
Mata Laras menyapu tubuh Ibra yang masih handukan. "Katanya tadi lapar? kenapa belum mengenakan pakaian mu? nanti masuk angin."
Ibra merasa kecewa. Bukannya jawaban yang ia harapkan, malah kata lain yang terdengar. Dengan malas melepas dekapannya dan menghampiri pakaian yang sudah di sediakan. "Sepertinya dia tidak mengharapkan ku!" batin Ibra lesu.
Laras memandangi Ibra yang memakai pakaiannya dengan malas. Kemudian ia hampiri dan membantunya.
Ibra menatap kearah Laras. "Kalau saya di luar Negeri, siapa yang akan mengurus saya?"
Laras tertawa. "Kau itu sudah tua! bisa mengurus dirimu sendiri. Lagian ada istri mu yang akan mengurus mu di sana."
"Tapi ... sebenarnya aku ingin mengajak dirimu juga, agar aku sebagai suami merasa adil," sambung Ibra kembali.
"Bukannya di sana itu urusan kerja, bukan liburan? ya gak apa! silakan saja sekalipun liburan. Aku gak pa-pa di tinggal di sini."
"Semoga urusan ku di sana cepat selesai, biar cepat kembali."
"Lama juga gak pa-pa, senang-senang lah bersama istri mu, kasian! di sini berbagi suami terus, kalau di sana, kan cuma berdua. Tidak ada yang ganggu sekalipun istrimu yang lain," tambah Laras.
Mendengar itu, Ibra terdiam sebentar. "Kamu juga istri ku, yang harus aku jaga, yang harus aku buat bahagia. Sebentar, mana ponsel ku!"
Ibra mengambil ponselnya di atas meja kecil. "Aku ... sekarang transfer uang ke rekening mu, gunakan uang mu dengan baik."
Mendengar omongan Ibra, Laras merasa di ingatkan akan niatnya yang ingin pindah dari istana ini. "A-aku ... ingin pindah dari rumah ini!"
"Apa? apa aku tidak salah dengar," memasang telinganya baik-baik.
"Iya, aku ingin pindah dari mension ini, biarpun di kontrakan. Aku gak pa-pa kok," ungkap Laras.
Ibra termenung sesaat. "Kita bicarakan nanti ya? setelah aku kembali nanti, jangan pernah pergi tanpa seijin ku, nanti kita bicarakan lagi."
Tangan ibra menuntun Tangan laras dan mengajaknya keluar dari kamar, untuk makan siang yang sudah terlewatkan.
Blak!
Ibra membuka pintu dan di depan pintu, Dian sudah berdiri menatap kemunculan suami dan madunya. Kemudian manik matanya bergerak melihat tangan Ibra yang memegang tangan Laras.
Melihat Dian memandangi kearah mereka, Laras segera menepis tangan Ibra. Namun tangan Ibra sangat kuat untuk di lepas.
Pandangan Dian beralih ke wajah Ibra. "Sebentar lagi berangkat loh sayang, masih di sini aja! Zayn sudah bolak balik nelpon."
"Iya, tapi saya lapar. Ingin makan dulu." Ibra melangkah dengan masih menuntun pergelangan Laras.
"Oke!" sambil berjalan, mata Dian terus mengamati keadaan ibra dan Laras, terutama Rambut Laras yang belum kering sempurna.
Nyess!
__ADS_1
Bagai ada sesuatu yang menusuk jantung. Sakit untuk dirasakan, luka yang tidak berdarah. Cemburu yang amat sangat menyelimuti hatinya, semakin ke sini Ibra semakin berani memperlihatkan kemesraan dengan istri muda di depan matanya Dian.
"Tenang Dian, selama seminggu di sana, tidak ada yang bisa mengganggu kamu dan Ibra. Selain pekerjaan. Percayalah! kau akan menghabiskan waktu bersamanya, sepanjang waktu. Aku akan mengajaknya berlibur barang beberapa hari, dan dia tidak akan menolak ku." Batin Dian sangat percaya diri.
Tangan Laras baru terlepas setelah Ibra menggeser kursi makan untuk Laras dan Dian, setelah itu menggeser kursi untuk dirinya.
Laras mengambilkan piring untuk makan Ibra, nasi, sama sup. Rendang dan ikan goreng, sesungguhnya Laras merasa canggung pada Dian apalagi mengingat sikap Ibra yang semakin manis padanya tak perduli ada Dian sekalipun. Seperti kali ini, Ibra mengelap bibir Laras dengan tisu.
Membuat mata Dian terus mengawasi tak sedikitpun lengah dari Pandangan ke Laras dan Ibra. Memang sih, Ibra juga kalau sedang memperlakukan Dian tak perduli depan siapa sekalipun istri yang lain. Ah mungkin hanya Laras saja yang perasa! canggung, risih. Tidak enak hati.
Ibra menatap Dian yang hanya bengong. "Kau tidak makan?"
"Sudah tadi! ini jam berapa? hampir jam 3 sayang!" sambil menunjuk jam yang melingkar di tangannya.
"Maaf ... aku ketiduran." Aku Ibra.
"Ketiduran ... apa senang-senang?" sinis Dian.
"Kok, sayang baru makan siang jam segini?" tanyanya bu Rahma yang baru muncul di tempat itu. Menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya.
"Iya, Mah, baru sempat. Tadi Laras nyenyak banget tidurnya, aku bangunkan gak tega," sahut Ibra.
Mata Laras menatap Ibra dalam hatinya berkata. "Aku tidur hanya sampai pukul 12.00 selebihnya, kan tidak, dia yang terus ganggu aku, ah aktingnya lumayan bagus."
"Dian sayang ... biarlah, Ibra dan Laras menghabiskan waktunya sebelum pergi, kan seminggu ke depan Ibra sama kamu. Biarpun urusan kerja setidaknya waktu Ibra tidak terbagi dengan yang lain lagi," tutur bu Rahma dengan lembut pada Dian.
"Mungkin karena semalaman Laras gak bisa tidur, jadinya siangnya enak tidur, ya sayang?" bu Rahma memandangi Laras yang menunduk.
"Apa? semalam gak bisa tidur!" tegur Ibra pada Laras yang kini kini meneguk segelas susu bumil.
Kemudian, Laras merespon pertanyaan Ibra dengan sebuah anggukan saja.
"Kenapa bisa begitu?" Ibra heran, kembali menatap Laras. Kemudian pada sang bunda.
"Itu lumrah sayang, apalagi bagi ibu muda yang baru mengalami kehamilan pertama. Seperti Mama dulu, pengennya setiap tidur itu ... ada dalam pelukan suami terus, kalau nggak ya gitu. Bisa semalaman gak bisa tidur," ujar bu Rahma.
Dian hanya diam mendengar penjelasan Dari mama mertua. Sementara Laras bengong sambil melamun.
"Mama sih enak, suaminya tidak terbagi! sementara aku? cuma istri muda yang hak nya kurang bila di bandingkan istri tua." Laras menghela napasnya.
"Aku gak bisa seperti Papah, yang setiap malam bisa menemani mama, bagaimanapun aku harus membagi waktu untuk Laras dan Dian. Kalau Mery! entahlah, mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang dengan pria itu di Bali, tenang saja. Saat kau pulang nanti, surat cerai sudah menanti mu Mery." Ibra melamun sangat anteng.
"Sayang, sedang mikirin apa?" tanya bu Rahma melihat putranya melamun.
Semua mata melirik ke arah Ibra, kemudian dia menyapukan pandangan pada yang ada di situ, berakhir pada bu Rika yang berdiri di pojokan. "Bu Rika! apa barang ku sudah siap?"
__ADS_1
Laras terkesiap. "Astagfirullah, aku lupa," dia lupa kalau Ibra menyuruhnya menyiapkan pakaian untuk di bawa pergi.
"Kenapa sayang?" tanya bu rahma pada Laras.
"Maafkan aku. Aku lupa menyiapkan pakaian Abang," sahut Laras. Merasa bersalah.
"Sudah kok, Nyonya, Tuan. Sudah saya siapkan semuanya." suara bu Rika sambil mengangguk
"Oh," gumam Laras.
Ibra meneguk air minum yang tinggal setengah lagi itu. Kemudian berdiri kebetulan belum mengenakan jas. "Aku mau ke kamar dulu, mau mengambil jas."
"Oh, biar aku saja yang ambil," ucap Laras bergegas berdiri.
Ibra menoleh dan menatap ke arah Laras. "Boleh," mengangguk dan kembali duduk. "Bu Rika temani Nyonya, dan bawakan koper saya," titah Ibra pada bu Rika.
"Baik Tuan," sahut bu Rika.
Laras berjalan menuju kamar Ibra. Diikuti oleh bu Rika yang di suruh bawakan koper.
Saat ini Laras memilihkan jas yang mau di pake oleh Ibra sekarang. Bu Rika sudah keluar mambawa koper. Sementara Laras masih di dalam kamar Ibra, menenteng jas miliknya.
Laras memutar badan mau melangkah menuju pintu. Tiba-tiba Dian sudah muncul di hadapan Laras. "Astagfirullah ... Kak Dian bikin aku kaget," memegangi dadanya yang kaget.
Dian berdiri sambil menyilang kan tangan. Menatap lekat pada Laras dengan raut wajah yang sinis. "Apa kamu sudah puas? bersama Ibra hari ini? maaf ya seminggu ini dia akan menghabiskan waktu bersama ku, di mana waktu istirahat nya hanya denganku. Semoga baby kita tidak manja dan ingin di perhatikan oleh ayahnya. Sampai kami kembali nanti waktunya."
"Puas? aku sangat puas! dengan waktu yang suamiku berikan tadi, waktu yang begitu singkat namun sangat berarti bagi kami. Karena dengan waktu yang singkat itu ... kami menggunakannya dengan sangat baik, Kak Dian pasti mengerti dengan apa yang aku masud?"
Dian terdiam sambil mengerutkan keningnya. Mencerna maksud dari ucapan Laras.
"Kami gunakan waktu yang singkat itu ... untuk memadu kasih, suamiku sangat puas dengan layanan ku itu, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan aku," jelas Laras. Menatap sendu ke arah Dian. Ingin tahu reaksi Dian, setelah mendengar perkataan darinya.
Benar saja, raut wajah Dian berubah drastis. Tampak jelas ada kemarahan di wajahnya. matanya mendelik pada Laras, tangan nya yang menggantung mengepal sempurna. Bibir bergetar menahan amarah, hatinya bagai tersulut api yang menimbulkan rasa panas, membakar dada.
"Maafkan aku?" batin Laras sambil berjalan meninggalkan Dian di kamar Ibra.
Dian mematung di tempat matanya mulai berkaca-kaca. Sakit sungguh sakit dengan kata yang terucap dari bibir Laras, yang kini lebih berani padanya. "Sial, kenapa dulu aku bertemu dia sih? kalau tau mau ngelunjak kaya gini! buat apa aku bawa dia ke mension ini dan menikahkan dengan suamiku." Dian mendongak agar air matanya tidak sampai jatuh membasahi pipi, ia menghela napas dalam-dalam.
Detik kemudian berjalan menuju ruang keluarga, Ibra dan orang tua nya di sana menunggu.
Laras langsung ke ruang keluarga, setelah Susi memberi tahu kalau tuan nya berada di ruang keluarga. Laras langsung memberikan jas pada Ibra dan membantu mengenakannya. Ia berdiri depan Ibra mengancingkan jas.
Ibra memandangi dengan senyuman di bibirnya. "Terima kasih sayang?" tanpa ragu, kecupan hangat mendarat di kening Laras tepat dengan kedatangan Dian di tempat itu ....
,,,,
__ADS_1
Wahai para reader ku yang sangat aku sayangi, terima kasih ya atas dukungan kalian semua 🙏like, komentar vote rating juga, yang membuat aku tambah semangat menulis. Buat yang berharap aku up 2 bab, mohon maaf ... banget, bukannya aku tidak mampu! tapi aku ingin lebih santai aja dalam menulis, yang penting up setiap harinya ya,🙏