktu kemudian, mobil sudah berada dekat gerobak bakso yang mangkal di sana. Ibra dan Laras turun dan duduk di bangku dan memesan bakso sapi kuah.
"Mau pesan berapa porsi Tuan?" tanya si abang yang jualan.
"Zayn, mau gak?" teriak Ibra pada Zayn yang masih betah di belakang kemudi.
Zayn menoleh. "Ada-ada aja maunya bumil?" batin Zayn sambil menggeleng. Kemudian turun dari mobil, menghampiri Ibra dan Laras. Duduk di bangku.
Mata Ibra menatap Zayn yang duduk dan belum menjawab pertanyaannya. "Mau pesan gak?"
"Mau lah, kalau gak mau, ngapain duduk di sini? gak mungkinkan, cuma melihat bos makan," sahut Zayn sambil nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Tidak, Bang. Tiga porsi." Pesan Ibra pada si Abang.
Tidak menunggu lama, bakso pun sudah di hidangkan. Dan mereka langsung melahapnya. Zayn membeli teh manis lebih dulu tiga botol, tentunya untuk bertiga.
"Laras! kamu Laras?" sapa seorang wanita seusia Laras yang tiba-tiba muncul di tempat tersebut.
Laras mendongak dan tersenyum ramah. "Iya, apa kabar Sarah?" sahut Laras.
"Kemana saja kamu? kerja nggak, di kontrakan pun menghilang?" ucap wanita yang Laras panggil Sarah itu, duduk di depan ketiganya.
"Menghilang? jin kali ah," gumam Zayn di sela makannya.
Membuat semua menoleh ke arah Zayn yang pura-pura tidak bicara apa-apa.
"Oh, iya ... aku berhenti kerja." Jawab Laras sambil kembali menikmati Baksonya.
Sarah pun memesan bakso. Ibra anteng makan bakso nya sampai yang tersisa kuahnya saja.
Zayn menoleh, melihat mangkuk Ibra yang tinggal kuahnya. "Lapar bos?"
"Kenapa emang?" sahutnya sembari melihat Laras yang menikmati makannya, sampai-sampai tak bisa di ajak bicara oleh kawannya itu.
"Ah ... nikmatnya," lalu menyedot teh manisnya.
"Mau tambah lagi sayang?" tanya Ibra sambil tersenyum dan melapkan tisu ke bibirnya Laras.
Netra mata Laras bergerak ke arah Ibra dan menggeleng. "Nggak ah."
Sarah bengong, mendengar panggilan pria tampan yang bersama Laras. Ia pikir sebelumnya kalau pria tampan tersebut seorang bos, bosnya Laras. Tapi ... ternyata memanggil Laras dengan panggilan sayang. "Laras! dia siapa?"
"Saya suaminya!" sahut Ibra sembari menoleh ke arah Sarah yang tampak penasaran.
"Suami?" melihat Ibra dan Laras bergantian serta menaikan alisnya sebelah.
"Apa kau tidak mendengar, Nona ... kata dia, dia itu suaminya. Dan Nona muda ini adalah istrinya," celetuk Zayn. Meneguk minumnya.
Laras mengangguk, untuk menambahkan jawaban dari Ibra dan Zayn.
"Sudah. Jalan sekarang?" Ibra beranjak dari duduknya, begitupun Laras berdiri. Diikuti oleh Zayn.
Laras membereskan mangkuk bekas mereka yang langsung di ambil sama Abangnya. Ibra pun membayar semuanya termasuk punya Sarah.
"Sarah, aku duluan ya?" pamit Laras lalu melambaikan tangannya.
"Nona, sampai jumpa lagi ya." ucap Zayn sambil mengedipkan matanya. Sarah membalas Zayn dengan senyuman manisnya.
Kini ketiganya, sudah berada di dalam mobil yang sedang berpacu dengan waktu. Laras heran dengan jalan yang mereka lewati, yang bukanlah jalan menuju pulang.
"Loh, kok. Bukan jalan menuju pulang?" tanya Laras heran dan seketika melihat ke arah Ibra dan Zayn bergantian.
__ADS_1
Ibra mengulum senyumnya, dan mengusap tangan Laras. "Jalan pulang kok sayang."
"Bukan ah, bukan jalan pulang ke mension ini," Laras semakin heran.
"Tenang saja, Nona ... nanti tau-tau juga sudah di mension. Tenang saja, jangan khawatir dan usah bimbang, yang penting selamat sampai tujuan. Abang Zayn siap menjaga Nona dan Taun bos. Santai aja." Zayn sangat percaya diri.
Laras melukiskan senyum ke arah Ibra yang menggeleng mendengar perkataan Zayn barusan. "Kita mau ke mana?" tanya Laras dengan sangat lirih dan menatap bola mata Ibra sangat dalam.
Wajah cantik Laras yang menghadap ke Ibra bikin Ia ingin menerkam, tapi sayang ada orang ke tiga di sana. Membuat Ibra hanya bisa menelan saliva nya.
"Jawab?" gumam Laras dengan tatapan semakin lekat.
"Iya, nanti juga tahu. Kita mau ke mana? sabar ya," Ibra mengusap pucuk kepala Laras dan mendaratkan kecupan singkatnya di kening Laras.
Zayn yang sekilas melihat dari kaca spion berdehem. "Ehem! sabar ya ... bentar lagi juga nyampe, bentar ... deh. Di tahan! jangan sampai tumpah di sini, bahaya."
bola mata Ibra bergerak menoleh Zayn. "Apa maksud mu?"
"Oh, tidak ada maksud bos. Ngomong doang, ha ha ha ..." tetap fokus ke depan.
Akhirnya, Mobil memasuki sebuah halaman rumah minimalis yang lumayan sederhana. Di sana ada dua orang pria yang menunggu kedatangan mereka.
Setelah memarkirkan mobi, Zayn lebih dulu turun dan menemui kedua orang tersebut.
"Ini, rumah siapa sih?" tanya Laras semakin heran. "Rumah Zayn ya?"
Ibra menggeleng. "Bukan. Yuk turun," ajak Ibra sambil membuka pintu hendak turun.
"Nggak ah, malas. Aku tunggu di sini saja ya?" ucap Laras menyandarkan punggungnya ke belakang jok.
Kaki Ibra yang sudah turun sebelah, akhirnya ia naikan kembali dan duduk. "Kenapa? turun, kita masuk dulu ke rumah itu." meraih tangan Laras.
"Nggak ah, capek. Aku ingin istirahat di sini saja." Laras menggeleng.
Ibra menghela napas panjang, mengelus lembut punggung tangan Laras. "Aku gendong ya?" tangan Ibra sudah bersiap untuk menggendong tubuh Laras.
"Nggak mau, aku bilang gak mau." Laras kekeh.
Tubuh Ibra pun bersandar seperti Laras dan tangannya membelai kepala Laras. "Kalau kita gak masuk, mana tahu dalamnya rumah itu gimana? seperti kita berdua, kalau kita tidak pernah melakukannya. Kita tidak akan pernah tahu nikmatnya, apa lagi sampai ada baby di perut mu."
Laras menegakkan duduknya. "Apaan sih? gak nyambung banget. Lagian buat apa aku masuk? Abang aja yang masuk. Aku di sini saja."
Hembusan napas Ibra menyapu bahu Laras. "Kalau rumah itu buat kamu, masih gak mau lihat?"
Laras menatap netra mata Ibra dalam-dalam. "Rumah buat aku?"
"Iya, buat kamu, bukannya kamu pernah bilang. Kalau kamu ingin pindah dari mension kita?" lirih Ibra, punggung jarinya mengelus pipi Laras yang dengan netra mata terus bergerak menatap mata Ibra. Mencari kesungguhan di sana.
"Kamu, serius?" ia baru ingat pernah bilang seperti itu, ketika Sebelum Ibra berangkat ke luar Negeri. Itupun kalau tidak salah.
Ibra mengangguk. "Serius sayang."
Kemudian manik mata Laras mengamati rumah tersebut, dari dalam mobi. Dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Turun ya? lihat-lihat, kamu suka atau tidak. Seandainya tidak suka, kita bisa cari lagi, rumah yang lain." Ibra mengajak Laras turun dan Laras pun menurut.
Hati Laras sungguh bahagia. Akhirnya akan pisah rumah juga, biarpun sederhana tapi lumayan lah kalau untuk dihuni sepuluh orang pun masih cukup kayanya. Yang penting tidak serumah dengan istri Ibra yang lainnya.
Keduanya berjalan, memasuki rumah tersebut. di dalamnya terdapat dua kamar tamu, satu kamar utama dan satu kamar di belakang. Buat asisten rumah tangga yang lumayan luasnya. Semua ruangan Laras dan Ibra cek dalamnya. Di belakang pula terdapat sebuah taman kecil, dan kolam renang yang luasnya 4x5/segi, dan di pinggirnya terdapat pula dinding yang tinggi sehingga kalau berenang itu, tidak jadi tontonan orang luar.
Laras berdiri dekat taman bunga tersebut, dengan senyuman yang tak lepas dari bibir nya. Ibra menghampiri dan memeluk dari belakang, seraya berbisik. "Gimana sayang suka nggak hem?"
Laras melirik dan melepas pelukannya. Memutar badan, berhadapan dengan Ibra. "Aku suka."
"Yakin mau ambil yang ini saja?" tanya Ibra kembali sembari menyelipkan anak rambut di telinga Laras.
"Iya, sudah. Ini saja." sahut Laras, kemudian menundukkan pandangannya ke lantai.
"Oke, kita ngobrol di dalam," Ibra menggandeng tangan Laras ke bagian salam.
Laras mengikuti dari belakang. sesampainya di sebuah ruangan yang ada kursinya dan Zayn bersama dua pria tersebut duduk berhadapan.
Obrolan mereka, jelas tentang pembelian rumah ini, pria tersebut sudah menyiapkan berkas yang akan di tanda tangani.
Ibra menandatangani berkas tersebut sebagai pembeli dan Laras pun harus menandatangani juga sebagai pemilik baru rumah ini. Dan rumah itu akan menjadi hak milik Laras. Laras tidak sepatah kata pun mengeluarkan suaranya, hanya mengikuti prosesnya saja.
Kebetulan, rumah itu sudah bersih, cuma masih kosong. Tinggal di isi dengan barang-barang aja. Setelah kedua pria itu pamit, tinggal Ibra, Laras dan Zayn saja di sana.
"Berarti, yang sudah di beli itu ... masih kurang komplit, misalnya keperluan kamar mandi dan dapur, belum di beli ya?" ujar Ibra sambil mengamati setiap ruang.
Laras mengangguk, begitupun Zayn. mengedarkan pandangan ke seluruh tempat.
"Pesan aja lagi, dan sekalian sama tukangnya beberapa orang, untuk ngerjain. Hari ini juga, oya barang sudah di beli minta, segera diantar. Seperti sofa dan tempat tidur." jelas Ibra.
"Oke, emang mau langsung di tempati?" tanya Zayn menatap ke arah Ibra.
"Iya, kasian. Kalau Laras harus balik lagi ki mension. Dia tampak capek, harus istirahat." Melirik Laras yang sedang duduk di kursi tampak lelah.
Zayn pun menoleh ke arah Laras. "Baiklah, aku akan urus semuanya." Zayn mengagguk dan mulai sibuk dengan ponselnya.
Ibra mengambil belanjaan Laras dan di bawanya ke kamar utama yang masih kosong. Melihat Ibra bolak balik ke kamar utama, Laras pun masuk mengedarkan pandangan. Kamarnya yang lumayan luas, bila pun menyimpan tempat tidur baby di sana.
Ibra melihat Laras berdiri di dalam kamar utama. Segera memeluk Laras sangat erat, hatinya sangat bahagia bisa membelikan rumah meskipun tidak besar tapi nyaman. Lagian Laras bukan tipe yang pengen mewah.
Kaki Ibra menutup pintu. Tangannya mendekap erat tubuh Laras dan membalikkan tubuhnya, supaya berhadapan.
"Apa gak ada ucapan terima kasih gitu ya?" ucap Ibra menatap wajah Laras yang tampak lesu.
Netra mata Laras bergerak melihat Ibra yang tengah menatapnya juga. Pelan-pelan wajah Ibra mendekati wajah Laras, sehingga deru napasnya menyapu kulit wajah Laras dan semakin mendekat saja.
Blak!
Pintu terbuka di barengi suara Zayn. "Bos ...."
__ADS_1
****
Maaf ya 🙏 hari ini up nya telat banget nih. Maklum hari ini banyak gangguan nya. Selamat membaca.