
"Bagus," jelas Dian, kemudian mereka berjalan, pergi meninggalkan Laras yang masih meringis! dengan tujuannya masing-masing.
Laras memandangi langkah mereka seraya memegangi kepalanya. "Sepertinya permasalahan baru dimulai. Aku harus sabar menghadapi mereka."
Laras menghela napas dalam-dalam, kemudian langkahnya kembali ke dapur. Ia merasa bosan, dan ingin membuat cemilan buat dirinya kali aja ada bahan yang dia perlukan di sana.
Laras menghampiri laci-laci di dapur mencari bahan-bahan, matanya menatap isi laci. "Aku buat cemilan apa ya?" menggembungkan kedua pipinya. Ia seakan berpikir apa yang harus dia buat.
"Ah ... iya aku mau bikin puding saja," gumam Laras. Kebetulan bahan-bahan buat cemilan apapun ada dengan lengkap.
"Nyonya mencari apa! buat apa berada di dapur?" suara bu Rika mengagetkan Laras yang mengambil bahan puding, sehingga yang Laras ambil terjatuh saking terkejutnya.
"Oh maafkan saya Nyonya, sudah membuat anda terkejut," bu Rika langsung mengambil yang jatuh dari tangan Laras.
"Oh, tidak apa Bu," sahut Laras memegang dadanya yang merasa kaget.
"Nyonya mau apa?" menatap bahan puding itu.
"Em ... saya bosan ingin ada kegiatan, dan pengen bikin cemilan, boleh, kan Bu?" tatapan Laras penuh harap.
Bu Rika termenung sebentar. "Apa tidak akan membuat Nyonya capek?"
"Tidak Bu Rika, aku hanya ingin membuat puding, boleh ya?" lagi-lagi Laras bertanya.
"Baiklah, tapi haris ada yang membantu."
"Tidak! tidak usah Bu Rika. Saya bisa sendiri, biar yang lain mengerjakan tugasnya," jawab Laras dengan cepat.
"Oke, baiklah, silahkan anda berkreasi," bu Rika mengangguk.
Laras mengambil celemek dan di pakainya, bu Rika pergi entah kemana. Tinggallah Laras berkutat sendiri di sana, dengan lihainya membuat puding kesukaannya. Selesai di masak menyiapkan cetakan yang cantik dituangnya perlahan kemudian dimasukan ke lemari pendingin biar cepat jadi.
Laras merasa puas dengan hasil kerjanya. "Alhamdulillah ... selesai juga tinggal menunggu dingin dan mengeras. Uuh ... wanginya melayang di udara menyeruak ke rongga hidungku, sudah tak sabar ingin mencicipinya."
Sambil menunggu hasil yang lebih memuaskan Laras berjalan-jalan di sekitaran sana.
"Nyonya, tuan Zayn mencari anda," suara bu Rika dari belakang Laras. Yang berdiri menghadap jendela kaca besar melihat pemandangan dari sana.
__ADS_1
Laras menoleh ke sumber suara bu Rika, di sampingnya adalah sekertaris Ibra. "Ya ada apa?" mata Laras menatap mereka.
Bu Rika menunjuk Zayn, Zayn itu nama samaran, karena nama aslinya adalah Yudy. Entah kenapa Ibra sering memanggilnya dengan nama Zayn.
"Ini saya ingin menyampaikan titipan hadiah dari tuan Ibra untuk anda," memberikan sebuah paper bag pada Laras.
Laras mengambilnya dengan ragu. "Apa ini, hadiah apa?" Laras merasa bingung, kok tiba-tiba Ibra memberi hadiah. Matanya melihat paper bag dan Zayn bergantian.
"Silahkan buka saja Nona, saya mau kembali ke kantor," sahut Zayn lalu membalikan badannya untuk pergi lagi ke kantor.
Dengan hati yang berdebar. Laras membuka paper bag. Sebelumnya duduk terlebih dahulu, setelah di buka, di dalamnya ada sebuah handhephone baru. Kartu ATM dan secarik kertas yang bertuliskan?
"Mataku sakit bila setiap kali melihat ponsel mu, yang sudah jadul itu dan layarnya retak pula, di dalamnya sudah berisi simcar kau tinggal menggunakan saja, di sana pun sudah ada kontak ku! dan kartu ATM, pin nya tanggal pernikahan kita, kau gunakan untuk keperluan mu, beli pakaian yang bagus, kecantikan dll."
Begitu isi secarik kertas itu. Laras termangu "Padahal uang bulanan dari Kak Dian juga masih ada kok, sisa aku kasihkan pada bu panti kalau sekedar buat pegangan cukup kok," gumam Laras, melirik kanan-kiri tidak ada orang, bu Rika pun Entah kemana.
Laras beranjak dari duduknya menjinjing paper bag menuju kamar miliknya. "Enak saja bilang sakit mata, emang matamu belekkan apa? gaya! mentang-mentang orang kaya," gerutu Laras sambil berjalan.
"Ada apa Nyonya, apa ada masalah?" tegur Susi membuat Laras seketika menoleh.
"Eh ... Susi! aku kira siapa." Laras nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Ah ... tidak, tidak ada apa-apa, kamu sedang apa di sini?" Laras menatap Susi yang hanya membawa tangan kosong.
"Susi habis menyiram bunga di atas Nyonya," sahut Susi menatap tangan Laras yang menjinjing paper bag.
"Oh ini dari Tuan Ibra." Laras menaikan paper bag yang di tenteng nya.
"Oh dari tuan," Susi mengangguk-anggukan kepalanya. "Susi pergi dulu Nyonya, mau meneruskan kerjaan yang lain."
"Iya silahkan Susi." Laras tersenyum ramah, kemudian melanjutkan langkahnya.
Baru mau duduk di sofa, ponsel baru Laras berdering. "Siapa, kan tidak ada yang tau no baru aku?" matanya menatap paper bag lalu mengambil ponselnya, nampak yang memanggil kontak Love. "Siapa?"
Dengan ragu. Laras menggeser ikon yang warna hijau. "Halo?"
"Lama amat ngangkatnya?" suara yang di sebrang sana, tidak lain adalah Ibra.
__ADS_1
"Oh, m-maaf Tuan. A-aku gak tau kalau yang telepon itu Tuan," sahut Laras agak terbata-bata.
"Kalau di telepon langsung angkat."
"Iya Tuan," timpal Laras kembali. "Ada apa Tuan tumben telepon? tanya Laras heran.
Terdengar Ibra berdecak. "Emang ada larangan saya menghubungi dirimu? terus buat apa saya belikan kamu handhphone mahal-mahal kalau hanya buat kau teleponan dengan lelaki lain! percuma lah," sambung Ibra dengan nada kesal.
"Astagpirullah ... gitu amat ngomong nya Tuan, saya tidak ada keperluan dengan laki-laki lain Tuan! lagian ponsel lama juga masih berpungsi kok. Buat apa beli ponsel baru, buang-buang uang saja, mendingan di pake pada hal-hal yang lebih bermanpaat."
"Terserah kamu lah, sudah di belikan masih tidak bersykur!" sambung Ibra lagi.
"Maafkan. Aku Tuan ... aku ucapkan terima kasih banyak, handhpone nya, ATM nya juga, aku akan simpan dengan baik Tuan."
Ck ck ck. "Digunakan Nona bukan di simpan, saya tidak mau ya kamu paling kucel diantara istriku yang lain. Nanti di kira saya suami yang tidak adil."
"Ku...cel? apanya yang kucel sih, rapih dan bersih juga wangi, enak saja di bilang kucel, tadi bilang sakit mata lihat ponsel ku. Sekarang bilang aku kucel, se'enaknya saja ngomong nya," gumam Laras pelan namun terdengar oleh orang berada di seberang sana.
"Apa! kau bicara apa?"
"Hah ... ti-tidak Tuan, tidak bicara apa-apa."
"Tidak bicara apa-apa! jelas-jelas ngedumel, sebentar lagi saya pulang. Siapkan air hangat jangan lupa aroma terapinya masukan."
"Haa ... air hangat, siang-siang gini? gak salah Tuan?" ucap Laras heran.
"Aduhh ... jangan banyak tanya, kerjakan saja."
"Baik Tuan." Laras merengut.
Beberapa detik kemudian sambungan telepon pun terputus, Laras menyimpan ponsel diatas sofa. Dia menyisir rambutnya yang di kuncir kuda agar terlihat rapi.
Melirik putaran jam sudah menunjukan pukul 11.20 wib, artinya kepulangan Ibra kurang lebih sekitar satu jam lagi. Laras memutuskan untuk mandi lebih dulu, biar nanti kalau Ibra pulang ia sudah rapih dan wangi. Gak dibilang kucel lagi.
Teriknya matahari seolah membakar kulit, namun Ibra malah berendam di air hangat yang sudah disiapkan oleh Laras. Tak ketinggalan aroma terapinya Laras bubuhkan di sana.
,,,,
__ADS_1
Hi ... reader ku semua, ketemu lagi ya sama aku di novel ini, yuk dukung aku agar novel ini lebih baik dari karya sebelumnya, terus ikuti aku, dukung aku ya, jangan lupa like, komen, rate nya dong, semoga Allah mengganti segala kebaikan kalian dengan yang lebih-lebih Aamiin, ayok doong bantu aku agar lebih semangat lagi menulisnya.🙏