
"Jangan bicara yang aneh-aneh sayang, jangan bikin aku jantungan." Dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Emang kenapa?" tanya Laras heran.
"Aku takut." Gumamnya Ibra, jarinya mengelus pipi Laras.
"Hem, apa sih yang di takutkan seorang Malik Ibrahim? seandainya satu istri hilang, akan tumbuh istri-istri yang lain yang cantik dan seksi dan sebagainya," ucap Laras mencibirkan bibirnya.
"Kamu ngomong apa sih sayang? makin ngelantur aja bicara mu." Ibra menggeleng.
Melihat wajah Ibra yang begitu tegang. Laras jadi terkekeh, ia tertawa terpingkal-pingkal. Membuat Ibra keheranan.
Tangan Ibra menempel di kening Laras. "Kamu kenapa?" menatap heran sang istri yang terus terkekeh.
Laras melingkarkan tangan di leher Ibra dan menatap sendu sang suami dengan senyuman yang terus merekah. "Aku gak kenapa-napa, aku bilang seandainya. Tegang amat mukanya."
"Gimana aku gak tegang sayang. Aku ketakutan, nada bicara mu bikin aku shock." Tangan Ibra menarik bahu sang istri ke dalam pelukannya.
Ibra peluk erat tubuh sang Istri sambil bergumam. "Ya Allah ... selamatkan keduanya. Anak dan istri ku, aku sangat mencintainya." Sambil mendongakkan kepala ke langit-langit.
Senyum Laras belum juga memudar dari bibirnya. Kemudian memejamkan kedua matanya, menikmati nyamannya pelukan sang suami. Kecupan Ibra berkali-kali mendarat di pucuk kepala sang istri.
Malam pun semakin beranjak naik. Dan rasa kantuk pun menyerang kedua pasang mata pasangan suami istri yang semakin mesra itu. Tak ada yang dilakukan malam ini selain mengobrol yang lumayan menegangkan buat Ibra.
Namun menjelang subuh, Ibra terbangun bersama juniornya. Paling penasaran kalau belum melakukan ritual hariannya. Tangannya makin menarik tubuh sang istri agar semakin menempel dengan tubuhnya.
Laras hanya bergumam kecil dan sedikit menggerakkan tubuhnya. Namun hanya sesaat, kemudian terlelap kembali tidurnya. Setelah tadi pukul 01.00 terbangun menunaikan salat malam.
Mata Ibra menatap sang istri yang terlelap. "Sayang bangun?" bisik Ibra di telinga sang istri.
"Em ... jam berapa nih?" memicingkan matanya ke arah Jam yang baru menunjukkan pukul 03.20 pagi. "Jam 03.lewat. Masih ngantuk."
Ibra pun melirik ke arah jam, Lalu kembali melihat sang istri yang kembali memejamkan matanya. Tangan Ibra meraih tangan Laras dan mengarahkan ke juniornya yang bangun dan tegang.
Tiba-tiba Laras berteriak, merasakan memegang sesuatu yang pan**** dan bergerak. "U-ular." bergelinjang bangun dan membuka matanya lebar-lebar. Mengibas-ngibaskan tangannya.
Ibra pun bangun sambil menyeringai. Mendekat pada sang istri yang belum sadar sepenuhnya itu. "Sayang ...."
Laras mengibaskan selimut seolah mencari sesuatu dan ketakutan. "Ada ular tadi--"
"Sayang ... mana ada ular di sini hem?" lirihnya Ibra menempelkan dagunya di pundak sang istri.
"Tapi tadi," ucap Laras sambil mengusap telapak tangannya. Lalu menatap sang suami meski dalam remang. "Tadi apa?" dengan suara seraknya.
Ibra kembali mengarahkan tangan Laras ke tempat yang tadi, yang Laras bilang ular. Namun Laras langsung menarik paksa tangannya, menelan Saliva nya yang tertahan di tenggorokan. Kemudian mengalihkan pandangan ke sembarang tempat.
"Boleh ya?" pinta Ibra. Menatap sang Istri menunggu ijin, tapi tangannya menyentuh pipi lalu turun ke leher dan turun lagi sampai berhenti di permukaan bukit yang Ibra rasa tidak mengenakan penghalang di dalamnya.
Di luar terdengar suara gemuruh hujan yang sangat deras. Dibarengi dengan kilatan-kilatan cahaya. "Hujan." Gumamnya Laras.
"Iya hujan," balas Ibra sambil membimbing tubuh sang istri berbaring di bawah kungkungan nya. Sentuhan-sentuhan kecil dan lembut mengawali ritual pribadi mereka.
Laras pasrah dengan apa yang akan suaminya lakukan. Dengan sentuhan-sentuhan yang Ibra berikan, tak ayal hasrat Laras pun melonjak naik. Ia mulai terbakar oleh keinginannya.
Apa lagi Ibra, hasratnya makin naik ke ubun-ubun. Darahnya pun kian mendidih dan ingin segera menyalurkan hasratnya itu.
Ibra dan Laras kian menyatukan b**** keduanya, Tangan pun tak lepas dari bukit indah nan menggoda tersebut. Sesekali Ibra me****** nya seperti baby yang kehausan.
Tangan Laras perlahan membuka kancing piyama Ibra satu demi satu. Hingga akhirnya tak ada lagi yang melekat di tubuh keduanya, kecuali selimut yang jadi penutupnya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 05. lewat, Keduanya baru menyudahi kegiatan panas itu. Ritual yang mengasyikan dan menghangatkan. Sangat di dukung dengan suasana hujan yang kini rintik-rintik.
Tubuh Ibra tumbang juga. Kelelahan akibat gulat nya dengan durasi yang lumayan panjang. Namun benda pusaka nya masih betah berendam di dalam lembah surgawi Laras yang tidak boleh jadi milik orang lain selain milik Ibra seorang.
Beberapa menit kemudian, Ibra dan Laras bersih-bersih berdua. Kemudian bergegas menunaikan Subuh. Setelah itu membuka gorden dan berdiri di balkon menghirup udara pagi yang segar. Air hujan pun mulai reda.
Ibra yang tadinya mau tiduran lagi tak jadi melainkan lari-lari kecil di tempat nge-gym. Laras meminta asisten untuk membuatkan susu hangat untuk Ibra, dan di bawa ke kamar saja.
Setelah puas berdiri di balkon, Laras memutar badannya hendak masuk kamar. Namun Ibra sudah berdiri dengan handak kecil di tangan, untuk mengelap keringatnya. Pakaian yang dikenakan pun masih kaos oblong dan celana pendek.
"Sudah, olah raganya?" tanya Laras menatap ke arah sang suami.
"Sudah. Ngapain di sini? dingin, cuaca kayanya mau hujan lagi," wajah Ibra mendongak ke langit.
Laras pun mengangguk dan melihat langit yang memang mendung. Tubuh Ibra merengkuh tubuh sang istri dengan sangat erat. "Em, kangen."
"Kangen? maksudnya. Perasaan bersama terus ah." Laras menaikan alisnya.
"Emang, gak boleh gitu? kangen sama istri." Balik tanya Ibra sambil menunduk dan mengangkat wajah Laras. Menempelkan hidung mancungnya dengan hidung sang istri, kemudian meraih bibir ranum sang istri yang menjadi candu untuknya.
__ADS_1
Sesaat keduanya menikmati beberapa kali, kecupan hangat di benda kenyal itu. "Sudah siang. Bersih-bersih dulu, terus berganti pakaian. Terus sarapan, oya aku belum nyiapin buat kamu sarapan." Lirih Laras sambil mengusap dada bidang sang suami.
"Nggak pa-pa sayang, asisten pasti sudah menyiapkan sarapan. Kamu gak boleh capek ngapa-ngapain, kecuali untuk melayani ku. Itupun sangat membuat mu capek," ucap Ibra dengan lembut dan mengusap pipi dan bibir Laras dengan jarinya.
Laras tersenyum dan mengangguk, Ibra benar. Melayaninya aja bikin capek. Lelah dan kadang bikin seluruh tubuh ini berasa remuk.
"Ya, udah. Aku mau bersih-bersih lagi. Siapkan aja baju formal milik ku." Pinta Ibra. Sebelum berlalu, ia mengecup kening dan pipi sang Istri dengan singkat.
"Oke, eh. Semua sudah aku siapkan kok, gak lihat apa di tempat tidur? pakaian tinggal pakai," sedikit menggerutu setelah sang suami masuk kamar mandi.
Langkah Laras mengayun ke kamar, menutup pintu balkon dengan pelan. Berjalan sambil memeluk perutnya, duduk di sofa menunggu Ibra.
"Nyonya, susu hangatnya dah siap," suara dari balik pintu kamar.
"Oh, masuk aja Mbak." Jawab Laras dari dalam.
Pintu terbuka dan masuk seorang asisten. Membawa segelas susu hangat dalam nampan. Di simpan di atas meja.
"Makasih ya Mbak." Laras tersenyum ke arah asisten tersebut.
"Iya, Nyonya." Jawab asisten itu mengangguk. Kemudian memutar badannya keluar dari kamar.
Laras menoleh ke arah pintu kamar mandi, Ibra muncul dengan mengibaskan rambut yang basah memakai handuk kecil.
Laras menghampiri dengan mengambil alih handuk untuk mengeringkan rambutnya. "Diminum dulu susu hangatnya tuh," ucap Laras sambil menunjuk meja dengan dagunya.
"Susu hangat? sudah tadi," sahutnya Ibra singkat.
Laras mengernyitkan keningnya. "Kapan? emang sudah minum."
"Sudah, tadi pas bangun. Asli malah, dari sumbernya."
Laras makin bingung, gak ngerti dengan maksud Ibra. "Nggak ngerti ah."
Ibra mesem sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian meraih pakaiannya di atas tempat tidur. Kemudian ia pakai dan Laras pun turut membantu Ibra mengenakan pakaian sampai rapi.
Setelah selesai, Laras mengambilkan sepatu lalu berjongkok. Memakaikannya. "Sudah." Gumam Laras sambil menyemprotkan minyak wangi lagi ke badan sang suami.
"Makasih sayang." Tangan Ibra meraih kepala Laras lalu di kecupnya.
Laras memejamkan mata, lalu tersenyum bahagia. Keduanya keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan. Sebelumnya Laras meminum susu hangat yang tersedia di meja itu.
"Nggak sayang ... sudah kenyang tadi dari su** milik mu," ucap Ibra sambil memperlihatkan gigi putihnya.
Mendengar itu Laras langsung tersedak batuk, uhuk uhuk. Ia baru mengerti dengan yang dimaksud suaminya itu. "Emang adaan?" penasaran.
"Sudah dong. Subur malahan," ungkap Ibra sambil memasang jam di tangannya.
Laras termenung. "Apa iya? kok aku gak nyadar," batin Laras sambil sedikit menyentuh dadanya.
"Jadi mulai hari ini, setiap pagi aku akan mengambi air susu dari sumber nya langsung. Biar tambah subur kan bagus." Timpal Ibra lagi.
Laras tambah bengong. Dan menatap sang suami tanpa ekspresi.
Di meja makan sudah ada Zayn menunggu sang Bos. Zayn tersenyum ketika meihat Ibra muncul bersama Laras.
"Pagi Bos?" sapa Zayn berdiri.
"Pagi, dari kapan kamu datang? tanya Ibra sembari menggeser kursi buat sang istri lebih dulu.
"Baru saja Bos." Zayn duduk kembali dan bersiap sarapan.
"Ya, sudah. Sarapan dulu." Ibra mengambil piring yang Laras berikan, lalu tangan satunya meraih gelas yang sudah berisi air untuk diminum.
Tak ada obrolan apapun di tengah sarapan mereka. Yang ada hanya suara sendok dan garpu saja yang bertemu dengan piring.
Ibra mengakhiri sarapan dengan segelas air putih. Ia berdiri bersiap pergi. "Sayang aku pergi dulu ya, hati-hati di sini. Jangan pulang dulu, nginep lagi barang 1 atau 2 malam lagi oke?" lalu mengecup kening sang istri dengan lembutnya.
"Aduh, jadi pengen aku, tapi sama siapa ya? jadi iri! Ha ha ha ..." ucap Zayn terkekeh.
"Makanya nikah." Ibra menoleh ke arah Zayn yang sudah berdiri. Dan membawakan tas laptop Ibra.
"Kamu jangan mengantar ku ke bawah, takut capek. Sudah di sini aja, ingat. Jangan capek-capek."
Laras mengangguk, lalu meraih tangan Ibra dan mencium punggungnya. "Hati-hati."
"Iya, sayang." Cuph lagi-lagi mengecup pipi sang istri, lalu mengusapnya.
Zayn mengangguk hormat pada Laras, kemudian pergi lebih dulu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." pamit Ibra.
"Wa'alaikumus salam ..." mata Laras menatap langkah Ibra yang mengikuti langkah asisten pribadinya, Zayn.
Mobil Zayn, yang membawa Ibra melesat cepat. Menuju kantor pusat. Zayn melihat Bosnya yang mulai membuka laptop di pangkuan. "Sepertinya Bos harus bersiap menghadapi media."
Ibra mendongak. "Maksudnya? mau bahas apa lagi nih?"
"Sepertinya ... berita perselingkuhan Dian kembali mencuat," sahut Zayn dari belakang setir.
Helaan napas Ibra begitu kasar. "Itu sudah berlalu. Bentar lagi ketuk palu."
"Sebenarnya menguntungkan untuk Bos. Melancarkan proses perceraian, namun di balik itu. Justru mencemarkan nama baik dan sedikit banyaknya mengganggu bisnis," sambung Zayn.
Ibra tidak menjawab. Melainkan membuang tatapannya keluar tembus jendela.
Zayn menambahkan lagi uraiannya. "Video Dian tengah di cumbu bule kembali menyebar Bos. Lebih panjang dari sebelumnya."
Lagi-lagi Ibra menghela napas kasar. Jari-jarinya mengepal. wajahnya nampak ada kemarahan. Ketara dengan rahang yang mengeras dan gigi mengerat. Akhirnya menggeleng dan membuang napas dari mulut.
"Cari sampai dapat, yang telah berani menyebarkannya." Jelas Ibra.
"Baik Bos. Ada juga yang memberitakan dengan memberi judul, Dian selingkuh sebab suami lebih sayang istri muda. Ada juga media yang memberi judul. Gara-gara istri muda, yang tua di buang, sebab lebih cinta istri muda. Lantas yang tua menderita--"
"Cukup," tangan Ibra terangkat. Memberi tanda cukup. "Saya tak ingin mendengarnya lagi. Gimanapun caranya semua berita itu harus hilang, setidaknya berhenti di situ saja."
Sesampainya di kantor pusat. Benar saja ada beberapa wartawan menunggu kedatangan Ibra dan langsung memberi cecaran pertanyaan.
Ibra tidak menjawab. Ia terus berjalan menuju ruang kerjanya. Mediapun tak mau kalah, mereka terus membuntuti sampai mendapat apa yang mereka cari.
Akhirnya Ibra persilakan mereka masuk dan duduk. Ibra duduk kursi kebesarannya. "Saya tidak ingin masalah ini terus di besar-besarkan lagi, sebab saya anggap masa lalu."
Terus gimana dengan video mantan istri anda yang baru-baru ini menyebar kembali?" tanya salah satu media.
"Saya tidak tahu menahu." Tegas Ibra.
"Banyak media yang menyudutkan nama Istri muda anda, bagaimana tanggapan anda sebagai suami, apa akan membela istri muda atau--"
"Saya jelas akan membela yang benar. Dan semua berita yang menyudutkan dia, semuanya tidak benar. Kejadian ini mungkin sudah takdir dan semua harus berakhir dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan istri muda saya." tegas Ibra lagi.
"Apa anda membela istri muda anda sebab dia masih menjadi iatri anda lantas anda tutup-tutupi? dan yang anda lihat hanya kesalahan mantan istri." Tanya lagi satu media.
"Saya tidak akan menyudutkan sipapun," jawab Ibra lagi.
"Satu lagi pertanyaan dari kami, Tuan Malik Ibrahim. Apa benar? Mantan istri anda melakukan perselingkuhan itu semata-mata kurang perhatian ataukah anda tidak adil?"
Ibra sejenak berpikir. Sebelum menjawab. "Saya tidak ingin menjawab itu, biarlah jadi privasi saya dan mantan istri. Saya rasa ... semuanya sudah cukup dan pekerjaan saya pun sangat numpuk, terima kasih atas kedatangannya. Selamat pagi menjelang siang."
Akhirnya, para media pencari berita pun keluar dari rungan kerja Ibra, di giring oleh Zayn yang sedari tadi diam seribu bahasa. Karena memang ia tak ada kewajiban untuk memberikan suaranya.
Zayn duduk di depan Ibra yang berkali-kali meneguk minumnya. "Kok malah makin kesini yang semakin gencar, media mencari berita. Bukan kemarin-kemarin pas hangat-hangatnya."
"Kehabisan topik berita kali, entahlah." Ibra menatap kosong.
"Baikah, saya ke rungan dulu." Zayn beranjak kembali meninggalkan Ibra yang juga memulai aktivitasnya.
Walau dengan pikiran sedikit kacau, Ibra tetap mengerjakan tugasnya. Kini tangannya sibuk dengan berkas dan laptop yang ada di depannya.
****
Sudah beberapa hari ini Jodi di Semarang, di tempat orang tua nya. Pak Mulyadi, pria tua yang sudah tak bisa berjalan, setiap harinya duduk di kursi roda.
Hari-harinya menyesali akan kesalahannya yang tidak bisa merawat keponakan nya yang bernama Larasati. Putri dari kakak pertmanya yang meninggal akibat kecelakaan.
Sebelum dirinya ingin mengambil Larasti, sudah duluan Rustam Kakaknya juga membawa entah kemana. Bukan cuma itu, Rustam juga menghabiskan harta Dedi, ya itu sang Kakak tertua yang akan menjadi warisan buat putrinya Larasati. Hartanya sampai ledis tak tersisa lagi oleh Rustam.
Kini tinggal penyesalan yang dalam, tak bisa merawat keponakan dan tak bisa menjaga harta sebagai warisannya. Namun kini setidaknya merasa lega, sebab Jodi datang membawa kabar gembira kalau Larasati sudah di temukan, bahkan hidup bahagia bersama seorang pengusaha besar.
"Besok Ayah ikut aku ke Bogor. Untuk bertemu Laras." Suara Jodi membuyarkan lamunan pak Mulyadi.
"Baiklah. Ayah terserah kamu saja, gimana baiknya. Kalau saja kamu bisa mengajaknya ke sini, itu lebih baik lagi." Tutur pria paruh baya itu.
"Rasanya ... sulit kalau harus mengajaknya ke sini. Dia sedang hamil besar dan takut timbul pitnah, bagaimanapun. Aku sama dia belum terlalu lama juga kenalnya dan aku juga belum cerita kalau kami saudara. Kalau Ayah yang ke sana, kan ayah yang bisa menjelaskan. Gimana-gimananya, aku kurang tahu cerita awal mulanya," ujar Jodi yang duduk di sofa sebelah.
Pak Mulyadi mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti ungkapan dari sang putra.
Di tengah obrolan antara ayah dan anak itu. Ponsel Jodi berbunyi, tangan Jodi merogoh saku celananya. Ia lihat layar, kontak seseorang tengah menghubunginya ....
****
__ADS_1
Reader ku semua. Aku mau rekomendasikan karya aku yang satu lagi yang berjudul "Bukan Suami Harapanku" semoga kalian suka dan terus mendukungku🙏