
Terdengar pintu di ketuk lagi. Susi kembali mengintip. "Nggak ada siapa-siapa? aneh. Iyy ... takut."
Karena masih penasaran, lagi-lagi Susi mengintip. Tiba-tiba.
"Duarrrrrt ..."
Muncul wajah yang menyeramkan. Membuat Susi melonjak kaget sambil berteriak. "To-tolong ... setan, hantu. po-pocong, kuntilanak. Tolong?" teriakan Susi sangat ketakutan sambil menutup wajah dengan kedua tangannya.
Terdengar gelak tawa dari luar, sepertinya sangat renyah dan puas. Mata Susi melotot ke arah pintu.
Bu Rahma dan pak Marwan yang dengar jeritan Susi langsung menghampiri. "Ada apa Sus?"
"I-itu, ada-ada hantu di balik pintu." Menunjuk pintu dengan wajah yang pucat.
"Ada apa?" selidik pak Marwan sambil membuka pintu. Gelak tawa masih terdengar walau terdengar tertahan.
Blak!
Pintu terbuka. Dan tampak Zayn memegang topeng yang tadi ia pakai untuk menakuti Susi.
Susi yang ketakutan setengah mati, sampai-sampai lutut pun bergetar lemas. Mukanya pucat pasih. Matanya melotot dengan sempurna setelah tahu itu ulah Zayn. Langkahnya dengan cepat memberondong Zayn dengan pukulan.
"Dasar Tuan Zayn, menakut-nakuti saya, terima nih pembalasan saya." Susi terus memukul Zayn.
"Aduh-aduh, ampun aduh." Geph! kedua tangan Susi di tangkap oleh Zayn dan menguncinya.
"Lepas?" pekik Susi, kemudian dua pasang mata mereka bertemu. Saling tatap sesaat, kemudian Susi menunduk tak berani menatap tatapan Zayn yang tajam.
Bibir Zayn mengulas senyuman. Netra mata Zayn terus menatap wajah Susi yang berubah merah, dia tampak malu dalam pandangan Zayn. Entah kenapa jantungnya dag dig dug tak menentu. Ada rasa yang sulit di ungkapkan dangan kata-kata.
Setelah sekian lama dalam posisi itu, Zayn barulah melepas tangan Susi dari genggamannya.
Susi mundur beberapa langkah. terlihat jelas gugupnya dia, yang biasa tampak jutek dan galak. Kini menunduk bagai burung kena tembak. Hatinya terus berdebar. Jantung pun berdegup begitu kencang. Ser ... darahnya mengalir begitu deras, sikapnya berubah drastis. Dan segera memutar badan setengah berlari masuk.
Zayn jadi tertegun, melihat kepergian Susi. Sementara bu Rahma dan sang suami dengan santainya duduk di sofa, di ruang tamu melihat zayn yang berdiri di teras. Akhirnya Zayn mengangguk hormat dan tersipu malu. "Permisi Om, Tante."
Zayn segera membawa langkahnya menuju mobil, melanjutkan niatnya untuk pulang.
Di kamar, Laras sedang gelisah. Terbangun dari tidurnya bukan karena riuh atau ribut dari luar. Sebab kamar Laras khususnya memakai peredam suara, dari luar gak begitu terdengar apalagi dari dalam. Tidak terdengar apa-apa kecuali pintu terbuka.
Ia terbangun karena ingin pipis. Sementara Ibra tidur begitu nyenyak. Ibra terbangun, tangannya meraba yang di samping. Namun Kosong. Lalu memicingkan matanya, benar saja tempat tidur sebelah itu kosong. "Sayang?" lalu mengarahkan pandangan ke arah kamar mandi, yang terdengar suara air keran yang mengucur. Membuat hati Ibra menyangka sang istri ada di kamar mandi.🙏
Benar saja, tidak lama Laras muncul dari balik pintu sambil memegangi perut. Ibra bangun duduk di atas tempat tidur.
"Kenapa sayang?" tanya Ibra menatap sang istri.
"Habis pipis." Laras mengambil air minum, dan diminumnya. Lek Lek lek! suara air yang Laras minum.
"Ya udah, bobo yu?" perlahan menarik tangan Laras agar naik ke atas tempat tidur.
"Kalau dah bangun, suka sulit tidur lagi. Mata ini sulit terpejam lagi." Lirihnya Laras.
"Iya sini aku peluk, biar nyaman." Ibra membawa tubuh Laras dalam pelukannya.
Laras memposisikan dirinya dalam pelukan sang suami. "Abang, tidur lagi aja. Besok kan mau kerja."
"Nggak pa-pa, nanti juga kalau ngantuk pasti tidur lagi." Gumam Ibra, dengan suara parau nya. Tangan satu lagi mengelus perut sang istri sangat lembut.
Keduanya berbincang sampai larut malam. Sesekali dihiasi dengan tawa kecil dan kecupan hangat, hingga akhirnya Ibra kembali di serang rasa kantuk. Ibra tidur sangat nyenyak.
Sementara Laras masih terjaga dan gelisah. Tidak nyaman dengan posisi tidur yang ia rasakan serba salah dibuatnya. Begitulah setiap malam yang harus Laras lewati.
Malam beranjak pergi, berganti dengan suasana pagi. Di mana suasana yang tadinya hening dan sepi, kembali dihiasi dengan hiruk pikuknya kehidupan. Ramai dengan orang-orang yang memulai dengan aktifitasnya.
Begitupun Ibra tengah bersiap untuk pergi ke kantor. Laras pun sibuk membantu sang suami merapikan diri.
"Sepertinya, sekarang perut sering kontraksi." Laras sedikit meringis.
"Ha? mau melahirkan?" selidik Ibra dengan wajah cemas melihat sang istri meringis memegangi perutnya. Ia pun meraba perut sang istri yang keras.
"Nggak tahu, bukan kayanya." Laras kembali memasang dasi di leher sang suami. Memakaikan jas, mengambil sepatu.
"Sayang, biar sepatu aku pakai sendiri aja," ucap Ibra mencegah istrinya memakaikan sepatu. Namun Laras kekeh. Dia tetap berjongkok memakaikan sepatu di kaki suaminya.
Setelah itu ia membereskan meja rias, yang letak barangnya acak-acakan. Sesungguhnya ia merasakan kegundahan yang lumayan hebat, dalam menghadapi persalinan. Namun ia tak mau bercerita takut mengganggu pikiran orang. Biar ia pendam sendiri sambil berserah dan memasrahkan semuanya pada yang maha pencipta.
"Tapi ... gak pa-pa kan sayang?" tanya Ibra, wajahnya mengguratkan kecemasan penuh kekhawatiran.
"Nggak pa-pa kok, aku gak pa-pa. Pergi aja," sahut Laras sambil menggelengkan kepalanya.
Ibra memeluk bahu sang istri dari belakang. "Yakin? aku jadi khawatir sayang."
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, aku akan segera hubungi Abang," ucap Laras sambil mengelus rahang Ibra dan memandangi nya dari pantulan cermin.
Tangan Ibra yang kanan turun, mengelus perut Laras. "Jagoan Papi. Jangan bikin Mammy susah ya? keluarlah ke dunia ini dengan mudah. Kasian Mammy, Papi gak akan tega kalau lihat Mammy kesakitan nantinya. Keluarlah dengan mudah sayang."
Kedua netra mata Ibra berkaca-kaca. Tak bisa membayangkan gimana nanti ketika persalinan, akhir-akhir ini ia sering melihat di you tube tentang wanita yang melahirkan begitu susahnya. Melahirkan itu antara hidup dan mati, jujur ia merasa takut.
__ADS_1
Melihat mata Ibra berair. Bibir Laras tersenyum getir. Tak ayal kedua matanya pun terlihat ada buliran air bening terlihat jelas di cermin. "Iih ... kok Abang nangis? kenapa, belum apa-apa nih."
Laras memutar badannya. Membuat posisi meraka menjadi berhadapan. Jari-jari Laras mengusap buliran air bening di sudut mata Ibra.
"Aku takut sayang. Kalau harus memilih, aku lebih baik kehilangan anak kita dari pada diri--"
"Sstt ... jangan ngomong gitu, pamali. Justru Abang harus doakan agar semuanya selamat, gak boleh bicara seperti itu." Laras menggeleng. Netra matanya menatap kedua mata Ibra yang sama-sama berkabut.
"Tapi, Abang benar-benar takut kehilangan kamu." Suaranya parau, tangan Ibra kembali merangkul sang istri penuh haru. Memberi kecupan singkat di pucuk kepala Laras penuh kasih.
"Aku minta ... banyak-banyak berdoa ya? semoga lahirannya nanti lancar, anak kita dan aku juga selamat. Jangan pesimis gitu ah," ungkap Laras.
"Iya sayang, iya." Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan posisi masih sama. Memeluk erat tubuh sang istri.
Laras mendorong dada Ibra. "Sudah ah, jangan nangis lagi. Masa laki-laki menangis, jelek tuh." Bibir Laras mengulas senyuman yang tipis.
Jari Ibra pun mengusap pipi Laras yang dilintasi air mata. "Biarpun aku nangis. Tetap cakep lah." Melirik cermin dengan penuh percaya diri.
"Aish ... sok cakep," goda Laras sambil tersipu.
"Iya dong, nunggu di puji istri lama. Gak ada di puji-puji juga, mending sok cakep sendiri." Timpalnya Ibra. Cuph mengecup pipi sang istri dengan lembut.
"Baiklah. Suamiku yang cakep ... sudah waktunya sarapan."
"Ah, gak tulus bilang cakep nya juga," ungkap Ibra, gak puas di bilang cakep sama Laras.
"Emang, harus gimana gitu?" menatap sang suami.
"Em ... gak tulus aja, kiss pagi nya mana?" menunjuk ke pipinya sendiri.
Laras memperlihatkan senyumnya. Kemudian mengecup pipi yang Ibra tunjukkan.
"Sekali lagi, yang lama dong. Masa kilat begitu?" pinta Ibra. Kemudian Laras menuruti permintaan sang suami.
Ketika hendak memberikan kiss pagi di pipi, wajah Ibra bergerak sehingga bibir mereka yang bertemu. Tangan Ibra menyentuh tengkuk Laras dengan lembut.
"Itu, namanya kiss pagi sayang," ucap Ibra setelah kiss paginya berakhir.
Laras menunduk dan tersipu malu. Mengusap bibirnya yang basah. Kemudian keduanya keluar kamar menuju tempat makan.
"Kok sepi Sus? Mama kemana?" tanya Laras pada Susi yang sedang mencuci perabotan. Dan sarapan pun sudah siap tersedia di meja.
"Kayanya belum keluar, Nya." Jawab Susi sambil menoleh sang majikan.
"Oh, oya. Pesanan ku mana? dapat gak." Laras baru ingat kalau semalam ia menyuruh Susi dan Zayn membeli kesemek.
"Oya. Tapi alhamdulillah juga dapat." Laras membuka lemari pendingin dan mengambil buah kesemek satu.
"Oya lupa." Laras kembali ke meja, mengambilkan sarapan buat suaminya.
"Bikinkan roti aja sayang." Pinta Ibra sambil menyimpan Handphone nya di meja.
"Nggak mau nasi goreng?" menatap ke arah Ibra. "Roti saja."
Ibra mengangguk. Lalu meraih susu hangat dan meneguk setengahnya. Kemudian memakan roti yang Laras siapkan.
Sementara Laras mengupas buah kesukaannya, sekalian sarapan dengan buah itu. Dan gak cukup satu aja, ia ambil lagi dari tempatnya.
"Pagi sayang ... sudah sarapan?" suara pak Marwan setelah berada diantara putra dan mantunya.
"Pagi, Pa ... Mama mana?" tanya Laras ketika tidak melihat mama mertua.
"Iya, Pa. Apa Mama sakit?" sambung Ibra. Celingukan mencari keberadaan sang bunda.
"Mama, lagi nyiram tanaman kok." Pak Marwan menunjuk keluar.
"Oh ... aku kira sakit!" gumam Laras sambil makan potongan buah kesemek.
"Oya, Pa ... aku pamit. Ngantor dulu." Ibra mencium punggung tangan sang ayah.
"Oh, ya hati-hati. Nyetir sendiri?" selidik pak Marwan pada sang putra.
"Iya, sendiri." Ibra mengangguk.
"Sayang, aku pergi dulu. Jangan lupa kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku," pesan Ibra pada sang istri yang beranjak mau mengantarnya ke teras.
"Hem ... jangan terlalu khawatir." Laras menggandeng tangan Ibra. Berjalan menuju teras.
"Mana bisa aku tenang sayang?" kini Ibra melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Ma, Abang pergi dulu." Pamit Ibra ketika melihat sang ibunda sedang menyiram tanaman.
"Ya. Hati-hati sayang." Bu Rahma menoleh ke arah Ibra dan Laras.
"Oke. Abang pergi dulu." Cuph mengecup kening dan pipi sang istri.
Laras pun mencium punggung tangan Ibra. "Hati-hati." Laras sebentar memeluk Ibra. Ibra pun mendaratkan kecupan di puncak kepala Laras.
__ADS_1
"Makin hari, kalian makin mesra aja. Bikin Mama iri deh ..." goda bu Rahma sambil tersenyum bahagia melihat anak dan mantunya rukun dan semakin mesra.
Akhirnya Ibra berangkat ke kantor. Mengemudi sendiri, tanpa supir, melaju dangan cepat menyusuri jalan gang komplek tersebut.
Bu Rahma selesai nyiram. Ia masuk ke dalam rumah bersama sang mantu. Laras. "Sudah sarapan belum?"
"Belum sih, Ma ... cuma makan buah kesemek aja hi hi hi ..."
"Oh, ya udah, kita sarapan yu? Papa entah sudah sarapan entah belum ya?" ujar bu Rahma.
"Papa, sudah tadi Mah." Laras berjalan bersama mama mertua.
"Oya." Bu Rahma tidak menemukan sang suami di meja makan. "Tuan, mana Sus?" menoleh Susi yang yang berada di dekat mesin cuci.
"Itu di kolam renang." Jawab Susi. "Tadi Susi lihat di kolam renang.
"Oh," bu Rahma duduk di kursi bersiap sarapan.
Laras duduk merasakan perutnya yang kontraksi. Namun gak terlalu.
"Ayo sayang. Sarapan nanti sakit loh." Ajak bu Rahma sambil mengambil mie goreng buat sarapan.
"Iya, Mah ... duluan aja." Menunjukkan senyumnya. "Aku masuk kamar dulu ya Ma." Laras berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
Saat ini Laras sudah berada di kamarnya. Duduk bersimpuh di atas sajadah, wajahnya basah dengan air mata. Seiring doa yang tulus, meminta pertolongan agar di lancarkan di saat persalinan nanti.
"Ya, Allah ... lancarkan lah persalinan ku nanti. Selamatkan lah aku dan putra ku ini, dan jadikan dia anak yang saleh. Aku ingin persalinan yang normal. Tanpa adanya caesar ya Allah. Ampuni segala dosaku, suami ku dan juga keluarga ku. Bimbing kami agar berada di jalan yang benar, jadikan kami orang yang bersyukur. Atas segala nikmat yang telah engkau berikan pada kami semua. Aamiin-Aamiin ya Allah."
Itulah penggalan doa yang sederhana dari bibir Laras. Kemudian matanya terserang rasa kantuk. Ia meletakkan kepala di tepi tempat tidur, dengan masih duduk di bawah.
Siang hari, Ibra pun sudah pulang dari kantor. Langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih, badan terasa lengket dengan keringat.
Laras keluar kamar, setelah menyiapkan pakaian ganti untuk Ibra. Ia ke dapur dan ikut menyiapkan makan siang, perut nya yang kadang terasa mulas sebentar. Hilang lagi.
"Sayang, kamu duduk aja. Jangan capek-capek ah, udah duduk manis aja." Bu rahma mencegah Laras untuk beraktifitas.
"Iya, Mah ..." sahut Laras dan berniat kembali ke kamar. Namun terdengar suara bell yang berbunyi. "Sus. Biar aku aja yang lihat." cegah Laras pada Susi yang ingin membukanya.
Laras mengayunkan langkahnya. Berjalan menuju pintu depan, sebelum membukanya. Ia mengintip dari baik gorden. Tampak seorang pria berdiri memunggungi pintu, sepertinya Jodi.
Blak!
Ketika tangan Laras menarik handle pintu. Pria tersebut memutar tubuhnya menoleh yang membuka pintu.
Jodi tersenyum, melihat wanita yang menguncir rambutnya di atas itu berdiri di depan pintu. "Assalamu'alaikum?"
"Wa'alaikumus salam. Sendiri? gak sama Paman," tanya Laras dengan ramahnya.
"Tidak, aku dari kantor langsung ke sini. Boleh masuk?" ucap Jodi ketika Laras masih membiarkan dirinya masih berdiri di teras.
"Oh, maaf. Silakan masuk," akhirnya Laras mengajak masuk.
"Makasih." Seiring langkahnya Jodi me arik bibirnya tersenyum.
"Silakan duduk?" menunjuk sofa, kemudian Laras masuk ke dapur untuk membawakan minuman.
"Siapa sayang?" tanya bu Rahma ketika melihat Laras kembali ke ruang itu.
"Jodi, Mah ..." sahut Laras yang kemudian mengambil gelas.
"Wah ... Opa-opa datang ya?" Susi sangat antusias, mendengar nama Jodi.
Laras menarik bibirnya senyum manis. Lalu membawa segelas air jus itu ke ruang tamu.
Jodi yang duduk bersandar, menegakkan duduknya setelah Laras kembali dengan nampan di tangan yang berisi segelas air jus.
Laras berjongkok dan menyuguhkan gelas itu tepat di depan Jodi. "Diminum jus nya."
"Terima kasih?" ucap Jodi.
"Sama-sama, Paman sehat?" tanya Laras setelah menyimpan nampan di bawah meja.
"Sehat, sekarang beliau sedang menjalani terapi." Jawab Jodi sambil mengambil gelas jus, lalu meminumnya.
"Oh, moga Paman sembuh secepatnya ya?" Laras mengangguk pelan.
"Saya ... kesini. Untuk mengundang mu untuk makan malam di rumah. Ajak suami mu." Akhirnya Jodi mengutarakan maksud kedatangannya.
Ibra yang baru keluar kamar, bertanya pada yang berada di dapur, ketika sang istri tak ia dapatkan di sana. "Istri ku mana Mah?"
"Itu, ada Jodi di ruang tamu." Bu Rahma menoleh sang putra, sambil menatap masakan di meja.
"Jodi, ada apa dia datang?" batin Ibra. Langkahnya yang lebar membawa dirinya lebih cepat. Sehingga dalam waktu detik kemudian Ia sudah berdiri dekat sang istri ....
****
Hi ... reader ku semua semoga di malam ini kabar kalian baik, sehat selalu ya? sudah baca kan, mana like dan komentarnya🙏
__ADS_1