
"Iih ... ngapain sih ingat itu," kemudian memejamkan mata kembali, terlintas lagi di pikirannya setiap sentuhan Ibra yang buas. Laras merasa kesal. "Kenapa sih segampang itu dia mengambil kesucianku? memukulkan tangannya ke kasur dengan kesal.
Mengganti posisi tidurnya miring ke kanan lalu ke kari, tetap saja bayangan itu jelas di memorinya. Laras bangun dan duduk. "Aduhh ... kenapa sih? ini kepala isinya cuma itu ... saja, ayok Laras buang jauh-jauh. Gak pantas kau berharap kehadirannya." Laras mengacak frusrasi rambut dan memeluk kepalanya
Di kamar pribadi Ibra, dia sedang sibuk dengan laptopnya, namun tiba-tiba terlintas bayangan itu, seolah menari-nari di dalam pikirannya. lekukan tubuhnya, gerakan lembutnya. Terdengar jelas desahannya, senyumnya. "Ah ... kenapa dia begitu jelas di pikiranku?" Ibra berdiri dekat jendela.
Ibra bersandar di jendela dengan tangan menyilang di dada, bibirnya di tarik senyum. Terbayang setiap gerak geriknya, apa yang dia lakukan setiap hari untuknya, yang tidak di lakukan oleh istrinya yang lain, dia menghela napas panjang. Akhirnya Ibra memutuskan akan menemui Laras dan menghabiskan waktu bersamanya.
Ibra keluar dari kamar pribadinya, baru menutup pintu. Yulia menghampirinya dan langsung bergelayut mesra di tangannya. "Sayang, aku tunggu lama sekali, ke kamarku sekarang yuk?" ajak Yulia dengan nada manja.
Ibra memejamkan mata dan menghirup napasnya. "Saya mau ke kamar Laras. Sudah seminggu ini, saya bersama kalian, jadi malam ini biarkan saya bersama nya."
Yulia mengangkat kepala menatap wajah Ibra. "Tapi sayang, aku kangen banget, besok aja yah ke tempat Laras nya, sayang ya?" Yulia memelas, gak rela bila Ibra bersama istri muda itu.
"Tidak bisa aku harus adil. Jangan egois, dia pun punya hak akan diriku," jelas Ibra sambil melepas rangkulan Yulia.
Bukannya lepas Yulia malah merangkul tubuh kekar Ibra dari depan dan mengecup pipi Ibra bekali-kali, dan terus merajuk agar Ibra tidur bersamanya malam ini.
"Yang egois itu siapa? kak Dian lah yang ingin kau menikahinya, bukan aku," tegas Yulia cemberut dan kesal.
"Sudah lah! aku pergi dulu," ucap Ibra lirih.
"Nggak mau."
"Tolong ... jangan seperti anak kecil," Ibra melepas pelukan Yulia dengan sedikit kasar membuat Yulia kecewa dan marah.
"Sayang ..." pekik Yulia. "Awas kau Laras kamu gak akan tenang bila berhadapan denganku," mengumpat dalam hati.
__ADS_1
Ibra terus berjalan dan masuk memilih menaiki anak tangga, untuk menemui Laras di kamarnya.
Sesampainya di depan kamar Laras. Ibra menghentikan langkahnya berdiri termangu, melirik jam mewah yang melingkar di tangannya, putaran jarum sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Ibra berpangku tangan dan berdiri memunggungi daun pintu. "Pasti dia sudah tidur," gumamnya Ibra namun demi keadilan sebagai seorang suami dia akan tetap masuk.
Perlahan tangan Ibra menyentuh kenop pintu, kebetulan gak di kunci. "Kok gak di kunci sih? gimana kalau orang yang iseng masuk," sambil membukanya, sinar lampu temaram dan remang-remang. Laras sudah berbaring di bungkus selimut di tempat tidurnya.
Pintu Ibra tutup kembali, kemudian mendekati tempat tidur Laras sepertinya dia sudah tidur sangat pulas. Ibra merangkak perlahan naik ke tempat tidur, lalu berbaring di sampingnya Laras.
Dengan tidur miring menghadap laras. Ibra dengan leluasa memandangi wajah istri mudanya yang tidak kalah cantik dari istri-istrinya yang lain.
Ibra perlahan mengangkat jarinya untuk menyentuh pipi Laras, tidak ada respon, jari-jari Ibra mengelus dengan lembut tetap tak ada respon juga. Wajah Ibra mendekati kening dan mengecupnya tetap saja Laras tidak bergeming.
"Dasar ... tidur kayak orang mati," gerutu Ibra sambil memainkan tangannya mengelus pipi kanan Laras.
"Jangan lancang yang kedua kalianya kau, sudak jelas kemarin di malam pertama kau berbuat macam-macam sehingga diriku kebablasan menyalurkan hasratku dengan buas. Tak perduli dia rela atau tidak. Menikmatinya apa tidak, kasian dia, jangan buat kesalahan lagi," gumam Ibra menggerutuki tangan dan dirinya sendiri.
Sadar dengan gumamannya Ibra langsung menutup mulut dengan tangannya. Takut suaranya didengar oleh Laras dan Ibra langsung tidur menyamping memunggungi Laras yang tidurnya begitu nyenyak.
Sayup-sayup terdengar suara adzan dari jauh Laras menggeliat perlahan membuka mata dan menggosoknya. "Sudah subuh," gumam Laras dengan suara parau khas bangun tidur.
Melirik ke samping ada orang yang tengah berbaring. Laras kaget bukan main setau dia semalam gak ada siapa pun yang masuk ke kamarnya, dengan repleks Laras memukul orang itu dengan bantal berkali-kali. "Bangun kau, siapa kau, berani-beraninya masuk dan tidur di kamarku?" pekik Laras, membuat Ibra terbangun dan merebut bantal yang dipake Laras untuk memukul dirinya.
"Eh ... ini aku, lihat baik-baik. Aku ini suami mu," sambil merebut bantal dari tangan Laras.
"Hah ... apa yang Tu-Tuan lakukan di sini?" Laras gugup lalu melihat tubuhnya kali saja Ibra melakukan sesuatu terhadap dirinya, namun masih berbalut pakaian dengan lengkap.
__ADS_1
"Apa pun yang saya lakukan di sini! wajarlah, ini rumah saya, hak saya mau tidur di mana saja," gerutu Ibra sambil berbaring lagi terlentang memeluk bantal yang tadi.
"Hah ... jadi semalam Anda?" menatap Ibra penasaran.
"Hak saya mau apa juga!" dengan nada datar tanpa ekspresi.
Laras kembali melihat dengan teliti tubuhnya, memang pakaiannya masih lengkap namun ada kancing yang terbuka tepat di dadanya. Laras langsung memukul dada Ibra yang sedang berbaring.
"Kenapa anda masuk tanpa sepengetahuan aku? apa yang anda lakukan semalam padaku haa! kau selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan."
Ibra bangun dan meraih kedua pergelangan Laras. "Salah siapa pintu tidak di kunci? coba kalau yang masuk itu orang jahat, lagian saya, kan suami kamu, kapan saja saya mau, kapan saja saya butuh kamu tak ada yang berhak melarang! sekalipun dirimu Nona," ujar Ibra.
Matanya Ibra tertuju pada bagian tubuh Laras yang semakin terbuka lebar sebab kancingnya masih terbuka. "Nampak putih bersih, ah sangat menggoda." gumam nakal Ibra. Menelan Saliva nya yang seakan tersekat di tenggorokan.
Mendengar gumaman Ibra dan Laras sadar mata Ibra tertuju kemana? langsung menarik kedua tangan dan memenutup dada serta memasang kancingnya. "Dasar pikirannya mesum," Laras menunduk malu.
"Ngapain malu? saya sudah melihat dan menikmatinya, dan bila pikiran saya mesum itu wajar. Karena saya lelaki normal," gumam Ibra pelan dan membuang pandangan kelain arah.
"Jadi banar semala--" Laras tak meneruskan pertanyaannya karena langsung di jeda oleh Ibra.
"Pikir aja sendiri, apa kamu merasakan sesuatu gitu? sesuatu yang masuk dan menggelenyar nikmat," sahut Ibra setengah berbisik.
Membuat Laras bergidik geli, memang dia sama sekali tidak merasakan apa-apa dalam dirinya, jadinya Laras merasa malu dan kesal kenapa Ibra masuk tanpa sepengetahuan. Walau dalam hatinya menghangat, entak kenapa senang aja bila ada di dekatnya. Tak ingin terus merasakan jantungnya yang terus berpacu cepat. Laras menyibakkan selimut dan turun menuju kamar mandi.
"Mau kemana Nona? apa kau mau memeriksa area sensitif mu! aku sentuh atau tidak," mulut Ibra begitu nakal bila dihadapan Laras, padahal kalau dengan istrinya yang lain tidak begitu.
****
__ADS_1
Hi ... readerku semua, ketemu lagi ya sama aku di novel ini, yuk dukung aku agar novel ini lebih baik dari karya sebelumnya, terus ikuti aku. Dukung aku ya, jangan lupa like, komen, rate nya dong, semoga Allah mengganti segala kebaikan kalian dengan yang lebih-lebih Aamiin.