Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Ke khawatiran Ibra


__ADS_3

Dengan malas Ibra merogoh sakunya, mengambil handphone dan menggulir layarnya. Sebentar mata Ibra menatap dan membacanya dalam hati, rupanya pesan dari Dian yang menanyakan kapan pulang? karena malam ini masih jatah malam bersamanya.


"Pesan dari siapa sayang?" tanya bu Rahma penasaran.


"Eh ... gak penting Mah," sahut Ibra.


"Oh, dari rumah ya?" ucap bu Rahma lagi.


"Bu-bukan. Mah," elak Ibra, berbohong.


Ibra menyuapkan makan ke mulut nya, kemudian melirik Laras. Wajahnya agak pucat. "Kau kenapa?" menatap Cemas.


"Oo ... oo..." menutup mulutnya. Laras tiba-tiba merasa mual. "Pengen muntah."


Laras berdiri setengah berlari mencari toilet. Ibra dengan cemas mengejar Laras.


Semua bengong melihat Laras, kemudian. "Gak pa-pa, itu sudah biasa bagi yang sedang hamil muda," lirih bu Rahma.


Sampai di toilet Laras langsung. Oo ... oo ... oo, memuntahkan semua isi perutnya sampai habis. Membuat badannya lemas tak bertenaga, ia mencuci mulutnya dan berkumur. Duduk dan bersandar di wastafel, keluar keringan dingin dari sekujur tubuhnya.


Perutnya masih terasa pergolakan antara mual dan mau muntah lagi. "Ya Allah kok gini ya? rasanya hamil muda."


Mata berkaca-kaca, napas terengah-engah tak karuan. Huuh ... menarik napas panjang berkali-kali.


Blak! pintu toilet Ibra buka, matanya langsung mendapati Laras duduk bersandar dan berderai air mata, keringat pun bercucuran dari pelipisnya. "Kau tidak ke napa-napa?" tanya Ibra yang Laras balas dengan gelengan pelan.


Ibra mendekati tubuh Laras yang nampak lemas itu, matanya berkaca-kaca. Ibra menatap lekat penuh iba, ia merasa mencelos hatinya melihat keadaan Laras, ini hamil muda gimana nanti? pikirnya, langsung memeluk tubuh Laras sangat erat. "Maafkan aku! yang telah membuat mu seperti ini."


Laras bengong, heran! kenapa Ibra bilang seperti itu? ia merasakan bahu Ibra bergetar, terisak, nangis. Laras semakin bingung dan tidak mengerti.


Ibra melepas pelukannya membingkai wajah Laras yang pucat dengan kedua lengan. "Gara-gara kau mengandung anak ku, kamu tersiksa begini, ini baru permulaan dan masa ngidam mungkin akan masih panjang. Maafkan aku," cup cup Ibra mengecup pipi Laras kanan dan kiri.


Wajah Ibra terlihat basah. Laras semakin dibuat bingung, ia tak bergeming dan tak berkata-kata. Ibra kembali memeluk Laras sangat erat. Mengusap pipinya yang basah, perlahan tangan Laras membalas pelukan itu dan menikmati betapa nyamannya berada dalam pelukan pemilik dada bidang itu.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Bos, masih di dalam bukan? kok lama sekali, ibu mencemaskan Nona muda," suara Zayn dari balik pintu.


Ibra melepas pelukan, jarinya mengusap ujung mata Laras yang masih ada buliran air mata. "Bisa jalan gak?" tanya Ibra dengan lembut.


Laras turun dari duduknya, kepalanya masih pusing tubuh pun lemas. "Sedikit pusing. Tuan," gumam Laras. Kemudian Laras mengikat rambut nya terlebih dahulu.


Ibra tak berpikir panjang lagi, dengan sigap menggendong Laras ala bridal style. Laras segera mengalungkan tangan di pundak Ibra, membuka pintu pun dengan kakinya.


Blak!


Pintu terbuka. Zayn berdiri di sana! matanya langsung terbelalak melihat Laras dalam gendongan Ibra. "Nona kenapa? sini saya bantu." Zayn bersiap menggendong Laras.


"Nggak usah! saya bisa sendiri," ketus Ibra sambil terus berjalan.

__ADS_1


Zayn hanya mencabik kan bibirnya dan mengejar langkah Ibra yang langsung menuju parkiran. Karena keberadaan mereka ada di lantai atas jadi mereka harus turun menggunakan lift.


"Kasih tahu orang tua ku, kita pulang!" ucap Ibra.


"Baik bos."


Sesampainya di lantai dasar! Ibra segera melangkahkan kaki menuju parkiran. Zayn langsung mendahului untuk menyiapkan mobilnya.


Setelah mobil sudah di depannya dan pintu di bukakan oleh Zayn. Ibra mendudukkan Laras di jok mobil, ia sendiri duduk di sebelahnya.


"Jalan. cepat!"


"Oke." Zayn segera menginjak gas mempercepat laju mobilnya. Agar segera sampai ke mension.


Ibra memandangi wajah Laras yang nampak pucat dan sesekali oo ... oo ... seperti mau muntah. "Ada air mineral gak?" tanya Ibra pada Zayn.


"Ada nih," memberikan botol minum pada Ibra dari depan, dengan mata tetap fokus ke jalanan.


"Minum nih." Ibra membuka terlebih dahulu tutupnya. Laras ambil, lantas meneguknya sampai tersisa setengah.


Ibra membuka jas nya, ia gunakan untuk membalut tubuh Laras. Supaya tidak kedinginan.


Sesekali Zayn melirik kaca spion dari sana terlihat jelas pantulan Gambar Ibra memakaikan jas ke tubuh Laras. "So sweet nya ...."


Tangan Ibra menarik kepala Laras! supaya bersandar di bahunya. Laras menatap terus wajah Ibra. "Ya Allah ... aku gak boleh terpesona dengan sikap manisnya." batin Laras. hatinya terasa sakit.


Beberapa puluh menit kemudian, mobil masuk ke dalam gerbang. Berhenti dekat teras yang langsung masuk lobby. Ibra tanpa bertanya lagi kembali menggendong tubuh Laras.


"Tidak, saya masih kuat."


Zayn terus mengikuti langkah Ibra kali saja satu waktu butuh tenaganya. Misalkan membuka pintu atau menekan tombol lift.


"Nyonya kenapa? Tuan nyonya muda kenapa?" tanya bu Rika dan Susi, begitupun asisten lain saling berbisik.


Dengan setia Zayn terus mengikuti langkah Ibra, sampailah di kamar Laras. Ia membaringkan tubuh Laras di tempat tidur dan menarik selimut menutupi semua tubuhnya.


Ibra menoleh ke arah Zayn. "Kau boleh pulang! bawa saja mobil ku seperti biasa."


"Oke." Zayn pun memutar badan keluar dari kamar laras. Tidak lupa sebelumnya menutup pintu.


Ibra menari lengan bajunya sampai siku, mendekati meja. Mengupas buah lalu di bawanya ke Laras dan menyuapi. "Aa ... buka mulutnya? buah ini akan menggantikan asupan yang habis tadi, makanan yang kamu muntah kan."


Laras membuka mulutnya. Dengan lembut Ibra mengusap bibir Laras dengan tisu agar makannya tidak belepotan. "Lain kali! tidak boleh jalan ke manapun, selain dengan saya," jelas Ibra.


Laras hanya menggerakkan bola matanya. Ibra terus saja menyuapi Laras buah.


Blak!


Pintu terbuka, bu Rahma dan suaminya juga bu Rika. langsung masuk menghampiri Ibra dan Laras. "Kamu kenapa Sayang? bikin kami khawatir," bu Rahma dan suaminya tampak cemas.


"Biasa. Mah, mual, pusing. Badan lemas sekali." sahut Laras, menjelaskan.


"Oh, kamu perlu banyak minum vitamin," sambung bu Rahma lagi.

__ADS_1


"Iya. Mah," sahut Laras lirih.


Ibra bersiap menghubungi dokter. "Aku hubungi dokter dulu," ucap Ibra.


"Sayang ... kalau Mama rasa ini biasa di alami wanita yang tengah hamil muda, jadi jangan terlalu khawatir. Mungkin bawaan baby saja. Laras butuh vitamin saja kayanya," ujar bu Rahma menenangkan Ibra.


"Em ... gitu ya. Mah?" ucap Laras dan Ibra hampir berbarengan.


Rahma tersenyum manis. " Iya, sayang!"


Ibra mengecek obat-obatan Laras kebetulan masih ada vitamin untuk satu kali minum. "Nih. minum dulu untuk satu kali minum, besok kita pesan dari dokter nya lagi. Bahkan yang lebih bagus."


Laras pun meminum vitamin yang Ibra berikan.


Marwan yang mengamati putranya sangat khawatir akan kondisi istri muda nya, ia jadi teringat ketika dulu Ibra masih dalam kandungan. "Dulu juga Mama mu, seperti itu! malah tengah malam atau pagi buta minta yang macam-macam. Ayah lagi enak tidur dibangunkan mau ini, mau itu. ini mah mendingan."


"Belum. Ayah ... ini masih panjang masa ngidam nya," timpal bu Rahma.


"Laras kenapa?" suara Dian yang terburu-buru masuk kamar Laras.


Ibra menoleh ke arah Dian. "Ini, sayang tadi ... dia. Muntah-muntah di Mall badannya pun lemas hampir pingsang."


"Oh ... apa yang kau rasakan?" tanya Dian duduk di tepi tempat tidur Laras.


"Em ... pusing-pusing, mual dan lemas tak ada tenaga," sahut Karas.


"Oh, minum vitamin," tambah Dian.


"Sudah," sahut Ibra.


Dian menoleh. "Sayang ... malam ini masih--"


"Aku tidur di sini," sahut Ibra memotong perkataan Dian.


Raut wajah Dian berubah seketika. Tersirat kecewa dalam hatinya.


"Mungkin. Ibra khawatirkan Laras, maklum lah ... di masa seperti ini, dia itu, kan lebih butuh perhatian dari suami," ujar bu Rahma menatap Dian dan Laras.


"Ala ... h, manja." Dian bergumam dalam hati.


Ibra melirik Dian yang juga melirik padanya. Lantas ia pergi ke kamar mandi tuk bersih-bersih, badan terasa lengket dan gerah.


"Ya sudah, biarkan Laras istirahat. Kita keluar. Pah, lagian kita juga capek. Belanjaan pun masih belum di bereskan," ujar bu Rahma.


"Yuk!" pak Marwan beranjak dari duduknya. Begitupun bu Rika, dia duluan keluar kamar.


Bu Rahma dan suaminya meninggalkan kamar Laras, tinggallah Laras dan Dian duduk di tempat tidur yang sama. Sambil menatap tajam Dian berkata ....


,,,,


Terima kasih banyak🙏, kalian sudah menyukai tulisan yang recehan ini. Tanpa kalian aku tidak berarti apa-apa! hanya doa yang bisa aku panjatkan untuk semuanya. Semoga selalu dalam lindungan sang maha pencipta dan di mudahkan segala urusan Aamiin 🤲🤲 Kalian adalah penyemangat ku.


🤫Setttt kalau suka? mana vote dan rating nya? di tunggu ya!

__ADS_1


__ADS_2