Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menjadi candu


__ADS_3

"Alhamdulilah ... gak panas kok!"


Ibra menggeliat dan mengeratkan pelukannya yang kini bukan pinggang Laras yang ia peluk, tapi ... kaki Laras.


"Tuan, eh Abang?" panggil Laras menatap Ibra yang masih terpejam.


Mendengar suara Laras yang begitu lirih di telinganya, membuat Ibra sedikit membuka mata. Mendongak. "Sudah bangun sayang?" suara Ibra berat, kemudian menggosok mata dan mendudukkan tubuhnya hingga bersandar.


"Sejak kapan panggil aku sayang?" batin Laras sambil melihat ke jendela.


"Kenapa Tuan tidur di sini! bukannya tadi pagi berangkat ke kantor?" tanya Laras menatap heran.


"Emangnya gak boleh, bila aku ada di sini? kan ini kamar istriku, bebas dong bila aku tidur di sini juga," mata Ibra menatap dada Laras yang terbuka kancing piyama nya, bra nya pun berantakan, bekas tadi ia bermain-main di sana, Berkali-kali ia menelan saliva nya yang tersekat di tenggorokan.


Manik mata Laras mengikuti arah mata Ibra tertuju ke mana? Ia baru sadar kalau kancing bajunya terbuka bahkan bra nya tak beraturan. Laras refleks menutupinya dengan kedua tangan. "A-apa yang kau lakukan padaku? saat aku tidur, kenapa suka sekali mencuri. Ketika aku sedang tidak sadar sih," ucapnya dengan suara parau.


Ibra malah senyum mengembang mendengar ucapan Laras. "Makanya jangan menggoda!" sahut Ibra


"Menggo ... da! menggoda apa nya? orang tidur kau bilang menggoda! gak salah." Laras menaikan suara seraknya.


"Maksud aku, makanya jangan cuek sama suami. Di pegang tangan gak mau, di sentuh gak mau. Apalagi suami mau pergi, kan tambah penasaran," jelas Ibra.


Laras menatap teduh Ibra yang membuang wajahnya. Ia baru ingat nanti sore suaminya akan pergi selama satu minggu ke luar Negeri bersama istrinya, Dian.


Sementara Laras bengong dan lengah, tanpa memberi aba-aba. Ibra mencium bibir Laras secara kasar, Laras terkesiap mendapat perlakuan itu, ia memukul dada Ibra yang tidak bergeming. Sentuhan itu yang mulanya kasar berubah menjadi lembut dan penuh kehangatan.


Laras tidak bisa apa-apa lagi. Kepalanya di kunci oleh tangan Ibra yang kuat, hanya bisa pasrah dan menerima ******* dari bibir Ibra. Apalagi ketika tangan kekarnya Ibra ******* b*** dada Laras, tanpa di sadari ia mengeluarkan suara ******* dari bibirnya. Membuat Ibra semakin suka dan bergairah mendengarnya, kian mendorong keinginannya untuk lebih dari sekedar itu.


Sentuhannya semakin panas, tangan Ibra kian bebas menjamah apapun yang dia suka, suara-suara kecil lolos dari bibir mereka, sesaat Ibra melepaskan dan sedikit menjauh. Tatapan mata yang berkabut gairah itu semakin tebal.


Kelopak mata Laras tertutup, ketika Ibra pelan-pelan mendorong ke belakang dan membaringkannya. Ibra bergegas membuka kemejanya, rasa sudah tidak sabar ingin segera menembak, bagi Ibra gak mudah membuat Laras itu pasrah, kebanyakan harus diberi sedikit paksaan dulu. Baru dia mau.

__ADS_1


Laras memang kali ini pasrah dengan apa yang Ibra lakukan. Di benaknya nurut sama suami itu lebih baik, apalagi sekarang Laras punya tujuan untuk meluluhkan hati Ibra membuatnya jatuh cinta. Agar dia sebagai istri lebih diakui! bukan cuma status saja tapi juga di cintai.


Mulai saat ini, Laras harus sejajar dengan kedudukan Dian dalam hati Ibra. Jangan cuma istri yang Dian anggap istri kontrak yang hanya untuk meminjamkan rahim saja. Laras sudah bertekad bahwa kehidupannya harus normal selayaknya wanita menikah pada umumnya.


Di bawah selimut yang tebal. Ibra semakin mengunci gerak tubuh Laras yang menatap sayu, seakan mengatakan aku sudah siap!


Ibra tidak perduli meskipun ponselnya terus berdering. Laras memutar kepalanya ke arah ponsel milik Ibra yang di atas meja, ia pikir paling Dian yang menelpon. "Maaf, suami mu sedang bercinta dengan ku, dan ini semua adalah salahmu yang sudah membawa ku ke istana rumah tangga mu Dian." batin Laras, kemudian kembali menatap pasrah. Kearah Ibra yang terus menyunggingkan senyuman.


Bibir ibra tersenyum bahagia, melihat Laras yang pasrah. Bahkan kedua tangannya merangkul pundak Ibra, baru setengah jalan saja hati Ibra sudah puas dan berbunga-bunga. Apalagi kalau sudah sampai puncak! kepuasan Ibra tak akan tertandingi dengan yang lainnya.


Seakan tidak ingin buang waktu lagi, posisi Ibra yang sudah siap semakin mendekat dan menyatukan miliknya dengan milik Laras yang sudah siap sedari tadi. Membuat senyuman Ibra kian mengembang. Hati dan pikirannya melayang terbang ke alam nirwana.


Satu jam sudah, mereka bergulat di atas ranjang. Laras yang sangat kelelahan, tak sanggup untuk bergerak. Walau hanya untuk duduk bersandar, menjadikannya berbaring lemah di bawah selimut.


Begitupun dengan Ibra yang merasa sangat puas, senyumnya kian mengembang saja. Berkali-kali mendaratkan kecupannya di kening sang istri sambil berbisik. "Terima kasih sayang!" mendekap sangat erat.


Melirik putaran jam yang sudah menunjukan pukul 13.15 wib. "Mandi bareng yu?" menatap Laras yang menanggapi dengan menggelengkan kepala.


"Kenapa?" suara Ibra sangat lembut.


"Tapi ... belum makan sayang, kau harus makan banyak agar kamu dan anak kita sehat." Lagi-lagi kecupan hangat Ibra mendarat di pipi dan juga kening.


Semua ucapan dan perlakuan dari Ibra membuat Laras menghangat. Bahagia merasa di hargai, dan ingin seterusnya merasakan seperti ini. Bukan egois dan merebut suami orang, tapi Laras ingin menuntut hak nya aja sebagai istri.


"Nanti kalau aku di luar Negeri, baik-baik ya di rumah, jangan nakal?"


"Nakal, maksudnya?" mendongak, menatap Ibra kurang mengerti.


"Iya, jangan nakal. Kali aja ketika aku gak ada kamu jalan sama pacar mu, kalau itu sampai terjadi ku bunuh dia!" ujar Ibra geram.


Laras senyum samar. "Bukannya dia sendiri yang nakal, istri sampai empat?" Laras mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Tangan Ibra mencubit gemas pipi Laras. "Sudah aku hempaskan satu, tinggal yang lainnya. Dan kau harus tau! istri ku banyak itu maunya istri ku. Dian."


"Jadi ... aku juga akan kau hempaskan? Seperti istri mu yang lain," kembali mendongak menatap penuh rasa penasaran.


Sebelum memberi jawaban. Ibra menatap lekat wajah tulus Laras. "Aku tau siapa dirimu," mengangkat dagu Laras dan cup, kecupan mendarat lagi. Kali ini ke bibir Laras dan ******** nya yang berwarna merah muda natural itu, hampir saja Laras kehabisan napasnya. Setelah puas barulah ia lepas.


Napas keduanya sama-sama memburu, terengah-engah seperti habis lari maraton. Lagi-lagi Bibir Ibra menyeringai puas, puas banget dangan yang ia dapatkan hari ini.


Sementara Laras menunduk tersipu malu. Selama menikah baru kali ini ia menikmatinya, walau kadang ada perasaan yang menghantui jiwanya, ya itu ... bersama suami orang. Laras melirik jam yang menunjukan pukul 13.40 wib ia melonjak menarik selimut untuk mencari pakaiannya yang ada di belakang dia sendiri.


Cepat-cepat mengenakan pakaian itu dan bergegas memasuki kamar mandi. "Belum salat dzuhur," gumamnya setengah berlari.


Ibra malah tersenyum melihatnya. Sampai detik kemudian turun mengenakan pakaiannya dan berjalan ke arah pintu kamar mandi dan menggedor nya. "Buka sayang, aku mau mandi."


"Tidak mau, aku duluan. Kau nanti aja," pekik Laras dari dalam.


"Cepetan sayang, buka! kita mandi bareng saja, aku lapar sayang belum makan," ujar Ibra terus menggedor pintu, namun tidak di respon oleh Laras. Yang ada hanya suara air dari shower. yang mungkin sedang Laras pake.


Ibra berdiri, bersandar membelakangi pintu. Hingga akhirnya pintu itu terbuka dan Laras muncul mengenakan handuk menutupi kepalanya. Menatap ke arah Ibra yang bertelanjang dada.


Laras segera keluar, bergegas mengambil handuk yang bersih dari lemari, untuk Ibra kenakan. Ibra yang masih berdiri memandangi Laras memberikan sebuah handuk, dan Ibra langsung menyambut handuk itu, matanya tak mau lepas dari Laras yang nampak segar. Hasratnya timbul kembali lagi, namun akal sehatnya masih berfungsi dengan baik, sehingga memutar badan lantas masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Selepas salat, Laras berdandan. secantik mungkin. Menyiapkan pakaian Ibra yang ada di sana, lalu memungut pakaian yang kotor di masukan ke wadahnya.


Laras menoleh ponsel Ibra yang tadi terus berdering, ingin mengambil dan ingin tahu siapa yang telepon? namun ia hanya menatap tak berani menyentuhnya. Tiba-tiba ada tangan yang dengan lembut memeluk perut Laras dan mengecup leher belakang. Napasnya menyapu kulit pundaknya.


"Aku akan merindukan mu, rasanya tidak sanggup satu minggu di sana." Ibra menarik napas dengan lesu. Dan membalikan tubuh Laras agar berhadapan dengannya.


Laras pun memutar badannya untuk berhadapan dengan Ibra, manik mata Laras menatap ibra yang menatapnya lekat.


Bagi Ibra, Laras benar-benar menjadi candu untuknya. Sesuatu yang membuatnya ketagihan, menjadi racun agar ia selalu kembali dan kembali. Ibra mendekap hangat tubuh Laras. "Katakan, kalau kamu akan merindukan ku," bisik Ibra ....

__ADS_1


,,,,


Kali ini aku suguhkan bab yang pull menceritakan antara Ibra dan Laras. Bahkan ada adegan yang bikin gerah, kalau kalian suka bilang suka, kalau tidak? bilang tidak! di kolom komentar. Nanti aku cek mana yang lebih banyak, yang suka atau yang tidak suka, jika banyak yang tidak suka! aku akan menghapus dan revisi bab ini 🙏


__ADS_2