Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Adalah istriku


__ADS_3

Akhirnya. Laras membuka mulut, menerima suapan dari Ibra. selanjutnya mereka sarapan dengan lahapnya.


Selesai sarapan, Ibra menoleh ke sampingnya, dimana Laras sedang meminum susu. "hem ... minumnya kok belepotan sayang?" ucap Ibra sambil mengusap sisi bibir Laras yang ada noda susu bumil nya.


Laras tersipu malu, kemudian mengambil tisu. Namun Ibra sudah lebih dulu membersihkan lagi bibir Laras dengan tisunya.


Mata Laras menatapnya. "Terima kasih?"


Ibra mengangguk. "Aku ambil sesuatu dulu di kamar. Apa ada yang ingin kau ambil dari kamar, ponsel mu mana?"


"Ada, di kamar, sebentar ku ambil." Laras berdiri hendak mengambil ponsel dan tas miliknya.


"Jangan, biar aku saja sekalian. Kamu tunggu aja di sini!" Ibra beranjak dari duduknya. Merapikan kursi lalu pergi.


Laras menunggu di meja makan. Susi tersenyum ke arahnya. "Ada apa Sus?"


"Nggak, Nyonya. Tuan makin perhatian aja sama Nyonya muda, seneng deh." Jawab Susi yang merasa senang melihat majikannya itu.


Laras senyum tipis. Tidak lama menunggu, Ibra sudah kembali dengan menenteng laptopnya dan tas kecil milik Laras.


"Ini milik mu, ponselnya ada di dalam tas." Ibra memberikan tas kecil itu.


"Makasih, loh, kok bawa laptop sih?" tanya Laras heran.


"Ya, biar nanti kalau ada waktu senggang, bisa bekerja." Sahut Ibra. Kemudian melirik bu Rika yang sedang berdiri seolah menunggu instruksi.


"Bu, saya pergi dulu, jaga mension baik-baik." pesan Ibra pada bu Rika.


Kemudian Ibra menggandeng tangan Laras dan mengajaknya pergi. "Yu. Pergi sekarang?"


"Bu, juga yang lainnya. Susi juga, kami pergi dulu ya?" pamit Laras.


"Iya, Nyonya. Tuan, hati-hati ya, selamat bersenang-senang." Timpal bu Rika, yang lainnya membalas dengan anggukan.


Laras mengangguk dan memberi senyuman manisnya. Begitupun Ibra.


Sambil menyoren tas kecil nya, Laras mengikuti langkah Ibra. Yang agak lebar. "Bisa gak, jangan terlalu lebar langkahnya, aku kesulitan." Keluh Laras, yang kesulitan mengikuti langkah sang suami.


Langkah Ibra terhenti sesaat dan menoleh ke belakang. "Maaf," kemudian melanjutkan langkahnya, namun kali ini lebih santai.


"Makasih."

__ADS_1


Setelah berada di lobi, mobil sudah siap. Tapi pak Barko bukannya masuk dan duduk di bekang setir. Malah memberikan kuncinya pada Ibra, namun Laras tidak banyak tanya. Ia masuk ke dalam mobil serta duduk di depan, sebab pak Barko membukakan nya pintu depan samping kemudi. Bukan di belakang.


Ibra mengitari mobil dan membuka pintu depan, tepatnya duduk belakang setir. Dalam hati Laras bertanya-tanya, tumben bawa sendiri? biasanya juga pake asisten.


Selama perjalanan, tidak ada yang bersuara. Selain suara gerungan suara mesin dari mobil yang di tumpangi Laras dan Ibra, juga suara mesin kuda besi lainnya.


Sesekali di balik kaca mata hitamnya, Ibra melirik sang istri yang memandang lepas keluar jendela dan sesekali juga melihat ke arahnya. Seakan ingin bertanya tapi tidak terucap.


"Kenapa? heran ya? biasanya aku bawa supir, tapi sekarang malah bawa sendiri." Melirik sekilas ke arah Laras.


Laras menoleh. "Iya, tumben aja."


Biar ... lebih santai aja dan ...cuma kita berdua. Tidak ada yang ganggu," ungkapnya sembari tertawa, memperlihatkan gigi putihnya.


Laras terdiam dan menaikan alisnya, Seraya berkata dalam hati. "Apa maksudnya?"


Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya Mobil menepi tepat depan sebuah Klinik besar. Dan Ibra turun duluan, lalu membukakan pintu buat Laras.


Laras pun turun, kepalanya mendongak ke melihat gedung itu. Mereka masuk ke Klinik kandungan tersebut.


Ibra berbincang dengan seorang penjaga sekaligus suster di sana, sementara Laras duduk menunggu tidak jauh dari tempat Ibra berdiri.


Ibra menghampiri. "Yu, aku sudah bicara dengan dokter ahli dan sekarang sudah menunggu kedatangan kita." Meraih tangan Laras dan di tuntun nya.


Saat ini mereka sudah berada di dalam ruangan dokter ahli kandungan. "Tolong periksakan istri saya dok, kemarin terjatuh ke lantai dan beberapa minggu lalu jatuh juga ke kolam renang. Saya takut baby nya ke napa-napa," ujar Ibra. Mengungkap ke khawatirannya.


Dokter Mawar tersenyum pada keduanya. "Apa keluhan nya Nyonya?"


"Em ... nggak kok gak ada keluhan apapun di perut ku, cuma pusing-pusing saja, mual. Sudah berkurang, bukankah itu biasa bagi wanita hamil dok?" ungkap Karas diakhiri dengan nada bertanya.


"Iya, kalau cuma itu saya rasa normal saja," ucap dokter Mawar kembali.


"Tapi saya khawatir dok, masalahnya Istri saya ini, kalau ada masalah suka diam-diam saja. Gak banyak bicara, jadi saya sangat khawatir dok," ujar Ibra lagi yang tetap kekeh dengan pemikirannya. Laras hanya menatap ke arah Ibra.


"Em ... baiklah. Saya akan periksakan untuk memastikannya ya? semoga aja tidak ada masalah yang serius." Mawar berdiri dan mengajak Laras ke tempat pemeriksaan.


Laras mengikuti setiap rangkaian pemeriksaan dokter Mawar. Mata dokter Mawar fokus pada layar monitor, begitupun Ibra begitu serius melihatnya.


"Jelaskan Tuan, kalau istri dan calon baby nya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu anda khawatirkan bukan?" dokter Mawar menoleh ke arah Ibra yang mengangguk-anggukan kepalanya.


Kini Ibra merasa tenang. Kalau perlakuan Mery tidak berdampak buruk terhadap Laras dan janinnya.

__ADS_1


"Kandungan istri anda kuat kok, Cuma ... saran saya. Istri anda harus menghindari stres atau banyak pikiran, justru itu akan berdampak buruk pada dia dan kehamilannya. Usahakan dia lebih merasa tenang, nyaman dan bahagia selalu. Intinya hindari stres," ujar dokter Mawar lagi.


Ibra mengangguk kembali dan menjabat tangan dokter Mawar, sangat berterima kasih sekali. Laras bangun dan merapikan diri.


"Tidak dapat dari istri tua, akhirnya dapat dari istri muda ya?" goda dokter Mawar pada Ibra.


Ibra hanya tersenyum bahagia dan melirik ke arah Laras, yang kembali duduk di sampingnya. "Jadi bener kan dok? kandungan ku baik-baik saja." Tanya Laras menatap dokter Mawar.


"Iya, kandungan anda baik-baik saja. Dia sehat dengan normal," sahutnya dokter.


"Tuh, kan. Apa yang aku bilang, kandungan ku baik-baik saja. Kamu sih kekeh, gak mau dengar, aku yang rasain kok. Yang sakit itu pantat aku. Bukan perut ku," ocehan Laras ke Ibra, membuat dokter mesem-mesem melihatnya.


"Iya, kan aku khawatir, siapa tahu berkaitan, lagian seperti yang aku bilang ke dokter, takutnya apa yang kamu rasakan tidak bilang. Kamu itu tidak kalau ada masalah tidak mau jujur." Akunya Ibra. Tidak mau kalah dari Laras.


"Mau jujur gimana? kamu nya sibuk sama istri mu yang lain, masa aku harus ganggu kalian! gak mungkin lah." Laras membela diri.


Ibra menghadap ke Laras dan membingkai wajah Laras dengan kedua tangannya. "Sayang. Bagaimanapun aku seorang suami, yang harus adil dengan kewajiban ku. Kau pasti ngerti itu, tapi ... kalau ada apa-apa kamu harus bicara langsung padaku, bukan dari orang lain saja. Aku juga ingin mendengar dari bibir mu langsung," ujar Ibra yang netra matanya terus bergerak menatap kedua bola mata indah milik Laras.


Laras tidak bisa menjawab perkataan Ibra barusan, memang ia pun mengerti posisi Ibra yang memiliki istri yang lebih dari satu. Bahkan dirinya adalah yang kesekian, wajar kalau Ibra lebih mementingkan istri yang lebih dulu. Dan ini adalah konsekuensi dalam berpoligami.


"Kau adalah istri ku, calon ibu dari anak ku, jadi kau juga punya hak akan diriku. Sebagai suami mu, ayah dari anak-anak mu. Jadi jangan beranggapan sendiri, kamu punya aku yang akan berusaha melindungi mu, namun mohon dimengerti kalau adakalanya, aku tidak ada di sisi mu. Karena aku pun milik orang lain," sambung Ibra matanya terus menatap wajah Laras dengan sebuah perasaan yang sulit di ungkapkan.


Laras hanya bisa membalas tatapan Ibra yang masih meletakkan kedua tangannya di wajah Laras.


Kemudian Ibra menoleh ke arah dokter Mawar duduk, namun kosong. entah kemana, mungkin tak ingin mengganggu mereka berdua atau mungkin menemui pasien, entah lah yang jelas di ruangan itu hanya ada Ibra dan Laras saja.


Ibra kembali menatap Laras. Laras segera menjauhkan tangan Ibra dari wajahnya. "Aku mau ke toilet sebentar." Sambil berdiri meninggalkan Ibra. Namun Ibra pun beranjak dan mengikuti langkah Laras yang keluar ruangan itu.


Laras terus berjalan mencari toilet, sedangkan Ibra menemui dokter Mawar yang tadi sempat menghilang dari ruangannya.


Kini Laras berada di dalam toilet. setelah selesai buang air kecil, lalu Laras membasuh muka, yang sebelumnya menguncir rambutnya yang terurai itu. Menatap wajahnya di cermin, terngiang ucapan Ibra barusan. Bahwa sebagai suami, bagaimanapun dia harus menunaikan kewajiban terhadap istri-istrinya.


Laras kadi ingat pada teman lamanya, dia punya suami dan istrinya cuma satu emang. Tapi ... yang dia dapatkan hanya sakit hati, suaminya menghilang tek bertanggung jawab meninggalkan istri dan anaknya.


Jadi sangat wajar bila posisi seperti Laras ini sering merasa kecewa dan sebagainya. Orang istri dari suaminya tidak cuma satu, masih mending juga masih mau ngasih nafkah. Coba seandainya dia tidak bertanggung jawab, belum bisa Laras bayangkan.


Setelah dari toilet, Laras duduk santai menunggu Ibra menjemputnya.


"Hi ... sedang apa di situ?" suara seseorang dari arah samping ....


****

__ADS_1


Terima kasih reader ku ... terima kasih masih setia padaku🙏 eh salah. Tapi novel ku! semoga kalian masih suka dan semakin suka! terus kasih aku semangat ya?


__ADS_2