Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menangis


__ADS_3

Setelah selesai mandi, lanjut mengerjakan salat isya dengan khusyu. Selepas itu barulah ia mendekati Laras yang masih tertidur dengan lelap, ia naik lalu mendaratkan kecupan kecil di perut sang istri seraya bergumam. "Apa kabar sayang? baik-baik ya di sana." Kemudian mengusapnya, lalu mencium kening dan pipi sang istri.


Namun Ibra merasa heran. Kok suhu badan Laras tidak normal seperti biasanya, ia tatap dengan lekat. Baru sadar kalau wajah Laras sedikit pucat, lagi-lagi ia tempelkan punggung tangan di pelipis Laras yang memang hangat. Melihat meja ada wadah dan handuk kecil, pasti bekas kompres. Dan di sampingnya ada pula obat-obatan.


"Kamu sakit sayang?" gumamnya Ibra sangat pelan dan memeluk tubuhnya. Membuat Laras terbangun dan memicingkan mata.


"Kau, sudah pulang?" tanya Laras dengan suara seraknya, lalu matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Sudah sedari tadi, apa kamu sakit?" selidik Ibra sambil menempelkan bibirnya di kening sang istri.


"Tadi pagi, aku demam. Tapi sekarang sudah baikan kok," sahut Laras lirih dan serak khas bangun tidur.


"Kenapa gak ada satupun orang yang memberi tahu ku, kalau kamu sakit? gimana kalau terjadi sesuatu, apa akan dibiarkan aku tak tahu! dan tahu sendirinya? gimana kalau aku gak pulang," ujar Ibra sedikit kesal.


"Maaf, aku yang larang mereka memberi tahu mu, sebab ... aku tak mau merepotkan dirimu yang sibuk. Lagian aku cuma dema biasa dan sekarang sudah baikan," ungkap Laras pelan sambil mengusap dada Ibra.


"Ck." Ibra berdecak kesal. Kemudian membuang mukanya ke lain arah. Dia benar kecewa, kok bisa-bisanya istri sakit dia sendiri tidak tahu.


"Aku, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja jangan marah gitu?" rajuk Laras. Netra matanya bergerak menatap sang suami yang tampak marah.


Ibra terdiam, hanya tangannya mengusap punggung Laras dengan sangat lembut. Tatapan mereka pun bertemu.


"Eeh, kenapa kau pulang? bukankah Dian sudah pulang, kenapa kau meninggalkannya," selidik Laras.


"Apa, aku tak boleh pulang?" ucap Ibra sambil merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan kedua tangan melipat di bawah kepala.


"Bukan gitu. Tapi bukankah seharusnya kamu di sana, Kalau kamu banyak di sini ... nanti timbul kecemburuan. Kalau Dian nya gak ada sih, seperti sedang di luar Negeri. Wajar kamu di sini juga," ungkap Laras kembali, jemarinya menari-nari di atas dada Ibra.


Namun di tengah obrolan itu, ada suara yang datangnya dari perut Ibra yang demo meminta makan.


"Kamu belum makan?" tanya Laras, lantas ia bangun. Manik matanya menatap ke arah Ibra, menunggu jawaban.


Ibra membalas dengan cara mengangguk pelan.


"Ya, sudah. Aku temani makan, bangun. Makan dulu sana," ucap Laras. Mengibaskan selimutnya.


Namun Ibra masih di posisi yang sama. Bukannya bangun, malah melamun.


"Ih ... bangun," tangan Laras menarik tangan Ibra supaya bangun.


"Malas ah, aku mau tidur aja." Pura-pura pejamkan mata.


"Makan dulu, nanti sakit. Mau aku bawakan ke sini?" Laras menawarkan makan di kamar.


Ibra membuka mata, lalu menatap sang istri yang masih tampak pucat. Egois sekali bila ia ingin di layani sama istri yang kondisinya kurang fit. "Nggak sayang, aku bisa makan di dapur, gak usah repot-repot bawa ke sini. Kemudian bangun dan turun.


Laras pun mengikuti dari belakang sambil mengikat rambutnya. Ibra menunggu Laras agar berjalan berbarengan.


Susi sepertinya sudah tidur. Begitupun dengan orang tua Ibra yang tadi ketika Ibra pulang masih nonton televisi, kini sepi.


Laras menghangatkan makanan yang sekiranya harus di hangatkan terlebih dahulu. Barulah Ibra makan dengan sangat lahap, Laras yang duduk di sampingnya sesekali melihat dan tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum hem?" tanya Ibra sambil mencubit hidung Laras yang mancung.


"Nggak, cuma lucu aja, tumben aja belum makan. Secara dari mension belum makan," balas Laras sambil meneguk minumnya.


Ibra tak menjawab, dia memilih melanjutkan makannya. Sesekali menyuapi Laras, lantas minta tambah. Laras pun mengambilkan lagi sesuai yang Ibra pinta.


Selesai makan, keduanya kembali ke kamar. "Kamu sudah minum obat sayang?" selidik Ibra yang mengamati obat-obatan Laras.


"Sudah, untuk hari ini sudah selesai." Balas Laras, baik ke atas tempat tidur dan menarik selimutnya.


"Oh," gumamnya Ibra. Ia pun berbaring kembali.

__ADS_1


"Oya. Kamu belum jawab, Dian itu jadi gak pulangnya? kalau jadi kenapa kamu pulang ke sini?" ulang Laras, yang belum sempat Ibra jawab.


"Pulang, aku pengen aja pulang ke sini," balasnya santai.


Laras yang masih terduduk, mengerutkan keningnya. Heran, kalau pulang tumben banget. Ibra pulang ke rumahnya, bukan tinggal di mension bersama istri tercintanya. "Apa ... kalian ada masalah?"


Ibra menoleh sesaat. "Emangnya kenapa?"


"Aneh aja gitu. Seharusnya kalian bersenang-senang, toh lama tidak bertemu. Kok malah di tinggalkan." Laras menggeleng.


"Aku sudah talak dia!" tegas Ibra.


"Apa? apa aku gak salah dengar." Laras memposisikan duduknya menghadap Ibra yang berbaring.


"Tidak, aku sudah ceraikan Dian."


"Astagfirullah ... kenapa?" selidik Laras sambil menggeleng.


Ibra tak lekas menjawab. Melainkan membawa bahu Laras ke dalam pelukannya.


"Ih, jawab. Kenapa kamu cerai dia? aku gak mau ya, gara-gara aku kamu cerai Dian!" sambung Laras lagi.


"Kamu gak akan mengerti, aku melakukan itu ... pasti ada alasannya yang sulit aku maafkan," balas Ibra. Jarinya membelai rambut Laras.


"Gimana aku bisa mengerti, kalau tidak kamu jelaskan. Aku gak mau Dian semakin membenci ku," lirihnya Laras lagi, hati kecilnya tak percaya sama sekali.


"Sudahlah. Sudah malam, lain kali aja kita bicarakan lagi. Sekarang bobo, apalagi badan mu kurang fit." elak Ibra. Saat ini ia malas untuk membahas itu.


"Tapi--"


"Shuut ... bobo sayang," Suara Ibra mengunci bibir Laras untuk bertanya lagi.


Segala pertanyaan, berjubel dalam hatinya Laras. Namun ia tak berani bertanya lagi, biarlah mungkin satu saat nanti Ibra akan cerita. Cuma ... hati tetap penasaran. Ada masalah besar apa sehingga Ibra malah tak bersama Dian, ia tak percaya sedikitpun kalau suaminya ini menceraikan Dian yang notabenenya istri pertama dan sangat di cintanya. Namun pertanyaan itu ia simpan dalam hati saja. Dan mencoba memejamkan mata.


****


Laras menyandarkan kepalanya di bahu Ibra, tangan Ibra pun membelai rambut Laras dengan Lembut. "Sayang, baby nya bergerak." Menunjuk perutnya yang bergerak.


Mata Ibra bergerak dan menggerakkan tangan untuk mengusapnya dan merasakan gerakkan sang baby yang masih di dalam perut, dan kini sudah menginjak bulan ke tujuh.


Bibir keduanya senyum mengembang, merasakan betapa bahagianya mereka berdua. Walau dalam hati yang paling dalam, hati Ibra masih kalut, dengan masalahnya dengan Dian.


"Abang, kenapa kamu tidak bermalam dengan Dian? sedangkan siang Abang kerja, apa Abang ada masalah dengannya." Tatapan Laras begitu tajam.


Ibra membalas tatapan Laras sesaat, lalau mengalihkan pandangannya ke lain arah. Memandangi bunga yang ada di depannya. Sebelum menjawab, ia menghela napas dalam-dalam. "Aku sudah talak Dian, kan sudah aku katakan itu pada tempo hari sayang."


Laras terkesiap, sementara waktu ia terdiam dan menegakkan duduknya. Semula ia merasa kalau yang dikatakan Ibra waktu itu tidak serius. Dengan tatapan yang sendu, Laras berkata. "Kenapa? dari pada Abang ceraikan Dian, kenapa tidak aku aja yang kau cerai."


"Sayang, istighfar kenapa bilang begitu?" balik tanya Ibra sambil mengusap pipi sang istri yang kini jadi istri satu-satunya itu.


"Astagfirullah ..." ucap Laras sambil menggeleng pelan. "Tapi kenapa Abang cerai dia? dia sudah lama mendampingi hidupmu, dari lama, dia wanita yang kamu cintai. Kenapa harus Abang cerai juga?" bibir Laras bergetar menahan tangis yang sudah di pelupuk mata. Laras seolah merasakan apa yang dirasakan Dian saat ini.


"Kamu tidak akan mengerti," jelas Ibra.


"Gimana aku bisa mengerti, kalau kamu gak menjelaskan," ucap Laras mengusap air matanya. "Aku mohon rujuk lah dengan Dian, kembali padanya--"


"Sayang, prosesnya sudah mulai berlangsung. Di pengadilan agama." Balas Ibra lagi.


"Batalkan aja, apa susahnya?" ucap Laras penuh harap.


"Nggak bisa, dia harus menyadari yang telah dia perbuat. Dia harus belajar menghargai orang, belajar lebih baik lagi." Sambung Ibra.


"Abang ... semua orang itu tidak pernah luput dari salah dan dosa. Begitupun kita, alangkah baiknya kalau kita saling memaafkan." Netra mata Laras bergerak menatap wajah Ibra.

__ADS_1


"Aku tahu itu. Tapi untuk saat ini keputusan ku tidak akan berubah, sidang pun akan segera berlangsung. Dan aku sudah bicarakan ini dengan orang tua Dian. Oya kamu jangan khawatir tentang rumah tangga kita, tentang surat kontrak itu sudah tidak ada lagi."


"Maksud Abang?" tanya Laras kurang mengerti.


"Maksud aku, surat kontrak yang Dian buat, tentang pernikahan kita dan kalau anak kita lahir nanti. Sudah di musnahkan, jadi jangan khawatir lagi semuanya sudah aman," sambung Ibra. Dengan jelas.


Laras terdiam, pikirannya melayang dengan pada surat kontrak itu, yang tertulis dengan jelas kalau setelah melahirkan anak itu akan Dian ambil dan menjadi hak asuh Dian dan Ibra berdua. Ia sendiri sebagai wanita yang mengandung dan melahirkan tidak ada hak apapun, kini ia merasa lega. Setelah mendengar penjelasan dari Ibra tentang surat itu.


"Aku bisa membayangkan gimana perasaan Dian, pria yang sangat ia cintai menceraikan dirinya. Kenapa Abang tega sama dia?" tanya Laras kembali menyambung obrolan tadi.


"Aku mau tanya, tega mana? kalau aku menceraikan atau membiarkan dia begitu saja tanpa nafkah? nafkah lahir, harta. Jelas tidak akan kekurangan, tapi gimana dengan yang lain? sudahlah sayang jangan bahas itu lagi kepala ku tambah pusing. sebaiknya kita istirahat yu?" mengusap pucuk kepala Laras lembut.


Keduanya beranjak dari duduknya. Beranjak masuk ke kamar untuk istirahat, sebelumnya Ibra mengunci pintu. Kemudian mereka sama-sama naik ke atas tempat tidur, berbaring saling berpelukan satu sama lain. Setelah memberikan kecupan di kening barulah Ibra memejamkan matanya yang mulai terasa lelah.


Ibra sudah mulai nyenyak namun kedua mata Laras masih terjaga, sulit di pejamkan. Ia mendongak menatap wajah Ibra yang pulas itu, sekilas bibir Laras tersenyum. Mendekatkan wajahnya ke wajah Ibra, sejenak terdiam dan terkunci. Menatap lekat wajah Ibra, namun perlahan tapi pasti ia mengecup bibir Ibra yang tengah tidur itu.


Laras kira Ibra sudah nyenyak tidurnya. Tapi apa yang ia lihat sekarang, Ibra menarik bibinya senyum mengembang. Seraya bergumam. "Kenapa belum bobo sayang, mau apa?" suara lirihnya Ibra dengan mata masih terpejam.


Laras tersipu malu. "Belum." Segera memposisikan diri seperti semula. Ibra pun merekatkan kembali pelukannya di tubuh Laras.


Sesungguhnya Laras tidak tahu yang harus dia rasakan. Harus bahagia atau sedih, mengingat kebahagiannya saat ini di atas penderitaan orang. Ya, penderitaan Dian yang kini di cerai oleh suami yang sangat dia cinta.


Malam pun beranjak pergi. Bergantian dengan kehadiran sang surya yang bersiap menyinari pagi, sang embun menggenang di dedaunan bersinar. Terkena cahaya sinar matahari, Ibra lari pagi di sekitar komplek, maklum. Di rumah Laras tidak ada peralatan nge-gym.


Sementara Laras berkutat menyiapkan sarapan kesukaan Ibra, sang suami. "Mah," panggil Laras pada sang mama mertua yang sedang menyiapkan piring di meja.


"Apa sayang?" balas bu Rahma melirik sang menantu.


"Em ... apa Mama tahu kalau abang, menceraikan Dian?" penuh ragu.


Sebelum menjawab, bu Rahma terdiam dan menatap lekat menantunya. "Iya. Kenapa?"


"Aku, tak habis pikir Mah. Kenapa harus begitu? jujur aku merasa gak enak. Aku malu ... dan merasa bersalah jika nanti aku bertemu Dian." Lirih Laras lagi.


"Nggak usah merasa begitu sayang ... itu bukan salah mu, lagian. Tentunya Ibra punya alasan tertentu untuk menceraikannya, dan itu pasti sebuah masalah yang menurut Ibrahim rasa sesuatu masalah yang lumayan besar. Sebab kalau masalahnya kecil gak mungkin Ibra lepaskan. Kita semua tahu, kalau Ibra sangat mencintai Dian," ujar bu Rahma panjang lebar.


"Emangnya masalahnya apa sih, Mah?" Laras menatap mama mertua.


"Apa? Nyonya Dian sudah di cerai tuan, tuan itu, kan biarpun sudah mencintai Nyonya muda. Tuan juga tetap cinta sama nyonya Dian, tapi sayang. Dia agak licik," suara Susi ikut nimbrung.


Laras dan bu Rahma menoleh ke arah Susi. Namun Ibra datang, dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Dan langsung masuk kamar, Laras segera mengikutinya untuk untuk menyiapkan segala keperluan Ibra yang mau masuk kerja.


Langkah Laras kian cepat. Setelah berada di dalam kamar, langsung menyiapkan stelan formal Ibra. Terus ia simpan di atas tempat tidur, sembari menunggu Ibra ia menyalakan televisi. Acara berita.


"Eeh, apa itu?" gumamnya Laras dengan mata fokus ke layar televisi. Dimana sedang memberitakan tentang perceraian seorang CEO, yang penyebabnya si istri ketahuan selingkuh. Dan wajah orang itu terpampang jelas di sana, ya itu gambar Ibra dan Dian Astuti.


"Astagfirullah ..." ucap Laras sambil mengelus dada. Melirik ke arah Ibra yang baru muncul dari balik pintu kamar mandi.


Ibra menatapnya. "Kenapa?"


"Ah, nggak." Laras menunduk dan menggeleng.


Ibra menoleh ke layar televisi yang masih memberitakan tentang dirinya. Tangan Ibra mengambil pakaiannya seraya berkata. "Matikan sayang, televisinya."


Laras mengangguk dan segera mematikan televisi seperti yang Ibra pinta. Kemudian menghampiri untuk membantu Ibra mengenakan pakaiannya.


"Abang, maaf. Apa mungkin, Dian berbuat seperti itu karena kurangnya perhatian mu? atau nafkah darimu," selidik Laras dengan nada yang sangat hati-hati.


Ibra terdiam sesaat. "Setelah kita menikah, aku selalu berusaha untuk perhatian padanya. Sebab bagi aku dialah wanita pertama yang harus aku perhatikan, sekalipun aku harus adil. Aku usahakan selalu penuhi kewajiban ku sebagai suami, kecuali ketika di luar Negri itu. Ketika kamu sedang ngidam," akunya Ibra, ia duduk untuk mengenakan sepatunya yang sedang Laras ambil.


"Selebihnya. Aku Selalu berusaha memuaskan kebutuhan biologisnya. Terus kurang apalagi? coba jelaskan, harta tak kurang, suami selalu berusaha memenuhi kebutuhan biologisnya juga. Kurang apalagi?" suara Ibra bergetar. Ia menangis, hatinya pedih. Sakit, merasa kecewa dengan kenyataan ini.


Laras yang berjongkok, hatinya mencelos melihat Ibra menangis. Rasanya baru dua kali ini melihat seorang Malik Ibrahim yang selalu berwibawa di hadapan rekan dan karyawannya, menangis, yang pertama kali? ketika ia di Rumah sakit, yang kedua. Sekarang ini. Laras duduk di samping Ibra dan menggenggam tangannya sangat erat ....

__ADS_1


****


Hai ... apa kabar reader ku semua? semoga kabar kalian ada dalam lindungannya. Aamiin ya Allah.


__ADS_2