
Laras terdiam, tak sepatah katapun ia keluarkan. Ia biarkan saja mereka mau bicara apa, walau dalam hatinya gondok, kesal dengan candaan Ibra yang bilang tentang istri lebih dari satu.
Pak Marwan pun cuma tertawa, ia tahu kalau Ibra cuma bergurau tidak sungguh-sungguh.
"Mah ... Abang cuma bercanda, Mah ... gak mungkinlah Abang, nikah lagi. Yang ada aja Abang lepaskan, sekarang cukup satu aja, gak mau berbagi lagi. Apalagi mau punya anak, gak Lah, abang berbuat gitu lagi," ujar Ibra sambil menghabiskan makannya.
"Tapi, menikmati. Membiarkan Dian cium pipi kanan dan kiri ya? bukan kah itu sudah bukan muhrim lagi? di peluk, di cium. jadi dapat banyak ya? sayang kalau dibuat mubazir." Celetuk Laras tanpa menoleh pada orang yang dimaksudkan.
Beberapa pasang mata tertuju pada Laras yang asyik dengan makannya. Kemudian mereka saling bersitatap, dengan pikirannya masing-masing.
"Nah, loh ... kena tuh Abang. Dengar istrinya, gak ada wanita yang rela suaminya dengan wanita lain--"
"Mama ... itu tidak disengaja, Sayang gak sengaja," mata Ibra beralih pada sang istri bergantian dengan sang bunda.
"Tidak disengaja itu kamu, mungkin dia yang mau yang sengaja. Jangan naif sayang ... dia masih mengejar kamu. masih berharap rujuk denganmu, Kamu juga jangan ke gatelan. Dekat-dekat dengan dia yang status bukan istri mu lagi, bahkan sebentar lagi ketuk palu juga," tutur bu Rahma panjang lebar.
"Siapa yang ke gatelan, Mah ... ada-ada aja deh Mamah." Elak Ibra menggeleng.
"Itu buktinya, mau aja di peluk cium. Apa namanya kalau bukan--" bu Rahma menggantungkan ucapannya, sebab Laras menaikan tangannya.
"Cukup, Mama. Abang, sudah jangan bahas itu lagi. Kepala ku pusing, kalau Abang mau rujuk aja sana. Mungkin itu lebih baik, daripada aku di anggap merebut suami orang," suara Laras bergetar. Dan ia berdiri menggeser kursinya, berlalu meninggalkan tempat tersebut. Membawa hati yang terasa sakit.
Pak Marwan dan bu Rahma saling bertukar pandangan. "Tuh ... kan. Cepat bujuk istri mu, jangan bikin dia stres. Mama gak mau ya, mantu Mama sampai kenapa-kenapa!"
Ibra pun beranjak mengejar sang istri yang bergegas ke kamar. Dengan langkahnya yang lebar jelas dengan mudahnya menyusul Laras di kamar dan mau menjatuhkan dirinya di tempat tidur.
Geph!
Ibra menangkap tangan sang istri. "Sayang, kenapa jadi merajuk begitu?" tanya Ibra dan mengajak Laras tuk duduk manis bersama di tepi tempat tidur.
Laras tak merespon, melainkan mengusap air matanya yang terus mengalir dan meluncur ke pipinya. Entah kenapa hatinya berasa sakit. Perih dan kesal, seakan kehadirannya itu tiada artinya sama sekali.
"Sayang ... aku cuma bercanda tadi. Sudah aku bilang, cuma bercanda. Tidak sungguh-sungguh. Apalagi balikan atau rujuk, nggak sayang. Jangan merajuk begini, nanti kamu stres terus sakit. Anak kita juga akan ikutan sakit pula, Abang sayang sama kamu. Sama anak kita juga." Tangan Ibra diarahkan ke perut Laras yang buncit.
Tangan yang satu lagi merengkuh bahu Laras ke dalam pelukannya. Mencium kening dengan hangat dan lembut. "Aku janji. Apapun yang terjadi aku akan cuma punya satu istri, ya itu kamu. Bukan yang lain, percayalah. Jangan merajuk lagi, jangan menangis lagi. Nanti kepalanya sakit." Lagi-lagi Ibra menarik kepala sang istri ke lehernya dan mengecup pucuk kepalanya.
Laras hanya diam dan yang terdengar isakan tangisnya, namun ia tak menolak sama sekali dengan perlakuan lembut Ibra padanya. Bahkan wajahnya makin menyusup ke dada sang suami, menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan. Betapa nyamannya berada di dalam pelukan, menenggelamkan wajah di dada bidang sang suami.
Telapak tangan Ibra mengelus punggung Laras dengan sangat lembut. "Jangan suka banyak pikiran. Aku ada di sini, menjaga mu. Besok mau ajak Abang berziarah, kan?"
Kali ini kepala Laras mendongak. Menatap wajah Ibra yang juga menunduk memandanginya. "Beneran Abang mau berziarah?" selidik Laras untuk memastikan pendengarannya.
"Iya, sayang. Abang mau ke sana." Cuph! mengecup kembali kening sang istri dengan singkat.
Hati Laras menghangat dan berbunga. Akhirnya Ibra mau berziarah ke makam orang tua nya, tanpa harus ia mengajak ataupun memaksanya. Bibir Laras mengukir senyuman. "Makasih?"
Mereka saling pandang. Netra mata keduanya dengan intens saling menatap satu sama lain. Kemudian kedua tangan Ibra membingkai wajah cantik sang istri, jarinya sedikit mengelus pipinya yang lembut nan halus. Saking halusnya semut pun terpeleset enggan nempel di sana.
"Jangan banyak pikiran lagi ya? Aku hanya milik mu seorang. Hanya milik mu, tiada yang lain lagi." Menyentuhkan hidungnya dengan hidung bangir Laras, lalu turun ke bibir.
Laras memejamkan mata, membayang bayangan Dian. Memeluk dan mencium sang suami tanpa rasa canggung. Ia menjauhkan wajahnya dari Ibra.
Ibra merasa heran. "Kenapa lagi?" suaranya sangat lembut dan sedikit bergetar.
Laras balas dengan menggeleng dan menunduk, tak berani menatap mata sang suami. Hatinya kembali kesal. Kecewa.
"Ya sudah, kita salat isya dulu. Setelah itu kita istirahat." Ajak Ibra, menarik tangan Laras diajaknya ke kamar mandi. Ibra menghela napas berat. Bisa-bisa gagal nih untuk mendapatkan jatah malam ini.
Laras mengekor di belakang Ibra. Di bibirnya terbesit sebuah senyuman, yang entah sebab apa.
Selepas keduanya berjamaah salat isya. Laras berbaring dan menarik selimutnya sampai menutupi dada. Ibra yang juga berbaring setelah menekan remote pengendali lampu dan menggantinya dengan sinar lampu temaram. Melirik sang istri yang malah membelakanginya.
Ibra baring terlentang dan wajahnya sedikit menghadap ke arah sang istri. "Sayang, gak ngasih kah malam ini?"
Laras pura-pura menguap dan ngantuk. Pura-pura pejamkan mata serta merekatkan selimutnya. Tak membalas ucapan sang suami.
Lama Ibra menunggu jawaban. namun tak ada respon dari sang istri. "Tak kasihan kah sama suami mu ini, sedari sore loh tegang. Bikin pusing sayang," menempelkan dagu di bahu sang empu yang juga tak merespon.
Ia sendiri kali ini risih kalau harus memaksakan kehendak, meskipun hasratnya sedang naik-naiknya. Dan tegang sedari tadi, matanya sekilas mengintip sang istri yang tampaknya sudah terpejam.
Laras pura-pura tidur. Namun di bibirnya terbit sebuah senyuman, mendengar suaminya merajuk.
Ibra frustasi. Tidurpun gedebag gedebug, baring kanan dan kiri. Jelas terdengar oleh Laras orang gak tidur. Namun sengaja Laras biarkan.
__ADS_1
Kemudian Ibra bangun. Meraih laptopnya, ia buka dan berselancar mencari kesibukan di sana. Namun keinginannya gak bisa di palingkan dengan apapun, hasrat yang menguasai dirinya benar-benar menyiksa. Ia tutup kembali laptop itu, di simpan pada tempatnya kembali.
Meraih segelas air mineral di meja, ia teguk sampai tandas. Keringat dingin pun keluar dari sekujur tubuhnya. Laras membuka mata, ia merasakan kegelisahan yang Ibra rasakan saat ini.
Lama-lama Laras merasa kasihan juga. "Ya allah ... berdosa kah aku?" menatap langi-langit kamar. Kemudian membalikkan badan menoleh ke arah suaminya yang tampak gusar.
Ibra yang merasa salah tingkah, sangat tersiksa dibuatnya. Tidur miring salah, terlentang gak nyaman. Tengkurep apa lagi. Akhirnya ia bangun kembali namun melirik ke samping, istrinya sudah menghadap dan menatap sayu ke arahnya. "Sayang?" gumam Ibra sambil mendudukkan tubuhnya dengan tegak.
Laras mengulas senyumnya, lalu menggerakkan manik matanya ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 00.00, tadi mulai mau tidur itu sekitar pukul 20.30 sampai sekarang belum sekejap pun pejamkan mata.
"Abang kenapa belum tidur?" tanya Laras penuh selidik. Dan pura-pura gak tahu.
Ibra mengalihkan pandangan ke lain arah. "Em, tidak pa-pa belum ngantuk aja." Jawabnya sekenaknya aja. Kakinya turun hendak ke kamar mandi.
Tangan Laras menangkap tangan Ibra. "Mau ke mana?"
"Ke toilet. Pengen kencing."
"Jangan lama-lama," pinta Laras, dan segera melepaskan tangan Ibra.
Ibra menatap datar sang istri. "Kenapa? tidur aja duluan nanti kesiangan sayang." Lalu melanjutkan langkahnya.
"Hem," dengus Laras.
Sekitar sepuluh menit. Ibra keluar dari toilet, matanya mendapati sang istri duduk bersandar di bahu tempat tidur dan memandangi dirinya.
Ibra merangkak naik. "Kok belum tidur?" menarik selimut sedikit.
"Belum, kok lama di toiletnya?" selidik Laras dengan lirihnya.
"Sakit perut," jawab Ibra tangannya merengkuh bahu Laras ditariknya ke dalam pelukan.
"Masih sakit perutnya?" Laras mendongak sesaat.
"Sudah nggak." Gumam Ibra dan sedikit memberi kecupan di kening sang istri.
Jemari lentik Laras menari-nari di dada bidang Ibra. "Apa benar? tak ingin kembali pada Dian lagi."
"Tapi kenapa mau, di peluk dan di cium?" gumam Laras dengan nada kesal.
"Sayang, aku rasa itu cuma pelukan biasa gak berarti apa-apa, ciuman juga cuma pipi, gak lebih." Ibra meyakinkan. Tangannya mengelus rambut ikal Laras yang panjang.
"Tapi, aku--" Laras tidak meneruskan ucapannya.
"Cemburu? sayang cemburu kah. Makasih ya? kalau kamu cemburu, itu artinya kamu sayang sama aku. Makasih sayang," lagi-lagi memberi kecupan di kening Laras.
"Hem ... geer."
Wajah Laras di angkat menatap sendu sang suami. Pengen tahu, minta gak? bukankah dia menginginkannya.
Netra mata Ibra bergerak tertuju ke benda kenyal yang merah jambu. Walau di bawah sinar temaram namun terlihat jelas. Ibra menempelkannya dan terkunci di sana. Sebab tak ada respon penolakan, lama-lama bergerak dan me***** nya dengan sangat lembut.
Tangan Laras terus mengusap dada Ibra yang bidang itu dan memainkan benda kecil di sana. Menimbulkan rasa yang aneh Ibra rasakan di tubuhnya.
Sesekali pagutan itu berhenti, saling tatap dalam keremangan. Napas keduanya memburu. Tangan Ibra tidak dapat dipungkiri lagi bergerilya ke mana-mana, terutama di bagian bukit kembar milik Laras yang mengembang di sebabkan kehamilannya. Terkadang terdengar de***** nikmat dari bibir Laras. Walau pelan dan tertahan namun terdengar jelas oleh Ibra.
Membuat Ibra makin bertambah gairahnya. Dalam sekejap tangan Ibra menanggalkan pakaian yang dikenakan Laras, hingga kini tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Kecuali selimut yang menutup tubuhnya, Laras tampak malu-malu.
Setelah menanggalkan semua yang melekat di tubuhnya. Ibra masuk ke dalam selimut, menatap tubuhnya sang istri yang polos dan perut buncit. Namun baginya sang istri terlihat sangat seksi. Tidak buang waktu lagi, Ibra memposisikan dirinya dan me***** bibir sang istri. Turun ke leher dan turun lagi ke dada.
Bergantian dengan tangan yang m****** lembut bukit itu. Setelah puas bermain di dua bukit tersebut, akhirnya ritual utama pun terjadi. Dengan pelan dan lembut penyatuan pun terjadi. Itu terjadi sampai menghabiskan waktu dua jam lebih, sampai-sampai tubuh keduanya begitu lelah, akhirnya tubuh Ibra tumbang juga ke atas tubuh sang istri. Namun benda pusaka miliknya masih berada, tercebur di lembah sang istri.
"Ugh ... capek sekali." Gumam Ibra, lalu berbisik. "Makasih sayang. Aku benar-benar menikmati itu," suara Ibra begitu berat dan terdengar suara napas yang bersahutan dari keduanya memenuhi ruangan itu.
Rasa kantuk pun datang, dan dibarengi rasa lelah. Akhirnya keduanya pun terlelap dan meraih mimpi. Sebelumnya Ibra memposisikan tidurnya saling peluk satu sama lain, selimut di tarik agar menutupi tubuh keduanya dengan baik.
Setelah pagi menjelang. Ibra sudah berlari kecil di jalan komplek. Sementara Laras berjalan santai di belakang suaminya.
Ibra mundur dan mendekati sang istri yang tampak lelah. "Minum dulu sayang," memberikan bolot mineral pada sang istri.
Laras pun mengambil dan meneguknya. "Capek."
"Ya udah, istirahat yu?" Ibra menuntun tangan Laras ke gardu yang kosong dan duduk di sana.
__ADS_1
Masih pagi buta gini, gardu pun sepi. Belum banyak orang yang berlalu lalang, Ibra dan Laras duduk berdua. Tangan Ibra mengusap-ngusap handuk kecil di pundak dan lehernya yang penuh dengan keringat.
Laras melihat suaminya yang mengenakan kaos singlet dan celana pendek sehingga memperlihatkan pahanya yang putih dan berbulu.
"Kenapa sayang?" Ibra menoleh dan menatap Laras.
"Nggak," sahut Laras menunduk.
"Mau pulang apa mau lanjut?" tanya Ibra sambil merangkul bahu sang istri.
"Pulang aja, lelah." Laras nyerah dengan rasa capeknya.
"Baiklah, kita pulang. Kalau gak kuat aku gendong," tawar Ibra lalu berdiri menarik tangannya Laras untuk berdiri.
"Nggak usah, aku masih kuat kok," Balas Laras sambil jalan.
Sekarang mereka jalan santai dengan tangan saling bergandengan tampak mesra sekali. Dari jauh ada sepasang mata memandangi kemsraan mereka berdua.
Ya, Miftah dari jauh memandangi Laras dan Ibra. Ia iri dengan kebahagian keduanya, Miftah menghela napas dalam-dalam. Lalu membuangnya dengan kasar.
Cintanya pada Laras tak berubah sedikitpun, meski ia sudah mempunyai istri dan anak. namun perasaannya tetap sama.
Netra mata Ibra menangkap sebuah pemandangan yang kurang mengenakan. Ia melihat Miftah duduk di atas motornya dengan pandangan tertuju ke arah mereka berdua, Dengan segera Ibra mengangkat tubuh sang istri, di gendongnya untuk pulang. Dan Laras terkesiap dengan refleks tangan Laras merangkul pundak Ibra.
"Bilang dulu napa?" ucap Laras menatap wajah Ibra yang berkeringat.
"Biar cepat dan gak capek," sahut Ibra sambil terus berjalan. Membawa Laras pulang ke rumah.
Miftah yang melihat itu semakin menciut dan panas, bibirnya tersenyum getir. Kemudian menyalakan motor nya, lalu pergi dari tempat tersebut.
Senyum di bibir Ibra pun terbit. Puas melihat Miftah yang berlalu dengan wajah datar tampak biasa.
Setelah sampai di rumah, keduanya langsung bersih-bersih. Kemudian sarapan, kebetulan bu Rahma dan suami sudah sarapan duluan.
Tinggallah Ibra dan Laras. sarapan berdua. Seperti biasa Laras mengambilkan buat sang suami duluan, setelah itu barulah buat dirinya sendiri.
"Bismillah." Laras mulai melahap sarapannya.
"Kapan mau berangakat berziarah nya?" tanya Ibra melirik sang istri.
"Bentar lagi. Setelah makan, Mas Irfan aja yang bawa mobilnya ya?" balas Laras.
"Oke." Ibra mengangguk pelan.
Sarapan pun selesai, keduanya mengakhiri dengan meminum segelas air putih. Ibra menoleh ke arah Susi.
"Sus. Irfan mana?" tanya Ibra penuh selidik.
"Em, Mas Irfan ... barusan mencuci mobil, Tuan. Apa mau Susi panggilkan?" Susi menatap sang majikan.
"Bilang saja. Bentar lagi antar kami ke tempat kemarin, berziarah," pesan Ibra pada Susi sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Oh, baik Tuan." Susi mengangguk hormat. Lalu mengundur diri untuk menemui Irfan yang berada di depan.
Laras berdiri dan mencuci tangan di wastafel. Kemudian mengayunkan langkahnya ke kamar, diikuti oleh Ibra dari belakang.
Ibra duduk dan membuka laptopnya. Sementara Laras mengerjakan duha. Ibra fokus dengan laptop dan urusan kerjanya. Mata fokus ke layar. sementara jarinya sibuk mengetik.
Selepas duha, Laras melipat dan merapikan alat salatnya. Ia simpan di atas laci, mengambil kerudung lantas ia kenakan dengan rapi.
Di balik fokusnya mata ke laptop, masih sempat juga kedua netra mata Ibra mengintip pantulan wajah Laras di cermin yang tampak cantik nan anggun.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Suara pintu di ketuk dari luar. Netra mata Ibra beralih ke daun pintu ....
****
Biarpun satu bab, aku harap kalian puas karena bab nya kan panjang. Makasih reader ku, masih setia, ayu mana dukungannya agar aku tambah semangat lagi.
__ADS_1