Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Jangan pura pura


__ADS_3

Sepanjang malam, Laras tidak nyenyak tidurnya. Kerena menunggui Ibra yang sedang demam.


Pagi-pagi buta Laras sudah bangun dan menempelkan punggung tangannya di pelipis dan bawah telinga Ibra. "Alhamdulillah ... panasnya sudah turun." Batin Laras sambil turun ke lantai, di ponselnya sudah mengalun suara adzan subuh. Ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan sekalian ambil air wudu.


Namun tangan Ibra menggenggam pergelangan Tangan Laras sambil bergumam. "Jangan pergi ..." entah ngigau atau apa, yang jelas gumaman Ibra tanpa membuka mata sedikitpun.


Netra mata Laras bergerak melihat tangan Ibra yang menggenggam tangannya. "Aku akan ke kamar mandi dulu sebentar, aku akan balik lagi." Perlahan Laras melepas genggaman tangan Ibra. Kemudian bergegas langkahnya menuju kamar mandi.


Selepas salat, Laras membuka gorden dan melihat Ibra yang kini nyenyak tidurnya. Serta panasnya sudah turun, Laras mengusap rambut Ibra. Lalu mengambil tasnya dengan niat mau membeli bubur buat sarapan Ibra.


Langkah Laras kian pasti meninggalkan kamar tersebut. Tidak lupa menutup pintu, Ia berjalan menyusuri lorong hotel. Melewati beberapa lantai untuk sampai ke lobby hotel tersebut.


Saat ini Laras sudah berada di luar hotel. Mencari bubur ayam, kebetulan tidak sulit untuk menemukannya dan membeli dua porsi untuk ia dan suami. Banyak mata pria memandang dan menggoda. Membuat Laras meremang, ketakutan dan bergegas kembali ke kamar hotel.


Selang beberapa waktu, Laras sudah berada di depan pintu. Blak! ia membuka pintu dan segera menutup kembali, melihat ke tempat tidur. Ibra tengah duduk bersandar di bahu tempat tidur.


"Dari mana?" suara Ibra yang serak itu.


Laras menyimpan bubur ayam di meja, jalan mendekati Ibra untuk ngecek suhu tubuhnya. "Alhamdulillah ... sudah turun." Gumam Laras sambil menyimpan tas kecil miliknya.


"Kenapa gak bawa ponsel mu?" tanya Ibra kembali dengan wajah tanpa ekspresi. Menatap kesal.


"Lupa, lagian cuma beli bubur kok," sahut Laras mendudukkan tubuhnya dekat Ibra. Dan memberi minum air putih pada Ibra.


"Kenapa gak bilang, kalau mau keluar?" tanya Ibra kembali, masih dengan tatapan kesal dan memberikan aqua air.


Laras membalas tatapan itu. "Gimana aku bisa bilang? kamu nyenyak tidurnya. Aku gak tega bangunin nya," menatap kedua netra mata Ibra sangat lekat.


"Kalau ada yang ganggu kamu gimana?" jelas Ibra kembali.


"Aku ..." Laras melamun mengingat tadi di luar. Memang ada beberapa pria berniat menggoda. "Yang penting ... sekarang aku sudah di sini, baik-baik saja. Jadi jangan berpikiran yang macam-macam."


Ibra mengalihkan pandangannya ke meja yang ada dua cup bubur ayam. Laras mengikuti pandangan Ibra.


"Ya, sudah. Makan dulu ya?" Laras mengambil satu cup dan di bawanya ke depan Ibra. "Aa ... sarapan dulu, biar cepat sembuh."


Ibra membuka mulutnya, dan Laras menyuapi Ibra bubur. Sekalian sarapan dengannya, satu cup berdua. Setelah satu cup itu habis. Laras bertanya. "Mau nambah lagi gak? biar satu lagi aku buka."


"Nggak sayang, aku sudah kenyang. Kamu habiskan saja, bumil harus makan yang banyak. Biar sehat juga baby kita." Sembari mengusap bibir Laras yang ada sisa buburnya.


"Saat ini, aku juga sudah kenyang, buat nanti aja kalau aku lapar lagi." Laras membereskan bekas sarapannya.


Kemudian memberikan Ibra obat yang semalam lagi. "Tadinya, kalau pagi ini panasnya tidak turun juga, aku akan panggilkan dokter ke sini."

__ADS_1


"Nggak usah sayang, aku cuma butuh kamu saja, nanti juga sembuh. Sekarang juga seperti yang kamu lihat, sudah agak baikan kok," ucap Ibra sambil melingkarkan tangan Ibra di perut Laras. Membuat Laras sulit bergerak.


"Sudah sarapan, minum obat juga sudah, sekarang istirahat lagi aja," ucap Laras sambil mengusap punggung tangan Ibra di perutnya.


"Em ... kamu temenin ya?" sahut Ibra sembari mengecup lembut pipi sang istri.


Laras mengangguk pelan. Kemudian melepas rangkulan tangan Ibra dari perutnya, lantas naik ke atas tempat tidur menarik selimut agar menutupi seluruh tubuh Ibra. Kemudian ia berbaring di sampingnya, meletakkan kepala di dada Ibra dan memeluk tubuhnya.


Lengan Kekar Ibra pun merangkul punggung Laras, sesekali mencium pucuk kepalanya. "Apa kamu bahagia bersama ku?" tanya Ibra pelan.


Laras tidak menjawab, ia bingung harus menjawab apa, bilang bahagia atau ... entah lah. Makanya ia hanya diam dan membenamkan wajahnya di dada Ibra.


Tangan Ibra mengelus rambut Laras yang panjang dan bergelombang itu. Sesungguhnya ia tidak membutuhkan jawaban apapun dari Laras. Bahagia atau tidak? yang jelas ia akan berusaha untuk membahagiakannya. Dan menjadikan dia milik Ibra seutuhnya.


Dalam pelukan Ibra, Laras berpikir apa beberapa hari ini Dian tidak mencari Ibra? biasanya kalau di mension tidak mau jauh dari suaminya ini. "Tapi ... ah ngapain juga mikirin orang lain, dia juga gak pernah memikirkan perasaan ku," gumam Laras dalam hatinya, sambil mendongak melihat Ibra yang ternyata memejamkan mata. Tidur kembali. Laras mencoba bangun.


Namun rangkulan Ibra sangat kuat. Dan bergumam. "Mau ke mana? temani aku!" suara serak nya terdengar jelas di telinga Laras.


Senyum Laras menyeringai. Ia punya ide yang mungkin akan ampuh untuk ia gunakan. "Aduh ... pengen ke toilet nih." Rintihan Laras pelan.


Ibra membuka matanya. "Hem ... kenapa?"


"Pengen ke toilet," sahut Laras.


Laras tersenyum puas, akhirnya bisa lepas juga, ia bangun dan bergegas ke kamar mandi. Meninggalkan Ibra yang kembali tertidur.


Seusai dari kamar mandi, Laras duduk di sofa menonton televisi dengan suara pelan. Agar tidak mengganggu tidurnya Ibra, namun tidak tega juga membiarkan dia sendiri. Akhirnya Laras balik ke atas tempat tidur, duduk bersandar dekat Ibra yang tidur. Tapi Ibra memindahkan kepalanya ke pangkuan Laras.


Kedua mata Laras bergerak melihat Ibra yang malah tidur di atas paha nya. Perlahan tangan Laras membelai rambutnya sambil nonton televisi.


Siang hari, Ibra bangun dan minta di siapkan air di bathtub. Lengket sekali badannya ingin bersih-bersih.


"Jangan mandi dulu ya? nanti masuk angin. Aku lap aja ya," ucap Laras dengan tatapan penuh harap. Ia tidak mau kalau Ibra mandi dan akhirnya masuk angin.


"Dengan air hangat sayang ... tubuh ku lengket banget. Pengen mandi aja." kekeh Ibra.


"Baiklah, kalau kamu kekeh mau mandi." Laras beranjak untuk menyiapkan air hangat. Untuk Ibra mandi.


Ibra pun turun dan membuka pakaian, berjalan menuju kamar mandi. Sementara Laras membereskan tempat tidurnya, menyiapkan pakaian untuk Ibra.


Laras masuk kamar mandi mau nyuci pakaian bekas Ibra barusan. Ibra menoleh Laras yang masuk menenteng bajunya barusan. "Sayang?" panggil Ibra.


"Hem ..." gumam Laras sambil mencuci di wastafel.

__ADS_1


"Ambilkan handuk dong?" pinta Ibra menunjuk handuk yang menggantung.


Laras menoleh handuk itu. Kemudian melangkah mengambilnya. "Ini handuknya." Laras memberikan pada Ibra yang sudah berdiri menunggunya. Ia menundukkan kepala tak berani melihat ke arah Ibra, takut melihat sesuatu.


"Makasih?" kenapa menunduk begitu apa ada sesuatu di lantai?" ucap Ibra sambil menyeringai.


"Ha, nggak ..." menoleh pada sumber suara yang sudah melilitkan handuknya.


Laras menggantungkan pakaian yang basah, lalu mau ke luar. Namun tangannya di tarik Ibra, tak ayal tubuh Laras menubruk dada bidang Ibra dan langsung di peluknya. Sementara waktu mereka saling pandang. "Cepat pakai baju mu, nanti masuk angin," gumam Laras.


"Tidak apa, masuk angin juga, ada kamu yang merawat ku," ungkapnya sambil mengecup pucuk kepala Laras.


"Ya, sudah. Kalau kamu sakit tidak mau aku rawat lagi," ucap Laras sambil menggeleng.


"Masa? apa kamu tega membiarkan ku sakit dan tidak ada yang merawat hem?" jari Ibra membelai pipi Laras.


Laras mendongak. "Biar saja, ada istrinya yang lain!"


"Kalau mau di rawatnya sama kamu, gimana?" menatap lekat dan memegang dagu Laras agar tetap mendongak.


Ibra mendekatkan wajahnya pada wajah cantik itu yang malah memejamkan mata, membuat Ibra makin mengembangkan senyumnya sesaat. Lalu menyatukan ***** dengan ***** Laras. Tangan kanan Ibra mengunci tengkuk Laras. Agar memperdalam ritual yang sedang berlangsung, sementara tangan kirinya menekan punggungnya ke dalam pelukan.


Laras hanya melingkarkan tangan di pinggang Ibra, yang perlahan menyeretnya ke dinding sampai mentok di sana.


Laras mendorong dada Ibra. Ia sudah tidak kuat dengan rasa pengap dan tidak bisa bernapas. Napas Laras naik turun tak beraturan, jantung semakin berdegup kencang. Seakan mau loncat dari tempatnya


Ibra pun melepaskan, menatap Wajah Laras yang malu-malu. Napas keduanya saling memburu, ritual barusan. Rupanya menuntut yang lebih dari sekedar itu. Ibra menggendong Laras, di bawanya keluar kamar mandi. Laras hanya pasrah dan mengalungkan lengan di pundak Ibra.


Dengan pelan-pelan Ibra membaringkan tubuh Laras di atas tempat tidur. Tatapan Ibra kian penuh damba, Laras berusaha mengalihkan niatan Ibra.


"Ka-kamu ... masih demam. Istirahat lah?" suara Laras yang bergetar menunjuk tempat tidur di sampingnya dengan ekor mata.


Ibra melirik yang Laras tunjukkan. Namun mendengar suara Laras yang bergetar seakan sudah terselimuti sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Kian menambah gairahnya. "Jangan pura-pura menolak ku. Padahal--"


Laras memotong perkataan Ibra. Dengan menempelkan jarinya di bibir Ibra.


Di luar lagi-lagi hujan deras, dibarengi guntur yang menggelegar. Duarrrrr! seketika tangan Laras memeluk tubuh Ibra dan menyembunyikan wajahnya di leher dia.


Ibra makin menyeringai. Merasa kian dikasih jalan oleh sang empu, tangannya dengan bebas bergerilya ke mana-mana yang ia sukai ....


****


Di tempat ku sedang hujan deras. Bikin betah tarik selimut dan malas ngapa-ngapain 🤔-- Gimana di tempat kalian? semoga hujan ini menjadi berkah ya.

__ADS_1


__ADS_2