
"Sayang, sedang apa? boleh Mama masuk." Suara bu Rahma dari balik pintu.
Laras menetap ke arah sember suara. "Masuk aja Mah ...."
Reket ....
Pintu terbuka dari luar. Nampak bu Rahma memasuki kamar Laras.dan mendekatinya. "Ada yang ingin Mama bicarakan sama kamu."
"Apa, Mah?" selidik Laras merasa heran dan penasaran.
Bu Rahma duduk di sofa dekat Laras. Wajahnya tampak serius sekali. "Gini sayang ... Mama mau tanya. Sebenarnya Laras sayang gak sama Abang?" menatap sangat lekat.
Deg, Laras terkesiap kok mama mertua tanya seperti itu? sebuah pertanyaan yang bingung harus ia jawab. "Eh ... kenapa Mama tanya seperti itu?"
"Nggak, Mama pengen tahu aja. Kamu sayang gak sama abang? Mama tahu, kalian menikah karena Dian yang memaksa kamu untuk menikahi Ibra. Sekarang ... kalian sudah menjalani rumah tangga apa kamu sudah punya rasa sayang sama abang?" selidik bu Rahma.
Laras memainkan kedua tangannya yang berkeringat dingin. Sayang, memang Laras sudah mulai sayang mungkin juga lebih dari itu, namun untuk saat ini ia masih ingin menyimpan dalam-dalam.
Sebab Laras takut suatu saat nanti hatinya akan patah, perasaan yang ada akan hancur. Karena bagaimanapun, pernikahan dirinya dan Ibra hanya sebuah keinginan bukan karena niat saling mencintai.
"Oke. Tidak usah kamu jawab, karena setidaknya Mama bisa melihat itu. Sudah gak perlu di jawab," bu Rahma mengusap bahu Laras dengan menunjukkan senyuman yang mengembang.
Netra mata Laras bergerak melihat sang mama mertua, dengan seutas senyumnya. Lega, tanpa harus menjawab apapun. Mama mertua seolah mengerti dengan apa yang ia rasakan.
"Cuma ... Mama mohon, bila anak itu sudah lahir. Jaga anak itu dengan tangan Laras sendiri, jangan di serahkan sama Dian. Percuma kalau larinya ke baby sitter juga, kasian anaknya." Tambah bu Rahma dengan tatapan penuh kasih sayang.
Laras.mendongak yang mulanya menunduk dan mengusap perutnya. "Siapa bilang? aku akan menyerahkan anak ini, nggak Mah. Aku akan rawat sendiri, sekalipun abang meninggalkan kami, ku akan rawat anak ini. Dengan segenap kemampuanku ini." Laras memberi jawaban yang membuat bu Rahma terkagum.
"Menurut Mama, abang gak akan pernah meninggalkan kamu dan anak itu. Dan kami mendukung abang terus bersama mu sayang," bu Rahma dengan yakinnya.
"Sepertinya sih seperti itu, tapi ... abang sangat mencintai Dian Mah ... Mama pasti tau itu?" sambung Laras menatap ke arah mama mertua.
"Tapi, abang juga sayang sama kamu. Lihat dari matanya, dari perhatiannya. Cara dia memperlakukan dirimu, bukan sekedar kamu itu sedang mengandung anaknya. Tapi dia juga sudah jatuh cinta sama kamu." Bu Rahma semakin mengembangkan senyumnya.
"Mah ... aku sudah merebut abang dari Dian, bahkan merebut segalanya. Dian ingin, abang itu cuma menanam benihnya saja di rahim ku. Bukan untuk mencintaiku, ataupun dengan segala perhatiannya. Kadang aku merasa berdosa Mah!" ungkap Laras sembari menundukkan kepalanya. Mengusap perut dengan lembut.
"Oh, sayang ... jangan begitu. Ini bukan salah mu, anggap saja ini ini rejeki mu. Raih kebahagian mu sayang," bu Rahma memeluk Laras. Mengusap punggungnya dengan lembut.
"Tapi, Mah ...."
"Jangan tapi-tapi. Pokoknya Mama ingin kalian tetap bersama. Titik." Tegas bu Rahma.
Hening!
Kemudian Laras bergegas ke kamar mandi, sementara bu Rahma keluar dari kamar Laras. Usai salat, Laras ke meja makan dan makan siang bersama.
Sore hari, Laras sedang menikmati suasana senja yang indah. Bersama bu Rahma sambil mengobrol tentang persiapan empat bulanan.
Terdengar suara gerungan mobil di depan, Susi berlari ke depan untuk membuka pintu pagar.
Setelah pagar terbuka, mobil Zayn masuk. Turunlah kedua pria tersebut dan memasuki rumah, namun sebelumnya ngecek jendela kaca yang sudah di ganti itu.
"Nyonya di mana Sus?" tanya Ibra melirik Susi yang berdiri di depan pintu.
"Nyonya, di taman sama Nyonya besar," sahutnya Susi, menunjuk ke arah taman.
__ADS_1
"Oh," Ibra membulatkan bibirnya.
"Gimana? rapih, bagus. Atau gimana hasilnya ini." Zayn menatap ke arah Ibra.
Ibra mengangguk, dan terus mengamati kaca tersebut. "Bagus, rapi."
"Ya, sudah. Aku mau pulang dulu," pamit Zayn sambil mengayunkan langkah kakinya menuruni teras.
"Oke," gumamnya Ibra mengangguk.
"Nggak, di kasih makan nih?" tanya Zayn menoleh ke samping, dimana Ibra berdiri.
"Tanya aja saja sama yang masak, apa jam segini sudah matang masakan." Ibra melirik Susi yang mesem.
"Belum, Tuan. Belum matang semua, tapi ... kalau mau makan, boleh. Sudah sebagian matang kok," ucap Susi pada Zayn.
"Nggak ah, mau makan di luar saja." Timpal Zayn sembari memasuki mobil, mundur. "Sus, tolong dong pagar."
"Tuan, emangnya pagar bisa nolong apa?" tanya Susi sambil memperlihatkan giginya.
Zayn menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Haduh ... tolong Sus. bukain pintu pagar," ulang Zayn dengan muka kesal.
"He he he ... nah, gitu ... baru ini benar, Tuan." Susi berlari membuka pintu pagar. "Huh ... kalau tau mau balik lagi, gak usah di tutup aja tadi." Gerutu Susi.
Ibra masuk ke dalam rumah sambil membuka jas nya. Ia tenteng di tangan, niatnya mau ke taman tapi pintu kamar sudah terbuka dan ada bayangan Laras di sana.
"Assalamu'alaikum ..." sambil menutup pintu dan menguncinya.
"Wa'alaikum salam," jawab Laras yang sedang menutup gorden, menoleh ke arah Ibra.
"Sedang tidur," sahut Laras sambil mesem.
"Em ... bisa saja!" Ibra menjepit gemas, hidung Laras yang bangir itu.
"Ih ... sakit," pekik Laras, lalu membenamkan wajahnya di dalam pelukan Ibra yang hangat.
Ibra memeluk erat dan mengusap rambut Laras dengan sangat halus. Mencium pucuk kepalanya penuh kasih sayang.
Jari-jari Laras membuka kancing kemeja sang istri satu/satu. "Mandi dulu sana? bentar lagi juga magrib. Aku siapkan air hangat dulu ya!" Laras mendongak.
"Hem ... boleh," kembali Ibra mengecup kening sang istri. Berakhir di ***** nya Laras lama ... merasakan hangatnya.
Bukan cuma itu saja, Ibra m******* dan *******nya dengan sangat lembut, juga sangat menggairahkan.
Perlahan Laras mendorong dada Ibra. "Sebentar lagi magrib, mandi dulu ya?" dengan nada sangat lirih.
Ibra melepas pelukan dangan sedikit kecewa. Namun kata Laras benar juga, ia menoleh putaran jarum jam yang sudah menunjukkan kalau sebentar lagi juga magrib. "Baiklah sayang."
Laras membukakan kemeja dari tubuh Ibra. Kemudian bergegas ke kamara mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub. Sekalian mengambil air wudu.
"Salatnya bareng ya?" ucap Laras ketika berpapasan dengan Ibra yang membawa langkahnya ke kamar mandi.
Selepas salat bersama, Ibra membuka laptopnya. Sementara Laras masih berzikir, di sela-sela berzikir. Laras merasakan sesuatu yang bergerak di perutnya.
Netra mata Laras bergerak, melihat Ibra yang begitu fokus ke layar laptop. "Masya Allah ..." gumam Laras, dengan senyuman mengembang ini baru kali pertama merasakan janinnya bergerak.
__ADS_1
Ibra menoleh. "Kenapa sayang?" melihat Laras yang menundukkan kepalanya.
Laras mendongak dengan senyuman bahagia, sesuatu kebahagiaan yang tidak dapat di ungkapkan dengan apapun. "Di perut ku ada yang bergerak."
"Apa?" seraya melompat, Ibra mendekati Laras, duduk bersimpuh dekat Laras dan menyentuh perut Laras. "Mana? mana yang bergerak."
"Di sini," tangan Laras menggeser telapak tangan Ibra. Pada tempat yang dirasa Laras rasakan getarannya.
Senyum di bibir Ibra mengembang, ketika tangannya merasakan pula getaran itu. "Sayang baby nya bergerak." Netra mata terus bergerak melihat wajah Laras dan kembali turun ke arah perut.
Alangkah bahagianya hati Ibra dan Laras, biarpun anak itu belum lahir. Setidaknya, Laras dan Ibra sudah merasakan kehadirannya. Ibra meraih kepala Laras, dan menghujaninya dengan ciuman. "Makasih sayang, makasih? semoga kalian berdua sehat-sehat selalu."
Laras pun terus mengembang kan senyumnya, merasakan kebahagiaan yang amat sangat tiada tara ini. "Sama-sama. Aamiin ... dan aku mohon, jangan pisahkan kami," kedua manik mata Laras menatap lekat ke wajah Ibra begitu jelas terpancar sebuah kebahagiaan.
"Nggak sayang, tidak akan aku pisahkan kalian berdua. Tidak akan pernah." Ibra semakin mengeratkan pelukannya.
"Benarkah?" tanya Laras ragu.
"Benar, sayang ... coba lihat di mataku, apa ada kebohongan di sana hem?" Ibra menyakinkan hati Laras.
Laras memandangi Ibra dengan tatapan yang sangat lekat mencari kesungguhan dari Kata-kata Ibra barusan.
"Kamu, harus percaya padaku. Kita akan menjaga sama-sama anak kita ini," ungkap Ibra sambil menempelkan dagu di kepala sang istri.
Merasa sudah puas dengan rangkulannya. Ibra mengajak Laras makan. "Makan yu sayang? atau kamu mau makan di mana gitu, aku temani."
Laras menggeleng. "Nggak ah. Kita makan di rumah saja." Berdiri melipat sejadah nya. Kemudian keluar kamar, jalan dengan santainya menuju dapur.
Ibra mengikuti dari belakang, karena ia harus membalas chat sari seseorang. Di meja makan masih kosong, hanya ada Susi yang sedang merapikan perabotan.
"Mama dan Papa mana Sus?" tanya Laras berdiri memegangi sandaran kursi. Kemudian Ibra menyiapkan kursi untuk Laras duduki.
"Mungkin masih di kamarnya Nyonya, sebentar Susi panggilkan." Susi bergegas pergi untuk memanggil bu Rahma dan suami.
Seperti biasa, Laras mendahulukan mengambil piring dan isinya untuk Ibra. "Makasih sayang," ucap Ibra sambil menarik sudut bibirnya tersenyum.
"Iya," balas Laras, di tambah dengan senyuman terindahnya.
"Ayo, makan yang banyak. Biar Mommy dan baby nya sehat dan kuat juga." Ibra menyuapkan makan pada Laras yang langsung Laras sambut dengan membuka mulutnya.
"Wah ... Mama sangat bahagia melihat kalian berdua nampak mesra selalu ya Pa?" suara bu Rahma yang baru muncul bersama suaminya. Marwan.
Laras tersipu malu, sementara Ibra santai aja dan fokus dengan makannya. Kemudian semuanya makan malam dengan sangat lahap, diselangi dengan obrolan ringan antara Ibra dan ayahnya.
Laras berdiri mengambil air minum dari dispenser, lalu duduk kembali meneruskan duduknya setelah menyimpan gelas minumnya.
Saat ini Ibra sudah berada di kamarnya, duduk bersandar pada tumpukkan bantal yang ia susun di belakang punggungnya.
Laras, baru keluar dari balik pintu kamar mandi, habis ganti dress tidurnya. Sambil jalan mengikat tali dress tersebut.
"Sini sayang?" tangan Ibra menepuk kasur di sampingnya.
"Ada apa? memang aku mau ke sana" balas Laras sambil menunjukkan senyuman dari bibirnya itu ....
****
__ADS_1
Hi ... reader ku semua, gimana, kabar kalian saat ini? semoga selalu ada dalam lindungan yang maha kuasa ya. Terus dukung aku ya ... jangan lupa like, komen dll nya.