Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Kucing dan Tikus


__ADS_3

Zayn memutar kembali tubuhnya, sebab mendengar ocehan Susi. Mendekat pada sang memberi ocehan, lantas. "Assalamu'alaikum," dengan suara keras ia tujukan di telinga Susi.


Bola mata Susi terbelalak, melotot dengan sempurna. Kedua telapak tangannya memegangi kedua gendang telinga yang mendadak sakit karena ulah Zayn. "Tuan, Zayn sudah gila apa? dari jauh juga aku dengar. Tidak perlu ucap salam di depan telingaku dengan berteriak segala. Dasar gila."


Zayn menggaruk kepala yang tidak gatal. "Saya bingung jadinya, saya selalu salah di mata mu. Jangan-jangan kamu yang gila? atau sinting atau ... semacamnya lah."


Dugh!


"Awwww," pekik Zayn sambil mengangkat kakinya yang terasa panas dan sakit.


Rupanya Susi menginjak kaki Zayn sekerasnya. Dia marah tidak terima dibilang sinting oleh Zayn, malah Susi menambah dengan tendangan tepat di lututnya.


Tak ayal Zayn terjatuh ke lantai. Sambil memekik, Zayn menggerutu. "Eh. Kalau kamu merasa jagoan kenapa kemarin kamu tidak menjaga majikan mu itu? mungkin saat ini dia tidak berada di rumah sakit ini. Dasar tulalit."


Susi bengong. Benar juga kata Zayn. "Tapi ... bagaimana aku bisa bertindak? kalau ujung pisau itu sudah mengarah ke Nyonya muda," bela Susi tak mau kalah.


Ibra dan Laras bengong melihat mereka berdua yang seperti kucing dan tikus. Saling maki bahkan Susi berani menyerang Zayn.


"Kalau kau berani apa salahnya, serang mereka. Jangan sama saya kamu berani, edan." Gerutu Zayn sambil nyengir merasakan sakit. Lalu mengedarkan pandangan pada Ibra yang bengong dan mesem-mesem.


"Aduh Bos, tolong napa? peliharaan mu galak benar--"


"Apa? kau pikir aku ini binatang peliharaan. Sembarangan kalau ngomong, dasar batu," ujar Susi memotong perkataan Zayn.


"Kamu yang edan," ucap Zayn berdiri dan di tarik oleh Ibra.


"Kamu yang batu. Zaylangkung dasar." gerutu Susi sambil mencabikkan bibirnya ke depan.


"Cepat cari obat," ucap Ibra sambil menunjuk kaki Zayn yang merah itu.


"Iya, nih Bos sakit. Panas juga." Keluh Zayn.


"Susi, antar Zayn ke mobil nya," titah Ibra pada Susi yang berpangku tangan di dada.


"Saya? saya yang harus antar dia, ogah." Susi menunjuk dirinya lalu menggeleng malas.


"Iya, kamu. Siapa lagi? masa saya harus nyuruh istri saya yang sedang sakit, kan gak mungkin." Tambah Ibra sambil melirik ke arah Laras yang mengulum senyumnya.


"Tapi?" Susi merengut.


"Sus ... antar kan sana kasian loh," perintah Laras pada Susi.


"Uuh ... Susi lagi," gumam Susi.


"Masih untung atasnya yang sakit. Coba kalau telapak nya! gimana nasib aku ke kantor bawa mobil? payah." Zayn ngomel.


"Sudah, jangan ngomel. Masih untung, kan?" Susi berdiri dekat Zayn. Kemudian Zayn berjalan sedikit tertatih, Susi mengekor dari belakang.


Ibra yang kini duduk dekat Laras. Tersenyum lucu melihat bawahannya, begitupun Laras yang menempelkan dagunya di bahu Ibra. Mesem-mesem.


"Ada-ada aja mereka ya? tapi baru kali ini loh melihat mereka seperti itu. Biasanya canggung, kaku. Tapi sekarang malah berbeda," gumamnya Laras.


Ibra menoleh, dan senyuman di bibirnya tak pudar. "Iya, memang baru kali ini mereka seperti itu. Lucu ya?" jari Ibra menjepit hidung bangir Laras.


"Ih ... sakit," pekik Laras sambil mengusap hidungnya.


Kecupan hangat mendarat di kening, pipi. Hidung dan berakhir di ***** Laras, lama mendarat di sana. Tangan Laras berada di dada Ibra, itu terjadi sampai terdengar suara derap langkah Susi yang mendekati pintu kamar inap sang majikan.


Ibra segara menyudahi ritualnya. Jemarinya Mengusap bibir Laras dengan sangat lembut, lalu mengusap bibirnya sendiri dan menoleh ke arah pintu yang mulai terbuka sebab Susi masuk dengan masih cemberut.


"Kenapa Sus? makin maju aja tuh bibir," selidik Laras sambil tersenyum manis.


"Uuh ... Nyonya, itu tuan Zayn bikin jengkel aja tuh orang. Bikin kesel, kesel-kesel ..." sahut Susi sedikit menghentakkan kaki ke lantai.


"Jangan, terlalu benci. Nanti jatuh cinta loh?" ucap Laras sambil terkekeh.

__ADS_1


"Iih ... amit-amit, saya jatuh cinta sama dia? ogah," seru Susi lagi.


"Dulu juga Nyonya muda gak suka sama saya, sekarang malah lengket, dulu takut kalau saya sentuh. Kini malah minta duluan--"


"Bohong, itu bohong. Mana ada aku minta? sembarangan ye!" ungkap Laras tak terima di bilang minta duluan. Wajahnya menunduk malu.


"Ih, amit-amit." Susi bergidik, lalu mengetuk keningnya dengan jari.


Disaat mereka berdebat kecil. Ada suara ketukan pintu dari luar. Susi bergegas membukakan pintu, ternyata Jodi dan ibu panti yang datang.


Bu panti mempercepat langkahnya menghampiri Laras. "Laras. Kenapa kamu, Nak?" langsung memeluk tubuh Laras.


"Nggak kok, Bu ... cuma luka kecil aja," sahut Laras sambil membalas pelukan bu panti.


"Masa luka kecil? tapi ... sampai masuk rumah sakit kaya gini." Tambah bu panti cemas.


"Nggak pa-pa kok Bu ... mungkin besok lusa juga bisa pulang," sambung Laras lagi.


Jodi menghampiri Ibra yang sedang sibuk dengan laptopnya. Jodi menyimpan bunga yang ia bawa di meja. "Siang?"


"Siang juga, silakan duduk?" ucap Ibra sambil menyuruh Jodi duduk.


"Makasih. Gimana keadaan Laras sekarang?" tanya Jodi. Menatap pria yang berada di hadapannya serta sibuk dengan laptopnya.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Dari semalam." Jawab Ibra tanpa menoleh. Matanya begitu fokus pada layar.


"Syukurlah kalau begitu." Jodi mengangguk.


Laras berbincang dengan bu panti. Bu panti meneteskan air mata melihat kondisi Laras.


"Jangan menangis, Bu. Aku gak ke napa-napa. Doakan saja biar aku cepat sembuh, bisa secepatnya pulang juga." Laras mengusap punggung tangan bu panti. Dengan senyum getirnya.


"Itu, pasti Laras. Ibu selalu doakan kamu, lain kali hati-hati kalau bepergian. Jangan pergi sendirian, apa salahnya di kawal gitu." tutur bu panti.


"Tapi, suami mu itu bukan orang sembarangan. Siapa tau ada yang tidak suka dengan kesuksesan suami mu, dan kamu yang jadi sasarannya," ujar bu panti mengungkapkan kecurigaannya.


Laras menoleh ke arah Ibra yang kebetulan menatap dirinya setelah mendengar ucapan bu panti. Kemudian kembali mengedarkan pandangannya pada bu panti. Laras menghela napas, seraya berkata. "Jangan berprangsangka buruk, Bu ... gak baik loh."


"Bukan berprangsangka buruk, Nak ... tapi kan benar! kalau suami mu itu pasti banyak saingannya." Lanjut bu panti kembali.


"Susi, mana makanannya. Suguhi tamu dengan makanan dan minum." Laras melirik ke arah Susi yang bengong.


"I-iya, Nyonya muda. Lupa! he he he ..." gumam Susi lalu menyuguhkan makanan di meja yang ada di hadapan Jodi.


"Bu, gimana kabar anak-anak?" tanya Laras pada bu panti.


"Mereka baik-baik saja, Nak. Mereka juga ingin ikut. Namun Ibu tak ijinkan. Nanti ajalah kalau sudah pulang ke rumah." Lirih bu panti.


"Oh, iya nanti saja kalau aku sudah pulang. Ajak mereka ke sana ya, Bu?" pinta Laras sambil mengembangkan senyumnya.


"Iya, pasti Ibu akan ajak mereka ke rumah mu nanti. Kamu nya cepat sembuh ya?" mengusap punggung Laras.


"Aamiin ... ya Allah." Gumamnya Laras.


Ibra beranjak menghampiri Laras dan akan berperan sebagai pmo, pengawas minum obat. "Minum obat dulu sayang." Sembari mengambil obat dan minumnya.


Netra matanya Jodi tertuju pada Ibra yang tampak sangat menyayangi dan perhatian pada Laras. Dalam kepala Jodi sekilas terbayang kejadian tempo hari yang kalau di ingat bikin hatinya dag dig dug, gak terbayang kalau sampai terjadi sesuatu yang tak di inginkan. Bisa-bisa fatal akibatnya.


Semenjak itu, ia dan Dian jarang bertegur sapa meskipun ada pertemuan. Dulu yang terbilang dekat, berubah suasananya menjadi canggung. Mungkin Dian merasa malu atau ... entahlah. Yang jelas Jodi pun merasa ada kecanggungan, ketegangan. Hatinya tak senyaman dulu, justru berubah gusar. Tak tenang, kadang berpikir gimana jadinya kalau Ibra sampai tahu? sebab bagaimanapun Dian istrinya Ibra.


Dan sudah tiga hari ini, kabarnya Dian sedang mengadakan peranan ke Lombok bersama rekan-rekannya. Urusan kerjaan sekaligus liburan dalam jangka waktu kurang lebih 10 hari.


Bu panti, berpindah duduknya ke sofa sebelah Jodi yang anteng melamun. Pandangannya tembus keluar jendela. "Nak Jodi?" panggil bu panti keheranan.


Mata jodi masih menatap kosong. Isi kepalanya masih anteng dengan lamunan, sehingga tak merespon sapaan bu panti.

__ADS_1


"Sudah, dzuhur. salat dulu?" ucap Laras dengan lirihnya mengingatkan Ibra untuk salat.


"Iya, sayang. Aku cari mushola dulu ya! gak pa-pa, kan? aku tinggal sebentar." mengusap lembut punggung tangan Laras, lalu di kecupnya.


"Nggak pa-pa, ada Susi juga," ungkap Laras.


Ibra menoleh Susi yang duduk gak jauh dari Laras sambil main games. "Susi, saya titip Nyonya muda."


Susi mendongak. "I-iya, Tuan. Siap," sahut Susi dengan cepat.


Ibra membawa langkahnya keluar kamar, namun ketika melintasi bu panti. Ibra menghentikan langkahnya sesaat. "Bu, titip Laras sebentar. Saya keluar dulu."


"Oh iya, Nak Ibra. Silakan, Ibu gak ke mana-mana kok." Bu panti mengangguk pekan sambil memakan makanan yang tersedia di meja.


"Makasih, Bu!" detik kemudian Ibra lanjutkan langkahnya dengan niat ke mushola.


Jodi yang masih tetap anteng dengan lamunannya. Membuat bu panti penasaran, ia coba menepuk bahunya. "Nak Jodi kenapa?"


Barulah Jodi sadar dari lamunannya dan menoleh pada bu panti. "Oh, ada apa Bu?"


"Ya, Ampuun ... Nak Jodi melamun begitu anteng. Ibu berkali-kali panggil, gak merespon. Mikirin apa sih?" selidik bu panti.


"Oh ... nggak kok, gak mikirin apa-apa, biasa aja." Elak Jodi sambil menunjukkan senyumnya.


"Mungkin sedang memikirkan calonnya, Bu." Timpal Laras menatap ke arah Jodi.


Jodi meneguk minumnya, kemudian berkata. "Nggak juga ah."


"Yang mana sih calonnya? bawa dong ke panti kenalkan sama ibu." Bu panti merespon ucapan Laras.


"Apa? opa-opa punya calon, ah ... Susi patah hati dong," rajuk Susi dengan nada sedih.


"Susi mau jadi pacar saya? ayo kalau mau!" canda Jodi pada Susi.


"Mau-mau, mau banget. Tapi itu gak mungkin deh ..." ungkap Susi menunduk sesaat. Lalu mendongak kembali sibuk dengan ponselnya.


Jodi celingukan, mencari Ibra yang tidak ia lihat lagi. "Suami mu mana?"


"Tuan Ibra ke mushola, dasar melamun nya begitu anteng, sampai-sampai orang lewat pun gak kelihatan." Bu panti menggelengkan kepalanya.


"He he he ... iya kali." Jodi memperlihatkan gigi putihnya.


"Oya, Nak Jodi gak terganggu nih nemenin Ibu? maksud Ibu kerjaannya. Gak terganggu."


"Ah nggak Bu, santai aja. Gak apa-apa kok," sahut Jodi. Kedua netra matanya menatap lekat pada Laras.


Menerima tatapan dari Jodi seperti itu, Laras jadi salah tingkah. Gak enak kalau sampai Ibra tahu, bisa berabe urusan.


Laras menunduk dan pura-pura melihat ponselnya. Terdengar suara bu panti mengajak ngobrol Jodi, Laras kembali mendongakkan kepalanya itu.


"Nak Jodi. Dulu katanya ingin menanyakan sesuatu atau ingin mencari seseorang, gimana sudah ada titik terangnya?" selidik bu panti menatap lekat ke arah Jodi.


"Oh, soal itu ... iya, saya mencari seseorang. Tapi ... sampai saat ini belum saya jumpai juga," sahutnya Jodi. Melirik ke arah bu panti.


"Siapa? pacar atau siapa," tanya bu panti lagi penasaran.


Sebelum menjawab Jodi meminum kembali air mineralnya sampai tandas, ketika mau bicara. Netranya melihat Ibra yang masuk dengan wajah lebih segar, Jodi terdiam.


"Gimana kalian belum makan bukan? sebentar lagi makan siang akan datang. Tunggu sebentar." Suara Ibra sambil berjalan menuju sang istri, Laras. Cuph mengecup keningnya.


Sekilas melihat adegan itu, wajah Jodi melengos. Membuang pandangannya kelain arah, ada rasa yang sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Sebab ia sendiri pun tak mengerti, tak fahami dengan itu ....


****


Hi ... readerku makasih ya atas dukungan kalian semuanya🙏 tanpa kalian aku bukanlah siapa-siap. Semoga kalian semua sejahtera, sehat dan diberi kelancaran dalam setiap hal. Aamiin ....

__ADS_1


__ADS_2