
"Oh, ini tamu penghuni baru komplek," sahut Miftah pada sang istri.
"Kau? tinggal di sini juga," istri Miftah menyapa Laras yang tengah menatapnya.
"Iya, apa kabar?" sapa Laras dengan senyuman manisnya. Ternyata istri Miftah, Kikan yang memang mengejar Miftah dari jaman sekolah dulu. Sekalipun Miftah mendekati Laras, di terus mengejar Miftah.
"Baik," netra mata Kikan bergerak melihat perut Laras. "Kamu ... sedang hamil?"
"I-iya, oya. Maksud aku datang ke sini, dengan tujuan--"
"Begini ..." pak Marwan memotong pembicaraan Laras. Kemudian pak Marwan menceritakan maksud dan tujuannya datang ke situ, dan kejadian tadi pagi pun beliau ceritakan semua.
Miftah manggut-manggut dan mengerti apa yang di maksudkan oleh pak Marwan. "Kalau untuk acara empat bulanan, ada di komplek ini ustazah Ida. Biar nanti saya yang urus undangannya ke sana."
"Terima kasih pak Rt, dan tolong ya perketat keamanannya di sini. Saya khawatir, akan keselamatan mantu saya ini," ungkap bu Rahma.
"Tenang, akan saya coba obrolkan dengan scurity di sini dan mohon maaf atas ketidak nyamanan nya?" ucap Miftah mengangguk hormat.
Setelah berasa cukup dan tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Pak Marwan pun berpamitan.
"Oh, tapi belum disuguhi minum nih. Aduh jadi malu," ucap Miftah, sesekali melirik istrinya.
"Tidak apa, Pak Rt. kami sudah minum kok." Laras mengangguk hormat dan menunjukkan senyuman ramahnya.
"Iya nih, padahal Mamah. Haus nih sayang," gumam bu Rahma pelan namun terdengar jelas oleh semua orang.
Pak Marwan mendelik pada sang istri. Begitupun Laras menoleh. "Mamah ..." suara Laras pelan.
"Sekali lagi maaf ya? nanti saya akan cek ke sana segera," ujar Miftah berdiri dan bersalaman dengan tamunya.
Laras, bu Rahma dan suami meninggalkan tempat tersebut. Kali ini pak Marwan yang pegang kemudi. Di depan yang jualan air mineral Laras meminta berhenti.
"Mau apa?" tanya pak Marwan sambil menepikan mobil yang ia kendarai.
"Beli minum, Pa ... katanya Mama haus." Laras mau turun.
"Jangan sayang, gak usah! sebentar juga sampai rumah. Ngapain beli minum." Cegah bu Rahma memegang tangan Laras.
"Loh, tadi katanya?" ucap Laras heran.
"Nggak sayang, Mama gondok aja. Lama bertamu tidak disuguhi minum sama sekali, padahal ada istrinya. Anak mah kasih aja dulu ke bapaknya, tidur juga anaknya, ini mah cuek-cuek bebek, kaya bukan aparat aja, he he he ..." gerutu bu Rahma.
"Lupa kali Mah ... ya sudah. Kita pulang aja Pa." Gumamnya Laras.
"Baiklah," jawab pak Marwan sambil memutar kemudi. Melajukan mobil menuju pulang.
Dari depan, sudah terlihat kalau sudah ada tukang yang sedang mengganti jendela depan yang bolong itu.
Sesampainya di teras. Laras segera turun dan mendekati orang yang sedang bekerja serta menunjukkan senyum ramahnya. "Assalamu'alaikum, Mas?"
"Wa'alaikum salam. Maaf Bu, katanya pemilik rumah ini sedang tidak ada di rumah." Jawab tukang tersebut.
Laras tertawa kecil dan melangkahkan kakinya ke dalam. Bu Rahma dari belakang pun mengikuti.
Kedua tukang tersebut saling bertukar pandangan, mereka pikir dua wanita itu siapa? main nyelonong boy aja. Jelas-jelas sudah di bilang orang rumah sedang tidak ada di rumah.
"Ehem, wanita muda yang tadi itu. Istri yang atau yang punya rumah ini, dan saya juga wanita yang jalan di belakang itu ... mertuanya. Jadi jangan heran," suara Marwan dari belakang.
Mengagetkan dua tukang tersebut, mereka menarik dua sudut bibirnya senyum samar. Untung tidak bicara yang tidak-tidak.
"Siapa yang menyuruh kalian?" selidik Marwan mengernyitkan keningnya.
"Kami, suruhan tuan Zayn atas permintaan Tuan Ibra," sahut keduanya.
"Oh, saya ayah dari tuan Ibra. Oke, selamat bekerja, mari?" pamit Marwan tinggalkan keduanya.
Setelah menyimpan tas nya di kamar, Laras langsung meluncur ke dapur. Di sana mendapati Susi yang sedang memasak. "Sus, itu si abang di depan. suguhi minum dan makanan."
Sudah, Nyonya. Tadi sudah Susi suguhkan kopi kok," sahut Susi sambil mengaduk masakannya.
"Sudah habis, bikinkan lagi sana? biar itu aku yang lanjutkan," Laras mengambil alih kerjaan Susi.
__ADS_1
Susi pun menuruti perintah majikannya, Laras. Ia membuatkan kopi dan juga membawakan makanan, ke depan.
Kini Laras berkutat dengan masakannya. Dengan pikiran masih melayang, tak habis pikir. Siapa yang meneror tadi pagi?
"Nyonya, ada pak Rt di depan." Suara Susi membuyarkan lamunan Laras.
"Oya?" Laras menoleh pada Susi yang mencuci gelas bekas kopi.
"Iya, di depan." Susi menyakinkan.
"Baiklah, aku lihat dulu. Bikinkan minum ya?" ucap Susi sambil mencuci kedua tangannya, mengelap dengan tisu. Kemudian bergegas keluar menemui pak Rt seperti yang Susi bilang.
Setelah sampai di teras, benar saja Miftah sedang berbincang dengan tukang. Laras mendekati. "Eh, Pak Rt. Silakan duduk Pak." Menunjuk kursi yang ada di teras.
"Aduh, jangan panggil Pak, nama sajalah. Kaya sama siapa aja," ucap Miftah malu-malu. Ia pun duduk di kursi yang tersedia di sana.
"Ah, kan memang harusnya seperti itu. Oya, yang tadi di gendong Kikan itu ... putra kamu ya? baru satu--"
"Iya, baru satu. Aku mencari kamu gak ketemu, eh ... ketemu-ketemu di sini, setelah punya pasangan masing-masing." Miftah melirik ke arah Laras dengan tatapan penuh arti.
Tangan Laras bertaut di atas pangkuannya, terasa panas dingin. Disertai tegang dan gugup, khawatir omongannya mengarah ke masa lalu. "Em ... tolong ya? pengamanan nya di perketat, takut kejadian tadi terulang lagi." Laras berusaha ke intinya saja.
"Oh, ya ... tentu akan aku perintahkan penjaga komplek untuk lebih waspada lagi," ujar Miftah sambil terus menatap Laras yang ia rasa tambah cantik dari sebelumnya.
Laras menundukkan wajahnya. Ia tahu kalau Miftah tak berhenti memandangi ke arahnya. "Oya, sudah lama di sini dan menjadi Rt di komplek ini?" selidik Laras ya ... itung-itung basa-basi.
"Sudah, hampir dua tahun lebih." Jawabnya Miftah. "Kamu, kemana saja selama ini. Aku cari-cari."
Laras terdiam sejenak. Kemudian berkata. "Ada sih. Kerja, lalu menikah." Helaan napas Laras kasar. Malas kalau harus bahas masa lalu.
Tatapan Miftah kian lekat, meskipun kini ia sudah menikahi Kikan, statusnya sebagai suami. Namun di hati Miftah masih tersimpan sebuah rasa yang sulit tergantikan. Walaupun Laras berkali menolaknya, namun rasa itu tetap ada sampai saat ini juga.
"Eh ... kenapa Kikan gak diajak ke sini?" tanya Laras sekilas melihat ke arah Miftah yang bengong ke arah dirinya.
"Kikan, dia di rumah. Oya, suami mu mana ngantor ya?" selidik Miftah tengok-tengok ke dalam yang sepi yang ada juga di situ tukang yang sedang memasang kaca depan.
"Iya, ngantor." Jawab Laras. Netra mata Laras celingukan ke dalam, berharap pak Marwan muncul dan menemani tamu. Namun sampai akhirnya Miftah pamit pun tidak ada muncul juga.
"Akhirnya, pulang juga." batin Laras. "Oya, terima kasih banyak ya Pak Rt? sekali lagi aku ucapakan makasih banyak." Laras mengangguk hormat dan sangat senang sekali.
Langkah Miftah pun kian jauh dari teras. Laras beranjak dari duduknya, kembali ke dalam dan menyiapkan makan buat yang kerja juga.
****
"Saya ingin tahu siapa dia yang telah membuat ulah itu, oya. Pasang cctv lah, untuk di depan dan belakang saja. Dalam gak usah, itu pribadi." gumamnya Ibra sambil mengarahkan pandangan pada Zayn di depannya yang sedang meneliti sebuah berkas.
"Kamar mau kamar pasang cctv?" selidik Zayn tanpa menoleh ke arah Bos nya.
itu.
"Nggak, jangankan kamar. Ruangan yang lain pun jangan di pasang, yang di pasang itu ... depan mengarah ke samping dan belakang. Merekap sudut lain juga. Itu saja." Sambung Ibra.
"Ya ... kali saja mau bikin kenangan, caranya membuat proses membuat baby. Ha ha ha ...."
"Sial, kau sudah gila apa? Hah ngelantur saja kau ini." Ibra mendelik pada Zayn.
"Tapi ... sepertinya, mungkin saja saingan kerja kita Bos," ucap Zayn membuat Ibra yang mau fokus ke layar laptop. Sontak menoleh Zayn.
"Kau yakin? jangan suudzon pamali." Ibra termenung apa benar omongan Zayn. Tapi siapa kira?
"Yakin, Bos. Cuma ... siap dia aku gak tau," jawab Zayn sambil menaikan kedua bahunya.
"Saya, khawatir akan membahayakan anak dan istri ku. Secara yang diincar rumah Laras. Mension baik-baik saja, tidak ada sedikitpun yang mencurigakan di sana."
"Mungkin, karena mereka tahu kalau di sana ada penjaganya. Sulit lah orang menyusup ke sana." tambah Zayn kembali.
Ibra mengangguk-anggukkan kepalanya. "Masalahnya, Laras gak mau tinggal di sana. Kalau saja mau, lebih aman di sana kali." Ibra memijit keningnya sendiri.
"Coba aja bujuk dulu, kali saja mau balik ke mension. Sampai merasa aman kah, lagian sekarang ... Dian gak ada. Ke Semarang," ungkap Zayn. Jadi lebih leluasa untuk terus berduaan, ha ha ha ...."
"Ketawa, gak lucu," tegas Ibra.
__ADS_1
Hening!
Keduanya berkutat dengan tugasnya masing-masing. Jari ibra sibuk dengan papan laptop seiring dengan kedua netra matanya yang fokus layar laptop miliknya.
Zayn sibuk dengan berkas yang dia bawa dari ruangannya. Namun meskipun pada-pada sibuk dengan aktifitasnya. Pikiran tetap berputar keras mencari jawaban tentang kejadian tadi pagi.
Rettt ....
Rettt ....
Rettt ....
Ponsel Ibra bergetar, memecah keheningan. Ibra segera mengambil ponsel yang tersimpan di meja, kemudian menempelkan di telinganya.
"Halo? gimana hasilnya." selidik Ibra pada orang yang bicara di telepon tersebut.
"Apa, siapa? dan apa tujuannya. Oya? kurang ajar, urus buat mereka jera. Kalau dalangnya. Biar saya yang urus." Ibra menutup sambungan telepon, lalu saling bertukar pandangan dengan Zayn yang juga mendengar obrolan barusan.
"Kan, apa kataku juga? ada yang tidak senang dengan keberhasilan kita. Ini salah satu bukti musuh bisa tumbuh dalam selimut. Yang bulan madu, enak berada dalam selimut, kalau musuh sih berabe. Bisa membunuh," ujar Zayn sembari menghembuskan napas kasarnya.
Netra mata Ibra hanya melirik ke arah Zayn dan tidak sedikitpun mengeluarkan suaranya. Ia hanya berputar di kursi kebesarannya.
Zayn meneguk minuman mineralnya. Kemudian beranjak dari duduknya.
Ibra menoleh jam yang melingkar di pergelangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 12, lewat. "Rapat jadi, kan?"
"Jadi lah, tapi tempatnya di mana? mau sambil makan di mension apa--"
"Di mension aja, biar mereka bisa sekalian makan. Lagian aku sudah suruh orang mension agar masak banyak." Ibra memotong ucapan Zayn.
"Oke." Zayn keluar, meninggalkan ruangan Ibra. "Tiga puluh menit lagi aku tunggu di mobil," ucap Zayn sambil berjalan dan menutup pintu.
Ibra menutup laptopnya. Mengambil ponsel, iseng buka ig. Ia langsung menemukan postingan sang bunda yang sedang berpose cantik, memeluk seorang wanita muda berkerudung. Sangat anggun dalam sekilas, Ibra tidak mengenali siapa wanita itu.
Tapi ... setelah ia perhatikan, dirinya ingat kalau wanita ini istrinya. "Gi ... la, aku sampai pangling. Hampir tak mengenali wanita tersebut." Gumamnya. Berkali ia perbesar gambarnya. Tetap sama kalau itu adalah Laras.
Ibra sangat penasaran. Kemudian menelpon lewat vc, agar tahu di mana posisinya sekarang?
Sambungan vc tersambung dan langsung Laras angkat. Tampak penampilan Laras yang masih sama dengan di foto itu. "Sayang di mana itu?" selidik Ibra dan menatap mencari tahu sendiri.
"Hah, di rumah lah. Di kamar, kenapa emang?" Laras balik bertanya.
"Dari mana?" tanya Ibra penuh selidik dan menetap sangat lekat Laras nampak beda. Lebih cantik sangat dengan penampilannya saat ini, memakai kerudung nampak anggun sekali.
"Oh, tadi sari rumah pak Rt, sama mama dan papa juga. Tadinya mau ke rumah ibu ustazah, tapi ... kata pak Rt biar dia saja yang urus. Jadinya kami segera balik lagi." ungkap Laras. Jelaskan semuanya.
"Oh, tukang ada? yang ganti kaca depan," tanya Ibra kembali.
"Ada, sedikit lagi juga beres kali," sahut Laras.
"Sayang, kamu cantik sekali hari ini!" puji Ibra sembari menatap sangat lekat.
"Hah?" Laras tersipu malu mendapat pujian dari sang suami.
"Apalagi dengan penampilan mu seperti itu sangat-sangat anggun." Puji lagi Ibra dengan memperlihatkan senyuman di bibirnya.
"Maaf ya? aku gak punya receh," lirih Laras sambil menutupi wajahnya dengan sepuluh jari.
"Aku ... gak butuh receh sayang, tapi yang aku butuhkan adalah dirimu." Ibra jadi merayu.
"Ih ... gak usah merayu, udah dulu ya?" ucap Laras.
Ibra kecewa. "Hem ... kenapa sayang? aku masih kangen sama kamu--"
"Sudah, jangan menggombal. Aku mau salat. Oya, jangan lupa salat ya Tuan Ibra yang terhormat ...."
"Ya, sudah sayang. I love you, tunggu aku pulang ya? nanti malam." Sambung Ibra.
Laras terdiam, ia pikir Ibra akan makan siang di sini, ternyata nggak. Sambungan vc terputus, derap langkah kaki terdengar dan berhenti tepat depan pintu ....
****
__ADS_1
Aku mohon maaf ya ... reader ku. Aku telat up, dikarenakan kurang fit. Tapi ... biarpun telat, kalian bisa puas baca nya.