
Ibra merogoh sakunya. Mengambil ponsel yang bergetar, ia buka dan ternyata yang mengirim pesan itu bu Rika, dia mengirim sebuah video yang isinya Mery sedang mengamuk. dan dan mencaci maki Laras.
"Siapa sayang, yang kirim pesan?" tanya Dian menoleh dan memasuki sendok ke mulutnya.
"Ah, bukan siapa-siapa. Cuma dari kantor." Elak Ibra berbohong.
Ibra mengamati video itu sampai selesai. "Untung lah, tidak sampai menyakiti Laras." Batin Ibra. Di video memang tidak terkam ketika Mery mendorong tubuh Laras, sebab itu sudah terlewatkan. Kecuali di cctv pasti ada kelihatan.
"Loh ... kok makannya tidak di habiskan sih?" tanya Dian ia jadi penasaran apa sih yang ada dalam ponsel Ibra? sebab suaranya terendam dengan alat yang menempel di telinganya.
"Oh, iya mau nih," sahut Ibra sedikit terkesiap dengan suara Dian. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Ibra melanjutkan makannya, sementara itu di pikirannya terus terbayang isi pesan dari bu Rika barusan.
"Sayang, boleh gak? kalau aku minta sesuatu." Dian menatap dengan tatapan penuh harap.
"Apa tuh, sayang?" kalau bisa. Pasti aku turuti." Menatap penuh penasaran.
Dian sejenak diam dan berpikir. Kemudian ia menarik bibirnya tersenyum. "Aku ...."
"Aku, apa?" semakin di bikin penasaran.
"Gimana kalau kita ... malam ini menginap di hotel, malam ini aja kok. Kamu sudah tidak ngidam lagi, kan?" sedikit merajuk dan akhirnya bertanya akan keadaan suaminya tentang ngidam, seperti waktu di luar Negeri kemarin.
Ibra menelan dulu makanannya, baru kemudian. "Nggak kayanya."
Mata Dian berbinar mendengarnya, namun ingin sekali lagi mendengarnya. Untuk meyakinkan. "Yakin?"
"Ya ... yakin." Jawab Ibra kembali.
"Aah ... aku senang sekali mendengarnya." Wajah Dian semakin merona bahagia.
Selesai makan, mereka langsung ke kantor Ibra. Untuk menyelesaikan kerjaannya terlebih dahulu, nanti sore barulah akan pergi ke sebuah hotel yang Dian tunjuk.
Sebenarnya, hati Ibra gusar atau gelisah, sebab malam ini mungkin tidak akan bertemu dengan Laras. "Tapi ... biarlah, cuma malam ini, yang terpenting aku bisa menebus dosa ku pada Dian waktu itu," gumam Ibra dalam hati, sembari tetap fokus menyetir.
Dian menyandarkan tubunya ke belakang jok, dan memejamkan mata. Kelelahan, akibat perjalanan jauh.
Sesampainya di kantor, Ibra segera turun dan membangunkan Dian yang tertidur di mobil. Dian terbangun dan sebentar, setelah merasa siap, barulah turun dan menggandeng tangan Ibra memasuki kantor.
__ADS_1
Saat ini Ibra dan Dian. Sudah berada di ruangannya, Dian masuk ke kamar dan Ibra duduk di kursi kebesarannya. Untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi ia tinggal.
Tidak terasa waktu sudah beranjak sore. Ibra menggeliat, merentangkan kedua tangannya, menoleh putaran jam yang sudah menunjukan pukul 16.30 wib. Ia berdiri dan menghampiri Dian di kamar.
Dian yang sudah bangun pun memasuki kamar mandi. Sekalian bersih-bersih. Badannya lengket dan gerah.
Usai selesai mandi Dian melihat Ibra tengah duduk membungkuk di tepi tempat tidur.
"Mau mandi dulu gak sayang?" tanya Dian sambil mengayunkan langkahnya mendekat.
"Nanti aja di hotel," gumam Ibra yang terus menatap ke arah Dian yang tampak segar dan cantik.
"Ya, sudah ... kita berangkat sekarang yu?" ajak Dian sambil menggandeng tangan Ibra yang mulai berdiri. Keduanya berjalan bergandengan dengan mesra, semua karyawan memandang kagum. Ada juga yang merasa aneh, kok Dian tumben-tumbenan mau datang ke kantor Ibra bersikap ramah, menebar senyuman. Biasanya juga jutek, sikapnya seolah kembali ke masa silam, waktu baru-baru menikah.
Dian, memang hatinya sedang berbunga-bunga. Betapa bahagianya hari ini ia rasakan, serasa kembali seperti dulu, dimana suami hanya untuk dirinya seorang. Tidak harus berbagi suami denga siapapun.
Setelah sekian lama perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di tempat tujuan. Sebuah otel bintang lima, yang Doan inginkan, keduannya langsung memesan sebuah kamar yang istimewa. Kamar yang di sediakan untuk pasangan yang berbulan madu.
Senyuman yang tidak hentinya mengembang dari bibir Dian sebagai bukti bahwa ia sangat bahagia. Kini keduanya sudah berada dalam sebuah kamar, yang menghadap pemandangan yang indah.
Ibra berdiri dekat jendela dan memandangi pemandangan yang indah, laut yang terbentang luas. Air nya kena sinar senja di sore ini, sore berlalu dan matahari tenggelam, bergantikan malam serta bulan yang entah akan menampakkaan diri, ataukah sebaliknya.
Kepala Ibra memutar menoleh ke arah Dian dan tangannya mengeratkan pelukan tangan Dian di perutnya.
"Aku, sangat kangen. Masa-masa seperti ini, yang mana ... hanya ada aku dan kamu." Dian mencium punggung Ibra.
"Hem ..." gumam Ibra singkat.
"Nggak kangen kah sama aku?" tanya Dian sembari mendongak.
"Kangen," sahut Ibra. "Aku mau mandi dulu, sebentar lagi akan datang makan malam kita. Aku malas keluar lagi." Melepas rangkulan Dian. Kemudian beralalu memasuki kamar mandi.
Dian yang di tinggalkan, menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskan nya dengan panjang. Namun di balik itu, ada senyuman bahagia di bibirnya.
Seperti yang Ibra bilang, makan malam yang Ibra pesan sudah datang. Dian menatanya di meja dengan hati yang sangat berbunga.
Ibra keluar dari kamar mandi, dengan jubah handuk menempel di badan, namun tetap mengekspos dadanya yang bidang. Handuk kecil di tangan ia pakai untuk mengusap rambunya yang basah.
Sampai-sampai, Dian tak bekedip memandangi nya. Beberapa kali ia menelan saliva, rasanya sudah tidak sabar lagi. Untuk melepaskan rindu, bermain ke puncak nirwana.
__ADS_1
Netra mata Ibra mendapati Dian yang melongo melihatnya dengan Heran, Ibra bertanya. "Ada apa?"
Dian manaikan bahunya. "Tidak ada apa-apa."
Ibra menghampiri dan duduk di sofa dekat sang istri, menghadap meja yang ada makan malamnya dan siap santap. "Yu, makan? lapad nih."
Mata Ibra mengamati piring yang ada di tangan Dian, biasanya Laras lah yang melayani dirinya kalau mau makan. Ia bengong. "Sedang apa dia sekarang? sudah makan kah," gumam Ibra di dalam hati.
"Ini, sayang." Dian memberikan piring yang sudah berisi makan malam.
Ibra pun mengambilnya tanpa bicara, ingat kalau Laras mau makan pasti membaca doa dulu. Kemudian pun membaca doa, sebelum akhirnya menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Em ... enak sekali makanannya, dan tempatnya juga nyaman ya?" kata Dian di sela makannya.
"Lumayan," Ibra mengangguk.
Ibra sudah mengahabiskan makanan di piringnya. Di akhiri dengan segelas air mineral, begitupun Dian, dia berdiri dan kakinya melangkah ke kamar mandi.
Dian menatap dirinya di cermin, merapikan rambutnya. Kemudian mengganti pakaiannya dengan setelan tidur yang sedikit tipis.
Melihat Dian keluar dari kamar mandi, dengan setelan tidur yang tipis. Dan lenggok, jalan yang menggoda. Membuat ia tergoda. Dian datang mendekat, pada suaminya yang masih berada di tempat semula. Dan duduk bersandar dengan mata tertuju pada Dian, yang semakin mendekat.
Setelah sampai, Dian naik ke tempat tidur dan semakin mendekat, seraya berbisik. "Aku sudah siap. Tangannya menari-nari di dada Ibra, serta kecupan kecil di bagian-bagian tubuh sensitif Ibra.
Kali ini jiwa ke lelakiannya Ibra normal kembali, sehingga di sentuh sedikitpun langsung bangkit. Dan dengan liar mencumbu istrinya, Dian yang merasa siap. Menuntun suaminya ke tempat tidur, ia naik duluan berpose semenggoda mungkin.
Dan kali ini Ibra tidak butuh waktu lama, untuk menunaikan kewajibannya pada sang istri. Selama kurang lebih satu jam Mereka melakukan senam di tempat tidur, hingga Ibra merasa lelah. Walaupun Dian masih semangat 45 namun Ibra sudah nyerah duluan. Ia terkulai lemas. dan berbaring lemah, di samping Dian.
Walau sedikit kecewa, karena ia sendiri masih semangat namun Ibra keburu tumbang, setidaknya kali ini Dian merasa puas. Telah mendapatkan yang ia mau, tidak seperti kemarin waktu di luar Negeri. Sungguh menyakitkan.
Dian menatap ke arah suaminya yang terpejam sambil mengukir sebuah senyuman manisnya. Setidaknya ia meras puas. Dian meringsut meletakkan kepalanya di dada Ibra, kemudian ikut memejamkan mata. Sambil memeluk tubuh Ibra yang lebih dulu tidur, mungkin dia kecapean.
Beberapa jam kemudian. Ibra terbangun, menggosok matanya melihat jam yang sudah menunjukan pukul 23.30 wib. Melirik Dian yang tidur nyenyak memeluk tubuhnya.
Ibra berusaha menjauhkan tangan Dian yang melingkar di perut Ibra. Ia bangun mencari jubah handuk yang tadi ia pakai, tiba-tiba dia ingat pada Laras. Ia tidak bilang apapun kalau ia dan Dian akan menginap di hotel.
"Huuh ... aku gak bilang apa-apa sama Laras kalau malam ini gak pulang." Gumam Ibra sangat pelan. "Sedang apa dia sekarang?" batinnya. Sambil mengambil jubahnya dan ia segera kenakan ....
****
__ADS_1
Hi .... aku up nih, ada yang kangen aku? eh maksud aku novel ini hehehe. Makasih banayk ya ... kalau ada yang merindukan ku, eh, novel ku🙏