Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Amit-amit


__ADS_3

"Oya, kita liburannya setelah ke nikahan Dian ya?" ucap Laras sambil menyandarkan kepalanya di dada Ibra dan tangan Ibra membelai rambut Laras.


"Iya, gimana kamu saja sayang, emang kapan nikahnya?" tanya Ibra.


"Acaranya seminggu lagi." Jawabnya.


"Jadi aku harus puasanya sekitar satu minggu lagi gitu?" menatap wajah sang istri.


Laras mengangkat wajahnya melihat reaksi wajah Ibra. "Terserah, seminggu atau mau sebulan juga gak ada masalah kok."


Tangan kanan Ibra mengelus pipi Laras dengan lembut. "Mana tahan aku sayang kalau segitu lamanya." Menatap lekat wajah sang istri.


"Kan Aku bilangnya terserah, maunya sampai kapan," sambung Laras sambil menunjukan senyumnya.


"Kalau mau aku sih sampai hari ini aja, He he he gak kuat nih," ucapnya sambil nyengir dangan napas beratnya.


Laras memajukan bibirnya. "Hem, mana bisa sekarang." Laras menangkupkan kedua tanganya di kedua pipi Ibra dan jarinya membelai lembut. Netra mata Ibra dan Laras saling pandang mesra, wajahnya terkunci dengan tatapan yang penuh rasa kasih dan sayang.


Kemudian, keduanya berpelukan sangat erat. Tak ada kata yang terucap selain detak jantung yang berdebar dan deru napas dari keduanya.


"I love you?" pada akhirnya kata itu terucap dari bibir tipis Laras yang selama ini tak pernah terucap dari bibirnya itu.


Hati Ibra berbunga-bunga, akhirnya bisa mendengar kata cinta dari sang istri tepat dekat telinganya. Tangan Ibra terus membelai rambut sang istri yang berada di dalam dekapannya. "I love you too." Bisik Ibra.


Lama keduanya saling berpelukan, hanyut dalam perasaan masing-masing. Terbuai dengan suasana, Setelah puas berpelukan. Akhirnya perlahan Laras melepas pelukannya.


Ibu jari dan telunjuk Ibra mengunci dagu Laras. "Benarkah kamu mencintai ku?"


Laras mengangguk pelan, dengan tatapan menunduk tak lagi menata kedua manik mata sang suami.


"Katakanlah satu kali lagi, kalau kau mencintaiku?" goda Ibra sembari tersenyum mengembang.


Namun Laras malah tersipu malu, Ibra menatap lekat wajah sang istri dengan tatapan penuh kasih dan sayang itu.


Kemudian cuph! mengecup pipi Laras kanan dan kiri. "Lapar nih, belum di kasih makan. Sama istri."


Jemari Laras mencubit kecil pinggang Ibra. "Enak saja, tadi pagi apaan? sembarangan!"


"Aw sakit, tadi pagi itu sarapan sayang ..." menjepit hidung bangir Laras.


"Sama aja," jelas Laras, lalu beranjak berjalan maju menghampiri baby boy. Setelah memastikan baby boy tidur nyenyak. Kemudian mengajak Ibra keluar kamar.


"Mama ke mana ya kok sepi?" gumam Laras matanya mencari sang mama mertua. Di sekitar dapur.


"Di luar kali, bertanam. Di mension mana mau bertanam, padahal lahan ada." Jawab Ibra.

__ADS_1


"Belum ada minat mungkin waktu itu, Sus Mama mana?" Laras menoleh ke Susi yang masih menyiapkan menu makan siang di meja.


"Tadi sih di luar sedang bertanam bawang. Sama tuan," sahut Susi sambil menunjuk ke arah luar.


"Oh," bibir Laras membuat.


"Irfan kemana?" tanya Ibra.


"Mas Irfan belum pulang ya Sus?" Laras malah bertanya pada Susi.


"Sepertinya ... belum tuh." Balas Susi lagi.


"Kemana dia?" selidik Ibra.


"Aku suruh ke jalan xx untuk memberikan bantuan sembako," ungkap Laras. Sambil menyiapkan piring dan gelas.


Ibra berjalan keluar lewat jalan belakang, mau melihat ayah ibunya.


Tampak orang tua nya sedang bertanam. "Sedang apa Bu, Bapak? mau jadi petani bawang! di mension lahan ada kok gak pernah mau turun tangan menanam."


"Waktu itu, tak ada minat sayang. Baby boy mana?" sahut bu Rahma dan akhirnya bertanya tentang cucu nya.


"Bobo," balas Ibra, ia berngkok tidak jauh dari kedua orang tua nya.


"Barko belum datang? jemput kita. Mobil Laras dibawa Irfan," ujar pak Marwan. Sambil menyiram tanaman.


"Iya, ini juga beres." Bu Rahma pun beranjak.


Begitupun pak Marwan. Mengikuti sang istri yang berjalan duluan, Ibra berjalan di belakang.


Laras sudah menyiapkan makan buat Ibra. Dengan menu ikan goreng, rendan daging. Sayuran, dadar dan lalapan juga sambal kesukaan Laras.


Mereka pun makan siang bersama, Sudah tak aneh lagi. Ketika waktunya makan, asisten pribadi Ibra datang dan tanpa harus di tawari. Langsung aja ambil posisi dan piring.


Duduk dekat Susi, keduanya jadi rebutan ikan goreng. Padahal ada dua tapi mereka malah merebutkan yang satu.


"Ini punya ku," kata Susi melotot.


"Aku yang duluan ngambil, itu ada satu lagi." Zayn tak mau kalah.


"Enak saja, Susi yang duluan ngambil. Tuan Zayn aja ambil yang itu." Keduanya tidak mau melepaskan ikan yang di tangan.


Yang ada di situ masing-masing menggeleng sambil tersenyum. Melihat kelakuan mereka berdua yang kadang seperti anak kecil rebutan makanan atau mainan.


Ibra menatap tajam keduanya. "Hei, suami istri harus ada yang mengalah."

__ADS_1


Seketika keduanya melepaskan pegangan, akhirnya ikan itu jatuh ke meja. Susi bergidik, Zayn membuang muka sekaligus badannya sedikit membelakangi Susi.


"Amit-amit," mulut Susi komat kamit.


Sementara Zayn, mengambil kembali ikan yang jatuh tadi. Dimasukan ke piring miliknya. Mengambil menu lainnya, lalu makan dengan lahap.


"Bisa gak sih akur, gitu? nanti sepulang dari Bali kalian akan saya nikahkan." Jelas Ibra.


"Apa? Susi mau diajak ke Bali Tuan! wah ... ke Bali, hore. Diajak ke Bali." Susi bersorak senang.


Zayn malah terdiam dan menatap Susi yang tampak bahagia mendengar mau di ajak ke Bali.


"Diajak dong." Timpal Laras sambil tersenyum.


"Kamu, saya ajak. Asal mau menikah sama Zayn, tidak ada penolakan--"


"Nggak mau, Susi mendingan di nikahkan sama mas Irfan. Dari pada dengan Tuan Zayn," protes Susi.


Deg!


"Silahkan kamu nikah sama Irfan mu itu. Siapa juga yang mau menikah sama kamu Susi, saya gak juga gak sudi. Nikah aja sama mas Irfan mu sana," ujar Zayn dengan nada kurang suka gitu. Dan segera berdiri meninggalkan makannya yang belum habis, dia pergi ke depan dengan wajah yang di tekuk.


"Kamana, Nak Zayn? makannya habiskan dulu." Bu Rahma dan pak Marwan memanggil Zayn. Namun Zayn tak menoleh sedikitpun terus saja berjalan.


"Tumben, bersikap seperti itu? biasanya juga cuek dia," ucap pak Marwan heran.


"Apa ... cemburu kali mendengar Susi menyebut nama Irfan." Balas sang istri.


Susi bengong. Ia tidak mengerti dengan yang sedang terjadi, ini bercanda apa serius? kenapa juga Zayn tampak marah ketika menyebut maunya menikah dengan Irfan.


"Irfan itu, sudah punya calon. Jadi kamu sama Zayn saja. Zayn mapan, kamu tidak perlu bekerja lagi di sini toh Zayn bisa mencukupi kamu Sus." Ibra menjelaskan, kemudian meneguk minumnya.


Laras mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dengan ucapan sang suami.


"Tapi, Tuan. Tuan bercanda, kan?" tanya Susi menatap Ibra ragu. Kemudian melihat ke arah Laras yang tersenyum meyakinkan.


"Siapa bilang saya bercanda? Saya serius Sus. Apa kamu melihat di wajah saya sedang main-main?" ucap Ibra dengan tegas.


Susi kian tertegun. Perasaannya entah seperti apa di saat ini, makan pun mendadak tak berselera. Zayn kembali dengan wajah yang masih di tekuk, namun ia kembali melanjutkan makan yang tadi tertunda. Suasana mendadak menjadi tegang atau kaku.


Ibra dan Laras selesai duluan. Begitupun bu Rahma dan sang suami, mereka pun membiarkan Zayn dan Susi di meja makan berdua saja.


Setelah di meja makan itu cuma berdua. Zayn melirik ke arah Susi yang masih bengong memandangi makanan di piringnya. Zayn mencoba membuka pembicaraan ....


****

__ADS_1


Sudah membaca, kan? mana dukungannya. Dan makasih masih setia menunggu SKM up🙏


__ADS_2