Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Pagi-pagi neror orang


__ADS_3

Brak! ....


Suara kaca pecah di depan. Semua yang mendengar berhamburan menghampiri ke tempat suara itu bersumber.


"Suara apa itu?" tanya orang rumah, Ibra, Zayn dan Marwan mendekati kaca jendela yang bolong kena lemparan batu.


"Ada apa sih?" tanya Laras heran, dadanya berdebar takut, cemas, terkejut. Perasaan yang tidak karuan menyelimuti. Ia berpegangan dengan bu Rahma, Susi berdiri dekat Laras. Ketiganya bergetar ketakutan.


Ibra bergegas membuka pintu dan dan berlari keluar. Netra matanya dengan intens mengamati tempat sekitar, namu nampak sepi dan tidak nampak pula orang mencurigakan.


"Sial, siapa yang membuat ulah begini? pengecut. Pagi-pagi dah meneror orang, gak ada kerjaan apa?" gumamnya Ibra sambil kembali ke dalam.


Zayn berjongkok dan mengambil batu yang terbungkus kertas bertuliskan darah. "Tunggu"


Ibra menyambar kertas yang ada dalam genggaman Zayn dan bergumam. "Apa maksudnya dari semua ini?"


Laras, bu Rahma dan Susi saling pandang ketidakmengertian mereka dan tentunya merasa ngeri. Apa maksud orang yang melakukan ini.


Ibra dan Zayn juga pak Marwan masi terdiam dengan mata mengawasi kaca yang yang bolong, masih untuk tidak hancur berkeping. Maklum kacanya tebal.


"Di luar gak ada yang mencurigakan?" selidik pak Marwan pada Ibra yang tertegun.


"Nggak ada, Pa. Di luar aman-aman saja," sahut Ibra. Pikirannya berputar keras, siapa yang telah melakukan ini? sementara ia tidak merasa mempunya musuh.


Zayn berdiri dan semakin mendekat ke jendela. "Ck ck ck, masih pagi buta ... sudah bikin ulah." Zayn berdecak kesal.


Laras menghirup napas dalam-dalam lalu ia hembuskan sangat panjang. Mendingan sarapan dulu ya? sudah siang, kan mau ke kantor."


Ya, soal ini kita pikirkan nanti saja. Kalian mau ke kantor nanti kesiangan," timpal Marwan membalikkan badan bersiap berjalan ke dapur.


Susi sudah menata buat sarapan di meja. Kini semuanya sudah berkumpul menghadapi sarapan, Laras Seperti biasa, Laras mengambil piring dan isinya nasi goreng ayam suwir untuk suaminya.


Namun Ibra tidak lantas makan, ia malah bengong menatap makanan di piring. Hati dan pikirannya kacau, masih heran siapa dan maksudnya apa?


Laras sedih, melihat Ibra malah bengong. Laras berinisiatif menyuapi Ibra yang sedang dihinggapi rasa kecemasan, khawatir kalau sewaktu-waktu akan mencelakai anggota keluarga nya. Terutama Laras di sini, yang jelas-jelas kejadian barusan pun terjadi di rumahnya.


Ibra menatap sang istri yang dengan tulus menyuapinya tanpa memikirkan kalau dirinya juga butuh sarapan. "Di rumah, hati-hati ya?" menyentuh tangan Laras dielus nya lembut.


"Jangan khawatir, insyaAllah aku bisa jaga diri kok. Kamu jangan terlalu pikirin aku, pikirkan juga kesehatan kamu. Nanti kamu sakit gimana?" lirih Laras sambil terus menyuapi Ibra. Sampai tandas.


"Pa, Mah. Titip Laras ya? itu pun kalau kalian tidak ke mana-mana," titip Ibra pada kedua orang tua nya. Menatap bergantian.


Setelah selesai sarapan, Ibra dan Zayn bersiap berangkat kerja. Laras pun mengantar sampai teras dan meraih tangan Ibra, lalu mencium punggung tangannya.


Dengan refleks, Ibra mendekatkan kepala Laras. Lantas mencium kening sang istri. "Baik-baik ya di rumah?" mengelus pipi Laras, lalu turun ke perut.


Ibra berlutut dan mencium perut Laras seraya berkat. "Baby. Jagain Mommy ya? jangan sampai ada orang yang iseng gangguin Mommy."


Tangan Laras membelai rambut Ibra serta merapikannya. "Aku akan baik-baik saja, Abang gak usah khawatir gitu."


Mobil Zayn sudah berkali-kali klaksonnya berbunyi. Ibra menoleh. "Oke, nanti akan ada tukang ke sini, untuk mengganti jendela. Aku pergi dulu ya?"


"Iya, hati-hati," pesan Laras menatap langkah Ibra yang memasuki mobil Zayn.


Sampai mobil melaju, netra mata Ibra memandangi ke arah Laras yang masih berdiri di depan pintu.


Setelah mobil Zayn hilang dari pandangan. Laras mengayunkan langkahnya masuk ke dalam rumah, manik matanya menyapu setiap ruangan. Tidak lupa menutup pintu, pandangan Laras tertuju ke kertas yang jadi pembungkus batu tadi.

__ADS_1


Di kertas itu memakai tinta entah dari darah apa? baunya anyir. "Astagfirullah!" saking terkesiap nya, sampai-sampai kertas itu terjatuh ke lantai. Lantas Menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa sayang?" selidik bu Rahma menghampiri Laras yang sedang berdiri tidak jauh dari jendela.


Laras menoleh ibu mertua. "Ini, Mah. Bau anyir ih, apa coba maksud semua ini ya? Mah."


"Entahlah, apa maksud meneror itu. Sudah, simpan di tempat semula saja, kita gak tahu langkah apa yang akan Ibra ambil selanjutnya--"


"Biar Ibra yang memikirkannya, Laras tidak usah pusing-pusing memikirkan itu semua." Suara Marwan memotong perkataan sang istri.


"Iya, benar kata Papa sayang, kamu jangan banyak pikiran. Nanti stres, Biar Ibra yang mengurusnya." Bu Rahma mengusap bahu Laras. "Kita ... mendingan menyiapkan segala keperluan untuk empat bulanan. Siapa aja yang akan kita undang, terutama ustad atau ustazah komplek sini."


"He he he ... Laras belum tahu, boro-boro ustadz nya Rt/RW saja Laras gak tahu. Sebab yang urus semua Zayn sama abang," jawab Laras tertawa kecil.


"Gimana laku kita datangi saja sekarang rumah pak Rt nya. Sambil mengundang dan bertanya siapa ustadz di sini?" ucap pak Marwan kembali.


"Em ... Mama sama Papa mau mengantar?" tanya Laras menatap kedua mertua bergantian.


"Iya doong sayang. Kita tanya-tanya saja, pasti ketemu kok." Bu Rahma mengangguk dan menunjukkan senyumnya pada mantu dan suami.


"Baiklah, Laras mau duha sebentar, dan bersiap-siap. Malu jika dengan penampilan seperti ini." Mengamati penampilannya yang mengenakan daster.


"Oh, oke ... Mama dan Papa tunggu di sini," ucap bu Rahma yang duduk berdampingan dengan suaminya.


Laras beranjak dari sofa tempatnya duduk. Ia membawa langkahnya menuju kamar dan langsung mengambil air wudu. Selepas menunaikan duha, Laras bersiap pergi ke tempat pak Rt. Ia mengenakan setelan panjang dan kerudung pasmina.


Menyambar tas di meja, kemudian keluar kamar dan menutupnya kembali. "Sus ... aku sama mama dan papa mau ke tempat pak Rt dulu ya? bila agak lama, nanti akan ada tukang untuk mengganti kaca jendela."


"Oh, baiklah Nyonya muda. Wah ... anda cantik sekali dengan penampilan seperti itu?" Susi terkagum-kagum melihat penampilan Laras sekarang ini.


Laras. Membelalakkan matanya, kemudian melihat penampilannya sendiri dari bawah sampai atas. "Biasa aja."


Bu Rahma langsung muncul, khawatir ada sesuatu yang sangat penting. "Ada apa Sus?"


"Ini, Nyonya ... coba lihat Nyonya muda sangat cantik sekali memakai kerudung," ucap Susi sambil menunjuk pada Laras yang masih berdiri di tempat semula.


Kedua netra mata bu Rahma beralih ke arah Laras. "Waw ... masya Allah, cantiknya sayang? Mama mau poto dulu ah, buat IG pasti semua teman Mama kagum, terpesona melihat mantu Mama yang satu ini."


"Mama, bisa aja. Aku jadi malu." Laras tersipu malu. Pipinya bersemu merah.


Bu Rahma mengarahkan kamera ponselnya ke arah dirinya yang berdiri dan memeluk bahu Laras. Berkali-kali mengambil gambar dan langsung ia posting di IG pribadinya. "Ah ... selesai. Tuh-tuh langsung dapat like dan komentar dari kawan Mama."


"Ma ... sudah siap belum nih? Mama gayanya bak sosialita," cibir sang suami.


"Ih, Papa syirik aja kalau lihat istrinya senang, heran," gerutu Rahma sambil menyimpan ponsel ke saku nya.


Laras senyum tipis mendengar antara kedua mertua nya. "Ya, sudah berangkat sekarang saja. Sus ... jangan lupa ya. Nanti ada tukang."


"Baik, Nyonya muda." Jawab Susi.


Laras, bu Rahma dan pak Marwan berjalan menuju teras. "Jalan aja kali ya?" ucap Laras melirik bu Rahma.


"Kira-kira jauh gak ya?" malah bertanya pada suaminya.


"Mana Papa tahu, Mamah ..." timpal pak Marwan menggeleng.


Laras terdiam sesaat. "Pake mobil aja lah." Mengeluarkan kunci dari tas nya.

__ADS_1


Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil milik Laras. Di jalan bertanya tempat tinggal pak Rt komplek itu, katanya tidak begitu jauh dari situ. Mereka merasa lega ternyata tidak begitu sulit untuk menemukannya.


Mobil Laras berhenti, tepat depan sebuah rumah lumayan bagus yang orang bilang. Itu rumahnya pak Rt.


Ketiganya turun dan mendatangi rumah tersebut. Setelah beberapa kali mengucap salam, akhirnya muncul juga seseorang dari balik pintu seorang pria yang terbilang muda.


"Assalamu'alaikum ..." ucap pak Marwan kembali.


"Wa'alaikumus salam ..." ada perlu apa ya Pak? silakan masuk?" yang punya rumah mempersilakan masuk.


Mulanya Laras menundukkan pandangan ke lain arah. Kemudian mendongak dan melihat yang punya rumah. Alangkah terkejutnya Laras. "Miftah?" jarinya menunjuk ke arah pria tersebut.


"Iya, kamu Larasati? kok ada di sini?" selidik pria yang Laras panggil Miftah itu.


Laras menunjukkan wajah yang sumringah, bahagia bisa bertemu dengan kawan lama. "Aku ... tinggal di komplek ini."


"Oya, sudah lama belum?" tanyanya kembali dengan wajah yang tidak kalah bahagianya.


"Em ... mungkin ada kurang lebih sebulan. Iya." Laras mengangguk.


"Ayo masuk dulu?" kembali mengajak masuk.


Kedua netra mata Laras bergerak melihat teras tersedia kursi di sana dan cukup untuk mereka ngobrol bersama. "Eh ... baiknya kami duduk di sana sana lebih enak."


"Oh, boleh-boleh, silakan." mengedarkan pandangan pada bu Rahma dan pak Marwan.


Semuanya duduk di teras. "Rupanya kalian sudah saling kenal ya?" selidik pak Marwan.


Laras menoleh. "Iya, Pa. Dia kawan Laras sewaktu sekolah.


"Iya, dan kami lama tidak bertemu. Aku kira data yang namanya Larasati itu orangnya lain kamu," ungkap Miftah.


"Kami, maksud dan tujuan kami adalah ingin bertemu Rt di sini. Katanya ... ini rumahnya benar?" tanya pak Marwan kembali.


"Iya, benar. Ini rumahnya." Jawab Miftah sembari tersenyum ramah.


"Orang nya ada? kami ingin bertemu." Sambung pak Marwan lagi.


"Orang nya ... ada, sedang berhadapan dengan kalian." Jelas Miftah.


Laras. Menatap ke arah Miftah sambil menggigit bibirnya, lalu berkata. "Wah ... Jadi kamu Rt di sini?"


"Iya, saya lah Rt di sini." Sahutnya sambil terus mengembangkan senyumnya.


"Oh, jadi anda Rt di sini?" tanya bu Rahma. "Masih muda dan ganteng lagi." Celetuk bu Rahma.


"Mama ... emangnya, Papa kurang ganteng ya?" ucap pak Marwan jadi saling beradu argumen dengan sang istri. Gara -gara pujian bu Rahma pada Miftah yang memang benar. Dia ganteng dan sewaktu di sekolah saja jadi rebutan para cewek.


Miftah pernah jadi idaman para cewek, namun Miftah malah beberapa kali nembak Laras dan berkali juga Laras tolak. Dengan alasan ingin fokus sekolah, hingga akhirnya Miftah di gaet seorang wanita.


Laras menggeleng melihat mertua nya sedikit cekcok. "Mah, Pa ... apaan sih? malu." Suara Lirihnya Laras. Menghentikan ke cekcok kan itu.


Kemudian pak Marwan mengangguk dan tersenyum pada Miftah.


"Siapa Mas?" seorang wanita keluar membawa seorang anak yang masih balita ....


****

__ADS_1


Terima kasih reader ku yang baik hati, yang masih setia mendampingi aku. Tanpa kalian aku bukanlah siapa-siapa, terus dukung aku ya, mana like dan komennya nih?


__ADS_2