
Derap langkah kaki terdengar dari balik pintu, mendekati ruang kerja Ibra.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Dua pasang mata yang berada di dalam ruangan itu tertuju ke pintu. "Masuk." Suara berat Ibra.
Reket ... suara pintu terbuka, dan nampak seorang wanita seksi berdiri. Menenteng tas kecil di tangannya, Dia Yulia. Berdiri dengan raut wajah yang kurang bersahabat.
Ibra dan Zayn saling pandang dengan pemikiran yang sama, mau apa Yulia datang ke sini?
Yulia melangkahkan kakinya ke dalam. "Kebetulan kamu ada, kemarin aku datang. Katanya sedang berada di luar Negeri?"
"Iya, Benar, baru datang ... semalam," sahut Ibra. "Oya, duduk?"
Yulia duduk di sofa dengan posisi menyilang kan kaki mengekspos paha mulusnya. "Terima kasih."
Zayn, melotot melihat paha mulus dan dada yang sedikit menyembul. Sebuah pemandangan yang luar biasa bagi Zayn. Sehingga matanya tak berkedip.
Ibra, memukul bahu Zayn. "Dasar mata buaya."
Zayn melirik sambil menyeringai. "Kalau gak di lihat itu, sayang, mubazir." Bisik nya.
"Ada apa ke sini?" tanya Ibra pada Yulia.
"Aku ke sini, untuk memberi informasi tentang istri mu, Mery. Dia ada main dengan Hendra seorang pengusaha," ujar Yulia, menatap tajam ke arah Ibra.
Ibra mengernyitkan keningnya. "Tau dari mana?" pura-pura gak tau.
"Aku tau, dan itu yang baru, kalau yang lama entahlah aku gak mau mengingatnya," sambung Yulia.
Zayn duduk bersandar dan menyilang kan tangan. Mengamati kemana arah tujuan omongan Yulia.
"Terus ... maksud kamu bilang ini ke saya apa?" lanjut Ibra.
Menerima pertanyaan dari Ibra seperti itu, dia menaikan nada suaranya. "Saya sangat tidak terima, kalau saya kamu cerai. Sedangkan Mery masih saja kau pelihara?"
"Ha, pelihara? kucing kali ah." Zayn nyengir.
Ibra menghela napasnya dalam-dalam, kemudian berkata. "Oh, kamu itu tidak terima," ucap Ibra sambil menganggukkan kepalanya. "Kau tidak perlu iri hati, saya tahu apa yang seharusnya saya lakukan, terhadap kamu. Juga dia, faham? jadi, jangan ikut campur urusan orang."
Yulia melotot dengan sempurna. "Kau, tidak berterima kasih. Saya ngasih tau kamu, agar kamu buka mata lebar-lebar, jangan terkena bujuk rayunya dia."
"Saya tau, apa yang harus saya lakukan. Sekali lagi saya jelaskan, jangan ikut campur urusan orang, dan silahkan pergi. Sebab ... kamu tidak ada urusan lagi di sini," tegas Ibra.
"Oke, saya cuma memberi tahu, percaya atau tidak sih ... terserah." Yulia menaik turunkan bahunya. Kemudian berdiri dan pergi tanpa permisi lagi.
Ibra menggelengkan kepalanya, dan berjalan mendekati pintu untuk di tutupnya.
"Kembali ke obrolan kita, tentang rumah, aku ingin tempatnya strategis. Namun nyaman, tenang buat ibu hamil." Ucap Ibra sambil duduk di tempat semula.
Zayn menegakkan duduknya. "Jadi, rumah itu buat Laras?"
__ADS_1
"Iya, buat siapa lagi? istri aku yang hamil, kan dia. Tentunya hamil anak aku." Ibra mengambil air mineral dan di teguk nya.
"Oke lah, kalau begitu. Saya akan carikan segera, baiklah. Aku akan pergi dulu," ucap Zayn sambil berdiri memasukan semua berkas penting ke dalam tas punggung nya.
"Oke," balas Ibra sambil mengangguk.
"Selamat menikmati kembali bermain di sofa nya," kata Zayn nyengir memperlihatkan gigi putihnya.
Ibra hanya mesem mendengarnya. Lalu ia juga bangkit, geser kursinya dan keluar dari ruangan tersebut.
Ia berjalan, dengan langkah yang tergesa-gesa. Menuju kamar pribadinya, mungkin saja Laras masih di situ atau sudah pergi ke kamarnya.
Kini Ibra sudah berada depan pintu, klik! suara kenop pintu. Langkah kakinya yang lebar memasuki kamar yang terdengar suara televisi. Tidak lupa menutup pintu dan menguncinya.
Mata Ibra terus bergerak mencari keberadaan Laras. Di sofa kosong. Namun rupanya ... dia di tempat tidur sedang meringkuk, Ibra mendekat, naik merangkak ke tempat tidur dengan ukuran king size yang ada Laras di situ. Menatap wajah Laras yang tertidur begitu nyenyak. "Kasian, semalam kurang tidur," gumam Ibra sambil mengelus pipi Laras yang lembut.
Cup kecupan lembut mendarat di kening Laras yang tidak merespon sama sekali. "Kau sangat cantik dan kamu seorang istri yang taat. Aku akan berusaha membahagiakan dirimu." Gumam Ibra menatap lekat wajah Laras.
Kemudian ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Laras. Tidur menyamping menghadap ke Laras agar lebih leluasa memandanginya. Menggenggam tangannya dan dicium mesra.
Perlahan, tangannya bergerak menuju sebuah bukit, yang hanya dia yang berani menjamahnya. Lama bermain-main di sana, sampai ia tertidur juga.
****
Saat ini sudah waktunya makan malam. Laras masih di kamarnya sedang asyik membaca novel tentang "Satu Suami Untuk Banyak Istri" saking asyiknya, hingga ia malas turun. Untuk makan malam. Cuma minum susu bumil saja, itupun baru setengahnya.
"Kenapa gak turun makan?" tiba-tiba suara Ibra muncul dari balik pintu dan menghampirinya.
"Ha, gak lapar, lagian sudah minum susu." Menunjuk segelas susu bumil di meja.
Ibra duduk di dekat Laras. "Tapi kamu harus makan, kasian anak kita nanti kelaparan," ucapnya sambil mengelus perut Laras lembut.
"Kau cemburu?" tangan Ibra membingkai wajah Laras dan dengan tatapan lekat.
"Nggak, bukan cemburu. Tapi mengingatkan," elak Laras lagi.
"Kau sedang apa dengan ponsel mu? chetan sama laki-laki lain kah," sambil merampas ponsel dari tangan Laras.
"Bukan."
Ibra membukanya dan ternyata, Laras sedang membaca novel. "Novel apa nih? Satu suami untuk banyak istri, apaan nih!"
"Ya ... gitu. Aku gondok sama suaminya, yang kerjanya cuma kawin aja, tapi di telantarkan. Tidak tanggung jawab banget." Ucap Laras.
"Hem ... itu, kan cuma novel. Bukan kisah nyata." Lirih Ibra.
"Ini kisah nyata loh ..." jawab Laras kembali.
"Tidak ... sedang menyindir ku, kan Nona manis?" Ibra mencubit kedua pipi Laras gemas.
"Tidak, emang kamu merasa gitu?" balik nanya.
"Em ... tidak juga sih ..." tanpa aba-aba Ibra mengecup ***** Laras.
"Em ..." Laras melepaskan diri dan mengusap bibirnya yang lembab.
__ADS_1
Kalau di tolak, Ibra semakin penasaran. Tangannya yang kekar memegang tengkuk Laras, agar diam dan mendekat, lagi-lagi ******** bibir Laras dengan sangat lembut dan menghangatkan. Dua buah segar pun tak luput jadi sasaran tangan nakal Ibra. Dan di *****nya.
Aktifitas itu, lumayan berlangsung lama. Sampai dada Laras naik turun kehabisan napas. Setelah terlepas, bibir Ibra menyeringai puas.
"Sa-sakit," keluh Laras memegang salah satu bagian tubuhnya.
"Maafkan aku sayang, aku terlalu bersemangat." Jawabnya sembari nyengir dan mengusap nya dengan sangat lembut.
Namun, tangan Laras menjauhkan dirinya dari tangan Ibra. "Katanya mau makan? makan sana pasti sudah di tunggu."
"Aku, sudah tidak lapar, sudah kenyang. Barusan." Ibra mengukir senyum bahagia di bibirnya.
Laras tersipu malu dan menunduk dalam. Pura-pura membaca lagi novel.
Ibra turun dan merapikan pakaiannya. "Baiklah kalau kamu belum lapar, nanti saja kalau lapar segera makan, jangan lupa juga makan buah. Aku akan bercinta dulu, sudah lama tidak ... tidak melakukannya dengan Mery. Pasti sempit!"
Laras seketika mendongak, mendengar ucapan Ibra entah cemburu, entah biasa saja yang di rasakan Laras saat ini, yang pasti ... ada raut wajah yang kurang ikhlas.
Ibra menatap dan melihat perubahan raut wajah Laras. Ia tersenyum dan memutar tubuhnya berjalan keluar kamar Laras, ketika sudah melintasi pintu, Ibra menutupnya.
Setelah itu, bergegas mengayunkan langkahnya menuju ruang makan. Benar saja, di sana Mery masih menunggu dengan wajah marah.
"Lama banget, ngapain sih. Ngelonin dulu, apa?" ketusnya Mery.
"Kalau iya, kenapa? sah-sah aja, kan?" Ibra tak kalah ketusnya.
"Iih ..." Mery menghentakkan kakinya ke lantai.
"Cepetan makannya?" titah Ibra sambil meminum secangkir kopi.
Mery menjadi sumringah, ia pikir Ibra akan segera mengajak ke kamar. "Itu pasti." Batinnya.
Mery dengan cepat menghabiskan makannya. Kemudian meneguk setengah gelas air putih.
"Aku, sudah siap sayang, ayo. Aku sudah tidak sabar." Mery beranjak dari duduknya mencuci tangan di wastafel.
Ibra pun berdiri dan merapikan kursi bekasnya duduk.
"Ayo sayang," ajak Mery pada Ibra yang berdiri, matanya fokus ke layar ponsel miliknya. "Ayo ..." Mery menarik tangan Ibra yang masih berdiri.
Akhirnya Ibra mengikuti langkah Mery yang terus menariknya. Ke kamar Mery.
Semua mata asisten di ruang makan, menatap Mery dengan tatapan tidak suka. Terus mereka tersenyum sinis. Entah kenapa mereka tidak suka melihat Mery, apalagi dekat-dekat dengan Ibra.
Kemudian mereka pun makan malam bersama. Bu Rika sebagai kepala. Menuntun doa mau makan.
Sesampainya di dalam kamar Mery. Ibra mendudukkan dirinya di sofa dengan santainya, duduk bersandar, kepala mendongak. Dan dengan tangan yang direntangkan.
Mery bergegas mengambil lingerie yang sangat transparan, untuk memikat hati dan napsu Ibra. Ia sangat yakin, kali ini bisa berhasil dan penyatuan akan berjalan dengan lancar, mengingat sudah beberapa bulan ini ia tidak di sentuh oleh Ibra. Sebagai suaminya, Mery berdiri tepat depan Ibra yang menatapnya tanpa ekspresi.
Dengan langkah yang sangat gemulai, Mery mendekat pada Ibra, membungkuk. Sehingga tubuh bagian depan Mery condong ke depan muka Ibra, namun Ibra merasa biasa saja.
Ia tidak tergugah sama sekali, benda pusaka nya pun diam saja tidak merespon apa-apa. Mata Ibra hanya menatap biasa saja, apalagi di ingatannya terbayang-bayang. Saat Mery bergumul dengan pria lain, menjadikan napsu Ibra hilang begitu saja.
Mery duduk di paha Ibra dan merangkul leher sang suami ....
__ADS_1
****
Hi ... aku up lagi nih, semoga reader semua suka ya? terima kasih ... sudah menunggu novel ini up. Terus dukung aku ya🙏