
Ibra dan Laras menghabiskan makannya, sambil menunggu jus buah naga yang ke dua kalinya.
"Lama ih, haus nih," gumam Laras.
Ibra melirik dengan senyum nya yang merasa lucu melihat Laras yang sudah gelisah menunggu pesanannya. "Sebentar lagi juga datang, sabar aja, ini jus ku, habiskan," sembari menyodorkan gelas jus yang masih ada setengahnya.
Netra mata Laras melihat gelas jus itu. Kemudian mengambil dan meneguknya, jelas kelihatan banget hausnya.
Ha ha ha ... Ibra tertawa. "Tadi gak mau ... sekarang di habisin?"
"Haus ..." jawab Laras sambil mengusap mulutnya.
"Itu, air mineral ada, mau di habisin juga?" tanya Ibra sambil berpangku tangan di meja.
"Nggak mau, mau jus buah naga lagi," sahut Laras sambil celingukan. "Itu dia."
Dari jauh pegawai datang membawa segelas besar jus buah naga. Sampailah depan meja yang di duduki Ibra dan Laras.
"Silakan jus nya Nyonya?" ucapnya sambil menyuguhkan di meja.
"Makasih ya Mas?" Laras langsung menariknya. Sebelum menyedot dia aduk dulu.
Ibra langsung membayar tagihan makannya. Tidak lupa denagn uang insentifnya juga. "Makasih Mas, maaf ya direpotkan." Ibra sambil senyum.
"Tidak apa-apa, Tuan. Semoga jadi pelanggan kami." Pegawai itu membungkuk hormat. Kemudian berlalu pergi meninggalkan meja tersebut.
Ibra menoleh ke arah Laras. Betapa terkejutnya Ibra, melihat gelas jus besar barusan sudah tinggal gelasnya. Sambil menggeleng. "Haus, Bu?"
Laras senyum simpul. "I-iya."
"Apa ... mau tambah lagi?" memberi penawaran kembali namun kali ini Leras menggeleng sambil mengusap perutnya.
"Ya, sudah. Kita pergi belanja sekarang." Ibra berdiri, mengenakan kembali kacamatanya.
Laras mengangguk dan mengambil tas nya. Tangan Ibra kembali menggandeng tangan Laras, dibawanya ke konter pakaian lebih dulu.
Sambil melihat-lihat barang yang ada di sana, Laras bertanya. "Mau beli apa sih? di mension juga pakaian banyak, rasanya ... gak perlu apa-apa deh, sebab di rumah juga masih bagus-bagus."
"Beli aja yang kamu suka, di mension sudah pada lusuh." Timpal Ibra sambil melihat-lihat juga.
"Lusuh apanya? banyak yang masih bagus-bagus kok. Lagian, buat apa banyak-banyak kalu gak di pakai juga." Menatap Ibra yang mengambil piyama pria dan sebuah lingerie.
Laras menatap lingerie itu, ia pikir pasti buat Dian. Gak mungkin untuk dirinya, sebab dia tahu kalau pakaian tidur dirinya piyama wanita.
Kemudian, Ibra mengambil setelan santai wanita yang seperti Laras suka pakai. Kaos pria, kemeja Pria, celana pria. Terus ke konter pakaian dalam, Ibra mengambil pakaian dalam wanita, pakaian dalam pria. Ia berikan pada penjaganya.
Sementara Laras, hanya membuntuti langkah Ibra dan menjadi penonton saja, tak satu pun ia mengambil sesuatu. Ibra hanya menggeleng, melihat Laras yang hanya menontonnya belanja.
"Apa tidak ada satu pun yang kamu suka?" tanya Ibra sambil memberikan lagi sebuah bra renda brukat+bawahannya pada penjaga tersebut.
Laras menggeleng dan netra matanya terus aja jadi penonton Ibra yang sibuk pilih ini dan itu. Selesai di sana, masuk konter alat beribadah. Mengambil sejadah dan juga mukena yang berenda serta terlihat sangat mewah.
"Perhatian banget sama istrinya?" gumam Laras, ia pikir itu semua buat Dian. Tapi ia tidak melihat Ibra mengambil sarung ataupun peci, kemudian Laras mendekati tumpukan sarung dan peci. Ia mengmbilnya satu-satu dan bertanya pada salah satu pegawainya. "Maaf Mbak, peci nya bisa di coba dulu gak?"
"Oh, silakan, di coba saja, Boleh."
Laras melempar senyumnya. "Makasih Mbak!"
__ADS_1
Kemudian Laras, menghampiri Ibra yang berdiri agak jauh, entah sedang mencari apa lagi. Laras mengeluarkan peci itu dan ia memakaikannya ke kepala Ibra.
Ibra terkejut, Laras memakaikan peci di kepalanya. Namun detik kemudian Laras melepaskan lagi dan memasukan ke tempatnya.
"Ini Mbak." Memberikannya pada penjaga untuk di kemas.
"Itu ... buat siapa?" tanya Ibra dengan tatapan penuh penasaran.
Laras menoleh. "Buat kamu."
Mendengar itu, Ibra tersenyum senang. "Makasih?" yang di balas oleh Laras dengan anggukan.
"Em ... boleh gak? aku salat dzuhur dulu di mall ini?" tanya Laras menatap Ibra yang sedang merogoh sakunya, karena terus berdering.
Ibra mengangguk, dan segera menerima telepon dari seseorang.
Setelah Itu Laras mencari musolla di mall tersebut, kebetulan tidak jauh dari tempat barusan.
Setelah selesai bicara di telepon, Ibra segera menyusul Laras. Kebetulan Laras sudah selesai. Menoleh ke arah Ibra yang sedang menuggunya. Ingin sekali Laras mengajaknya melakasanakan salat namun ia ingin Ibra melakukan itu atas dasar ke inginannya sendiri.
Laras mengahampiri. "Barang-barangnya mana?"
"Sudah ada yang ngantar ke mobil," sahutnya. "Ayo, ke satu tempat lagi," ajak Ibra, kembali menggandeng tangan Laras.
"Kemana lagi sih?" tanya Laras sambil jalan.
"Nanti juga tau ..." kemudian, Ibra mengajak Laras ke sebuah konter kecantikan.
Setelah sampai di dalam. "Kamu butuh apa?" tanya Ibra menoleh ke arah Laras.
"Ck. Ini itu ada, masih banyak. Terus apa sih yang kamu mau?" Ibra berdecak dan menggeleng, baru kali ini bawa istri belanja, ini gak mau. Itu masih ada, biasanya, wanita kalau di ajak belanja itu paling semangat. Sekalipun ada, punya. Tetep aja mau beli lagi apalagi dikasih gratis! wanita paling semangat. Tapi Laras malah kebalikannya.
"Tapi, kan memang benar, masih ada. Buat apa beli? kalau nantinya mubazir, kan sayang," akunya Laras.
Ibra menghembuskan napasnya kasar, kebetulan tahu apa yang suka Laras pakai. Seperti bedak, lipstik. Dan minyak wangi kesukaannya. Ibra mengambil semua itu, Lagi-lagi Laras hanya jadi penonton saja.
"Itu ... semua yang aku pake. Emangnya selera Dian sama kaya aku? gak mungkin ah." Batinnya, tetap aja ia pikir Ibra membeli itu semua, buat Dian.
"Yakin, gak ada yang ingin kamu beli?" tanya Ibra sekali lagi.
"Nggak mau ... aku belum membutuhkannya." Sambil menggeleng.
"Oke, kalau gitu kita pulang sekarang." Selesai membayar, Ibra mengajak Laras pergi meninggalkan tempat tersebut.
Di depan malah ketemu lagi dengan Jodi, kali ini dia bersama seorang gadis yang mungkin seorang pelajar, sebab dia memakai rok abu-abu.
"Hi ... benar-benar berjodoh kita, ketemu lagi sama kalian berdua. Habis belanja ya?" melihat paper bag yang Ibra tenteng. Sementara tangan satu lagi menggenggam erat tangan Laras, seolah takut lepas.
"Iya nih, kau mau belanja juga?" tanya Ibra sambil menunjukkan yang ia tenteng.
"Benar, mau belanja. Mengantar adik ku," sahut Jodi, matanya melihat wajah Laras yang sedikit bersembunyi di balik punggung suami nya.
"Oh, ini adik mu? saya kira cewe mu." Sambung Ibra kembali sambil mengawasi sorot mata Jodi yang terus mengintip ke arah Laras.
"Oh, bukan!" jawab Jodi melirik sang adik yang sedang memainkan handphone. Kemudian pandangannya kembali tertuju pada Laras yang menundukkan kepalanya, masih di balik punggung Ibra.
"Kak ayu ... lapar nih?" ajak gadis itu pada Jodi dan sambil menarik tangan Jodi. Akhirnya Jodi pun menuruti sang adik. Sambil melambaikan tangan tanda pamit.
__ADS_1
Ibra menarik tangan Laras agar sejajar dengannya. "Sepertinya ... dia pengagum berat mu ya?"
"Mana aku tahu," ungkap Laras sambil menaikan bahunya.
"Berani sekali, dia menatap mu seperti itu," lanjut Ibra, dengan raut wajah yang nampak kesal. "Apa dia mantan kekasih mu?"
"Iih ... malas, aku jawabnya," sambil berjalan mendahului Ibra, namun tangannya di tarik ke belakang.
"Mau ke mana kamu?" tanya Ibra dengan nada dingin.
"Pulang lah, masa mau tidur di sini?" sahut Laras.
"Pintunya di sebelah sini Nona, bukan di sana." Ibra menunjuk ke lain arah.
Laras nyenger, memperlihatkan gigi putihnya.
"Oh iya, lupa. Gak beli pasta gigi+body wash nya." Gumam Ibra yang baru ingat sekarang.
Menoleh ke arah Laras yang juga melihatnya. "Pasti kamu akan bilang, di rumah juga banyak, menumpuk. Iya, kan?" sambil menaik turunkan alisnya.
"He he he ... iya, memang begitu."
Di parkiran ada yang jualan asongan, yang dia jual, tahu goreng, ada juga manisan buahnya dll. "Iih ... pengen beli itu?"
Ibra nenoleh ke arah yang Laras tunjukan. Dan langsung memanggilnya. "Bang, sini?"
Si abang penjual pun menghampiri dengan ramahnya. Laras segera memilih yang ia suka, lalu mengambil tahu dan manisan buah mangga. Juga manisan nanas, namun Ibra segera menegurnya.
"Sayang, bukannya gak boleh makan buah nanas?"
Laras terdiam sejenak. "Iya, ya. Lupa." kemudian yang ia ambil hanya tahu dan manisan buah mangga saja.
Setelah membayar, mereka masuk ke dalam mobil. "Pasang dulu sabuk pengamannya," ucap Ibra pada Laras yang malah sibuk membuka manisan buah dan memakannya. Ibra memasangkan sabuknya di tubuh bumil muda itu.
Kemudian Ibra memutar kemudi, memundurkan mobilnya, lalu melesat maju. Membelah jalan raya yang padat dengan kendaraan lainnya.
Laras asyik memakan manisan dan menawarkannya pada Ibra. "Mau gak?" dan langsung mendekatkan ke mulut Ibra. Ibra pun membuka mulutnya.
"Enak gak?" tanya Laras sambil memasukan sisa gigitan Ibra ke mulutnya.
"Lumayan," sahut Ibra sambil tetap fokus pandangannya ke depan.
Mulut Laras terus aja mengunyah, kini giliran tahu goreng yang dia makan. Sesekali juga menyuapi Ibra untuk mencicipi.
Di tengah perjalanan. Mata Laras mendapati yang jualan cilok pikul, yang kebetulan sudah terlewat jauh. "Cilok, itu cilok. Aku mau beli. Mobilnya berhenti dulu." Suara Laras mengagetkan Ibra, hampir saja ia ngerem mendadak.
"Apa lagi sih Nona ..." tanya Ibra menoleh Laras yang melihat ke belakang.
"Pengen cilok itu, yang di pikul," menunjuk yang jualan cilok pikul.
Ibra menggeleng, itu tahu masih di mulut. Sudah minta lagi cilok. "Sudah jauh jauh sayang ... nanti beli yang di gerobak saja, pasti nemu lagi di depan."
"Iih ... gak mau, pengen yang itu ... mundur aja, putar balik apa susahnya sih?" pinta Laras dengan nada memelas ....
****
Hi ... reader ku semua ... apa kabar malam ini? semoga baik semua ya, makasih banyak pada yang masih menjadi pembaca setia ku. terus dukung aku ya? eh , novel ku! ♥️ untuk semua.
__ADS_1