
Akhirnya Dian berbaring di sofa, sambil mengusap pipinya yang basah. Sampai tertidur lelap di sana.
****
Pertemuan penting pun selesai, wajah Ibra begitu sumringah. Pertemuan berjalan lancar, bila Laras tidak dekat dengan Ibra, tentunya dia di dekati ibu mertuanya yang langsung jatuh cinta dengan perangai Laras yang ramah.
Ibra masih berbincang dengan koleganya, sementara Laras sedang mengobrol dengan Rahma. "Gimana! apa sudah ada tanda-tanda hamil?"
Laras merasa kaget dengan pertanyaan ibu mertuanya. "Haa ...apa?"
"Maksud saya! kamu belum mulai ngidam gitu?" menatap lembut dan penuh harap.
"Em ... belum." Laras menggeleng pelan
"Oh, tidak apa! belum saja kali ya? jaga kesehatan, dan jangan lupa minum penyubur juga. Biar cepat hamil, kami sekeluarga sudah tidak sabar menanti kehadiran cucu kami, Ibrahim kecil," matanya menerawang membayang bila kah cucu meraka sudah hadir.
Laras hanya mendengarkan ungkapan dari ibu mertuanya yang nampak sangat merindukan cucu.
Bu Rahma menoleh Laras. "Oya! kata Dian, orang tuamu sudah meninggal ya?"
"I-iya Bu," jawab Laras singkat.
"Tidak apa! ada kami yang akan menyayangimu," memeluk Laras penuh kehangatan. Laras terdiam, namun tidak berasa air bening menetes pipinya.
"Anggap saja saya ini Mama kamu ya? kalau ada apa-apa. Jangan sungkan bicara sama Mama."
"Iya! Terima kasih ya Mah?" sembari mengulas senyumnya.
"Sama-sama sayang ..." tutur bu Rahma.
Ibra, Papa nya dan Zayn menghampiri. Duduk diantara mereka berdua. "Kalian sudah langsung akrab aja nih?"
"Iya doong sayang, Mama langsung jatuh cinta sama istri muda ini. Boleh gak kalau besok Mama culik dia jalan-jalan!"
Tatapan Ibra langsung mengarah ke Laras yang juga meliriknya. "Boleh! tapi jangan lama-lama, saya gak ada yang urus Ma."
"Eleh ... kamu itu banyak istri, jadi gak bakalan kesepian. Kalau cuma satu saja yang Mama culik."
"I-iya sih, tapi ... yang lain pada sibuk Mah. Makanya dia gak aku ijinkan bekerja, kecuali aku yang ngerjain, hehehe." Ibra tertawa kecil.
"Maksudnya?" Laras sedikit melotot ke Ibra.
"Ngerjain, agar cepat punya baby ya sayang?" timpal bu Rahma sambil terkekeh. Membuat Laras tersipu malu.
"Jangan malas, harus rajin Ibra ngerjainnya, biar cepat ada hasilnya. Kalau menurut Papa sih, sudah lah lepaskan yang lainnya. Pilih saja salah satunya, biar fokus," ujar pak Marwan menatap putranya.
__ADS_1
"Bos! aku duluan ke ruangan ku, banyak kerjaan," ucap Zayn membereskan berkasnya.
"Oke, bentar lagi aku juga balik kantor," Sahut Ibra sambil melirik Zayn.
"Oke." Zayn berlalu, sebelumnya berpamitan pada orang tua Ibra.
Setelah Zayn pergi. Ibra menolah kearah ayahnya. "Tidak segampang itu Pah, aku tidak mungkin melepaskan mereka begitu saja. Aku punya tanggung jawab pada mereka, kecuali mereka menginginkannya." Ibra menghela napas panjang.
"Ya sudah, gimana baiknya saja lah. Kamu yang menjalaninya, kami hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kalian." Rahma menyekat, agar Tidak ada perdebatan antara ayah dan anak.
"Oya! sekarang, Mama mau langsung ke rumah apa mau ke mana dulu?" tanya Ibra sambil bersandar ke belakang.
"Mama capek! pengen pulang saja, Papa mau langsung ngantor apa mau istirahat dulu? ngantornya besok saja." Menatap suaminya.
"Ya, pulang lah. Papa juga sama lelah! pengen istirahat."
"Ya sudah, kamu Laras pulang sama Mama saja, saya pulangnya mungkin malam." Menatap Laras yan mengaduk minuman di meja.
Merekapun beranjak dari duduknya. Sebelum pergi Laras mencium tangan Ibra terlebih dahulu. Ibra menatap Laras lekat, keduanya saling tatapan-tatapan penuh gelora, seperti orang yang sedang jatuh cinta. Detik kemudian Laras menundukkan kepalanya, dan melangkah mengikuti mertuanya yang sudah lebih dulu.
Entah atas dorongan apa? Ibra meraih pinggang Laras dan menariknya, sehingga tubuh Laras menubruk tubuh Ibra bagian depan. Laras sontak kaget namun masih sadar tidak sampai berteriak, mendongak menatap Ibra yang terus memandanginya.
Laras celingukan melihat kanan-kiri khawatir ada yang lihat. "Lepas Tuan? aku mau pulang."
"Tuan lepas! malu," ucap Laras lagi dengan pelan.
Barulah Ibra menoleh kanan dan kiri dan tangannya melepaskan tubuh Laras. "Pergilah, pulang sana?" sebenarnya Ibra gak rela kalau Laras pulang. Tapi gak ada alasan untuknya menahan Laras bersamanya lagi.
Helaan napas Ibra terasa berat. memandangi langkah Laras, orang tuanya sudah jauh dari Laras.
Langkah yang Laras ayunkan terasa mengambang, jantungnya terus berdebar-debar. Seakan memompa cepat. Napasnya pun jadi tak beraturan. "Huuh," beberapa kali Laras melepas napasnya, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan panjang. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil yang di kemudikan pak Barko.
Kini Laras sudah duduk bersama mama mertuanya, sementara Marwan duduk di depan bersama supir. Mobil melesat meninggalkan tempat tersebut sebuah gedung yang tinggi menjulang.
"Aduh, Mama capek, sampai rumah mau spa ah, letih rasanya ini badan," gumam bu Rahma.
Laras menoleh, mendengar gumaman Mama mertua. "Laras pijit ya Mah!" menarik pelan tangan bu Rahma kemudian dipijatnya dengan lembut.
"Kamu bisa ya sayang?" menatap tangannya yang dipijit tangan Laras.
"InsyaAllah. Mah," sembari melukiskan senyum di bibinya.
Pak Marwan menoleh dari depan. "Wah ... ini nih istri idaman yang harus serba bisa, masak bisa, mencuci bisa. Memijit suami juga bisa, apa lagi di tempat tidur harus pandai memuaskan suami, harus gitu!"
Laras tersenyum dan menoleh ayah mertuanya.
__ADS_1
"Emangnya Mama tidak seperti itu ya Yah?" mengerucutkan bibirnya.
"Sedikit! lumayan mendekati seperti itu, wah ... kalau Mama mertuamu ini gak bisa apa-apa! sudah Papa tinggalin loh," ujar pak Marwan sambil mesem.
"Tinggalin aja kalau bisa? paling nangis-nangis, semalam aja gak di kasih, sudah lunglai tak bergairah hidup. Apa lagi seperti itu," cibir sang istri.
Laras cuma tersenyum mendengarnya, sambil sedikit menggeleng.
"Kalau soal yang satu itu sih normal, semuanya juga butuh, banget," elak sang suami. "Iya gak Bar? laki-laki mah pasti sama! wanita juga kadang gitu, cuma suka sok jual mahal."
Barko mesem-mesem sambil mengangguk, matanya tetap fokus ke depan dan berhati-hati.
"Mama juga termasuk. Women are playing hard to get. Iya, kan?" sambung pak Marwan.
Bu Rahma malu-malu. "Terserah Ayah saja lah," kemudian memejamkan mata merasakan enaknya pijitan Laras.
Tidak terasa di jalan, mobil sudah memasuki halaman luas rumah Ibra dan Dian. Barko turun duluan dan membukakan pintu yang belakang. "Sudah sampai Nyonya besar. Nyonya muda."
Marwan berdiri depan pintu mobil, sepasang matanya mengamati rumah mewah tersebut. "Ada setahun kita gak ke sini Mam?"
Bu Rahma menghampiri sang suami. "Iya Pah, satu tahun kita gak kemari."
"Rupanya orang tua Ibra jarang datang ke Indonesia. "Batin Laras.
Dari jauh scurity dan kepala asisten! bu Rika menyambut kedatangan mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya besar? selamat kembali ke rumah ini," ucap Rika sambil mengangguk hormat.
"Ya, apa kabar kau Rika?" tanya bu Rahma.
"Baik Nyonya besar! Nyonya muda, anda tampak lelah sekali, beristirahat lah, biar Tuan dan Nyonya besar biar saya yang mengantar ke kamarnya," bu Rika menoleh Laras yang nampak capek sekali.
Mertuanya pun menoleh pada Laras. "Iya sayang! istirahat saja, Papah juga Mama mau istirahat kok capek. Dan biar Rika saja yang mengantar Mama."
Scurity membawakan koper yang besar-besar milik Marwan dan Rahma ke dalam.
"Em ... baiklah Mah. Papa, aku duluan ya?" Laras berjalan sedikit membungkuk ketika melewati mertuanya.
"Iya sayang, banyak istirahat! agar kuat bila nanti bertempur," ucap bu Rahma.
"Apaan sih ngomong gitu terus nih mertua, bikin aku gak ngerti deh." Laras menggeleng pelan. Dia bergegas ingin segera sampai kamar, namun ketika asyik melangkah tiba-tiba ada satu kaki menghalangi jalan membuat ....
,,,,
Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.
__ADS_1