
"Siap sih? Sus ... sampai-sampai baby Satria kaget nih." Bu Rahma menoleh ke arah Susi.
Ibra dan Laras saling pandang sesaat. "Siapa sih?" tanya Laras pada sang suami yang sedang menghabiskan makannya.
Kemudian Ibra meneguk minumnya sampai tandas. "Paling Zayn. Jemput aku."
"Oh, biasanya tak meresahkan. Lagian ada Mas Irfan yang menyupir.
"Iya, masing-masing kali." Ibra beranjak dari duduknya, pergi ke kamar. Mengambil barang-barangnya, seperti laptop dan ponsel.
"Berisik, kenapa sih? gak tau apa sekarang di sini ada baby main rusuh saja mabuk apa?" kata Susi berdiri di teras yang tak jauh dari mobil Zayn.
Zayn cuma terdiam mendengar ocehan Susi yang berdiri tidak jauh dari mobilnya. Zayn tersenyum tipis, membuka pintu mobil dan turun. "Tahu, tahu banget. Emang dia masih tidur apa? biasanya pagi gini sudah bangun dan dah mandi juga."
"Bangun sih bangun. Tapi tetap aja dia kaget, kaya orang kejang-kejang gitu, tanggung jawab loh." Susi menunjuk Zayn.
"Emangnya saya menghamili kamu apa? harus tanggung jawab segala." Zayn menggeleng sambil kakinya melangkah masuk ke rumah itu. Menuju ruang makan mengikuti Susi.
"Pagi Tante cantik? eh ... si ganteng dah bangun." Zayn mencolek pipi baby Satria.
"Tante kira siapa? pagi-pagi sudah mendapat kaget nih baby Satria. Tadi."
"Maaf Tante. Saya tadi lupa bener?" ucap Zayn memperlihatkan senyumnya sembari menyatukan tangannya di depan dagu.
Bu Rahma. Senyum tipis, serta mengangguk.
Netra mata Zayn mengarahkan pandangan ke arah Laras. "Pagi Nona?" Zayn mengangguk hormat. Menarik kursi dan mengambil piring, tidak segan lagi, langsung mengambil sarapan.
"Pagi juga," sahut Laras. Dengan senyuman yang merekah.
"Tuan Mana?" tanya Zayn di sela makannya. Mulutnya penuh dengan makanan.
"Ada di kamar. Biar aku panggilkan dulu. Ya?" gumamnya Laras. Lalu Menuntun langkahnya ke kamar.
Klik!
Blak!
"Sayang, ada Zayn," ucap Laras menatap suaminya yang sedang mengenakan jam tangan.
"Ah, ngapain sih datang, aku ada Irfan juga," sahut Ibra sambil sekilas menoleh sang astri.
Laras berdiri bersandar ke dinding. "Sekarang lagi sarapan," jarinya menunjuk ke salah satu arah.
Kening Ibra mengerut. "Ah dasar jomblo akut." Sembari menggeleng.
"Tak apalah," ucap Laras.
Kaki Ibra berjalan mendekati ke arah Laras. "Kiss pagi dong." dengan tatapan yang mengandung arti.
"Ya, ampun. Dari bangun tidur itu apa itu namanya?" balas Laras seraya menunjukan senyum simpulnya.
"Itu, kan tadi sayang. Bukan sekarang," bisik Ibra, tangannya menempel di kedua dinding sehingga mengunci tubuh Laras.
"Aku mau ngasih asi baby Satria," Laras mendorong dada Ibra dengan niat keluar dari kungkungan nya.
Namun tak sedikitpun Ibra mengabulkan permintaan sang istri. Ia makin menunduk mendekatkan wajahnya. Laras yang merasakan jantungnya berdegup semakin kencang, ketika wajah Ibra kian mendekat. Apalagi ekor matanya menemukan pintu yang terbuka lebar. Hati Laras semakin gusar takut bu Rahma masuk.
"Abang?" gumamnya lembut. Tangan kanan menahan dada Ibra dan yang satunya memegang sekitar pinggang sang suami.
Akhirnya bibir Ibra mendarat di tempat tujuannya dengan baik. Ketika saling menikmati?
"Ehem," bu Rahma berdehem, berdiri di tengah-tengah pintu.
Laras terkesiap ekor matanya menoleh ke arah sang mama mertua. Namun tetap di posisi semula.
"Mama ... kenapa gak bilang dulu, sedang tanggung nih," ucap Ibra tanpa menoleh sang bunda. Fokus menatap sang istri yang juga menatapnya. Dengan tatapan penuh ke khawatiran.
"Kalian ini, apa-apaan. Mana pintu terbuka gitu, lah di tutup dulu pintunya sayang ..." bu Rahma menutup pintu sambil menggendong baby Satria.
"Abang nih, Mah. Gak bisa dibilangin," gumamnya Laras pelan.
Pandangan Ibra masih intens pada sang istri, sorot matanya yang sulit di artikan membuat Laras bertanya-tanya dalam hati. Cuph! kecupan singkat mendarat lagi. Setelah itu barulah melepaskan sang istri, membiarkannya pergi. Laras segera mengambil baby Satria dari pangkuan bu Rahma.
"Maaf, Mah ... pasti dah pegel nih, baby boy. Kasian Oma nah gendong kamu terus, mandi yu? nanti di jemur." Laras memangku baby boy dengan niat mau di mandikan.
"Kasih mimi sayang. Kasian lapar dia, gara-gara big baby boy nya Mammy ya sayang ya? gara-gara big baby nya Mammy yang super manja ya!" bu Rahma mengajak baby boy mengobrol.
"Mamah ... gitu amat sama putranya ih?" ucap Ibra sambil memeluk sang bunda. Dengan manjanya.
__ADS_1
"Iya-iya. Sana pergi kerja nanti kesiangan. Dasar manja, ya manja aja." bu Rahma mendorong sambil memberikan senyumnya.
"Baiklah, Mama ku sayang ... aku pamit dulu." Tangan Ibra meraih tangan sang bunda dan di ciumnya.
Kemudian berjalan mendekati sang istri yang sedang duduk memberi baby boy mimi. "Sayang aku pergi dulu, baik-baik di rumah. Jaga baby boy kita." Cuph! mencium kepala si kecil dan kening sang istri bergantian.
"Iya, hati-hati yang semangat kerjanya, yang lancar urusannya. Aamiin." Laras pun mencium punggung tangan suaminya.
"Oke." Ibra pun keluar, menjinjing tas laptop nya. Terus berjalan, matanya mencari keberadaan Zayn. Di meja makan kosong, rupanya tengah mengobrol dengan Susi.
Alis Ibra terangkat. Ia jalan mengendap-ngendap mendekati Zayn dan Susi yang berdiri di pojokan. "Kena ciduk kalian, bagus ya? di depan ku kaya kucing dan tikus. Tapi di belakang ku halus dan lembut seperti bedak baby he he he ..." suara Ibra mengagetkan keduanya.
"Bos, ngagetin aja. Hampir saya jantungan." Zayn mendelik pada Bos nya.
Susi pun yang malu-malu masih bisa ngeles. "Apaan sih Tuan? orang lagi ngomongin makanan juga."
"Makanan, emang kenapa dengan makanan? sarapan tadi, gak enak gitu? keluarin aja. Gampang kok." Timpal Ibra mengerakkan tangannya memberi kode agar Zayn membuang lagi makanan dari perutnya.
"Ah, si Bos gak ngerti banget. Malas ah," ucap Zayn dengan nada kesal. Ia pergi mendahului keluar.
Ibra menyeringai puas. "Eh. Dengar ya kalian? bulan depan aku nikahkan kalian!" Jelas Ibra.
"Apa Tuan? nikah, aku sama tuan Zayn menikah. Nggak-gak, gak mau." Sambar Susi sembari menggeleng.
Zayn menghentikan langkahnya. Berdiri mematung tanpa menoleh ke belakang, senyuman di bibirnya sedikit mengembang. Kemudian kakinya teruskan langkah yang menuju mobil.
Ibra tak menjawab Protesnya Susi, Ibra keluar mengejar langkah Zayn. Meskipun akan beda mobil.
"Bos, mau berangkat dengan mobil mana?" tanya Zayn setelah melihat Ibra berdiri di teras.
"Saya dengan mobil ku saja." Ibra menunjuk mobil mewahnya.
"Oke, aku duluan." Zayn memasuki mobilnya. Kemudian tidak buang waktu lagi, ia segera melajukan dengan kecepatan tinggi.
Setelah mobil Zayn menghilang, Ibra barulah masuk ke dalam mobilnya. "Nanti, setelah dari kantor kamu balik lagi aja, jaga-jaga di rumah. Biar nanti saya pulang dengan Zayn aja."
Irfan yang sudah siap di belang kemudi mengangguk. Mengerti dengan yang majikannya katakan.
"Oya, besok hari sabtu, kan? saya mau main golp, tolong jagain rumah dan anak istri saya," sambung Ibra sambil membuka laptop nya.
"Baik Tuan. Oya boleh saya bertanya sesuatu?" Irfan melihat aang majikan melalui kaca spion yang ada di depan bagian atas.
"Yang semalam itu kawan lama atau--"
"Iya, kawan lama sari kuliah. Cuma gak dekat-dekat banget sih, kenapa?" selidik Ibra kembali melihat ke arah Irfan.
"Em ... tidak Tuan, cuma nanya saja." Gumamnya Irfan santai.
"Hem," kepala Ibra menggeleng.
Tak selang lama, mobil yang membawa Ibra sudah sampai di depan kantor pusat. Ibra bergegas turun. "Oke, kau pulang saja."
Irfan mengangguk dan memutar kemudi. Balik lagi ke kediaman Laras, meninggalkan Ibra yang tengah berjalan memasuki area kantor.
Saat ini Ibra sudah berada di ruangannya. Duduk di kursi kebesaran dia. Jas nya ia simpan di bahu kursi. Menyingsingkan lengan baju sampai siku.
Mulai berkutat dengan tugasnya. Sesekali bibirnya tersenyum mengingat yang di rumah. Terbayang sesuatu yang membuat hatinya berbunga-bunga sampai saat ini.
"Aku lihat, aku intip si Bos senyum mulu? ada apa tuh perasaan di sini tidak ada yang lucu!" Zayn menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan tersebut dengan terheran-heran.
Ibra menoleh ke arah Zayn yang baru masuk tanpa mengetuk lebih dulu. Memainkan ballpoint di jari. "Kau, tak bisa ketuk dulu sebelum masuk?" menatap tajam.
"Sekalipun saya ketuk, percuma. Gak akan kedengaran Bos."
"Masa?" Ibra mengernyitkan keningnya. Perasaan gak melamun kok, tangannya aja masih mengerjakan sesuatu dengan baik.
Zayn menyimpan berkas di hadapan Ibra. "Ha? jangan-jangan habis belah durian ya semalam?" terka Zayn. Mendudukkan dirinya di kursi depan Ibra.
"Belah durian? gak juga!" sahut Ibra menggeleng.
"Ah gak percaya! wajahnya sangat segar dan tampak bahagia sekali gitu nah. Habis belah durian kah atau jajan sama cewek lain ya?" menunjuk Ibra dengan telunjuknya.
"Sialan, kau pikir saya apa? seperti dirimu apa? enak saja di bilang jajan! makan ha ha ha ... biar kenyang."
"Terus? wah pasti di kasih sama istrinya. Iya kan? tapi bukannya masih itu ya? belum satu bulan dari lahiran." Zayn mengerutkan keningnya.
"Ah, kau ini pengen tahu aja. Yang jelas tidak ada istilah jajan. No no! oya. Kamu mau kan saya nikahkan sama Susi. Walau dia cuma asisten saya. Apa salahnya sih? bila itu jodoh kau."
Zayn mendongak tatkala mendengar perkataan Ibra seperti itu. Kembali membahas tentang Susi. Hatinya menjadi tertegun entah senang atau tidak, hatinya masih ingin menyakinkan, siapkah menikah dengan sosok Susi. Sebenarnya sudah lama juga kenal, namun sebelumnya tak pernah terbesit niat untuk menikahi.
__ADS_1
Zayn masih bengong. Dan berpikir, sudah sering ia berganti kekasih bahkan dengan kenakalannya ia berani menghabiskan waktu dengan wanita bayaran satu dua jam di clubs. Mungkin sudah waktunya ia hentikan semua itu. Mencari wanita yang benar serius dan tulus mencintainya. Menerima apa adanya. Tapi apakah Susi bersedia jadi istrinya? Susi wanita baik-baik. Sementara ia sendiri termasuk pria yang iseng dan nakal. Zayn menggeleng.
"Kenapa kau melamun? jangan kelamaan mikir! kalian sudah lama saling kenal, walaupun belum saling mendalami satu sama lain saja," ujar Ibra. Tampak serius.
"Tapi, apa mungkin Susi mau menikahi saya?" Zayn menatap Ibra dengan nada ragu.
"Kenapa Nggak? kau tajir. Pekerja keras, ulet. Apalagi? dia gak akan kesusahan biarpun menjadi itu rumah tangga sekalipun." Ibra meyakinkan Zayn. "Intinya kau mau, kan?" tatapan Ibra sangat serius, ia gak main-main untuk menyatukan Zayn dan Susi.
"Mau, sih ... tapi ... Itu, takut dianya gak mau." Zayn Ragu.
"Takut di tolak gitu? aha ... kalah sebelum bertanding. Cemen." Ibra mencibir Zayn yang tampak ragu dan takut.
"Iya, takut di tolak, ujung-ujungnya ngebuli. Tapi ... baiklah bukan Zayn namanya. Kalau tidak bisa menaklukkan Susi. Susi mah gampang, menaklukan Nona muda pun aku sanggup--"
"Apa kau bilang? enak saja, itu milik ku. Gak ada satupun yang bisa ambilnya dariku! sembarangan. Jangan kurang ajar ya." Ibra memotong perkataan Zayn yang nyeleneh.
"Ha ha ha ..." suara tertawa Zayn menggelegar di ruangan Ibra dengan renyah.
"Gak usah ketawa? gak lucu!" protes Ibra pada Zayn.
"Sorry ... saya akan mencoba meluluhkan hati Susi. Gitu maksudnya." Ralat Zayn.
"Tapi gak harus ngomong gitu juga. Dia istri saya, dan akan tetap jadi istri saya. Jangan asal kalau ngomong." Ibra kesal. Mengambil berkas yang Zayn bawa.
"Iya-iya ... saya minta maaf. Saya cuma bercanda, cemburuan amat sih Bos." Zayn tersenyum.
"Karena kamu belum merasakan, gimana rasanya bila kita sangat amat mencintai seseorang," ungkap Ibra sambil mendatangani berkas itu.
"Tapi, Bos. Dulu anda gak sebucin ini sama istri yang dulu, atau mungkin karena ini puber ke dua?" Zayn menyeringai dan beranjak, menyambar berkas yang sudah Ibra tangani. Keluar dari ruangan tersebut.
Ibra diam tak bergeming. Manik matanya hanya menatap punggung Zayn yang melintasi pintu. Otaknya kembali ke masa silam, yang dimaksud oleh Zayn.
Ibra menggeleng kepalanya kasar. Kemudian melanjutkan rutinitasnya kembali.
****
Di suatu restoran, di meja yang agak jauh dari pengunjung lain, tempatnya nyaman lah. Dian seorang diri duduk santai di sana, tangannya mengaduk minuman jus dalam gelas besar. Matanya mengamati suasana sekitar. Pandangannya gelisah tertuju jalan masuk. Rupanya ia tengah menunggu seseorang.
"Hai, menunggu lama ya?" suara seseorang yang justru datang dari arah belakang Dian.
Dian terperangah. Sampai berdiri. "Loh kok kamu datang dari situ. Bukannya pintu dari sana?"
Pria itu tersenyum simpul. "Yang penting saya sudah di sini, sorry sudah menunggu."
Dian duduk kembali. "Nggak pa?pa sih." Walau hati masih heran. Kok bisa sudah ada di belakang?
"Mau makan apa nih?" tanya Firman sambil memajukan duduknya.
"Em ... beef steak. Minumnya air putih, sebab air jus nya sudah ada." Jawab Dian.
"Oke!" Firman memanggil pekerja dan menyebutkan pesanan Dian dan dirinya yang sama.
"Oya, Ferdi mana? gak ikut!" tanya Dian menatap ke arah Firman.
"Dia ... sedang di tempat nenek nya." Kata Firman menjelaskan tentang putranya.
"Oh, sayang sekali, padahal aku sudah bawakan mainan." Dian lesu.
"Oh, nanti saja kalau ada orangnya kasihkan. Biar lebih jelas," jelas Firman kembali.
"Oya, ada apa mengajak ku bertemu di sini?" selidik Dian.
"Oh, sorry mengganggu ya? kamu pasti lagi sibuk ngantor, sorry banget." Pada akhirnya Firman meminta maaf.
"Em ... nggak juga sih. Dah waktunya makan siang kok, cuma penasaran aja gitu. Apa aku ada salah lagi sehingga aku akan di undang pihak yang berwajib lagi?" nada serius Dian.
"Eh ... tidak-tidak. Lagian aku sudah tidak berhubungan dengan kepolisian lagi. Dan kamu tahu itu," ungkapnya. sedikit gugup.
"Ya ... kali aja gitu?" dengan tatapan penuh arti.
"Tidak, yang jelas ... aku akan pidana kamu, karena sudah mencuri hati ku!" ucapnya penuh makna. Serta tatapan yang sulit diartikan.
Dian melongo, mulutnya menganga tak percaya kalau orang yang tampak serius itu mampu gombalin cewek. Dian tak menyangka akan mendengar ucapan yang mengandung gombalan, hingga bikin ia klepek-klepek total, tak mampu berkata-kata apapun.
Melihat Dian yang tak bergeming sedikitpun, Firman tersenyum tipis. "Aku tak bercanda. Aku serius. Malah dua rius, maukah kamu menjadi ibu dari anak ku? ups, maksud ku ... maukah kamu menjadi istri ku dan ibu dari anak ku?" ralat Firman lagi. Tak terlihat sedang bercanda.
Hati Dian mencelos. Lututnya terasa bergetar lemas, keringat dingin menghiasi kedua telapak tangannya. Ia sungguh tak mengira akan mendengar suara dan perkataan yang syahdu membuat perasaannya melayang, tak pernah ia duga akan di tembak oleh seorang mantan aparat polisi ....
****
__ADS_1
Makasih reader ku yang baik hati, masih setia menunggu SKM up. Ayo mana like dan komennya nih? agar aku tambah semangat. Jangan lupa Fav juga BSH ya🙏