
"Tuh kan? anak kecil aja tahu kalau yang di suapi itu anak kecil," ucap Laras. Mengarahkan pandangan pada Ibra.
Netra mata Ibra menatap sang istri. Punggung jarinya mengelus lembut pipi sang Istri. "Emang gak boleh gitu bermanja-manja sama istri hem?"
"Em ... boleh sih."
"Terus? apa masalahnya, kalau boleh." Tangan Ibra menggenggam jemari Laras dan meremasnya lembut. Kemudian di ciumnya, cuph. "Hari ini aku lambat pulang ya?"
"Iya, kan semalam sudah bilang," kata Laras. Ia masih ingat benar kalau semalam Ibra sudah bilang akan pulang telat.
"Kan bilang lagi." Ibra mencondongkan wajahnya mengecup kening sang istri. Kemudian Ibra balik ke kamar untuk mengambil laptop dan jam tangannya yang masih di kamar.
"Nyonya mau sarapan sekarang?" tanya Susi sambil menatap menu sarapan di meja.
"Oh, nggak Sus. Nanti aja. Mau mandi dulu." Laras berdiri menuntun langkahnya ke kamar.
Setelah sampai di kamar, netra matanya mendapati Ibra tengah memakai jam tangan dan memunggungi pintu. Laras terus berjalan mendekat, lalu memeluk perut Ibra dari belakang. Menenggelamkan wajahnya di punggung sang suami.
Bibir Ibra menyunggingkan senyuman. "Hem ... ada angin apa nih? main peluk segala." Goda Ibra.
"Em ... gak boleh bukan?" gumamnya Laras. Namun tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Boleh dong sayang ... masa gak boleh?" tangan Ibra memudarkan lingkaran tangan Laras. Dan memutar badan, kini keduanya saling berhadapan.
Tangan Laras masih berada di pinggang sang suami. Wajahnya sedikit mendongak menatap wajah Ibra yang menunduk dan melabuhkan kecupan singkat di keningnya.
Kedua tangan Ibra merangkul punggung sang istri, sementara waktu di peluknya sangat erat. Dalam suasana yang hening ini, keduanya saling mencurahkan rasa kasih sayang. Berkali-kali Laras mendapat kecupan hangat di keningnya.
Tangan Ibra menuntun tangan Laras agar melingkar di pundaknya. Manik mata Laras yang indah menatap lekat manik mata Ibra. Keduanya larut dalam pandangan mata terkunci di satu posisi. Tiba-tiba hadir sebuah rasa dalam hati Laras, keinginan untuk menyentuh bibir Ibra.
Kaki Laras berjinjit naik. Dan tangannya menarik kepala sang suami, lantas mendaratkan kecupan hangat. menyapu dengan lembut bibir sang suami, Ibra.
Mulanya Ibra terkesiap, namun hatinya berbunga. Bahagia dengan perlakuan sang istri kali ini. Biasanya ia sendiri yang berperan, lain dengan kali ini. Membuatnya sangat bahagia dalam menikmatinya.
Jantung keduanya berdegup kencang, deg deg deg deg. Seolah berpacu begitu cepat,
Sesaat kemudian Sentuhan itu berakhir. Dengan wajah semu merah, malu-malu. Manik mata Ibra berbinar bahagia, seakan mendapatkan asupan vitamin yang membuat semangatnya bertambah.
Kedua bahu Laras, Ibra tarik ke dalam pelukan. "Abang berangkat dulu ya? jaga baby boy kita dan baik-baik di rumah."
Kepala Laras yang berada dalam dada bidang sang suami mengangguk pelan. "Hati-hati juga. Di jalan, semoga rapatnya lancar."
"Oke. Abang mau melihat baby boy yang di jemur sama omanya dulu, pengen tahu apa harus sampai kering atau gimana?" Hehehe.
"Idih, emangnya baby Satria kerupuk yang harus di jemur kering? asal deh." Laras mengulas senyum lucunya.
"Ha ha ha ..." tangan Ibra mengusap puncak kepala Laras, lantas berjalan membawa langkahnya menuju sang bunda dan baby boy.
Setelah Ibra pergi, Laras sendiri mengayunkan langkah ke kamar mandi mau bersih-bersih terlebih dahulu.
"Mah, aku pergi dulu." Kata Ibra sambil mencium kepala si kecil. Dan berpamitan pada sang ibunda dan bu panti, yang bernama Rosa itu.
"Ya, Hati-hati sayang." Bu Rahma mencium pipi Ibra kanan dan kiri.
Ibra bergegas menuju mobil kesayangannya. Haru begitu cerah, suara burung pun terdengar dari rumah tetangga yang mempunyai burung.
Setelah Ibra memakai sabuk pengaman, barulah Irfan menyalakan mesin dan melajukan dengan kencang. Membelah jalanan pagi yang berlalu lalang. Menyambut aktifitas di pagi ini.
Mobil terus melaju kencang dengan suasana hati Ibra yang fres. Raut wajah yang merona bahagia. Tak ada perbincangan yang terucap dari bibir keduanya. hanya suara gerungan mesin aja yang menghiasi suasana di dalam mobil.
Tak selang lama, mobil Ibra pun sampai di halaman salah satu gedung pencakar langit. Dimana kantor Ibra terletak di sana. Irfan turun duluan dan membuka pintu untuk Ibra.
"Makasih?" gumam Ibra sambil turun, membawa tas yang berisi laptopnya.
"Sama-sama," sahut Irfan sambil mengangguk. Menutup kembali pintu itu.
"Oya. Kamu balik lagi aja, jaga di rumah. Nanti siang akan ke mension dengan rekan yang lain, kalau saja saya perlu! pasti akan telepon kamu. Menyuruh untuk jemput, sekarang kamu pulang saja," ujar Ibra membalikkan badan ke arah Ifan.
"Oh, baik Tuan." Irfan mengangguk dan kemudian memutar kemudi. Kembali ke kediaman Laras.
Ibra melanjutkan langkahnya menuju kantor tempatnya beraktifitas.
Scurity mengangguk hormat pada sang Bos, di balas dengan anggukan oleh sang CEO. Dengan tetap berjalan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
Setelah sampai di ruangan pribadinya. Ibra meletakkan tas di meja, duduk di kursi kebesarannya. Baru saja menempelkan dirinya di tempat duduk.
Zayn datang, ke ruangan Ibra Tersebut. Membawa beberapa berkas di tangannya. "Pagi Bos!" ia duduk tanpa menunggu dipersilahkan duduk.
"Kita bisa berangkat sekarang?" tanya Ibra menoleh Zayn.
"Siap. Kita berangkat, sebelum siang." Jawab Zayn sambil kembali berdiri.
Ibra dan Zayn pun berjalan, untuk pergi ke kantor cabang. Zayn yang mengemudikan mobil nya menuju kantor cabang yang terletak di luar kota.
Selang beberapa puluh menit. Mobil Zayn sampai di kantor cabang. Ibra dan Zayn langsung menemu karyawan, rekan-rekan kerja. Melakukan pertemuan dadakan.
Setelah melakukan pertemuan nya dengan karyawan di kantor cabang. Ibra dan Zayn pun pulang, kembali ke kantor pusat.
"Gimana, kamu masih sama cewek kamu?" tanya Ibra menatap ke arah Zayn.
"Em ... sudah tidak lagi," menggeleng.
"Kenapa? bukannya mau lebih serius?" selidik Ibra merasa heran.
"Nggak, kenapa-napa!" sahut Zayn sambil menggeleng. Tatapannya fokus ke depan ke jalanan yang ramai dengan kuda-kuda besi lainnya.
"Terus? kamu mau selamanya sendiri. Atau jajan gitu! carilah wanita baik-baik yang akan menyayangi mu sepenuh hati, Emangnya kamu gak ingin punya istri. Seperti saya." Lanjut Ibra dan mengalihkan pandangan nya ke samping.
"Ha ha ha ... saya ini normal Bos. Pengen lah. Cuma masih perlu waktu untuk mencari wanitanya."
"Mau gak saya carikan? kali aja kamu pun akan cocok," ucap Ibra dengan nada sangat serius.
"Ha? mau comlangin saya gitu! sama siapa, saya lagi gak minat sama wanita karier, nggak-gak." Menggeleng.
"Lah ... terus sama wanita yang kaya gimana? wanita rumahan! mau kamu. Bukannya lebih pantas seseorang yang satu frekuensi dengan mu ha!" Ibra merasa heran.
"Saya ... jujur kadang takut seperti yang sudah-sudah. Contoh nya anda punya istri karier, pada akhirnya anda bahagia dengan wanita yang sekarang. Bukan gak bisa berkarier, tapi pilihan di rumah. Itu yang bikin anda bahagia Bos. Itu yang saya lihat dari dirimu."
"Berarti kamu juga bisa memilih wanita karier, tapi suruh aja dia diam di rumah. Apa susahnya?" sambung Ibra kembali dengan sekilas melihat Zayn dari kaca spion.
"Gak segampang itu Bos." Lagi-lagi menggeleng. Kurang setuju dengan pendapat Ibra.
"Ah, bingung-bingung amat sih, mau gak sama Susi. Dia wanita rumahan dan lumayan baik hati kok, ya ... biarpun kadang kalian seperti kucing dan tikus. saya yakin kalian bisa saling mencintai, Susi itu sosoknya cukup cantik, apalagi kalau di poles. Dia manis." Ibra tak segan untuk menjodohkan Zayn dengan Susi.
"Tapi. Kalau kalian menikah, maunya sih Susi masih bekerja sama istri saya. Tapi terserah juga, tergantung kamu sebagai suaminya. Sebab itu hak kamu juga," lanjut Ibra.
Sunyi!
Zayn tidak menjawab apa pun lagi. Hatinya bercampur aduk, Berpikir keras. Menimbang-nimbang dengan saran sang Bos. Yang mungkin ingin hidupnya lebih terarah.
Tak terasa mobil pun sampai lagi di depan gedung pencakar langit. Ya itu Kantor Ibra berada.
Waktu baru menunjukkan pukul 11 siang. Ibra kembali melanjutkan rutinitas nya di ruang kerja. Kini Ibra tengah fokus dengan berkas yang menumpuk di meja. Sesekali netra matanya ke layar laptop yang berada tepat di sebelah samping meja.
Telepon berdering dari sekretarisnya yang mengatakan kalau ada tamu wanita yang ingin bertemu. Lantas Ibra menyuruhnya masuk. Ia penasaran siapa wanita itu. Mata Ibra arahkan ke pintu.
Munculah, seorang wanita yang mengenakan dress pendek. Dengan belahan dada yang rendah, berkacamata hitam. Rambut coklat mengkilat yang panjangnya sebahu, jalannya berlenggok mendekati meja Ibra.
Mulanya Ibra terheran-heran, siapa wanita ini dan ada keperluan apa dengannya. "Maaf kamu siapa dan ada perlu apa?" menatap tajam. Penasaran juga.
Wanita ini senyum tipis. Langsung duduk di kursi depan meja Ibra. Membuka kaca matanya yang hitam itu. Senyumnya melebar. "Apa kabar Abang?"
Alangkah terkejutnya Ibra. Setelah wanita tersebut membuka kaca matanya itu, sungguh tak sedikitpun menyangka kalau wanita ini mantan istrinya yang 85%banyak berubah. Diantaranya tubuh semakin ramping, wajah lebih lonjong. Bibir tipis, hidung makin mancung, Ibra bengong untuk seketika.
"Apa tidak mengenali ku lagi? wanita yang pernah menjadi istri mu. Tentunya sering pula kau gauli," ucap wanita ini menatap nakal pada Ibra.
Ibra menghela napas dalam dan ia hembuskan dengan panjang. "Kamu Yulia?"
"Iya, pangling ya? he he he ... gimana? tambah cantik, kan. Apa kabar nih?" mengulurkan tangan pada Ibra.
"Ya, pangling." sedikit mengangguk dan tampak gugup, hatinya tak tenang. Ibra menyambut tangan Yulia, jabatan tangan pun terjadi.
"Aku dengar, Laras sudah lahiran ya? selamat ya!" sambung Yulia dengan tak berhenti menatap ke arah Ibra.
"Iya, benar. Makasih." Ibra melanjutkan rutinitasnya di laptopnya. Namun tiba-tiba Yulia duduk di tepi meja, samping kiri. Mengekspos paha mulusnya di depan mata Ibra.
Ibra coba menyembunyikan rasa yang mendadak tenggorokannya yang kering dan menelan saliva nya, Dengan cara segera menunduk, mengalihkan pandangan kembali ke laptop. seraya berkata. "Buat apa kamu duduk di situ? tidak sopan. Pindah."
__ADS_1
Jemari lentik Yulia mengusap pipi Ibra dan menariknya agar menghadap. "Kamu gak usah pura-pura, aku tahu sekarang kamu kesepian kan? Dian sudah tidak jadi istri mu lagi. Laras baru saja melahirkan, jadi aku tahu kalau kamu perlu teman untuk memuaskan mu," bisik nya dengan gaya nakal. Serta mencondongkan dadanya ke arah Ibra.
Sebentar Ibra memejamkan kedua matanya, tak ingin melihat apa yang seharusnya tak ia lihat. Tangannya ingin menekan tombol telepon, memanggil sekertaris nya atau scurity. Namun kalah cepat dengan Yulia yang merebutnya dan menjauhkan dari tangan Ibra.
"Saya minta, kamu pergi dari sini, kalau tidak ada keperluan apapun." Pinta Ibra menunjuk pintu. Kalau tidak ingin saya panggilkan scurity." Ibra berdiri menjauh, ucapannya dengan nada kesal.
"Ayolah, sayang ... aku tahu kamu perlu teman. Kamu itu kesepian kan? istrimu lagi masa nifas. Aku siap kok melayani mu kapanpun." Yulia mendekat dan memeluk tubuh Ibra. Terus mendorong tubuhnya ke sofa hingga Ibra terduduk dan tubuh Yulia menindih Ibra. Tak ayal keduanya terlihat intim.
"Lepaskan! apa-apaan sih?" Ibra menghempaskan tangan Yulia, dan mendorong dari hadapannya. Sampai Yulia terduduk ke meja.
Namun Yulia bukannya jera, malah makin menjadi, Ia kembali merangkul Ibra dari belakang dan meremas sesuatu. Miliknya Ibra. Membuat bibirnya tersenyum penuh arti. Tak ragu lagi ia hendak menyentuhnya yang ke dua kali.
"Jangan kurang ajar kamu." Sergah Ibra, hatinya tambah kesal dengan tingkah lakunya Yulia. Ia tangkap tangan Yulia dan di seretnya keluar ruangan.
"Hi, jangan gini. Aku cuma ingin menawarkan kebaikan untukmu. untuk menemani mu senang-senang. Kenapa sih sok pura-pura gak senang, gak suka. Padahal butuhkan, akui aja kenapa sih? kamu butuh pelampiasan, Istrimu itu tak bisa melayani mu sayang. Aku siap memuaskan mu lagi sayang. Bira perlu kita nikah lagi." Kicaunya.
"Kamu jangan gila, aku gak butuh wanita macam kamu itu. Aku punya istri dan gak butuh pengganti, apalagi wanita seperti kamu. Pergi ..." hardik Ibra. Hempaskan tangan Yulia, yang meringis menahan sakit bekas genggaman Ibra.
Mendengar riuh, sekertaris Ibra datang. "Ada apa Tuan?"
Dua scurity pun datang, bergegas menghampiri Bos mereka.
"Scurity. Bawa dia keluar dari kantor ini, bila perlu masukan ke rumah sakit jiwa!" teriak Ibra menatap tajam ke arah mereka semua.
"Lepas! aku bisa jalan sendiri, lepaskan tangan ku. Berengsek." Yulia terus meronta. "Kalian harus tahu ya, kalau Bos kalian itu yang ingin memaksa aku untuk melakukan yang tidak senonoh." Akunya Yulia pandai bersilat lidah.
"Bawa dia pergi ..." hati Ibra tambah kesal dengan pengakuan wanita tersebut, yang seolah ingin menjatuhkan dirinya. di hadapan semua para karyawan. Yang bengong menonton kejadian itu.
Netra mata Ibra beralih ke sekertaris nya. Setelah scurity berhasil membawa Yulia keluar. "Kenapa kamu masukan wanita seperti ini ke ruangan saya?" bentak Ibra.
Membuat hati sekertaris nya menciut, menunduk sangat dalam. Ketakutan dengan sikap Ibra yang tampak murka.
"Sa-saya sudah bertanya, dan Tu-Tuan menyuruhnya untuk masuk," sahutnya sekertaris Ibra terputus-putus.
"Seharusnya. Kamu selidik dulu apa keperluan mereka, apabila datang menemui saya. Dia itu gila." Kata terakhir dari Ibra.
Brugh!
Ibra menutup pintu dengan hati kesal. Mendudukkan dirinya di sofa. Rahangnya mengeras dan perasaannya dongkol. Bisa-bisanya Yulia menggoda dan menawarkan diri untuk senang-senang bersama.
Kepala Ibra menggeleng. "Benar-benar sudah gila dia." Ibra arahkan penglihatannya ke sesuatu yang menegang. Saking sensitifnya, sehingga mudahnya dia bangun."
Ibra segera beranjak, berjalan memasuki kamar mandi untuk mengontrol sesuatu yang bangun itu. Hatinya tambah kesal, marah. Bercampur menjadi satu, ingin rasanya ngamuk. Sejadi-jadinya.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Zayn mengetuk pintu. Namun ruangan Ibra kosong, Zayn masuk dan matanya mencari keberadaan Ibra. Bosnya, namun terdengar suara air keran. Dari kamar mandi.
Kemudian akhirnya. Ibra muncul dari kamar mandi, dengan wajah yang segar. Menatap ke arah Zayn yang duduk di sofa.
"Kenapa baru datang? sedari tadi kek datang." Ketus Ibra.
"Emang, apa sih masalahnya?" selidik Zayn sambil mengernyitkan keningnya.
"Nggak tahu juga. Masalahnya apa? tiba-tiba dia datang dan--" Ibra menceritakan kejadian tadi ke Zayn. Dimana Yulia datang dan menggoda dirinya. Mengajak bersenang-senang.
Zayn langsung tertawa lebar. Mendengar cerita Ibra, sambil memicingkan mata. Zayn berkata. "Berarti ada yang terganggu dong? ha ha ha ... pantas bermain di wc. Mendinginkan sesuatu rupanya." Zayn terkekeh
Ibra memukulkan bantal ke paha Zayn. "Ketawa? gak ada yang lucu tahu."
"Aduh ... kasian. Ada yang tergugah rupanya, tiba-tiba pengen di manja. Mana lama lagi, satu bulan lebih harus nunggu." Cibir Zayn malah menggoda Ibra dengan tergelak senang.
"Ah, mana ada? biasa aja kok. Enak saja kaya gitu." Ibra cemberut.
Dikarenakan sudah siang. Dan sudah waktunya pulang, kemudian mereka berdua bersiap ke mension, sebelumnya menyiapkan berkas-berkas yang penting dan wajib di bawa ke dalam rapat nanti.
Ketika Ibra melewati karyawannya. Ibra mendapati tatapan-tatapan aneh dari mereka ....
****
__ADS_1
Kalian sudah baca, kan?" mana nik like dan komentarnya. Agar aku tambah semangat nih, oya jangan lupa ya fav juga BSH semoga kalian suka.