
Ruswan diangkat oleh anak buahnya di bawanya entah kemana? datang beberapa orang dan menghadang Ibra, Zayn dan Irfan.
Ketiganya di kepung dan diserang. Bug bug bug saling tonjok Ibra pun tumbang ketika salah seorang itu memakai kayu untuk memukul pundaknya. Ibra meringis kesakitan.
Anak buah Irfan pun sudah datang membantu Ibra dan membawanya ke sisi.
"Kau tidak apa-apa? selidik Zayn menghampiri Ibra yang tetap meringis.
"Kita harus menemukan mereka Zayn." Ibra berdiri dan mencari keberadaan keluarganya.
Mereka membuka setiap pintu yang ada di lantai itu. Menyisir terus sampai akhirnya mereka menemukan sebuah kamar dan alangkah terkejutnya ketika melihat bu Rahma dan pak Marwan, juga Susi yang di ikat bersamaan.
"Mama, Papa?" Ibra langsung menghampiri dan membuka talinya.
Begitupun Zayn bergegas menghampiri serta membuka ikatan di tubuh mereka yang cukup susah.'
"Bodoh, ngapain kamu ada di sini Markonah? kabur kek!" ucap Zayn dan langsung memeluk Susi setelah terlepas dari tali yang mengikatnya.
Susi pun menangis. "Kenapa baru datang sih Zaylangkung? tahu nggak aku sudah ketakutan kelaparan, kehausan."
"Emangnya kamu bilang akan di sandra di sini. Kan nggak! kami harus mencari dahulu Markonah, penuh perjuangan." Timpal Zayn.
"Gimana Pah, Mah. Kalian tidak pa-pa kan?" Ibra memeluk kedua orang tua nya. "Di mana Laras dan baby boy Mah?" tanya Ibra menatap keduanya yang tampak pucat. Namun keduanya merasa lega setelah bertemu dengan putra mereka.
"Loh, belum bertemu mereka Abang?" akhirnya bersuara dan mata berkaca-kaca.
"Belum Mah ... aku dah cari setiap ruangan di lantai ini namun hasilnya nihil," sahut Ibra wajahnya tampak panik, takut istri dan anaknya kenapa-napa."
"Sebaiknya Tuan Zayn bawa dulu Istri dan nyonya juga tuan Marwan ke mobil. Kasian mereka tampak shock," titah Irfan pada Zayn yang langsung memberi anggukan.
"Hati-hati Pah, Mah." Ibra bersiap mencari keberadaan Laras dan putranya.
Zayn bersama Susi. Juga orang tua Ibra turun dan menuju ke mobil yang terparkir di luar gedung tersebut.
Ibra semakin panik sebab istri dan anaknya tak kunjung di temukan. Hatinya mencelos sedih Kekhawatirannya semakin memuncak, ketika terdengar suara wanita yang menjerit dari atas. Ibra dan Irfan juga anak buahnya bergegas naik ke lantai yang ada di atas. Untuk menemukan suara yang menjerit barusan.
"Sayang?" ketika mata Ibra mendapati istrinya berlutut di depan tuan El yang memegangi sebuah senjata api dan di arahkan ke kepala baby boy.
"Abang, anak kita. Selamatkan anak kita Abang." Laras menoleh ke arah sang suami dengan air mata yang tumpah ruah membasahi wajahnya.
Ibra langsung maju mendekati sang istri. "Lepaskan putra ku. Katakan apa mau mu? berikan dia padaku." Ibra memohon.
Geph!
Bahu Laras di dekap erat oleh Ruswan, menguncinya dari belakang dan di bawa mendekati tepian lantai. Laras menjerit dan meminta tolong pada Ibra. "Abang? tolong!"
"Ruswan. Lepaskan istri ku!" teriak Ibra yang semakin panik dan mencoba meraih Laras.
"Ha ha ha ... jangan coba-coba mendekat, karena bukan cuma aku yang jatuh ke bawah tapi juga istri mu yang cantik ini," ungkap Ruswan yang sengaja berdiri di bibir balkon tanpa pagar itu. Ketinggiannya lebih dari 25 meter bikin hati jadi miris dan degdegan.
"Kurang ajar, beraninya cuman sama wanita, dasar banci kau!" Ibra mengeratkan giginya. rahangnya mengeras. Tangan yang menggantung pun mengepal kuat. Kemudian mengalihkan pandangannya pada baby Satria.
"Oa ... oa ... oa ..." suara baby boy menangis di tangan anak buah taun El, tepat di dekat tuan El sendiri.
Ibra semakin khawatir. "Tolong lepaskan putra ku. Aku akan memberi apapun yang kalian mau." Jelas Ibra.
"Aku mau istri mu, apa boleh juga?" sambung Ruswan sambil menyeringai.
"Lepaskan istri ku?" Hardik Ibra. Namun Ruswan hanya tersenyum puas pada Ibra.
"Mau saya itu simpel, kau harus menyerahkan sejumlah perusahaan mu padaku. Dan tandatangani dokumen sebagai pengalihan nama, ha ha ha ...."
"Dasar tamak, serakah. Penjahat," pekik Ibra yang kanan kirinya di pegang orang suruhan tuan El itu.
Laras yang berdiri di tepi balkon dalam tawanan Ruswan. Hatinya dibuat berhenti bernapas ketika melihat ke bawah dari ketinggian. "Abang ... tolong aku!" wajahnya sangat pucat pasih.
__ADS_1
Ibra pun berontak dari dari anak buah penjahat. Namun Ibra kalah kuat.
"Tolong lepaskan aku dan juga anak ku! aku mohon!" suara Laras memelas pada Ruswan.
"Saya akan melepaskan mu. Kalau kau mau menjadi istri ku cantik." Balas Ruswan tepat di dekat telinga Laras.
"Jangan gila. Aku bersuami Ruswan. Kau gila terobsesi sama istri orang." Laras menggeleng. Namun otaknya kini berputar gimana caranya ia bisa lepas sementara saat ini posisi mereka seolah berada di sisi jurang. Kalau sampai terjatuh tak ada harapan tuk selamat.
Baby boy terus menangis dalam tawanan anak buah tuan El yang tidak perduli dengan tangisnya. "Gimana tuan Ibra yang terhormat? tandatangani beberapa dokumen itu. Kalau anak dan istri mu mau selamat Sebab saya tidak akan segan melemparkan anak ini. Oh, iya saya baru ingat. Bukankah di dalam surat kontrak tertulis kalau anak ini sudah lahir bukan lagi anaknya Laras melainkan Dian. Berarti anak ini milik Dian dong."
"Tidak. Itu tidak benar dan apa urusannya dengan mu?" pekik Laras, matanya melotot dengan sempurna.
Ibra pun tak terima dengan perkataan tuan El barusan. "Semua itu tak ada urusannya dengan mu, dan semua sudah selesai. Tak perlu kau mengungkitnya." Ibra semakin marah. Tangannya sudah gatal ingin menampar orang itu.
Laras mendapat ide untuk melepaskan diri dari Ruswan. Ia menghela napas panjang dan berusaha tenang dalam berbicara. Sebelumnya mengusap pipinya yang basah. "Kau beneran ingin memiliki ku Ruswan?"
Ruswan menyeringai namun tangannya masih mengunci dekapannya dari belakang. "Tentu cantik aku sangat ingin memiliki mu seutuhnya."
"Em ... baiklah. Aku mau menikah dengan mu," ucapan Laras mampu sedikit memudarkan tangan Ruswan. "Aku mau jadi istri mu. Namun aku mohon berikan anak ku, kasihan dia nangis terus aku gak tega dan dia membutuhkan ku saat ini," ujung mata Laras melirik baby boy yang terus menangis.
"Apa-apaan nih sayang? Ih ... lepas." Ibra terbakar api cemburu sambil berusaha berontak lagi.
Laras sedikit membalikan badannya. Dengan nakal mengelus pipi Ruswan. "Aku akan jadi istri mu percayalah. Bilang sama tuan itu lepaskan anak ku, dan tidak perlu khawatir kalau dia juga akan mendapatkan yang dia inginkan."
"Hah. Tapi saya tidak percaya, kamu pasti bohong kan?" Ruswan menatap ragu.
Lagi-lagi Laras menghela napas dalam. "Tidak perlu ragu. Aku sungguh-sungguh," sambil terus mengelus pipi Ruswan.
Pikiran Ruswan langsung dihinggapi rasa picik dan ingin puas. "Oke, tapi agar aku yakin. Aku minta sebagai buktinya dan cium lah aku di hadapan suami mu itu."
"Ha? gak salah. Sial kena jebakan betmen nih." Batin Laras merutuki dirinya sendiri.
"Baiklah. Aku bersedia, di mana? pipi, hidung atau kening atau juga bi-bir?" pertanyaan yang sangat memalukan. "Tapi ... menjauhlah dari sini. Aku takut ketinggian." Rayu Laras tanpa nego.
"Ha ha ha ... lihatlah Ibra! istrimu yang pendiam dan santun. Akan berubah jal**g dan kau akan menyaksikan adegan mesra ini tepat di depan mata ha ha ha ...."
"Ha ha ha ... segitu nyalinya Tuan Ibra. Prok-prok, prok." Bertepuk tangan puas. Tuan El menyuruh anak buahnya menyiapkan berkas untuk Ibra tandatangani.
Ruswan dan Laras sudah menjauh dari bibir balkon ke tempat yang leluasa. "Ayo sayang. Cantik, buktikan padaku kalau kau sungguh-sungguh." Pinta Ruswan.
Semua mata mengarah pada Laras dan Ruswan. Apa benar Laras akan seberani itu mencium dan mengikuti kemauan bejat Ruswan?
"Tapi. Bagaimana aku bisa melakukannya? kalau untuk bernapas saja aku begitu sulit." Keluh Laras dengan sikap yang tenang. Walau harus menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Dalam hati terus meminta pada yang maha kuasa agar diberi pertolongan.
Ruswan pun semakin memudarkan tangannya di bawah leher Laras dan membuat posisinya berhadapan. Wajah Ruswan tersenyum puas.
"Ya Allah ... tolong kami jangan sampai ini terjadi. Jangan sampai aku menyentuhnya, jangan sampai." gumamnya Laras dalam hati sambil menunduk dan memejamkan matanya.
Ini salah satu tindakan yang menegangkan bagi Laras, sama menegangkannya dengan tadi ketika dia berdiri di tepi ketinggian, serasa bikin jantung berhenti berdetak.
Begitupun Ibra. Ia begitu tak rela melihat sang istri diperlakukan begitu sama Ruswan. Jantungnya berdegup begitu kencang. "Dasar picik, bajingan." Pekik Ibra sambil mengeratkan giginya.
Namun tak di hiraukan Ruswan sama sekali, ia malah menyodorkan wajahnya ke Alatas. Ketika Laras bersiap untuk mencium bibir Ruswan karena tidak mau di pipi.
Bug!
Gubrak!
Geph!
Irfan yang entah dari mana datangnya menyerang secara tiba-tiba orang yang menyandra baby boy. Sehingga orang itu tidak bergeming di lantai, sementara baby boy berpindah tangan ke tangan Zayn Irfan langsung menendang tangan tuan El yang bersiap melepas pelatuk senjatanya sehingga benda itu terpental entah kemana.
Ibra pun dengan cepat menginjak dan menonjok orang yang memeganginya lantas merah tangan Laras hingga menabrak dadanya. Dengan sekilat Kaki kanan Ibra menendang Ruswan yang lagi-lagi kena barangnya.
Hek!
__ADS_1
Ruswan terjatuh kebelakang menangkupkan tangan di daerah inti nya.
"Sayang ambil baby boy dan menjauh dari sini, cepat sayang!" perintah Ibra.
Laras yang merasa lega. Secepatnya mengambil baby boy dari Zayn dan menjauh dari sana.
Geph!
Zayn menangkap tangan Ruswan agar tidak kabur, sebelum polisi datang.
Ibra berkelahi dengan kaki tangan tuan El. Irfan masih menghadapi tuan El yang terus membabi-buta menyerang Irfan.
Kini Ibra yang berkelahi dengan tuan El saling tonjok, saling jambak. Berguling di lantai.
Tuan El bergelinjang berdiri di susul oleh Ibra. "Saya tidak suka kamu selalu menang di setiap tender. Bisnis mu selalu melonjak tinggi, kamu selalu menang, saya gak suka kamu selalu mengalahkan ku." Tangannya diangkat ke atas mengarahkan pistol ke arah Ibra.
Membuat Irfan dan Zayn panik. Jantung rasanya mau copot.
"Saya selalu gagal untuk menghancurkan keluarga mu, dan kini saya akan langsung melenyapkan mu. Ha ha ha ... tentunya dengan tangan ku sendiri." Lanjut tuan El. Tangannya menyatu lantas menarik pelatuk senjatanya.
Jantung Ibra seolah melompat dari tempatnya, ia mengangkat tangan. "Jangan nekad Tuan El, jangan sampai kau menyesal. Sebab jika kamu nekad, justru anda yang akan menuai hasilnya."
"Saya tak akan pernah menyesal dengan kematian mu, malah saya akan merasa sangat puas. Ha ha ha ..." tuan El tertawa sehingga suaranya bergema di tempat tersebut.
Dooor ....
Suara pistol yang di lepaskan. Membuat semua seolah berhenti bernapas. Laras pun muncul langsung memanggil Ibra.
"Abang ...."
Namun ternyata peluru bukan bersarang ke tubuh Ibra melainkan ke udara.
"Ha ha ha ..." tawa puas tuan El.
"Aku mohon Tuan. Jangan sakiti suami saya." Laras memelas sambil menggendong baby Satria. Untung Laras di pegang Zayn dan Irfan, kalau saja tidak dihalangi dua pria itu Laras pasti menghampiri Ibra.
"Aku mohon jangan sakiti suami ku," ulang Laras sambil menangis tersedu.
Dooorr ....
Dooorr ....
Suara tembakan yang dilepaskan. Membuat semua mata tertuju pada Ibra.
Seiring jeritan Laras yang memanggil. "Abang ....."
Namun Ibra masih berdiri dengan tegak hanya kepala sedikit menunduk dan kedua tangannya menutupi kedua telinga. Semua kaget sebab yang tumbang malah tuan El dan tubuhnya terjatuh ke bawah dari ketinggian gedung tersebut.
Polisi yang datang tepat waktu. Menembak kaki tuan El yang kebetulan sekali dia berdiri tepat tidak jauh dari bibir lantai balkon. Maka ketika terjatuh tubuhnya langsung tumbang, melayang terbang dari ketinggian lebih dari 25 meter itu.
Brug!
Tubuhnya tergeletak di atas mobil dengan darah yang keluar banyak, dia meninggal di tempat.
Laras berhambur memeluk Ibra. "Masya Allah, Abang!" dia menangis dan merasa lega. Kalau Ibra selamat dari bayang-bayang maut.
Ibra masih tak percaya kalau ia masih bernyawa dan baik-baik saja. Namun tangannya membalas pelukan sang istri dan juga putranya, lantas memberi kecupan di pucuk kepala Laras serta mengusap kepala baby Satria. Lalu mengucap syukur bahwa Allah masih menjaganya.
Zayn dan Irfan menghela napas lega sekarang, kemudian mendekati. Tangan Zayn menepuk bahu Ibra seraya berkata. "Alhamdulillah ... kau selamat Bos!"
Ibra pun menghela napas dan menghembuskan nya dengan panjang, tanpa terasa air bening menghiasi kelopak matanya. Memeluk erat istri dan anaknya.
Polisi segera mengurus para penjahat dan korban yang sudah berada di bawah ....
****
__ADS_1
Sudah membaca kan? jangan lupa like nya komen nya,🙏