Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Semua bahagia


__ADS_3

Ibra dan Laras juga yang lain di sana bisa bernapas lega. Ibra dan Laras masih berpelukan mesra sambil tangis-tangisan.


Tangis bahagia pun pecah, Laras masih betah dalam pelukan sang suami sungguh tak terbayang bila terjadi sesuatu menimpa Ibra sampai tak terbayang gimana hancurnya perasaan Laras jika itu sampai terjadi.


"Sudah sayang, kita pulang sekarang kasian baby boy ingin istirahat, sudahlah hapus air mata mu. Semua sudah berlalu." Ibra mengusap air mata Laras yang membanjiri pipinya. Cuph! mendaratkan kecupan di pucuk kepala Laras.


Keduanya berjalan diikuti oleh yang lainnya. Mencari lift yang masih jalan untuk menuju mobil yang terparkir di bawah.


Laras dipeluk Bu Rahma yang panik karena mendengar suara senjata beberapa kali. Kemudian memeluk Ibra, hatinya begitu cemas takut putra, mantu dan sang cucu ke napa-napa. Bu Rahma menangis tersedu hatinya begitu khawatir akan keselamatan keluarganya. Untunglah semua sudah selamat.


Rombongan Ibra langsung pulang ke Mension. Begitupun Susi dan Zayn juga pulang ke sana lagian di Mension juga banyak kamar yang kosong.


Sesampainya di Mension semuanya di sambut dengan bahagia oleh penghuni Mension. Ibra, Laras. Bu Rahma dan suami juga Susi langsung di periksa dokter. Terutama Ibra yang sempat berkelahi dengan tuan El. Begitupun Irfan dan yang lainnya.


Sehabis makan malam semuanya istirahat lebih cepat. Tuk menghilangkan rasa shock akibat kejadian itu.


****


Mendengar berita tentang Laras dan keluarga, pak Mulyadi semakin shock. Belum reda kegalauannya tentang Bu Rosa kini ditambah lagi berita yang menegangkan. Berita di media cetak, elektronik apalagi media sosial begitu ramai pemberitaan tentang Ibra dan keluarga mendapat insiden penculikan. Hingga otak atau dalang nya mati di tempat.


"Ayah, ingin bertemu Laras Nak. Ayah selalu tak bisa berbuat apa pun untuk menjaga Kakak mu Lala." Keluh pak Mulyadi.


"Baiknya besok saja Ayah ke sana. Sekarang sudah malam dan Laras juga butuh istirahat. Kasian, yang penting mereka sudah selamat Yah." Timpal Jodi membujuk sang ayah.


"Baiklah terserah kamu saja." Pasrah, pak Mulyadi membaringkan tubuhnya.


Jodi keluar kamar sang ayah setelah memastikan sang ayah sudah tidur. Ia membawa langkah lebarnya menuju kamar pribadi. Brug! menutup pintu dan mengambil laptop di meja.


Sementara waktu Jodi menyibukkan diri dengan layar laptopnya, kedua mata Jodi begitu serius ke layar.


Mengingat hari H tinggal menghitung hari lagi. Dan Jodi sendiri yang menghandle semua keperluan pernikahannya dari hal terkecil sampai yang besar. Acara pun akan terbagi dua. Akad dan resepsi kelurga di sana lanjut di sini untuk pertemuan dengan rekan kerja dan bisnis.


Mata dah mulai lelah menjadikan Jodi menutup laptop dan di siman di atas meja ia segera membaringkan diri di tempat tidur yang super empuk itu.


Ke esok harinya Jodi pergi ke kantor namun sebelum ke kantor ia mampir ke panti tidak lupa membawa banyak buah tangan untuk mereka.


"Assalamu'alaikum ... apa kabar Bu?" Jodi mencium punggung tangan Bu Rosa.


"Wa'alaikum salam. Baik Nak Jodi." Jawabnya Bu Rosa lalu menyilakan Jodi duduk.


"Tumben, pagi-pagi dah datang? ada apa ya!" menatap penasaran pada Jodi.


"Ah, nggak Bu. Aku ke sini untuk meminta Ibu menemani ku saat nikahan nanti," ungkap Jodi penuh harap.


"Oh ... insha Allah ya Nak Jodi. Gimana nanti saja waktunya, takut ada halangan atau gimana gitu. Makanya Ibu gak janji ya?"


"Oh iya Bu, tapi aku mohon ... seperti yang Ibu tahu aku sudah tak punya ibu." Rajuk Jodi memohon.


"Insha Allah Nak Jodi. Berdoa saja biar Ibu gak ada halangan, Oya Nak Jodi dah sarapan? Ibu siapkan ya!" bu Rosa beranjak dari duduknya.


"Nggak usah Bu, aku mau lanjut ke kantor dan cuma itu yang ingin aku sampaikan."Jodi berpamitan.


Bu Rosa mengantar sampai ke depan pintu. "Hati-hati Nak Jodi makasih oleh-olehnya!"


"Sama-sama Bu." Jodi melajukan mobil kesayangannya, yang sebelumnya mengenakan sabuk pengaman terlebih dahulu. Mobil tersebut melaju membelah jalanan berpacu dengan kuda-kuda besi lainnya.


****


Sore ini Laras dan Ibra berada di kamar. Sementara baby Satria sedang bersama Omanya dan kebetulan ada Bu Rosa juga yang berkunjung ke Mension apalagi mendengar dari berita tentang insiden yang menimpa Laras dan keluarga.


Ibra berbaring di sofa. Laras di sofa lainnya tengah mengeluarkan pakaian baby Satria dari kopernya.


"Sayang?" panggil Ibra.


"Hem!" sahut Laras melirik ke arah Ibra.


Ibra beranjak berpindah duduknya ke sofa yang Laras duduki. "Aku gak mengira kalau kamu bisa berani gitu sama Ruswan."


"Berani apa? itu cuma siasat aja, kan tahu itu." Elak Laras.


"Tapi tetap aja bikin hati Abang terbakar gak bisa membayangkan kau begitu agresif. Melakukan itu dengan bajingan itu."


"Bicara apaan sih? sudah ah jangan ngomongin itu lagi. Ngeri." Laras menggeleng pelan.


"Boleh dong meminta keagresifan untuk suaminya ini!" memainkan matanya.


"Iih ... apaan sih. Nggak lihat ini kerjaan ku menumpuk!"


"Biar asisten aja sayang yang kerjakan, mumpung baby boy sama Omanya." Semakin memainkan mata genitnya. Tangan Ibra menarik tangan Laras dan menyuruhnya duduk di atas pangkuannya.


Kemudian memeluk pinggang Laras yang sudah tampak ramping kembali itu. Laras menatap suaminya penuh kasih. Masih terbayang ketika senjata tuan El mengarah pada tubuh suaminya ini. Hati Laras menjadi mencelos sedih.


"Ayo dong sayang ... jangan berpikir yang macam-macam, kita dah melewati masa sulit itu. Waktunya kita menikmati kebahagian kembali." Bisik Ibra sambil membelai rambut sang istri, Laras.


Wajah cantik Laras mendekat. Dengan tidak sabar Ibra mendahului melahap bibir ranum istrinya dangan penuh gairah. Tangannya pun tak tinggal diam tuk menikmati pahatan indah yang begitu sempurna di depannya. Membuat pemiliknya menggigit bibir supaya tak mengeluarkan suara.


Namun tetap saja suara de***** nya lolos juga. Membuat Ibra tambah bergairah. Ibra berdiri dan membawa sang istri ke tempat yang lebih nyaman lagi.


Tubuh Laras melayang sehingga semakin melingkarkan tangannya di pundak sang suami yang akhirnya mendaratkan tubuhnya di atas tempat tidur yang empuk itu.


Tubuh Ibra menindih Tubuh Laras. Ia belai pipi sang istri dengan sangat lembut. "Aku gak suka pria lain menyentuh mu, sekalipun menyentuh tangan mu." Bisik Ibra sambil terus dan terus melancarkan aksinya.


Laras menatap sayu dan diam saja ketika Ibra terus mencumbu nya. Sampai terjadilah pergulatan hebat yang penuh gairah tersebut. Selang berapa lama pergulatan berkahir seiring dengan tubuh yang bergetar hebat dan mencapai puncaknya.


Laras meletakkan kepala di bawah dagu Ibra. Mengeratkan selimut di bawah ketiaknya Laras memeluk pemilik tubuh tinggi dan tegap itu.

__ADS_1


Tangan Ibra mengelus rambut Laras dengan penuh kasih dan mengecup pucuk kepalanya. "Besok aku mau ke luar kota, jadi nanti malam lanjut lagi ya?" menaik turunkan alisnya sambil mesem penuh harap.


Wajah Laras mendongak. "Ha? barusan sudah!."


"Itu barusan sayang. Belum malam." Sahutnya Ibra.


"Sama Zayn dan mau berapa hari?" selidik Laras sambil bangun dan duduk.


"Hem, sama Zayn. Mungkin beberapa hari."


"Oh," Laras mengambil pakaiannya yang ada di sampingnya.


Netra mata Ibra menatap intens ke arah Laras yang sedang mengenakan pakaiannya. Rasanya ingin mengulang lagi namun kasian, lagian sudah sore dan mau momong baby boy yang kini bersama Oma nya.


Laras turun langsung ke kamar mandi tuk bersih-bersih. Dengan tidak lama-lama di kamar mandi, Laras mempercepat ritual mandinya. "Abang, cepetan mandi!" Setelah berdiri depan pintu.


"Bentar lagi." Ibra masih berbaring menatap langit-langit. Dengan cepat terbangun namun mengambil laptop dan membukanya.


Setelah rapi, Laras keluar kamar mau mengambil baby boy yang sedari tadi bersama Bu Rahma dan Bu Rosa.


"Bu Rika, baby boy di mana ya? selidik Laras pada Bu Rika yang sedang memasak bersama asisten lain nya.


"Baby boy ... sama Nyonya besar di ruang tengah kayanya Nyonya muda." Sambil menunjuk ke arah ruang tengah.


"Oh, makasih Bu. Masak apa tuh? boleh gak bikin kan aku sambal goreng sama lalapannya dan ... ikannya. Ikan nila goreng itu pun kalau ada sih! kalau nggak ada, ya ... yang ada saja." lanjut Laras.


"Baik Nyonya muda. Tapi ikannya cuma ada ikan Mas, lalapan pun adanya timun sama sawi. Apa perlu di pesankan?" ucap bu Rika menunggu perintah.


"Em ... yang ada saja Bu. Nggak pa-pa." Balas Laras, lalu berlalu pergi tuk mencari Bu Rahma dan putranya.


Setelah sekian lama berjalan mencari sang ibu mertua, akhirnya ketemu juga. "Bu, maaf ya kelamaan deh ngejaga baby Satria nya." Tangan Laras langsung mengambil baby Satria dari Bu Rahma.


"Nggak pa-pa, pasti kamu mengurus big baby boy?" ucap bu Rahma sambil tersenyum.


Laras membalas dengan senyuman yang bersemu malu. Kemudian mengalihkan pandangan ke arah Bu Rosa yang duduk di sofa sebrang Laras mendudukkan diri. "Bu, nginep saja di sini!"


"Kalau Ibu menginap, di sana anak-anak gak ada yang perhatikan Nak. Lain kali saja Ibu ke sini lagi." Bu Rosa meneguk minumnya.


"Oh, nanti kita sama-sama ke acara Jodi nya ya Bu?" sambung Laras.


"Ibu ... di pinta Jodi mendampinginya. Tapi ... gak tahu juga Ibu pergi atau nggak."


"Bagus itu, Bu Rosa. Kebetulan Jodi sudah tak punya ibu, kasihan." Timpal Bu Rahma menatap ke arah Bu Rosa.


"Iya, Bu. lagian mau siapa lagi, mungkin Jodi merasa dekat sama Ibu. Makanya dia meminta Ibu tuk mendampinginya," sambung Laras menyetujui ucapan sang ibu mertua.


Bu Rosa terdiam dan menunduk. yang bikin malas itu bertemu dengan pak Mulyadi, itulah yang bikin ia malas. Kalau sama Jodi tentu tidak ada masalah, cuma satu yang jadi kendalanya ya itu sampai detik ini belum bisa memaafkan pak Mulyadi.


Bu Rosa menghela napas panjang. "Entahlah. Bagaimana nanti saja."


"Baby boy Mammy belum bobo juga ya dari tadi hem? gak capek main sama Oma sayang. Nggak capek." Laras mengajak ngobrol baby boy yang masih aja bermain.


"Em, gitu ya! ya sudah ... bobo ya sama Mammy, yu Mammy abing-abing." Laras menggendong baby boy dan sedikit menggoyang, bibir Laras bersenandung sholawat.


صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد


صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّد


صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


Dalam hitungan menit, baby boy terpejam dalam gendongan Mammy nya.


"Masya Allah ... baby boy langsung bobo." Bu Rosa menggeleng kagum melihat baby boy yang suka dengan lantunan sholawat.


"Memang begitu dia Bu Rosa." Timpal Bu Rahma tersenyum bangga.


"Ya, udah aku mau menidurkan baby boy dulu ya ke kamar." Laras membawa baby boy ke kamarnya.


Bu Rahma dan Bu Rosa juga Susi mengobrol sampai akhirnya Bu Rosa pamitan tuk pulang.


"Padahal menginap saja di sini Bu. Saya senang lho ... jadi ada temannya," lirih Bu Rahma.


"Lain kali saja main lagi. Kasian anak-anak." Timpal Bu Rosa. Memeluk bu Rahma.


"Baiklah, hati-hati?" Bu Rahma mengantar Bu panti sampai depan dan meminta supir tuk mengantarkan Bu panti sampai rumahnya.


"Aduh, jadi merepotkan. Biar saya naik taksi aja Jeung." Tolak Bu Rosa.


"Nggak apa-apa. Sudah naik saja." Bu Rahma membukakan pintu buat Bu panti.


Akhirnya Bu panti masuk dan melambaikan tangan pada Bu Rahma. Mobil pun segera membawa Bu Rosa menjauh dari area Mension.


Sekitar waktunya makan malam. Semua sudah berkumpul di meja makan yang besar itu. Lagi-lagi Susi dan Zayn ribut, hanya masalah tempat minum yang jatuh.


"Aduh, Markonah ... nyimpen gelas aja teledor apalagi menyimpan suami." Zayn menggeleng menatap gelas yang pecah.


"Aish ... Zaylangkung denger ya? yang namanya suami itu orang dan gede bukan benda yang segede upil gini. Emangnya saya bersuami benda mati apa?" gerutu Susi sambil menyapu serpihannya.


Zayn menggaruk kepalanya. "Iya juga sih. Tapi tetap saja jangan teledor gitu nanti barang nya habis--"


"Eh. Tuan, Pabriknya masih buka noh ...gak akan kehabisan kalau cuma selosin. Bawel amat jadi orang." Susi terus menggerutu.


"Sudah-sudah, kenapa sih kalian ini? yu makan, bukannya berantem Mulu ah." Laras melerai.

__ADS_1


"Heran. Oh pasti di ranjang juga hobinya berantem dulu baru mesra'an ya? ha ha ha ... Ibra tertawa."


"Iya, aslinya memang gitu." Jelas Zayn sambil mengubah posisi duduknya.


Pak Marwan dan bu Rahma cum tertawa saja melihat mereka sambil makan hidangan di meja.


Lalu mereka pun makan dengan sangat lahapnya. Sesekali dibarengi dengan obrolan ringan. Makan pun berakhir dan masing-masing masuk ke dalam kamarnya masing-masing, khususnya Ibra dan Zayn tuk menyiapkan diri bahwa besok akan pergi keluar kota.


Malam-malam Laras terjaga karena baby boy bangun di sebabkan lapar. Begitupun Ibra yang merasakan ketidak hadiran istrinya dalam pelukan, akhirnya ikut terbangun perhatikan istrinya yang sedang menyusui.


Rasanya baru kemarin ia menikahi Laras yang tidak ia kenal sebelumnya. Tahu-tahu menikahinya aja, dengan tujuan ingin mempunyai keturunan. Hingga pada akhirnya pernikahan sama Dian pun wanita yang asal mula sangat ia cintai berakhir dengan bermacam alasan. Ibra menghela napas panjang, kini ia bahagia dengan Laras dan kehadiran putranya.


Dian pun sudah menemukan suami yang sangat mencintainya. Pria yang sudah memiliki satu putra dan Dian pun tampak sangat menyayangi putra sambungnya itu. Ibra menyambut Laras yang sudah menidurkan baby boy kembali.


Tangan Ibra merengkuhnya. Membawanya ke dalam pelukan sambil berbaring. Cuph! mengecup kening Laras penuh cinta. "I Love you sayang."


"Hem ...."


Laras mengeratkan pelukan di tubuh sang suami. Dengan bibir menunjukkan senyumnya.


"Jangan nakal ya sama orang lain." Pinta Ibra sambil membelai rambut Laras.


Laras mendongak. "Yang jangan nakal itu Abang bukan aku."


"Kamu sayang. Buktinya sama Ruswan nakal-nakal tuh." Jari Ibra menjepit hidung Laras.


"Iih ... bahas itu Mulu ah, dah tahu itu terpaksa dan pada akhirnya gak ngapa-ngapain, kan?" jemari Laras yang lentik menari-nari di dada bidang Ibra.


Tak selang lama, kantuk pun kembali menyerang mata Ia bra dan Laras. Keduanya tertidur saling pelukan satu sama lain. Berselimutkan angin malam dan suasana yang dingin sehingga tubuh keduanya merapat. Seolah menjadi satu.


****


Beberapa hari kemudian. Di kediaman Jodi yang sudah ramai untuk mengiringi calon mempelai pria. Laras dan keluarga kecuali Ibra yang masih di luar kota. Bu panti yang sudah siap dan berada di sana, Bu Lodia dan Dian beserta suami. Sudah berbaur dengan keluarga Jodi.


Mobil yang di tumpangi pemiliknya masing-masing mulai berarak kan. Mengantar pria yang Susi panggil opa-opa sebab wajahnya yang tampan dan putih.


Setelah selang sepersekian waktu. Tibalah di tempat akad yang akan berlangsung. Setalah penyambutan Jodi bersiap ke tempat yang sudah disediakan.


Acara akad pun begitu hikmat. suasana begitu terasa sakral dan suci. Jodi dan Caca kini duduk berdampingan, cantik dan tampan sungguh tampak sangat serasi, keduanya sangat bahagia. Di wajahnya begitu sumringah, senyumnya merekah. Kini kebahagian mereka tak terhingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Hati Laras gusar, cemas. Suaminya belum juga tampak datang. Bikin hati tambah khawatir. Namun pada akhirnya Ibra datang bersama Jodi dengan penampilan yang rapi. Memakai sapari batik.


Wajah Laras berubah drastis menjadi sumringah. Kini mereka berbaur dalam kebahagiaan Jodi dan Caca. Ucapan selamat pun terlontar dari Ibra dan keluarga. Dian di keluarga. Zayn bersama istri.


Ketika sedang berkumpul dalam acara makan-makan kebetulan meja Dian dan Ibra berdekatan. Malah makan pun sambil mengobrol. Di iringi suara musik gamelan. Dian mengambil sesuatu kotak kecil dari tas nya.


"Aku mau kasih kejutan pada kalian. Khususnya buat suami ku tercinta," ungkap Dian dengan wajah yang merona bahagia.


"Apa tuh sayang?" Pirman tampak penasaran.


Yang lain pun mengarahkan pandangan pada kotak yang di tangan Dian.


"Apaan tuh Kak?" Laras ikut penasaran.


Ibra cuma memandangi saja dari samping Laras sambil menggendong baby boy tanpa komentar apa pun.


"Iya, Mamah juga penasaran deh." Bu Rahma menatap lekat.


"Apa lagi saya, apaan tuh sayang? jangan bikin penasaran napa!" Bu Lodia sangat antusias.


Jodi pun turut meminta supaya Dian segera bicara, jangan membuat semua penasaran.


Dian menyapukan pandangannya pada meja satu, dua dan tiga yang tampak penasaran itu. Ia tersenyum bahagia dan tampak juga ingin segera menyampaikan berita gembira yang sudah beberapa hari ini ia sembunyikan. Perlahan jarinya membuka kotak kecil tersebut yang ternyata berisi testpack positif hamil.


Semua terkesiap dan tak menyangka, mulutnya menganga. Sungguh suatu anugrah bagi wanita yang sudah diagnosa sebuah penyakit yang menyebabkan pasiennya tak bisa memiliki keturunan.


Pirman menatap ke arah Dian seolah ingin kepastian. Dian pun meyakinkan dengan anggukan. Pirman beranjak lalu sujud syukur.


"Masya Allah ... Abang." Laras melirik ke arah Ibra yang merasa deg degan mendengarnya.


Pak Marwan dan Bu Rahma saling bertukar pandangan. Dengan bibir tersenyum ikut bahagia. Apalagi mereka tahu gimana Dian. "Sungguh ini sebuah keajaiban."


"Hore ... akhirnya aku akan punya cucu, kawan bermain baby Satria hore." Bu Lodia bersorak dan berjingkrak lalu memeluk Dian.


Semua mengucapkan selamat pada Dian dan suami akhirnya Dian akan punya baby juga.


Dian menangis di pelukan suaminya, tentunya tangis bahagia yang tida tara. Sesuatu yang tidak mungkin menurut manusia tentunya mungkin saja bagi sang maha pencipta alam semesta nya ini.


Ibra dan Laras pun mengucapkan selamat pada Dian. "Selamat ya Kak Dian akhirnya. Kak Dian hamil juga, semoga kehamilannya sehat dan baby nya juga sehat." Keduanya berpelukan.


"Makasih, makasih atas doanya. Dan maafkan aku atas salah ku yang dulu." Dian lagi-lagi menangis terharu.


"Sudah lah. Jangan bicarakan itu lagi, itu cuma masa lalu kan? sekarang kita syukuri aja nikmat yang kita dapatkan ini." Lanjut Laras. Mengusap punggung Dian.


"Selamat ya. Maafkan juga aku yang dulu," ucap Ibra dengan mata berkaca-kaca, terharu. Istri yang dulu di nyatakan mandul ternyata kini bisa hamil juga walau bukan dengan dirinya.


"Iya makasih, aku juga banyak salah sama kamu semasa menjadi istri mu. Mungkin ini yang dinamakan hikmah di balik semua yang terjadi." Dian memeluk Ibra sambil menangis. Sementara waktu mereka berpelukan.


"Sudah dong pelukannya, saya gak kebagian nih." Zayn menepuk pundak Ibra. Tuk mengucapkan selamat pada Dian.


Ibra mundur dengan mengusap sudut matanya yang basah, berdiri dengan Laras yang memegang tangannya. Ada rasa cemburu di hati Laras walau mereka sudah punya jalan masing-masing.


Saat ini bukan cuma Jodi dan Caca saja yang bahagia. Namun Dian dan suami. Ibra dan Laras, mereka bahagia dengan pasangannya masing-masing. Tak ketinggalan si Tom & Jery yang ada aja bahan untuk beradu mulut namun sebenarnya saling mencintai.


Intinya pasti ada hikmah di balik semua yang terjadi. Dan tidak semua kenyataan sesuai ekspetasi. Tetap bersyukur dan jalani hidup dengan ikhlas dan semangat. TAMAT

__ADS_1


****


Reader yang aku hormati dan aku sayangi. Terima kasih banyak kalian sudah mengikuti novel ini sampai akhir🙏 maaf episodenya terlalu panjang dan mungkin membuat kalian semua bosan, makanya di bab ini aku buat TAMAT. Sekarang aku harap reader ku semua beralih ke karya ku "Bukan Suami Harapan" Aku tunggu ya🙏 masih sepi soalnya dan tanpa kalian karya ku tidak akan ramai🙏


__ADS_2