
Ibra menatap tajam ke arah Yulia. "Itu tugas Laras, biar dia yang kerjakan," tegas Ibra sambil melirik Laras yang mengangguk dan pergi.
Yulia cemberut kesal. "Kenapa sih ketika aku ingin melayani kamu, kamu tolak?" menatap tajam.
"Jangan macam-macam. Ini bukan waktunya barasumsi, saya mau mandi gerah." Ibra menarik jas nya sambil melenggang melintasi Yulia yang berdiri di depannya.
Yulia semakin kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai. Yulia mendelik pada Mery yang mematung, tadinya dia mau menawarkan diri pada Ibra tapi yang dia lihat seperti itu. Akhirnya dia hanya diam.
Laras yang sudah berada di kamar Ibra sedang mencari pakaian untuknya ganti di wardrobe.
"Aduh, kepalaku jadi pening begini." Laras memegangi kepalanya, sambil bersandar ke wardrobe.
Ibra yang baru masuk. Langsung ke kamar mandi, melirik pintu Wardrobe terbuka berarti Laras ada di sana.
Ibra masuk ke bathtub yang sudah berisi air dingin beraroma terapi. Beberapa saat merilekskan tubuhnya di dalam bathtub. Kemudian membersihkan nya di bawah shower, ambil handuk, membuka pintu. Masuk kamar.
Di kamar! kosong tidak ada Laras. Biasanya duduk menunggunya. "Kemana dia?" celingukan, langkahnya menuju wardrobe.
Di dalam! Ibra mendapati Laras duduk menunduk, kedua tangannya memegangi kepala. "Kau kenapa?" langkah Ibra dipercepat sampai dekat Laras ia berjongkok dan memegangi bahu Laras! tampak cemas.
Laras menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tuan ... aku cuma pusing, kayanya masuk angin deh."
Tatapan Ibra begitu lekat. "Kenapa bisa masuk angin. Apa kau telat makan?"
"Tidak juga. Mungkin sudah waktunya saja aku masuk angin," sabut Laras.
"Ya sudah, kamu istirahat di kamar ku," merangkul bahu Laras diajaknya berdiri dan berjalan menuju tempat tidur.
Laras menatap Ibra dengan heran. "Perhatian banget."
Ibra mendudukkan Laras di tempat tidur. Kemudian mengangkat kakinya agar berbaring di sana. "Aku akan panggil Susi agar membawakan obat ke sini."
Laras menolak di baringkan. "Tuan, aku baik-baik saja kok. Cuma pusing sedikit, lagian sudah mulai membaik. Tuan gak perlu khawatir begitu."
Ibra menatap tanpa ekspresi. "Saya khawatir bukan sama kamu, tapi karena kamu calon ibu dari anak saya nanti. Jangan ge'er dulu."
Laras bengong mendengar ucapan Ibra barusan. Kemudian Ibra kembali ke wardrobe untuk memakai pakaiannya.
Sesaat kemudian kembali dengan rapi kecuali dasi yang belum di pasang, mendekati cermin menyemprotkan minyak wangi yang baunya menyeruak ke rongga hidung dan memenuhi ruang kamar tersebut.
__ADS_1
Berbalik! melangkah menghampiri Laras yang duduk tegak dan memandangi Ibra. Namun segera menundukkan pandangannya ke lantai, setelah Ibra mendekatinya.
"Pasangkan dasi!" suara berat Ibra di depan Laras yang menunduk.
Laras mendongak. Tangan lentiknya meraih dasi, detik kemudian memasang dengan sangat rapi.
"Lain kali jangan telat makan! biar gak sakit. bosan yang di rumah beli keluar, apa susahnya sih? kalau kamu sakit! akan menghambat kehamilan," seru Ibra.
Laras hanya tak menjawab melainkan hanya menggerak-gerakkan matanya. "Iya. Aku ini, kan cuma alat pencetak anak. Iya," gumam Laras dalam hati.
"Tatap aku kalau lagi ngomong!" menaikan dagu Laras dengan jarinya. Laras pun mendongak menatap Ibra, akhirnya mereka saling tatap! beberapa saat kemudian Laras menunduk kembali.
Jari Ibra kembali mengangkat dagu Laras. Netra mata Ibra tertuju pada bibir tipis Laras dan memposisikan wajahnya untuk menjangkau tujuannya itu.
Laras memejamkan matanya! ketika wajah Ibra tinggal sepuluh senti lagi. Ibra menarik bibirnya tersenyum, baru saja mau mendarat dengan sempurna.
"Tuan ... sudah di tunggu di ruang makan," teriak Zayan yang sudah tidak sabar menunggu bos nya lama sekali di dalam kamar.
Ibra membuang wajahnya ke samping. "Sial! selalu saja mengganggu orang," gerutu Ibra sambil menghampiri pintu.
Blakk!
Jantung Laras yang tadi sudah melompat-lompat! akhirnya tenang kembali dan bisa bernapas lega. Setelah terlepas pandangan Ibra
"Lama sekali mandinya? apa dimandiin atau ... tanam benih! lama sekali. Orang sudah nunggu dari tadi," ujar Zayn sambil menyeringai.
"Bisa gak! gak ganggu orang?" menatap tajam asistennya itu.
"Ini sudah jam berapa bos? sudah terlambat." Zayn menunjuk jam yang melingkar di tangan.
"Iya, iya. Kita pergi sekarang." Ibra melirik kearah Laras yang menenteng jas miliknya.
Ibra berjalan di depan langkahnya yang lebar menuju ruang makan! di mana koleganya sudah menunggu seperti yang di bilang Zayn. Laras mengikuti langkah Ibra. dan Zayn dari belakang.
Selepas acara makan, mereka berbincang sebentar tentang bisnis yang mereka geluti. Kemudian mereka beranjak kembali ke kantor.
Sementara Mery dan Yulia fokus dengan makan siangnya serta sibuk dengan pikiran masing-masing.
Setelah koleganya keluar semua, tinggal Zayn dan Ibra yang bersiap pergi. Laras berdiri dan membantu mengenakan jas Ibra.
__ADS_1
"Aku lihat kau hanya mengaduk-ngaduk makanan mu, tadi seperti tidak berselera," gumam Ibra pada Laras.
"Belum, sebentar aku makan," sahut Laras sambil mengancingkan jas itu.
Ibra melangkah! di ikuti oleh Zayn dari belakang. Setelah sebelumnya Laras mencium tangan Ibra.
"BuRik! perhatikan makan nyonya muda. Jangan sampai telat makan. Bila perlu datangkan dokter agar memeriksanya. Dan memberi vitamin," perintah Ibra pada bu Rika ketika melintasinya.
"Baik. Tuan!" sahut bu Rika sambil tersenyum lucu. Sekarang tuannya ikut-ikutan memanggil dirinya dengan sebutan buRik.
Mery berdiri dan mengikuti Ibra untuk mengantarnya ke lobby. "Tunggu sayang?"
Melihat Mery mengikuti langkah Ibra! Yulia pun mengejar Ibra. "Sayang." Yulia terus mengejar sampai akhirnya berjalan sejajar dengan Ibra.
Mata Ibra melirik ke kanan Yulia, ke kiri Mery! keduanya memegang tangan Ibra. "Ada apa nih mereka bersikap aneh kaya gini? yang aneh itu sebab biasanya gak seperti ini," batin Ibra aneh. "Silakan kalian bersikap manis dan baik padaku, namun tidak akan merubah niat ku."
Zayn yang berjalan belakang Ibra nyengir saja melihat bos nya di himpit dua perempuan cantik. Bohai dan seksi. Mata nakalnya menyapu tubuh kedua wanita yang berjalan di depan tersebut.
Memicingkan mata dan bibirnya sedikit mencibir. "Lumayan menggiurkan. Pantas sampai banyak laki-laki yang tergoda dan memanfaatkan mereka, uang! tubuhnya dengan mudah di dapatkan mereka!" menggeleng.
Setelah sampai di luar lobby. Ibra bersiap memasuki mobil mewahnya. Mobil koleganya sudah duluan berangkat.
"Sayang hati-hati ya? oya nanti malam tidur di tempat ku, kan?" ucap Yulia yang masih menautkan tangannya di pergelangan Ibra.
Baru mau membuka mulut. Ibra menoleh kearah Mery.
"Sebaiknya! malam ini kamu sama aku saja sayang ... aku akan ngasih kejutan loh. Aku mau kasih sesuatu dan akan menuruti kemauan kamu sayang," lirih Mery dengan nada manja, tangan sok merapikan dasi di leher Ibra.
Mendengar ucapan Mery. Yulia langsung meraih wajah Ibra dengan kedua tangan agar Ibra melihat dirinya. Membingkai wajah Ibra. "Sayang dengar aku! malam ini ada yang ingin aku bicarakan sangat penting, dan itu menyangkut masa depan kita! masa depan kita sayang," ungkap Yulia menatap lekat wajah tampan Ibra terus mendaratkan ciuman di kedua pipinya.
Mary mencibir perkataan Yulia. "Nggak sayang! kamu harus dengar aku dulu. Karena yang ingin aku bicarakan juga sangat lah penting, dan aku yakin kamu pasti suka." Mery sangat antusias dengan ucapannya sendiri. Lalu mencium pipi Ibra kanan dan kiri.
Ucapan kedua wanita ini, sungguh membuat Ibra pusing dan tak tau harus menjawab apa. Ibra menggaruk pelipisnya kebingungan.
Hahaha ... hahaha ... hahaha ... suara tawa yang begitu nikmat ....
,,,,
Aku ingin tahu seberapa banyak sih yang suka dengan novel ini? jadi setiap yang baca silakan komen ya 🙏 ini untuk penyemangat aku buat nulis.
__ADS_1