
Di meja makan, Ibra dan Laras tengah makan berdua saja. Sebab yang lain sudah duluan, keduanya melahap hidangan yang di meja.
"Makan yang banyak, biar subur ASI-nya," ucap Ibra sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Iya, Sus ... ada sambal gak?" tanya Laras menoleh ke arah Susi yang sedang beres-beres.
"Sayang ... jangan makan sambal, kasian baby boy. Nanti sakit perut." larang Ibra menatap sang istri.
"Tapi ... gak berasa kalau makan lalapan tanpa sambal," keluh Laras sedikit cemberut.
"Sedikit gak pa-pa. Asal jangan banyak-banyak, ingat jangan banyak-banyak. Sayur bening, katuk dan jagung yang di banyak-banyakin." Suara bu panti. Baru muncul dari kamar Laras menemani baby boy.
"Kalau punya baby itu, makan harus banyak pantangan nya sayang ... jangan seenaknya, kan baby nya minum asi. Beda dengan susu sapi, bebas." Tambah bu Rahma.
Laras menatap kedua ibu paruh baya itu. "Baby Satria nya bobo bukan?"
"Iya, bobo sayang! ingat ya sayang, harus banyak makan sayur yang menambah kesuburan asi. Jangan makan sembarangan," lanjut bu Rahma
Pada akhirnya Laras mengangguk. "Iya, Mah. Aku akan selalu ingat pesan Mama dan Ibu."
"Abang juga harus turut mengawasi asupan yang istrinya makan. Jangan sembarangan ya?" pesan sang bunda pada Ibra.
"Iya, Mah. Abang juga tahu kok," sahut Ibra sambil melanjutkan makannya.
Kemudian Ibra mengakhiri makannya dengan segelas air putih. "Abang mau lihat Zayn dulu sayang," menunjuk ke arah kolam renang.
Biyur ....
Biyur ....
Suara air yang muncrat yang di barengi tawa riuh anak-anak. Ibra beranjak dari duduknya, menggeser kursi bekas duduknya.
"Iya," sahut Laras, sembari mengangguk. Menatap punggung sang suami yang berlalu menuju kolam renang.
Setelah mencuci tangan, Laras menuntun langkahnya ke kamar. Melihat baby boy yang katanya tadi tidur. Benar saja baby Satria masih nyenyak. "Sayang, yang anteng ya? yang soleh. Berbakti dan berguna." Tatapan Laras sangat lekat dan penuh kasih sayang. Rona kebahagiaan terlukis jelas di wajahnya Laras.
Ibra yang berada di samping kolam renang. Berdiri sambil menyilang kan tangan di dada. Menatap tajam ke arah Zayn. "Kau ini, sedang mengasuh ya?" mengalihkan pandangan ke arah anak-anak panti yang asyik bermain air.
"Bos, seger Bos. Ayo turun?" jawab Zayn sambil melambaikan tangan, mengajak Ibra untuk turun.
Namun akhirnya Ibra menggeleng. Setelah beberapa waktu melihat Zayn berenang. Kakinya Ibra menuju pintu kamar yang dari teras samping, mengintip ke dalam. Tampak Laras sedang memandangi baby boy.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Seketika Laras menoleh ke sumber suara. Netra matanya mendapati Ibra berdiri di balik pintu kaca di samping kamar, Laras beranjak berjalan mendekati.
"Kok jalan Sini sih?" ucap Laras sambil menarik dan membuka pintu tersebut.
"Masih bobo baby nya?" Ibra masuk, berjalan mendekati si kecil yang terpejam. Lalu ia mengarahkan pandangan pada Laras. "Anteng juga ya sayang?"
"Iya. Alhamdulillah, semoga bila malam juga dia anteng bobonya," lirih Laras dengan senyuman bahagia di bibirnya.
"Kalau baby boy anteng, Mammy nya bisa urus baby besar deh Bergantian." Ibra menyeringai melirik sang istri.
"Ih, mana mau aku urus baby besar, tugas aku sekarang urus baby boy aja lah. Baby besar mah urus aja diri sendiri. Tidak ada manja-manja." Protes Laras.
Dengan sekilas tubuh Laras, Ibra angkat dibawanya ke tempat tidur dan di baringkan di sana. Dalam kungkungan tubuh Ibra. Jantung Laras berdesir kencang, panik, takut Ibra memaksanya.
Laras gugup, hatinya tidak tenang. Wajahnya pun tampak gusar, melihat tatapan Ibra yang mengandung arti. "A-Abang jangan macam-macam!" dengan sorot mata yang sedikit ketakutan.
"Nggak macam-macam sayang, paling satu macam atau dua aja," sahut Ibra sambil menyeringai. Tangannya membuka kancing piyama Laras.
Kedua tangan Laras berusaha mendorong dada Ibra, namun dia malah mengunci dan semakin dekat menindih tubuh sang istri. "Abang, awas lah. Nanti baby Satria bangun."
"Bentar kok," suara Ibra pelan. Dan semakin mendekatkan wajahnya itu.
Degup jantung Laras semakin kencang, dikala wajah Ibra semakin mendekat dan tak dapat dipungkiri lagi menyatunya dua bibir mereka. Kecupan lembut berlabuh di benda yang ranum itu.
Sementara tangan Ibra bergeliya ke tempat favorit yang biasa ia bermain. Oek-oek, oek. Si kecil bangun, Laras bangun namun bahunya di dorong lagi ke belakang sehingga tubuh Laras kembali terbaring. Dan Ibra melanjutkan aksinya. Dengan sangat fokus.
Oek, oek. Oek, suara baby Satria semakin keras. Jantung Laras semakin dag dig dug tak menentu, perasaannya bercampur aduk. Sementara Ibra gak bisa di tolak.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Pintu di gedor dari luar, yang kebetulan tadi Ibra kunci. "Sayang ... itu baby Satria bangun, tidur apa?" suara bu Rahma dari balik pintu.
__ADS_1
Dengan refleks. "I-iya, Mah ... ini juga lagi diurus nih baby nya, sedang di susui," sahut Laras, mengangkat kepalanya sebentar. Kemudian menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Ups baby? baby besar." Batinnya.
Laras jadi serba salah, bingung bapaknya gimana? anaknya gimana? yang akhirnya biar ngurus satu-satu dulu. Kebetulan si baby Satria berhenti nangis dan bermain.
Sementara Ibra masih asyik di sumber asi sang istri. Mengambil jatah, sebelum diberikan pada sang buah hati. Selama itu pula, Ibra menahan tawanya. Mengingat perkataan sang istri barusan. Sampai akhirnya Ibra beranjak duduk dan tertawa terkekeh.
Meski heran dengan suaminya, Laras cepat-cepat bangun dan segera mengambil baby Satria yang pada akhirnya berhenti menangis walau belum di hampiri sang bunda. Laras membawanya ke tepi tempat tidur, duduk di sana untuk memberi asi si buah hati.
"Sebentar sayang." Cegah Ibra, ketika sang istri hendak menyusui baby Satria. Ia mengambil tisu basah, kemudian dengan tangannya sendiri. Mengelap kedua bukit sumber asi itu dengan tisu basah tersebut.
"Untung Papi gak merokok sayang, kalau merokok. Nanti kamu pasti bilang, kok mimi aku bau rokok sih Mammy?" Ha ha ha ....
Laras pun ikut tertawa kecil. Kemudian memberikan ASI-nya, kedua netra mata baby Satria bergerak menatap wajah sang bunda. "Maafin Mammy sayang. Barusan ngurusin Papi dulu, Papi kan lebih manja sayang. Kamu jangan manja dan rewel ya." Mencium tangan mungil si kecil.
Ibra yang duduk di sampingnya Laras cuma senyum-senyum puas. Menatap sang buah hati yang nampak kelaparan.
"Hampir loncat jantung ku tadi." Laras menghela napas anjang.
"Kenapa sayang?" tanya Ibra heran.
"Kenapa? kalau ketahuan mama bisa kena semprot loh." Protes Laras.
"Kenapa? kita gak macam-macam kok." Ibra menunjukkan senyuman senangnya.
"Apaan? kalau lihat. Mama pasti marah, kenapa baby nya di biarkan menangis Mammy nya lagi apa sih? Papi nya juga ada, masa anak nangis di biarkan?" gerutu Laras. Membayangkan omelan sang mama mertua.
Bibir Ibra terus mengembang, dan Jarinya mengusap kepala sang istri dan putra nya bergantian. "Cuma gitu doang kok sayang. Dari pada jajan--" ucapan Ibra terhenti melihat Laras.
Mata Laras terbelalak, melotot dengan sempurna ke arah sang suami. Mendengar ucapannya barusan.
"Nggak-gak sayang ... cuma bercanda kok, mana ada aku jajan." Ibra langsung merangkul bahu sang istri dan mencium puncak kepalanya.
"Sembarangan, magrib tuh. Salat dulu sana?" titah Laras, kebetulan sudah terdengar sayup-sayup adzan magrib berkumandang.
"Jangan marah dong sayang?" tatapan Ibra cemas.
"Siapa yang marah, Abang ... sana salat dulu." Laras meletakkan baby Satria di tempatnya. Lanjut berjalan mendekati gorden yang masih terbuka.
"Baiklah," langkah Ibra tertuju ke kamar mandi.
Lantas Laras membuka pintu kamar yang terkunci. Gak enak juga dengan yang lain, kok pintu di kunci sih. Padahal mereka itu ingin menengok baby Satria.
"Huuh ..." membuang napasnya kasar. Langkahnya membawa Laras ke dapur, mencari makanan buat ngemil.
"Oh, Bu Rika. Ini Bu ... aku cari makanan buat ngemil. Lapar," sahut Laras sambil mesem.
"Biar saya pesankan, seperti keripik dan kacang-kacangan ya?" bu Rika langsung mengambil ponsel untuk memesan yang barusan ia ucapkan.
"Makasih sebelum nya Bu?" akhirnya Laras berterimakasih pada bu Rika.
Laras terus berjalan ke ruang tengah. Bu panti, Mama mertua dan yang lainnya sedang salat berjamaah. Bibir Laras mengguratkan senyuman. Kemudian ia kembali ke kamar, di sana mendapati sang suami sedang salat magrib.
"Eeh ... pengen ke toilet sebentar." Gumamnya pelan. Lalu berjalan menuju kamar mandi.
****
Jodi sedang duduk sendiri di sofa yang ada di lantai atas. sibuk dengan laptop di pangkuan, jari-jari tangannya dengan sangat terampil memainkan keyboard serta mata fokus ke layar laptop.
"Mbok, tolong dong bawakan kopi, jangan terlalu manis ya?" pekik Jodi pada mbok Darmi.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya terdengar derap langkah kaki seseorang menghampiri dan meletakkan sesuatu di meja.
Netra mata Jodi bergerak mengarahkan pandangannya ke meja. Secangkir kopi sudah tersedia di sana, lalu netra mata Jodi kembali bergerak pada siaa yang membawa kopi itu yang tidak terdengar sama sekali suaranya.
"Dian?" Jodi terkesiap, ternyata yang menyajikan kopi tersebut adalah Dian. Dian masih berdiri dan mengulas senyumnya.
"Selamat menikmati kopinya?" Dian menunjuk ke meja.
"Kapan kamu datang? selidik Jodi. "Si mbok mana?"
"Nggak tahu. Yang ada asisten mu yang biasa tengah membuatkan kopi. Lantas aku bawa deh ke sini." Dian duduk di samping Jodi.
"Ada apa ke sini? apa ada perlu!" tanya Jodi penasaran.
"Aish ... gitu amat nanya nya. Gak boleh ya?" balik tanya Dian pada Jodi.
"Em ... maksud aku apa ada perlu atau gimana? wajar dong kalau aku bertanya." ralat Jodi sambil menunjukan senyumnya kali ini.
"Em ... aku bosan aja, mau main ke rumah Laras lihat baby boy. Gak enak kalau terlalu sering, welcome sih ... tapi aku merasa gimana ... gitu. Coba dulu aku gak neko-neko, mungkin sekarang aku masih jadi istri Ibra dan dapat mengasuh baby boy sama-sama." Sesal Dian, menunduk dalam
Jodi menatap ke arah Dian sambil menghela napas dalam. Kemudian ia hembuskan dengan panjang. "Semua sudah terjadi, tinggal kamu move on. Mencari sesuatu yang lebih baik untuk mu, sebagai sahabat. Aku ingin kamu bahagia."
Deg!
__ADS_1
Manik mata Dian menatap lekat ke arah Jodi. Rupanya ia cuma sebagai sahabat bagi Jodi. "Apa kamu gak ada rasa sedikitpun buat aku jodi?" batin Dian.
"Hi, bengong. Mikirin apa? jangan bengong di sini nanti kamu pingsan, aku susah nganterinnya. Gak ada pasaran," ungkap Jodi nyeleneh.
Dian yang bengongpun pada akhirnya menarik bibirnya ke samping. "Kau pikir aku sudah jadi mayat, perlu pasaran segala? kurang ajar kamu," sambil menepuk bahu Jodi dengan tangan Dian.
"Bercanda, jangan diambil hati, Jantung aja. Ha ha ha ..."
"Apaan sih? oya om Mulyadi ke mana! aku gak lihat om tadi," tanya Dian sambil matanya sedikit mencari keberadaan sosok pak Mulyadi.
"Oh, di belakang mungkin. Sama perawatnya, terapi." Jawab Jodi sambil kembali menatap layar laptop. Tangannya mengambil cangkir kopi di meja.
"Mbok Darmi? perawatnya," tanya Dian, ia belum tahu kalau wanita muda waktu itu ada, adalah perawat pak Mulyadi.
"Bukan!" menyimpan cangkir kopi nya ke tempat semula. Setelah menyeruputnya.
"Siapa emang?" Dian penasaran.
Jodi tak menjawab. Melainkan terlalu fokus dengan laptop itu. Dian yang merasa penasaran, tatkala Jodi bilang bahwa perawat sang ayah bukan mbok Darmi.
Dian beranjak dan menuntun langkahnya ke lantas bawah. Ingin menemui pak Mulyadi, bamun ketika Dian berjalan melalui pintu belakang. Bertemu dengan pak Mulyadi yang tengah di dorong oleh wanita muda berhijab. Tampak cantik dan ramah.
Dian mematung, namun pada akhirnya Ia tersenyum dan mendekat pada pak Mulyadi bertanya kabar. "Apa kabar Om? dari mana!"
"Baik, itu dari belakang. Nak Dian baru datang atau--"
"Sudah sedari tadi, Om." Mata Dian memandangi ke arah wanita tersebut yang mengangguk ramah.
"Oh, sudah lama ya? sudah bertemu dengan Jodi nya." Selidik pak Mulyadi, kursinya kembali Caca dorong ke ruang keluarga.
"Ha? sudah, Om. Dia ada di atas, tengah sibuk dengan laptop nya." Dian mendudukkan dirinya di sofa.
Dian dan pak Mulyadi terus berbincang, di selangi dengan tawa kecil. Caca berdiri dengan niat ke dapur, tiba-tiba ketika berjalan di tabrak tubuh tegap membuat tubuh Caca oleng dan hampir terjatuh. Untung tangan Jodi dengan gesit meraih pinggang Caca sehingga tak sampai terjatuh ke lantai. Melainkan terkunci dalam rangkulan tangan Jodi.
Caca yang merasa terkesiap. terlihat gugup, netra mata keduanya saling tatap dengan sangat lekat. Pandangan itu terkunci seolah mengandung magnet. Darah yang mengalir terasa lebih deras. Jangtungnya berdesir lebih kencang dari biasnya.
Dian yang melihat adegan tersebut. Bengong, matanya memanas. Hatinya sakit, bagai di sengat binatang yang suka menggigit kulit. Titik air seakan berkumpul di pelupuk mata, menggenang dan hampir mengalir. Ia segera mamalingkan pandangannya, berusaha menyembunyikan perasaannya itu.
"Buat apa aku merasakan ini? Jodi hanya menganggap ku sahabat. Tidak lebih," batinnya. Kepala Dian menunduk, tak kuasa melihat adegan itu yang membuat hatinya dilanda cemburu yang bukan pada tempatnya.
Setelah beberapa saat dalam posisi yang kurang nyaman. Pada akhirnya Jodi melepaskan dan membantu Caca berdiri tegak. "Maaf, aku gak sengaja. Saking terburu-burunya jalan. Maaf ya?" ucap Jodi sambil senyum simpul.
Caca pun mengangguk. Tatkala mendengar permintaan maaf dari Jodi. Sambil tersipu malu. Caca kembali melanjutkan niatnya yang tadi terpotong oleh tabrakkan Jodi.
Pun begitu Jodi, ia segera berjalan tergesa-gesa menuju pintu depan untuk menemui seseorang.
"Oh, Nak Dian salam buat orang tua nya ya?" pesan pak Mulyadi.
"Em, iya Om. Nanti aku sampaikan. Oya, Om. Aku pulang dulu ya? sudah sore dan lain kali aku main lagi ke sini," pamit Dian pada pak Mulyadi.
"Loh ... kok terburu-buru? nanti aja pulang nya. Kita makan malam dulu, ngobrol-ngobrol gitu." Pak Mulyadi berujar.
"Em ... lain kali saja Om," ucap Dian sambil mengangkat pantatnya dari tempat duduk. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumus salam." Jawab pak Mulyadi. Menatap kepergian Dian dari tempat tersebut.
Tadinya, memang Dian ingin mengajak Jodi dan pak Mulyadi makan malam di luar. Namun dengan apa yang terjadi tadi membuat ia urungkan niatnya itu. Dengan perasaan sedikit hancur, ia terus berjalan tanpa melihat kanan dan kiri. Langkahnya fokus ke mobil yang mana ia parkir di depan.
Langkahnya terhenti tepat depan mobil mewah miliknya. Menyimpan tas di jok sebelah, memasang sabuk pengaman dan segera menyalakan mesin, tidak membuang waktu. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menjauhi kediaman Jodi.
Mobil Dian berhenti di depan sebuah Mall dan langkah kakinya membawa ia memasuki Mall tersbut, yang ia kunjungi adalah tempat permainan anak. Di sana ramai dengan suara anak-anak yang bermain. Setelah melihat baby boy nya Ibra dan Laras, entah kenap jadi sedikit suka aja tatkala melihat anak-anak itu.
Mengambil ponselnya. Ia membuka galeri mencari gambar baby Satria. Bibir Dian tersenyum bahagia melihatnya.
Namun di tengah lamunannya. Ada seorang anak kecil, laki-laki menabrak tubuh Dian dan memanggil Bunda. Dian tersiap, terkejut anak siapa ini?
"Eeh, siapa nih?" geph! tangan Laras menangkap tangan anak itu.
"Maaf Tante. Maaf?" anak itu menunduk merasa bersalah.
Dian berjongkok di hadapan anak itu. "Kenapa minta maaf? emang punya salah apa!"
"Aku-aku, barusan menabrak Tante. Aku, tidak sengaja. Kata ayah, kalau aku salah, harus ... harus ... minta maaf," ucap anak itu. Terdengar lucu.
Dian menyunggingkan senyum. "Pinter sekali kamu Nak, namanya siapa? apa Tante boleh tahu!"
"Eh ... namaku, eh!" anak itu menggaruk kepaanya. "Nama ku Ferdi, usiaku 5 tahun," jawab anak yang mengaku bernama Ferdi tersbut.
"Lucu banget sih anak ini, mana orang tua nya?" Dian celingukan. "Mau gak makan eskrim sama Tante? ajak Dian pada Fardi setidaknya sampai ketemu orang tua anak itu ....
****
Hai reader ku yang baik hati. Fav juga dong novel ku yang berjudul "Bukan Suami Harapan" insya Allah kalian akan suka dengan ceritanya nanti. Oya makasih masih setia dengan SKM ini🙏terus dukung aku ya,
__ADS_1