
Setelah puas dengan ritual yang amat menebarkan hati, pergulatan yang sangat panas. keduanya saling peluk satu sama lain, malam pun kian larut dan akhirnya rasa kantuk pun menyerang keduanya. Akhirnya malam berlalu penuh mimpi.
Esok hari nya, waktu sudah menunjukan pukul 04.00 wib. Ibra bangun lebih dulu. Memandangi wajah Laras yang masih terlelap tidur, sekilas mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Kemudian bergegas ke kamar mandi ingin segera bersih-bersih, badan rasanya lengket tak karuan.
Selesai dengan ritual mandinya Ibra membangunkan Laras yang masih meringkuk dibalut selimut.
"Sayang, bangun? subuh nih," dengan suara lembut dan kecupan lembut di pipi Laras.
Perlahan Laras bangun, membuka matanya sipit melihat Ibra yang masih bertelanjang dada.
"Hem ... jam berapa nih?" melirik ke arah jam dinding.
"Bentar lagi juga subuh sayang ... aku sudah mandi nih," suara lirih Ibra di telinga Laras yang merem, buka mata lagi. merem lagi.
"Masih ngantuk," gumam Laras sambil memeluk selimut yang menutupi tubuh polosnya itu.
"Sudah siang, sayang ... baju ku belum di siapkan sayang. Bangun?" menghujani pipi Laras dengan ciuman sayang.
"Em ... iya-iya, ih bawel." Tapi masih merem, detik kemudian Laras terperanjat. Ia ingat pagi ini Ibra masuk kantor dan mau pulang ke mension.
Laras menatap ke arah Ibra yang masih juga mengenakan handuk, namun memangku Laptopnya. "Aish ... ish-ish ... bukannya mengambil baju, malah duduk santai gitu," sambil mengambil pakaian bekas semalam, ia pakai kembali sebelum bersih-bersih.
Menyanggul rambutnya, bergegas mendekati lemari mencari setelan baru kantor buat Ibra. Dan kebetulan ada di lemari beberapa setelannya, masih baru lagi.
Laras bawa ke tempat Ibra duduk. "Nih, pakaiannya." Laras menyimpan di sampingnya. kemudian Laras membalikkan badan bergegas ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Laras keluar dari kamar mandi dan mendapati Ibra sedang duduk bersimpuh dilantai mengenakan sarungnya. Usai membaca doa, pandangan Ibra tertuju pada Laras yang sedang duduk merapikan diri di depan cermin.
Kemudian Ibra melipat sarung dan mengenakan kemejanya, menyemprotkan minyak wangi, minyak rambut dll nya.
Laras pun selesai merapikan diri, segera menunaikan salatnya. Berzikir sebentar, lalu beranjak membereskan bekas salat dan membantu mengancingkan lengan kemeja Ibra.
Ibra memandangi Laras yang sedang fokus memasang dasi di lehernya. "Aku akan merindukan mu," ucap Ibra sembari mengelus kan punggung jarinya di pipi Laras.
Sesaat Laras diam dan menghentikan kegiatan tangannya. Menatap Kedua netra mata Ibra, detik kemudian mengalihkan pandangan kembali pada ikatan dasi.
"Apa, kamu akan merindukan ku?" tanya Ibra dengan tatapan penasaran akan jawaban Laras.
Laras tidak merespon. Dia tetap fokus merapikan penampilan Ibra sampai jas nya pun sudah melekat di tubuh tegap itu.
Kemudian Laras mengayunkan langkah kakinya, membereskan tempat tidur, lalu langkahnya menuju gorden dan membukanya, ia mendapati pintu keluar yang langsung ke teras kamar, di sana ada taman bunga yang tersambung ke taman yang ada kolam renangnya itu, bahkan sudah sedia. Kursi yang cukup untuk berdua.
Bibir Laras mengambang, tersenyum senang melihatnya. Ia duduk di kursi itu menghadap bunga-bunga yang seolah melambai-lambai.
Laras memejamkan mata. Menghela napas panjang ... menghirup udara yang sangat sejuk di pagi hari ini. Pas membuka mata, Ibra sudah berada di depannya berjongkok.
Laras terkesiap melihat Ibra yang menatap penuh arti padanya. "Sedang apa kamu di sini?"
"Kamu sendiri sedang apa di sini? gak mau menemani ku sarapan." Ibra menggenggam tangan Laras, semakin berat rasanya.
"Sarapan? aku lupa. Apa Susi sudah masak atau belum?" Laras berdiri mau ngecek keberadaan Susi.
Ibra mengikuti dari belakang, tidak lupa mengunci pintu yang menuju teras kamar.
"Sus ..." panggil Laras sambil terus melangkah ke dapur, di sana Susi sedang berkutat dengan tugasnya.
"Eh, Nyonya muda, pagi ... aku sudah siapkan sarapan buat Tuan dan Nyonya muda. Nasi goreng spesial," ucap Susi sambil menghidangkan nasi goreng ayam suwir di meja.
"Em ... baunya, makasih ya Sus?" kata Laras sembari mengukir senyumnya, menarik kursi dan duduk di samping suaminya yang sudah duluan duduk.
"Sama-sama Nyonya," kemudian Susi menyediakan susu bumil.
Laras menuangkan nasi goreng buat Ibra, lalu mengambil sendok nya. "Pake sosis gak?" menoleh Ibra yang sibuk dengan ponselnya.
"Pake, sayang." Gumam Ibra, menyimpan ponsel di meja.
"Pagi ... wah, kebetulan lagi sarapan nih. Susi sediakan piring buat saya," suara Zayn yang tiba-tiba muncul dan menoleh ke arah Susi. Ia duduk di depan Ibra.
Ibra mengernyitkan keningnya. "Tidak salam, main nyelonong aja." Menatap Zayn yang mengambil nasi goreng dan telor ceplok nya.
"Lupa, ayo makan?" menunjuk piring masing-masing.
Sambil menggeleng kepala Ibra memulai makannya. Begitupun Laras, langsung melahap nasi goreng yang Susi hidangkan.
__ADS_1
"Ayo dong Sus, makan bareng? di sini gak ada majikan ataupun asisten apapun namanya. Waktu makan ya makan sama-sama," ujar Laras di sela makannya.
"Iya, Nyonya, Susi ngambil piring dulu." Sahut Susi yang detik kemudian duduk bersama dan makan bareng.
"Sus, mulai sekarang. Kamu tinggal di sini jaga Nyonya muda, di mension banyak orang yang bisa menggantikan kamu di sana, bila perlu saya tambah asisten satu lagi," ujar Ibra menatap ke arah Susi.
"Baik, Tuan. Tapi ... di sini gak banyak pekerjaan kok, Tuan. Jadi Susi sendiri pun sudah cukup di sini." Ungkap Susi sambil menundukkan kepalanya.
"Iya, kan saya bilang, bila perlu. Kalau tidak perlu ya ... jangan."
Laras dan Zayn cuma mendengarkan obrolan Ibra dan Susi. keduanya anteng aja menghabiskan makannya.
"Oya sayang?" Ibra mengalihkan pandangan pada Laras.
"Hem?" Laras pun menoleh ke arah Ibra.
"Aku akan kirimkan mobil untuk mu. Bisa nyetir, kan?" menatap menunggu jawaban.
Setelah Laras meneguk minumnya, barulah menjawab. "Bisa sih, tapi gak punya SIM." Jawab Laras ragu.
"Gampang sayang, nanti Zayn urus kan." Ibra melirik Zayn sedang menghabiskan makan terakhirnya.
Zayn mengakhiri makannya dengan segelas air mineral. "Siap, gampang itu sih. Besok juga jadi, tapi apa gak sebaiknya pak Barko saja yang nyupir nya?"
Ibra berpikir sejenak. "Kalau pak Barko di sini, terlalu santai. Gak ada kerjaan. Karena di sini paling sekali-sekali aja keluar nya, paling kalau ada rencana pergi telepon pak Barko nya. Suruh nganterin."
"Oke, aku akan segera mengurus SIM buat Nyonya muda. Dan secepatnya akan di kantongi.
"Bagus. Makasih." Ibra mengangguk pelan dan menghabiskan makannya.
Laras masuk menuangkan air minum. Untuk Ibra sebab yang tadi sudah tandas, Kemudian Laras beranjak dari duduknya dengan niat ke kamar mau mengambil laptop Ibra yang masih di kamar.
Sesampainya di kamar, Laras memasukan laptop ke tasnya. Duduk sebentar di tepi tempat tidur. Menatapi laptop tersebut, entah apa yang ia rasakan saat ini yang jelas gusar tak karuan.
Derap langkah kaki seseorang mendekati pintu, kedua netra mata Laras tertuju ke arah situ. dan kenop pintu pun diputar, blak! pintu terbuka. Ibra masuk dan tangannya menutup pintu kembali, barulah langkahnya menuju tempat Laras duduk.
Netra mata Ibra mendapati Laptop yang sudah dimasukan ke tas nya. Melihat Laras yang nampak melamun, ia duduk di samping Laras yang sedang bengong. Pandangannya jauh dan kosong.
Laras menoleh dengan tatapan sendu. "Nggak mikirin apa-apa."
"Kok, melamun?" menarik bahunya dan membawanya ke dalam pelukan.
Laras tidak ingin berkata apapun selain ingin menikmati pelukan sang suami. Yang mungkin hari ini tidak akan bertemu lagi, puas dia menyambut kesendirian. Tangan Laras merangkul punggung Ibra dan membenamkan wajahnya di dada Ibra yang bidang itu.
Ibra menempelkan dagunya di pucuk kepala Laras. Helaan napas Ibra kian berat, tidak ingin meninggalkannya. Ibra melepas rangkulan, menangkupkan kedua tangannya di wajah
Laras. Mendaratkan kecupan di kening dan pipi Laras berkali-kali, dan Laras hanya pasrah dengan perlakuan Ibra itu.
"Aku, mau berangkat. Dan hari ini ... aku gak pulang ke sini. Jangan marah ya? kalau ada apa-apa hubungi aku." Menatap dalam kedua netra mata Laras.
Laras hanya membalas dengan anggukan saja, lalu menundukkan kepalanya. Ibra mengangkat dagu Laras dan wajah Ibra mendekat ingin mengecup bibir Laras. Namun dia langsung menghindar, menjauh. "Sudah siang. Pergilah."
Ibra menatap Laras penuh kecewa. Membuang napas kasar, lalu melirik jam yang melingkar di tangannya. "Baiklah, aku pergi dulu." Sebelum pergi, tangannya mengusap perut Laras. Kemudian memegang kepala Laras dan mencium keningnya sangat lembut.
Laras memejamkan mata ketika Ibra mendaratkan kecupan terakhirnya itu.
Lalu Ibra meraih laptop serta mengayunkan langkah kakinya keluar dari kamar tersebut, namun sebelum melintasi pintu. Ia berhenti dan memutar badan, melihat ke arah Laras yang menunduk. Seakan tidak ingin melihatnya pergi, hati Ibra jadi melengos. Sesaat termangu, seiring membuang napas kasarnya. Ibra membalikkan bada meninggalkan istrinya, Laras.
Laras menatap pintu yang barusan di lintasi oleh Ibra. Tak terasa air matanya jatuh melintasi pipi, makin lama makin deras. Ia menjatuhkan tubuhnya dan memeluk guling, Laras menangis namun tak bersuara. Dadanya terasa sakit. Sakit ... banget.
Ibra, wanti-wanti pada Susi agar menjaga Laras baik-baik. Sebab ia tidak bisa setiap hari datang ke sini, Susi mengangguk dan sedih.
"Tuan, kasian dong ... Nyonya muda, kalau Tuan tidak datang." Susi lesu.
Ibra, terdiam dan menoleh pada Zayn yang sudah siap pegang kemudi. "Saya akan usahakan untuk datang, tapi kerjaan saja sekarang sedang banyak. Dan akan menyita waktu saya."
"Kerjaan sih, bisa di urus dari rumah Bos. Cuma ... paling yang susah itu ngurus ituh-tuh, apalagi hampir seminggu ini ditinggalkan. Pasti balas dendam kali." Celetuk Zayn.
Ibra, menoleh dan menatap Zayn yang akhirnya nyengir. "Sudah, jalan."
Zayn mengangguk dan menyalakan mesinnya. Putar kemudi, melaju begitu cepat.
Susi menatap mobil yang kini sudah jauh dari tempat semula. Kemudian Susi masuk ke dalam rumah yang sebelumnya menutup pintu gerbang terlebih dahulu.
__ADS_1
Susi masuk, ke dalam rumah dan mengunci pintu. Meneruskan kerjaan yang barusan ia tinggal. Sambil nyanyi-nyanyi ia mencuci dan beres-beres meja bekas makan barusan.
Sementara Laras di kamar, sedang mengusap pipi bekas menangis. "Buat apa aku nangis? buang waktu saja." Ia bangun dan memasuki kamar mandi mau mengambil air wudu.
Sesaat kemudian Laras kembali dengan air wudu yang menetes dari dagu. Mengenakan mukenanya, tunaikan salat duha.
"Nyonya muda? apa masih di kamar, Sedang apa?" Suara Susi yang langsung membuka pintu yang tidak di kunci. Membawa nampan, dengan segelas susu bumil yang tadi. Belum sempat Laras minum.
Laras menoleh ke arah Susi yang menyimpan nampan di meja. "Aku lupa, tadi ... tapi, padahal nanti juga aku keluar dan meminumnya.
"Iya, Nyonya. Tidak apa, Susi bawakan, lagian aku juga gak ada kerjaan," ucap Susi sambil mendudukkan dirinya di sofa.
Laras tersenyum. Dan duduk di sofa yang sama dengan Susi, kemudian Laras meminum susu bumil yang sudah dingin itu.
Susi memperhatikan wajah Laras yang sepertinya habis nangis dan matanya pun sembab. "Nyonya habis nangis ya? mata Nyonya sembab gitu." Menunjuk ke arah Laras.
"Ha, nggak ah. Aku gak nangis kok, mungkin karena masih ngantuk aja kali." Elak Laras sambil membuang mukanya ke arah lain.
"Ah, masa sih?" Susi mengernyitkan keningnya.
"Iya. gimana kalau kita jalan-jalan ke halaman," ajak Laras sembari membuka mukenanya.
"Boleh," sahut Susi masih dengan tatapan curiga.
Kemudian keduanya keluar kamar. Sebelumnya Susi menyimpan nampan ke dapur, mereka jalan-jalan di sekitar rumah. Ke taman dan kolam renang.
"Sus, selama aku tidak ada. Apa di mension adem ayem?" tanya Laras melirik ke arah Susi.
"Adem ayem, Nyah. lagian, kan yang ada cuma bu Dian saja,gak ada yang suka bikin riuh, seperti Yulia dan Mary, semuanya sudah raib. Ha ha ha ..."
"Oh." Laras membulatkan bibirnya.
"Nyonya Dian, sebenarnya ... uring-uringan tuh. Seperti induk ayam kehilangan anaknya gitu," tambah Susi.
"Iya kah?" Laras heran.
"Gimana ... gak uring-uringan coba? Tuan gak bisa di hubungi sama nyonya Dian sama sekali."
"Sama sekali?" Laras menatap penuh penasaran.
"Iya, beneran Nyah. Tuan itu sulit di hubungi sama bu Dian. Zayn aja gak mau ngomong, tentang keberadaan Tuan dan Nyonya muda kemarin itu." Sambung Susi kembali.
Laras melamun sambil duduk di kursi yang ada di tepi kolam renang tersebut. "Kok bisa sih? dia gak ngasih kabar pada Dian," gumam Laras.
"Nggak tau tuh Nyah," sahut Susi.
Laras menoleh pada Susi. "Aku gak ngerti Sus."
"Apalagi Susi, gak faham banget. Tentang masalah rumah tangga, cuma ... kata bu Rika, Tuan lagi gak mau di ganggu oleh siapa pun, makanya sulit di hubungi gitu."
Dari luar pagar, terdengar suara as krim. "Susi, beliin ya? uangnya, ambil di kamar, dalam dompet." suruh Laras.
Susi mengangguk, dan pergi tuk memenuhi perintah majikannya.
Laras masih duduk di kursi. Dengan pikiran melayang entah ke mana? pandangannya tertuju ke air kolam namun kosong.
"Maaf, Nyonya. Mau rasa apa?" tanya Susi, membuyarkan lamunan Laras.
"Ha, rasa pisang aja. Tapi ... kalau kamu mau rasa apa." Sahut Laras mendongak.
"Oh, oke." Susi meninggalkan Laras kembali. Untuk membelikan as krim.
Tidak lama kemudian, Susi kembali membawa dua cup as krim. "Ini Nyonya Muda."
"Makasih." Laras langsung memakannya.
"Sama-sama Nyah." Susi duduk di sebelah Laras dan memakan as krim. "Oya, Nyonya! kata Tuan Zayn, Nyonya suka makan pisang cinta dari tuan. Yang mana sih"
Laras terbatuk-batuk, uhuk-uhuk. Uhuk-uhuk, terkesiap mendengar pertanyaan Susi. Sungguh ia tidak menyangka, kalau Susi akan menanyakan itu padanya ....
****
Hi ... terima kasih ya reader ku ... yang tetap setia menunggu novel ini. Terus dukung aku ya🙏
__ADS_1