Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Ungkap kebenaran


__ADS_3

Kini Jodi masuk kembali ke kamar sang ayah. Untuk memastikan sudah tidur apa belum.


Namun Jodi mendapati sang Ayah sedang membaca buku. Dengan kaca mata bening menghiasi di wajahnya. "Ayah belum tidur?" tanya Jodi sambil mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dekat sang ayah.


"Belum, kemana kawan perempuan mu itu?" selidik pak Mulyadi melirik sang putra.


"Dia ... sudah ku suruh pulang. Sudah malam." Jawab Jodi.


"Kenapa gak di suruh nginep aja? dia cantik juga dan kelihatannya baik." Tambah pak Mulyadi.


"Em, gak enak Yah. Lagian dia masih proses perceraian, bentar lagi ketuk palu kali," ungkap Jodi kembali.


"Oh ... janda? sudah punya anak, berapa anaknya." Selidik kembali pak Mulyadi.


Jodi menggeleng. "Tidak-Tidak punya anak. Katanya di vonis punya penyakit dulunya. Jadi sampai sekarang belum punya anak."


"Oh, tapi itu tergantung kekuasaan Allah. Jika ia sudah menghendaki, bisa aja dia punya anak. Kita gak tahu rencana Allah," ujar pak Mulyadi lagi.


"Dia ... madunya Laras, yah."


"Apa?" pak Mulyadi punggungnya melonjak kaget dengan kata-kata dari Jodi.


"Iya, dia madunya Laras. Dia di cerai karena ulahnya sendiri yang mungkin merasa stres atau gimana, atau mungkin juga di jebak. Entahlah." Jodi menggeleng pelan.


Pak Jodi shock mendengarnya. "Apa yang Laras merebut suaminya?" tanya pak Mulyadi jadi penasaran.


"Sepertinya tidak. Justru Laras hadir dalam kehidupan mereka itu, Dian yang bawa, sebab Dian ingin memberikan keturunan pada suaminya. Melalui rahim Laras--" Jodi menjeda ucapannya.


"Terus?" pak Jodi tambah penasaran dengan kisah keponakannya.


Akhirnya, Jodi menceritakan semua tentang Laras dan kehidupan suaminya yang ia tahu pada sang ayah. Kecuali kejadian malam itu tentang dirinya dan Dian. Ia tutupi.


Pak Mulyadi mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. "Kasian keponakan ku, tapi semoga ke depannya Laras menemukan bahagia."


"Aku rasa, sekarang mereka sudah saling menyayangi satu sama lain. Ibra pun aku rasa gak akan melepas keduanya kalau saja Dian tak membuat ulah," ungkap Jodi. Dengan nada serius.


"Kalau menurut Ayah. Di satu sisi Dian itu licik, jahat. Tapi di sisi lain niat awalnya cuma ingin membahagiakan keluarganya, ingin menghadirkan anak diantara mereka. Cuma caranya salah. Dian itu sebenarnya baik di mata Ayah cuma ... dia butuh bimbingan yang ektra," sambung pak Mulyadi.


"Kenapa Ayah bilang seperti itu?" menatap heran pada sang ayah.


"Iya, Dian akan menjadi orang baik kalau saja ada orang yang buat dia segan dan mau membimbingnya. Semua orang pasti punya masa lalu, sekalipun itu buruk dan itu bisa di rubah," jawab pak Mulyadi.


Kata yang sedikit bijak dari sang ayah membuat Jodi sesaat termenung sambil menautkan jari tangannya. Kemudian ia menghela napas panjang. Lalu bangkit. "Sudah malam, Yah. Baiknya istirahat."


"Baiklah, Ayah juga dah ngantuk," gumam sang ayah.


Jodi membantu menyelimuti sang ayah. Menggantikan lampunya, ketika melintasi pintu. Jodi bertemu dengan Mbok Rasmi yang hendak ke kamar pak Mulyadi.


"Kemana Mbok?" tanya Jodi menatap Mbok Rasmi.


"Itu, mau lihat tuan Mul," sahut Mbok Rasmi. Agak terkejut, ia pikir Jodi sudah berada di kamarnya.


"Ayah sudah bersiap tidur, dan sepertinya tak memerlukan apapun lagi. Tapi lihat saja Mbok." Jodi melanjutkan langkahnya.


Mbok Rasmi berdiri memandangi punggung Jodi. Setelah Jodi masuk ke kamarnya barulah Mbok Rasmi masuk kamar sang majikan.


Jodi menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Entah apa yang kini ia rasakan, galau dan sebuah rasa yang tak menentu.


****


Dian anteng membaca berita yang memberitakan dirinya. Banyak yang menghujat dirinya, menganggap kalau sosok Dian seorang wanita murahan bak pelacur. Ada juga membela kalau Dian berbuat seperti itu karena kurangnya perhatian dari suami, dia lebih perhatian pada istri muda yang sedang hamil.


Ragam pendapat orang terhadap dirinya. Ada yang pro dan kontra menghiasi komentar mereka. Tak terasa mengalir air bening dari sudut matanya. Di ujung hati yang paling dalam ada rasa sakit yang tak berdarah, semua ini bukanlah sesuatu yang diharapkan.


Tak pernah ia berharap rumah tangga yang dulu bahagia hancur tak tersisa. Rumah tangga yang dulu penuh kasih sayang kini tinggal bayang-bayang, kepalanya menunduk dalam. mata terpejam air mata pun berjatuhan.

__ADS_1


Hatinya sungguh terkoyak. Pedih, terluka dan kecewa. Semua rencana yang ia susun semula hancur tak berkeping. Bagai debu tertiup angin, surat kontrak yang ia buat untuk perjanjian dengan Laras hilang dari tempat penyimpanan nya. Ia sudah menduga, kalau hilangnya karena ulah sang suami yang sudah mencium niat jahatnya.


Namun Ibra sendiri tak banyak bicara dengan hal itu. Dia memang orangnya jarang suka cari masalah, ataupun banyak bicara sesuatu yang bisa aja di buat biasa. Ya sudah lah, itu sifat Ibra yang Dian tahu sebelumnya.


Soal surat itu, Dian anggap selesai. Toh percuma dilanjut juga, kalau dirinya bukan istri Ibra lagi. Malas juga kalau harus mengurus anak tanpa suami. Apalagi anak yang bukan dari rahimnya sendiri.


Kepala Dian mendongak dan mengusap kasar pipinya yang basah. Beranjak dari sofa, menuju kamar mandi. Setelah melucuti pakaiannya, ia masuk ke bahthub yang sebelumnya ia siapkan airnya.


Selesai berendam, Dian menatap isi lemari. Dan tiba-tiba manik matanya tertuju ke kain mukena yang ia beli waktu itu dengan Jodi. "Apa aku masih ingat dengan bacaan salat ya?" gumamnya. Dengan tangan mengambil mukena dan sajadahnya.


"Ah, coba aja dulu. Lagian kan bisa cari di google gampang," gumamnya lagi. Kembali ke kamar mandi dengan niat mau ambil wudu, namun detik kemudian balik lagi mengambil ponselnya.


"Lupa, cara wudu gimana?" jati Dian berselancar di YouTube mencari tutorial ambil air wudu.


Setelah apal, Dian balik lagi ke kamar mandi. Setelah beberapa saat ia kembali dengan air wudu yang masih basah.


Mengambil mukena lalu di pakainya di depan cermin. Kemudian ia mencoba salat. "Eh, salat apa sekarang, Isya ya? niatnya apa," sejenak ia bengong mengingat-ingat niat atau bacaannya.


"Ck, ah ... lupa!" ambil lagi ponsel cari bacaan salat dan niatnya. Setelah cukup tahu.


Berdiri entah menghadap ke mana? Dian bingung lagi. Menggaruk kepala yang tak gatal. Akhirnya ponsel lagi dan kali ini menelpon seseorang.


"Sorry, ganggu malam-malam, mau nanya gimana caranya mengetahui kiblat ya?" Tanya Dian pada seseorang di telepon.


"Oh, cari apk muslim, lalu Install. Nanti ada petunjuk arah kiblat, oke. Makasih ya Jodi, em sorry juga sudah ganggu?"


Dian menutup teleponnya. Dan mencari sesuatu yang tadi di sarankan. Kemudian ia berdiri mengarah kiblat dan memulai salatnya, meski masih sering bengong. Mengingat bacaan dan gerakkannya. "Berapa rakaat ya?" dalam hatinya bergumam.


Kemudian salam dan berdoa sebisanya. "Semoga Allah mengampuni segala dosa ku yang mungkin menggunung ini. Aku janji mulai sekarang akan berubah lebih baik lagi, ampuni aku ya Allah ..." dengan tangan menengadah dan wajahnya mendongak.


Dian berdiri membereskan bekas dia salat. Setelah itu baru ia berbaring dan menarik selimut, mengambil ponsel dan berselancar mencari tutorial salat yang lima waktu.


Sampai tak terasa, kantuk pun datang menyerang kedua mata Dian. Beberapa kali menguap dan akhirnya tertidur nyenyak.


****


"Sayang, kamu dah sadar?" tanya bu Rahma dengan senyuman senang karena Laras sudah sadar.


"Mah," suara Lirih Laras.


"Sayang." Ibra mencium tangan sang istri. Penuh gembira, lantas mencium keningnya.


"Aku kenapa, kok di imfus segala?" tanya Laras terheran-heran.


"Kamu, pingsan sayang. Jangan banyak pikiran dong," ucap bu Rahma menatap cemas sang mantu.


Laras termenung, mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri, seperti yang mama mertua bilang. Lagi-lagi kedua matanya rembes dengan cairan bening.


Ibra terkesiap kembali. "Kenapa sayang, jangan berpikiran yang macam-macam. Nanti kamu stres, kondisi mu jadi lemah. Jatuh sakit, kasihan baby kita." Tangan Ibra mengusap perut sang istri. Kemudian menyeka air matanya di pipi.


"Benar kata Ibra sayang ... jangan banyak pikiran, lagian mikirin apa sih? gak ada yang mesti kamu pikirin." Tambah bu Rahma membenarkan ucapan putranya.


"Iya, Laras ... mama dan suami mu benar. Bebaskan, jangan banyak pikiran. Lapang kan hati juga baru hidup tenang," sambung pak Marwan. Menatap sang mantunya itu.


Dengan mata berkaca-kaca, Laras mencari ponselnya. "Mana ponsel ku?" Ibra mengambilkan dan menyerahkan nya pada Laras.


Kemudian membuka ponselnya dan berkata. "Aku, gak tahu harus bersikap apa, ha-hampir semua menghujat ku. Menganggap aku merebut suami orang dan menghancurkan rumah tangganya, ka-katanya aku tergila-gila dengan harta suami ku. Katanya aku wanita murahan yang siap melakukan apa saja demi uang, kesucian ku dan bahkan rahim ku," ungkap Laras sedikit terbata-bata.


Semua yang mendengar ungkapan Laras barusan terkejut. Apalagi Ibra langsung mengambil ponsel Laras dan diperiksanya.


Ibra benar-benar tersulut emosi, giginya mengerat seiring rahangnya yang menegang, Ia segera turun dan menyambar ponsel miliknya yang berada di atas meja dekat sofa. Ia mengayunkan langkahnya ke balkon, segera menghubungi Zayn serta memerintahkan untuk mengadakan jumpa pers di mension.


"Apa yang akan Abang lakukan?" tanya sang ayah menghampiri Ibra ke balkon.


"Aku akan adakan jumpa pers di mension, sudah aku bilang tutup beritanya. Namun mungkin berita yang sudah terlanjur tersebar, itulah yang menjadi viral. Aku gak tega orang yang tidak salah tersudutkan, mau tidak mau abang harus mengungkap kebenarannya nih," ujar Ibra sambil memukulkan tangan ke pagar balkon.

__ADS_1


"Papa percaya, kamu tahu apa yang terbaik untuk rumah tangga mu, untuk kebaikan istri dan anak mu," ungkap pak Marwan sambil menepuk pundak Ibra.


Ibra mengangguk. Dengan tatapan tajam ke depan dan dengan hati yang masih berhias kemarahan. Namun gak tahu harus marah sama siapa? percuma juga kalau harus nyalahin Dian.


"Aku harus mengungkap semuanya, asal mula Laras masuk ke dalam kehidupan ku. Agar dia tak tersudutkan lagi, tadinya Abang gak ingin mengungkap kebenarannya, sebab hanya akan membuka aib masa lalu--"


"Terutama nama Dian yang akan terjatuh kan kalau Abang ungkapkan kebenaran." Marwan menyela ucapan sang putra.


Lagi-lagi Ibra mengangguk pelan. Kemudian Ibra kembali ke kamar menghampiri Laras yang terus diberi dukungan oleh bu Rahma. Kekuatan agar terus sabar dan tabah.


"Mah, aku titip Laras ya? Abang mau menemui tamu sekitar setengah jam lagi." Ibra melihat jam yang melingkar di tangannya.


"Malam gini?" selidik bu Rahma menatap sang putra dengan heran.


"Iya Mah ... ada urusan penting." Ibra mengambil jasnya, lalu ia kenakan di tubuhnya. "Sayang. tunggu sama Mama ya? Abang ada urusan sebentar." Ibra menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening sang istri, lalu menciumnya lama ... dan mesra.


Laras memejamkan matanya ketika Ibra mengecup keningnya. Lalu mengangguk.


Ibra. Menoleh sang ayah juga yang habis menutup pintu balkon. "Pa, titip Laras."


"Iya, tenang aja ada kami yang akan menjaga mantu kami ini," sahut pak Marwan sambil tersenyum ke arah sang putra.


Ibra bergegas, keluar kamar. Menuju ruangan yang biasa di pakai untuk rapat dan sebagainya. Langkahnya makin lebar menuju Zayn yang sudah muncul di mension tersebut.


"Gimana media nya sudah datang belum?" tanya Ibra pada sang asistennya.


"Sudah mulai berdatangan Bos," sahut Zayn, menunjuk ke arah Lobby dengan dagunya.


"Kenapa tiba-tiba harus mengadakan jumpa pers sih Bos?" selidik Zayn menatap sang majikan. "Padahal tadi pagi sudah. Soal berita itu di tutup, itu pasti dan yang viral itu sebagai buntut berita yang kemarin," ungkap Zayn.


"Tadi Laras pingsan. Dia shock dengan berita yang tengah viral saat ini. Jadi sebaiknya kita ungkap semua aja, agar komentar orang yang tidak mengenakkan hati, terbungkam sudah."


"Pingsan? kok bisa." Zayn seakan tidak percaya.


"Lihat aja beritanya terutama komentarnya." Jelas Ibra.


Zayn pun membuka ponselnya, mengecek benar apa tidaknya yang di katakan Ibra barusan.


"Terutama Dm yang langsung ke ponsel Laras." Ibra memberikan ponsel Laras ke Zayn.


Zayn langsung mengambilnya. Mengecek isinya, benar aja bikin shock gitu. Kepala Zayn menggeleng pelan.


Kemudian Zayn menemui para media dan di tempatkan di tempat seharusnya. Tidak lupa jamuan nya nya pun tak luput menghiasi meja.


"Jumpa pers sekarang ini, di larang keras mengajukan pertanyaan apapun. Selain mendengarkan apa yang Tuan Ibra ungkapkan." Jelas Zayn.


Media mengangguk meskipun kurang mengerti dengan maksud Zayn. Jelas-jelas mereka pun penasaran dengan yang akan Ibra sampaikan. Ibra duduk di depan para awak media.


"Sebelumnya ... saya memohon maaf, malam-malam gini telah bikin repot. Mengundang kalian semua ke tempat ini. Tadi pagi saya masih ingat, saya meminta hapus semua berita yang berkaitan dengan saya ataupun keluarga saya. Oke, mungkin ini cuma buntut nya aja. Tapi kenapa sampai-samai berita ini malah membesar?"


Para awak media, cuma saling pandang satu sama lain.


"Saya merasa wajib untuk meluruskan berita ini. Laras, istri saya yang sekarang ini, sama sekali tidak seperti yang dipikirkan Banyak orang. Justru Laras lah yang awal mulanya menjadi korban dan masuk dalam kehidupan aku dan mantan istri."


Ibra menceritakan dari awal Laras masuk ke dalam kehidupannya, justru Dian lah yang memulai semuanya, Dian yang telah menjebak Laras agar mau menikah dengan suaminya itu. Dan memberikan seorang anak pada Dian dan Ibra nantinya. Lama-lama Laras berubah pikiran, dia tidak mau memberikan anaknya pada Dian dan Ibra sehingga Dian murka dan sering membuat ulah.


Ibra menceritakan semuanya, tak ada yang ia sembunyikan. Kecuali kemandulan Dian, biarlah itu menjadi privasi dia saja.


Semua awak media mengangguk-anggukkan kepalanya dan mencatat dengan teliti.


"Saya harap, ini berita yang terakhir kalinya. Dan tak ada lagi pemberitaan tentang keluarga ku nantinya. Cukup sekian dan terima kasih." Ibra mengundur diri. Meninggalkan tempat tersebut.


Tinggal para awak media yang masih mencatat dan di suruh makan terlebih dahulu. Di temani oleh Zayn, sebagai tuan rumah menggantikan Ibra.


Ibra sendiri membuka jas nya sambil terus berjalan, menelusuri lorong yang akan membawanya ke kamar menemui sang istri ....

__ADS_1


*****


Terima kasih reader ku yang baik hati, sudah baca kan? ayo mana dukungannya seperti like dan komentarnya nih🙏


__ADS_2