
Ibra berbincang dengan seseorang di telepon, kemudian menoleh Laras yang terus menatap heran. "Aku, harus segera balik ke kantor. Jaga diri baik-baik ya? besok aku akan kembali, pokoknya aku tidak ijinkan kamu berkerja."
"Tapi ..." gumam Laras bingung.
"Atau ... gini aja, aku akan pikirkan itu, kalau kamu tetap kekeh. Oya sekarang aku transfer uang untuk segala kebutuhan di rumah ini, sebab sekarang kamu yang mengendalikan atau mengaturnya. Kalau kurang bilang aku ya?" cuph mendaratkan ciuman hangat di kening sang istri.
Laras pun meraih tangan Ibra dan mencium punggung tangannya.
"Aku pergi dulu ya?" mengusap pipi Laras, kemudian turun mengusap perut sang istri.
Laras mengikuti langkah Ibra di belakang, Ibra mengambil laptop yang masih di meja. Menoleh ke arah Laras yang hendak mengantarnya.
Ketika melintasi Susi, Ibra hentikan langkahnya. "Susi, titip Nyonya muda ya? saya pergi dulu, besok baru saya kembali lagi."
"Oh, baik, kalau Tuan ... nanti malam pulangnya ke ibu Dian. Jadi waktu berkunjung ke sini siang aja ya Tuan?" tanya Susi menatap penasaran.
Ibra dan Laras saling bertukar pandangan. Kemudian Ibra menoleh kembali ke arah Susi. "Iya. Kalau saya mau, malam juga bisa."
"Oh, berarti ... Tuan lagi gak pengen ketemu malam ya? sama Nyonya muda." tanya Susi lagi.
Ibra jadi bingung harus jawab apa. "Em--"
"Susi, tolong angkat jemuran di belakang, tadi aku lihat masih ada di sana," ucap Laras mengalihkan pembicaraan Susi dan Ibra.
"Oh, iya Nyonya muda. Susi laksanakan." Susi beranjak dari sofa dan pergi ke belakang.
Ibra tersenyum menoleh ke arah Laras. "Pintar. Heran, kok si Susi jadi agak mudeng gitu." Ibra menggeleng pelan.
"Sudah tau gitu, suka di kerjain juga, aneh." Laras menggelengkan kepala sembari mengulas senyumnya.
"Bukan ngerjain sayang, itu iseng," gumam Ibra sambil merangkul bahu Laras dan berjalan ke teras.
Di teras Ibra langkahnya terhenti, berdiri dan berhadapan dengan Laras. "Aku pergi dulu ya?" mengusap pucuk kepala Laras. Pandangannya tertuju pada bibir Laras yang merah natural selalu menggoda untuk di sentuhnya.
Laras menjauhkan wajahnya dari wajah Ibra. Ia sudah tau apa yang ingin dia lakukan itu. "Sudah, pergi aja ...."
"Kamu mengusir ku?" tatapan Ibra lekat pada Laras menggeser tubuhnya. Hingga keduanya berjarak.
"Iya, nanti keburu sore, pergilah," jawab Laras sembari mengukir senyum di bibirnya.
"Emuah, gemas ..." mencium pipi Laras tanpa aba-aba.
"Ih ... suka mendadak gitu bikin kaget," sambil mengusap pipinya yang lembab.
"Kalau gak mendadak pasti di tolak. Besok siap-siap ya?" ucap Ibra sambil melangkah memasukan laptopnya ke dalam mobil.
Laras mengernyitkan keningnya. "Apaan?"
"Em ... hari ini aku belum sempat menengok baby ku," kata Ibra sambil menyeringai. Membuat Laras mendelik.
"Sana pergi, nanti istri mu mencari," sambung Laras. "Hati-hati."
"Oke, jangan lupa ya?" Ibra mengitari mobilnya. Lalu duduk di belakang kemudi. "Oya, nomor rekening Dian sudah aku kirimkan, terserah kamu mau balikan juga uang nya."
Kemudian Ibra menyalakan mesin dan tancap gas, memutar kemudi. Kepalanya mengangguk pada Laras, dan akhirnya mobil melaju dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Laras kembali masuk, setelah mobil Ibra menghilang dari pandangan. Menutup pintu dan mendapati Susi sedang menonton televisi.
"Tuan sudah pulang nya Nyonya?" tanya Susi sambil tangannya melipat pakaian.
"Sudah." Laras duduk di sofa depan Susi.
"Nyonya, mau di masakin apa buat malam ini?" tanya Susi yang sekilas melirik ke arah Laras.
"Em ... terserah kamu saja, aku masih kenyang deh." Laras menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Nyonya, masih kenyang karena di kasih pisang cinta ya sama Tuan?" tanya Susi sembari nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
"Nggak, ups," jawab Laras dengan cepat. "Mulai nih Susi, hadeh ..." Laras menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal.
"Oo, tidak, tapi tadi Nyonya dan tuan mani basah?" gumamnya Susi bingung.
"Susi ... emang ada ya mandi kering? gak ada kali ah ... namanya mandi ya basah."
"He he he ... iya-ya lupa," sahut Susi, membawa pakaian untuk ia bereskan.
Laras ke kamarnya, mengambil ponsel dan duduk di tepi tempat tidur. Membuka kiriman chat dari Ibra, notifikasi masuk uang transferan dan nomor rekening Dian. Setelah menyimpan nomor itu, Laras langsung mentransfer uang Dian yang pernah ia terima.
"Setidaknya aku tidak berhutang lagi pada Dian, aku gak mau menerima lagi uangnya dengan alasan apapun. Sekarang aku harus nabung buat lahiran nanti dan bukan uang dari Dian, kalau aku menerima dan memakai uang Ibra itu wajar, dia suami dan ayah dari anak ku." Ungkapan hati Laras.
Laras menatap layar ponsel menunggu kiriman transfer berhasil, akhirnya pengiriman berhasil. Hati Laras pun lega, ia menghela napas panjang. Kemudian bergegas ke kamar mandi. Mau mengambil air wudu.
Saat ini Laras sedang berada di depan televisi yang tepatnya di ruang tengah. Laras merasa lapar namun malas makan di rumah. Sementara Susi pun tidak masak, dengan alasan masakan yang siang juga masih ada.
"Sus, kalau sekiranya masakan masih banyak coba kamu lihat-lihat, kali saja ada yang membutuhkan makan kasian. berikan saja. di sini kita cuma berdua." Laras menatap ke arah Susi.
"Em ... gitu lah, yang jelas jangan buat makanan kita mubazir oke?" sambung Laras sambil memainkan ponselnya.
"Oke, Nyonya. Susi mengerti." Susi mengangguk.
"Lapar, jalan yu? cari makan di luar, cari sate atau apa gitu," ajak Laras menatap Susi yang anteng menonton televisi.
Sesaat kemudian Susi menoleh. "Boleh, Nyonya mengajak aku?" menunjuk hidungnya sendiri.
Laras celingukan, lihat kanan dan kiri. "Kamu pikir di sini ada siapa lagi kalau bukan kita berdua?"
"He he he ... gak ada lagi," Susi menjawab dengan nyengir.
"Yu, kita jalan?" Laras mengambil kunci mobilnya di kamar.
Susi mematikan televisi. Dan menyimpan gelas dan juga sampah snex ke dapur.
Laras, kembali dengan mengenakan jaket melekat di badannya, penampilan simpel. rambut di kuncir di atas.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, lalu Laras melajukan mobil yang sebelumnya memasang sabuk pengaman.
"Kita mau ke mana?" tanya Susi melirik Laras.
"Cari makan. Mau cari apa lagi emang?" sahut Laras sambil memutar kemudi dan tatapan fokus ke jalanan.
Sambil mencari-cari yang sekiranya menambah napsu makan. Hingga akhirnya netra mata Laras menemukan gerobak bajigur. Berkali ia menelan saliva rasanya sudah berasa di tenggorokan.
__ADS_1
"Loh, Nyonya, kok berhenti depan tukang bajigur sih? bukannya mau cari makan." Susi heran memandangi Laras yang menghentikan mobilnya.
"Iya, tapi beli ini juga. Enak kali minum ini malam-malam gini." Laras turun dan memesan dua gelas bajigur.
Sudah minum bajigur, Laras kembali mengemudikan mobilnya, terus mencari makan. Susi terus nyerocos, katanya mau nyari makan tapi malah terdampar di tukang bajigur. Bamun Laras biarkan dia bicara sendiri, dirinya tetap fokus ke depan. Hatinya masih belum tenang, pertama belum ngantongin SIM kedua baru kali ini jalan bawa mobil sendiri.
Sate sudah kelewat, bakso, soto. martabak, ketupat tahu. mie ayam, skuteng. Dll sudah di lewati oleh mobil Laras, Susi terus ngedumel. Sebenarnya cari apa sih? bla-bla gitu seterusnya.
Akhirnya, Laras mengehentikan mobil yang ia kemudikan. Tepat depan toko buah-buahan, Laras turun dan membawa tas kecilnya. Memilih buah durian yang minta di kupas si sana dan langsung memakan di tempat. Susi menolak, ketika Laras tawari. Kanya gak cuka.
"Kamu maunya apa? pilih saja." suruh Laras, terus menikmati duriannya sampai habis satu kepala.
"Susi ... belanja buat di rumah saja ya, Nyonya maunya buah apa aja?" Susi balik bertanya.
"Aku sih, apa juga suka Susi, jadi apa aja boleh." Jawab Laras sembari mengelapkan tisu ke mulutnya.
Susi memilihkan buah yang pada segar-segar, kemudian ia masukan di kantong kresek.
"Berapa Bang semuanya?" tanya Laras pada si penjual buah.
"Semuanya ... Rp 135 Neng." Jawab si abang.
Laras merogoh tas nya mengambil dari dompet dan langsung membayarnya. "Makasih Bang?"
Si abang membalas dengan ramah. Kemudian Laras dan Susi pulang, membawa buah. Di perjalanan pulang ketemu tukang roti bakar, berhenti lagi. Kedua turun nongkrong di sana.
"Nyonya, kayanya mau hujan, sudah mendung nih." Susi mengamati langit yang hitam pekat dan gerimis pun mulai turun.
"Iya sebentar, beli dulu ini Sus ... gak lama kok." Laras mangangguk dan melihat gerimis.
"Hi ... cantik? sini duduk sama kita, kenalan dong!" suara pemuda yang nongkrong di sebelah sana.
Susi menoleh dan memberi senyuman. Sementara Laras tidak merespon sama sekali.
"Eneng cantik yang pake jeket abu-abu, cantik banget boleh dong kita kenalan?" sambung seorang pemuda itu dan menghampiri ke arah Laras.
Laras menundukkan pandangannya, serta helaan napas yang dalam. Tangannya mengusap perut berkali-kali, agar pemuda itu faham kalau dirinya sedang hamil, kan otomatis kalau mereka faham dirinya hamil. Tidak akan menggoda.
Namun sayang, pemuda itu tidak faham akan isyarat yang Laras berikan. "Kok diam saja? Neng kenalan dong," tangan hendak menyentuh tangan Laras yang langsung mengindar.
"Eh, Abang jangan kurang ajar ya, majikan saya punya suami, dan sekarang sedang hamil." Susi menghalangi jarak Laras dan pemuda tersebut.
Pemuda tersebut saling pandang dengan kawannya, lalu menatap ke arah Laras yang hanya diam dan menundukkan pandangannya.
"Sorry, tapi ... boleh dong kenalan? cuma kenalan doang," ucapnya dengan tatapan nakal pada Laras.
"Ih ... saya sudah bilang, kalau dia bersuami! Jadi jangan ganggu dia." Susi kekeh.
Laras mengangkat kepalanya, menoleh dan menarik tangan Susi. "Pulang yu?" ajak Laras.
"Oh, iya Nyonya." Susi memgangguk dan mendelik pada pemuda yang mengajak Laras kenalan barusan.
Selepas membayar roti bakar, Laras dan Susi bergegas masuk ke dalam mobil, yang tadinya mau makan di tempat. Akhirnya gak jadi karena hujan yang mulai turun. Lagi pula tempatnya jadi gak nyaman ....
****
__ADS_1
Hi ... semuanya ... aku up lagi nih, semoga kalian suka dan masih setia menjadi penggemar SKM alias (Surat Kontrak Menikah)