Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Traoma


__ADS_3

Suasana di bandara nampak riuh, ramai orang-orang tak beraturan. Pramugara dan pramugari sibuk berusaha menenangkan, membimbing para penumpang keluar dangan teratur.


Laras begitu shock setelah mengalami insiden tadi, dimana tergelincirnya kaki pesawat akibat landasan licin karena di guyur hujan. Sampai sekarang pun hujan masih mengguyur landasan.


Ibra membuka jas nya, ia pakaikan pada tubuh Laras. Kemudian menggendong tubuhnya dari pesawat ke area bandara membelah hujan yang semakin deras.


Sengaja Ibra menjauhkan diri dari penumpang lain yang nampak masih merasakan sisa-sia panik, takut. Gusar yang menyelimuti hatinya masing-masing.


Zayn yang sudah standby di bandara menyambut kedatangan Ibra, dengan sigap Zayn menyediakan minuman hangat.


Selesai mengurus semuanya. Zayn membawakan koper Ibra. sementara Ibra menggendong Laras ala bridal style, dia masih belum bisa di tanya, ia masih shock dan ketakutan.


"Kalau Bos capek, biar saya aja yang bawa Nyonya muda," ucap Zayn menawarkan diri.


"Tidak-tidak, gak perlu. Makasih." Jawab Ibra, tangan Laras merangkul pundak Ibra sangat kuat. Wajahnya pucat paseh.


"Jangan takut. Kita selamat sayang dan kita akan pulang," suara Ibra dengan lirih dan menghentikan langkahnya sebentar.


Laras menggerakkan netra matanya dan mengangguk pelan lalu menyusup ke leher sang suami.


Kini mereka bertiga sudah berada dalam mobil, Ibra tak pernah melepas genggamannya. Dari tangan Laras, menarik kepalanya ke dalam pelukan.


"Aku takut," gumamnya Laras sambil menyeka air matanya.


"Kita sudah aman sayang, jangan khawatir lagi," ucap Ibra dengan lirih.


Laras berangsur dapat mengontrol dirinya lagi. Ia mendongak, menatap wajah Ibra. Rambutnya kelimis, terkena hujan tadi. Tangan Laras mengusap rambut Ibra yang basah itu.


"Rambut mu basah," gumam Laras sambil mengibaskan-ngibaskan nya agar cepat kering.


Ibra menatapnya lekat-lekat. "Aku tidak apa-apa, kamu juga kena hujan tadi. Kepala mu juga basah sayang."


Laras meraba kepalanya yang memang kerudungnya basah. Namun tak sebasah rambut Ibra.


Mobil yang melesat menuju rumah Laras. Hampir setengahnya lagi sampai di tempat tujuan, dan tiba-tiba beriringan dengan mobil Dian.


Tuut ....


Tuut ....


Suara klakson mobil Dian, Zayn membuka kaca jendela. Ibra dan Laras pun menoleh ke samping di mana mobil Dian dan mobil Ibra berdampingan.


"Kau mau ke mana?" selidik Zayn pada Dian.


Dian membalas dengan senyuman. Dan terus melajukan mobilnya mengikuti mobil yang membawa Ibra dan Laras.


Tak selang waktu lama di jalan. Mobil masuk ke dalam halaman yang sudah berdiri bu Rika di sana. Kebetulan Susi belum kembali dikarenakan ibunya sakit, jadi Bu Rika yang menggantikan Susi di rumah Laras.


Ibra turun duluan dan membukakan pintu buat Laras. "Apa perlu aku gendong lagi sayang?" kepala Ibra membungkuk.


"Nggak, biar aku jalan aja. Kasian kamu capek." tutur Laras sambil menapakkan kaki di lantai.


"Malam Nyonya muda?" sapa bu Rika mengangguk hormat.


"Juga, bu Rika ... Susi belum balik ya?" menatap bu Rika.

__ADS_1


"Belum, ibunya belum sehat benar." Jawab bu Rika.


"Oh, biar aja kalau begitu." Laras mengangguk.


Ibra menutup pintu mobil, lalu menuntun tangan Laras di bawanya masuk ke dalam rumah.


Dian dan Zayn mengikuti dari belakang. Zayn memberikan koper pada bu Rika untuk di bawanya ke dalam.


"Ini punya Tuan dan Nyonya ya?" selidik bu Rika pada Zayn.


"Iya, Bu gak mungkin milik saya, toh saya gak dari mana pun," sahut Zayn sambil melangkah ke dalam rumah.


Bu Rika mesem dan mengekor di belakang menarik koper Ibra.


Laras langsung ke kamar dengan alasan kepalanya pusing. Sementara Ibra di ruang keluarga di hampiri Dian dan juga Zayn.


Dian memeluk Ibra. "Aku kangen ... lama juga kamu di sana?"


Ibra mengecup kening Dian serta membalas pelukannya. "Urusannya baru kelar, bukan jalan-jalan ataupun senang-senang. Seperti yang kamu tuduhkan!"


Dian mencebikkan bibirnya sambil mempererat pelukan. "Iya, aku percaya. Kamu ikut aku pulang ke mension ya?"


Ibra melepas pelukan Dian, lantas menatap nya lekat. "Besok aja aku ke sana, kasian Laras shock banget dengan insiden tadi di bandara dan aku juga capek banget. Oya Zayn, semua sudah aku kirim lewat email. Ibra duduk di sofa dan diikuti oleh Dian, wanita yang memakai dress coklat pendek ini tampak cantik dengan dress tanpa lengan itu.


"Oke, nanti aku cek," kata Zayn. Bu Rika menyuguhkan minuman hangat untuk ketiganya.


"Bu, bikinkan Laras minuman jahe ya? bawa ke kamar." Suruh Ibra pada bu Rika.


"Baik, Tuan."


"Tapi ... sayang, aku ke sini jemput kamu loh!" ucap Dian sambil memeluk lengan Ibra.


"Maafkan aku, aku gak mungkin tinggalkan dia saat ini. Tolong mengerti!" ujar Ibra dengan tatapan permohonan.


Dian menelan saliva nya. Sejenak ia diam dan membalas tatapan suaminya, Ibra. "Oke, aku pulang dulu." kedua tangan Dian memegang wajah Ibra, ia mendaratkan ciuman di kening, pipi kiri kanan, hidung dan terakhir di bibir Ibra.


Zayn jadi salah tingkah melihatnya. Ia menunduk sesekali membuang pandangan ke samping.


Dian berdiri dan menarik tangan Ibra agar mengantarnya ke teras. Langkah keduanya menuju ke teras. Dengan tangan saling bertaut, sesampai nya di dekat mobil. Dian kembali mengecup ***** Ibra sangat lembut. Kakinya berjinjit agar setidaknya sejajar dengan Ibra, kedua tangannya memeluk leher sang suami.


Ibra hanya diam saja dan pasrah. Dengan yang Dian lakukan, Dian memeluk tubuh tegap itu dengan sangat erat. "Kangen. Aku kangen kamu. Rindu pelukan mu, sentuhan mu. Cumbuan darimu. Aku rindu." Dian mendongak membelai pipi Ibra yang sedikit berbulu halus itu.


"Ya, sudah hati-hati, jalannya licin. Besok dari kantor aku pulang ke mension!" ungkap Ibra, tangannya menarik handle pintu mobil.


Dian pun masuk. "Bener ya, besok?"


"Iya, sayang. Sampai besok bertemu di mension," ucap Ibra lirih dan menutup pintu.


"Oke. Sampai jumpa besok sayang." Dian melambaikan tangan pada Ibra. kedua tangannya memutar kemudi keluar dari halaman Laras.


"Huuh ..." Ibra membuang napasnya kasar. Setelah mobil Dian hilang dari pandangan, Ibra bergegas masuk.


Zayn tidak ada di tempat semula. "Kemana dia?" gumam Ibra, langkah Ibra lanjut ke dapur. Rupanya dia sedang duduk dan makan dengan lahapnya.


"Makan Bos. Ayo makan? ajak istri mu makan." suara Zayn yang sedang mengunyah itu.

__ADS_1


"Habiskan makanan mu di mulut." Ibra meninggalkan Zayn di tempat makan. Ia cepat-cepat ke kamar melihat Laras.


Kini Ibra menutup pintu dan menghampiri Laras yang sedang baringan di atas tempat tidur. "Sayang?" panggil Ibra setelah berada dekat Laras, duduk di tepi tempat tidur.


"Hem," gumam Laras membuka matanya. "Mau mandi air hangat?" tanya Laras sambil bangun, menatap Ibra yang tampak capek.


"Kamu sudah mandi?" mengelus pipi Laras dengan sangat lembut.


"Sudah, mandi dulu ya? aku siapkan air hangatnya," ucap Laras mengibaskan selimut hendak turun.


"Sudah salat?" tanya Ibra lagi.


"Sudah tadi." Netra mata Laras menatap kedua manik mata Ibra. "Kamu tampak capek sekali."


wajah Ibra mendekat ke wajah Laras. Namun Laras menghindar, aku akan siapkan air hangat dulu. Laras bergegas ke kamar mandi meskipun Ibra mencegahnya. Tangan Ibra mengacak rambutnya kesal.


Kemudian Ibra pun mengikuti Laras ke kamar mandi. Berendam di bahthub yang sudah berisi air hangat dan aroma terapi, kesukaannya.


Laras kembali ke kamar menyiapkan pakaian ganti buat Ibra. Setelan piyama untuknya, lalu duduk di tepi tempat tidur.


Kembali membayang, kejadian tadi di pesawat. "Ya, Allah ... kalau saja itu benar-benar terjadi. Aku gak tau apa yang akan terjadi pada diriku dan yang lainnya." Laras membuang kasar napasnya.


"Alhamdulillah engkau masih melindungi kami ya Allah ..." batinnya Laras sambil menjuntai kan kedua kakinya ke bawah.


Brugh!


Ibra menutup pintu kamar mandi. Berjalan dengan bertelanjang dada, Handuk melilit di pinggang bawah sehingga hanya jarak beberapa senti menutupi daerah intinya. Membuat Laras menelan saliva nya berkali-kali.


Kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam. Membuang pandangannya ke sembarang tempat. "Jangan lupa salat dulu."


Ibra sekilas melihat sang istri yang menunduk. Kemudian mengenakan pakaiannya, terus memakai minyak wangi hingga wanginya memenuhi ruang kamar.


Lanjut menggelar sejadah dan mengenakan sarung dan peci. Lantas menunaikan salat isya dengan khusuk.


Laras terpesona melihatnya. Entah kenapa suka aja lihatnya, sampai-sampai ia mesem-mesem dibuatnya.


Laras terkesiap, tiba-tiba Ibra berdiri di depannya. "A-Abang. su-sudah selesai?" suara Laras terputus-putus.


Ibra duduk di dekatnya dengan pandangan yang penuh makna. "Sudah dong sayang."


"Ya, udah. Kita makan dulu yu lapar." Sambung Laras. Mengajak makan.


"Iya, sebentar lagi," gumamnya Ibra sambil tersenyum manis.


Ibra kembali mengulang niatnya tadi sebelum mandi yang Laras tolak. Dengan yakin kali ini pasti berhasil, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Laras yang ia angkat dengan jarinya.


Lantas tak memberi aba-aba lagi ia menempelkan bibir keduanya, tangan Ibra memegang tengkuk Laras agar tak bergerak sedikitpun. Ibra ******* dengan sangat lembut, dan menimbulkan hasrat. Kemudian ia ******** penuh gairah.


"Abang, bukannya ada Zayn di luar?" suara Laras berat dan sangat pelan, yang nyaris tak kedengaran.


"Biar saja, dia sedang makan di meja makan," sahut Ibra setengah berbisik ....


****


Selamat tahun baru 2022. Semoga di tahun yang akan datang, hadirlah beribu kejutan untuk kita semua. Ayo mana dong dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2