Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Harus sadar diri


__ADS_3

Wajah ibra semakin dekat, dan tinggal berapa senti lagi juga sampai. Mendarat ke tempat tujuan, namun Laras segera menarik wajahnya ke samping, seraya berkata. "maafkan aku tuan, pergilah, kak Dian pasti menunggu mu." Laras membaringkan diri, tangannya manarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Ibra bengong menerima penolakan dari Laras, kesal kecewa. Semakin di buat penasaran, namun ia tidak ingin memaksakan kehendak. Ia hanya menatap Laras yang di balut selimut, sehingga tidak ada celah sedikitpun.


Akhirnya Ibra turun dari tempat tidur Laras. Meninggalkan nya sendiri, setelah dekat pintu. Ibra berdiri memutar kepalanya, kembali melihat Laras yang masih dalam posisi semula.


Di balik selimut. Laras memasang telinga, untuk mendengar derap langkah Ibra. Apa dia sudah keluar atau masih di sana, setelah yakin sudah tidak ada, barulah Laras membuka selimut. Menoleh ke arah pintu, benar saja! Ibra sudah tidak ada di tempat itu selain dirinya sendiri.


Laras kembali menempelkan kepalanya di bantal, hatinya terasa sakit. Air matanya mengalir di sudut mata, yang terasa hangat membasahi bantal.


Ternyata sakit dan sesak dadanya, ketika hati dan mulut tidak sinkron, keadaan bertolak belakang dengan keinginan hati. Entah kenapa? sesungguhnya saat ini, ia ingin tidur dalam pelukan dan belaian Ibra. Ingin selalu bermanja-manja dan bersamanya.


Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Dian, sebagai seorang istri yang harus berbagi suami. Dia harus rela membiarkan orang yang dia cinta mencumbu dan meniduri wanita lain. Sakit. perih, terluka batin. Makan hati jadinya, itu pasti!


Sepanjang malam Laras terjaga, matanya tidak mau di pejamkan. Manik matanya menatap ke samping, dimana biasanya ibra berbaring dan tidur sambil memeluknya. Laras menarik bantal yang biasa Ibra pakai. Laras peluk dan mencium baunya, terasa bagai ada aroma tubuh Ibra menempel di bantal itu.


"Kenapa aku merindukan dia? aku rindu sentuhannya, pelukan hangatnya. Hembusan napas dari hidungnya yang mancung. Tatapan matanya yang membuat jantung ku berdebar tak karuan," dia menggeleng. "Tidak, aku tidak boleh jatuh cinta sama dia, dia hanya milik Dian. Aku harus tahu diri, aku hanya di butuhkan untuk mengandung saja, bukan di cintai." Akhirnya Laras menangis tersedu hatinya bagai di gores pisau yang tajam, teramat perih untuk di rasakan.


"Laras sadar! kau itu siapa tak pantas berharap cinta dari seorang Malik Ibrahim. Dia hanya mencintai Dian seorang. Kamu gak mungkin mendapat cinta nya, sadar kau sadar ..." menepuk-nepuk pipinya berkali-kali, pipi yang di banjiri air mata.


Sampai pagi menjelang. Laras terjaga, tidak tidur sekejap pun, ia bangun memasuki kamar mandi. Mau berendam air hangat di bathtub, namun sebelum mulai berendam. Laras mendengar ketukan pintu. "Siapa, pagi-pagi buta gini?"


Laras bergegas membuka pintu, ternyata Susi yang datang, dengan pandangan yang sayu. Laras mengulas senyumnya. "Oh, Susi. Ada apa?"


"Iya, Nyonya. Aku mau ngambil bekas makan semalam." Jawab Susi, menatap Laras yang terlihat sayu dan lesu.


"Oke. masuk saja, aku mau mandi dulu." Laras ngeloyor ke kamar mandi.


Mata Susi mengitari setiap ruangan ini. Laras belum beres-beres karena mungkin Susi yang kepagian datang, subuh juga belum. Sebelum keluar Susi membereskan tempat tidur Laras yang masih berantakan, membereskan meja yang ada nampan bekas semalam.


Setelah merasa bersih. Susi barulah keluar membawa nampan, dalam hatinya berkata. "Wajah nyonya muda ... begitu pucat. Sakit? atau apa karena bangun tidur saja kali, tapi biasanya gak seperti itu juga. Apa kurang tidur? ah, ngidamnya jangan macam-macam lah, kasian nyonya muda!"

__ADS_1


Di bathtub, Laras merendam diri dengan air hangat dan aroma terapi yang menenangkan. Tangan meraih shampo untuk ngeramas rambutnya, setelah merasa bersih. Laras meraih handuk dan mengenakan jubahnya, keluar dari kamar mandi.


Matanya mencari keberadaan Susi. Namun sudah tidak ada dan matanya mendapati tempat tidur yang sudah rapi. Tinggal gorden saja yang belum di bukakan.


Selepas salat subuh. Laras berpikir sejenak, tentang kehidupannya di masa depan. "Apa aku harus keluar dari tempat ini? mencari kerjaan untuk mengisi waktu, tapi dalam kondisi ngidam gini rasanya tidak memungkinkan untuk bekerja."


Apalagi Ibra tidak mengijinkan kalau ia bekerja, ia ingin hidup sederhana saja. Tidak perlu bergelimang kemewahan begini. "Aku ingin pindah saja dari sini, biar rumah kecil, tapi bikin tenang di hati." Laras menghela napas dalam.


Laras berdiri, membuka gorden kamarnya. Kemudian meninggalkan kamar, menuju kamar Ibra untuk menyiapkan keperluan di pagi ini. Di jalan Laras bertemu dengan beberapa asisten yang sedang bersih-bersih. Mereka mengangguk hormat pada Laras, di balas dengan senyuman.


Sesampainya depan pintu. Laras berdiri mematung di sana, mau mengetuk, hati ragu entah ada atau tiada orang nya di dalam. Perlahan Laras membuka daun pintu dengan sangat hati-hati, apalagi ketika matanya mendapati di tempat tidur ada orang yang sedang di gulung selimut.


Mau balik lagi, ingat tugas, kalau setiap pagi ia harus menyiapkan keperluan ibra untuk bekerja. Laras terus melangkah, yang sebelumnya menutup pintu, tidak berani memandang orang itu. Khawatir kalau yang sedang tidur itu bukan cuma Ibra. Laras menarik gorden dan terbukalah tirai itu dan menyebabkan masuk nya seberkas sinar hangat dari setitik terangnya matahari yang baru muncul dari arah timur.


Laras fokus saja membereskan kamar itu, terutama bantal yang masih berserakan di lantai, ia simpan dulu di atas sofa. Dalam hati bertanya-tanya kok bisa ini bantal guling berserakan di lantai, dulu juga ketika ia pernah bermalam di kamar ini tidak separah ini juga. Bantal tetap berada di atas tempat tidur meski tak beraturan.


"Ini mah parah, perang kali ya?" gumam Laras dalam hati. Diam-diam tersenyum.


Ibra menggeliat nikmat, menyingkap selimut dan langsung merapikannya sendiri. Laras yang menoleh keheranan. "Tumben merapikan sendiri? terus kenapa bantal guling yang berserakan di lantai tak di bereskan."


Ibra melirik. "Ha? baru sadar, he ... he ... he ..." nyengir memperlihatkan gigi putihnya.


"Aku kira, dia tidur dengan Dian, tapi ... ternyata sendiri aja! apa tidak tidur dengan Dian ya?" batin Laras menatap Ibra yang masih duduk dan mengenakan kaos juga celana pendek.


Kemudian Laras melangkah ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Laras duduk di tepi bathtub, sambil menunggu airnya cukup, tidak lupa memberikan aroma terapi ke dalamnya.


Ibra masuk dan membuka kaosnya. Laras sekejap melihat tubuh yang atletis itu, ia menelan saliva nya ketika melihat itu. Detik kemudian Laras mengalihkan pandangan dan berdiri, mengayunkan langkahnya menuju pintu.


Ibra meraih lengan Laras ketika dia melintasi dirinya. Membuat langkah Laras terhenti. Laras tetep menundukkan pandangannya. Ibra yang masih penasaran akan kejadian semalam, kembali ingin memulai. Jari telunjuk Ibra mengangkat dagu Laras, sehingga wajahnya mendongak sempurna di bawah wajah Ibra yang sedikit menunduk.


Tangan Laras yang satu lagi menempel ke dinding. ingin menghindar dari situasi ini. Kalau saja bisa berubah jadi siput, tentunya akan mengecil dan terhindar dari sentuhan Ibra.

__ADS_1


Dua pasang mata mereka bertemu saling menyelami satu sama lainnya. Bibir ibra semakin mendekat, mata Laras terpejam, tidak sanggup lagi menatapnya. Apalagi hembusan napas Ibra menyapu rata kulit wajah Laras. Namun ketika satu senti lagi menyentuh tujuannya. Laras mendorong dada Ibra yang bidang itu, meski tidak dapat merubah posisi Ibra, namun setidaknya Laras terhindar dari Ibra, dan dapat melintasi pintu begitu saja. Ia berdiri setelah menutup pintu.


Dada Laras naik turun, jantungnya berdebar. Laras mengatur napasnya yang terengah-engah. "Huuh ..." kemudian berjalan menuju wardrobe.


Ibra yang berada di kamar mandi, menghempaskan dirinya ke bathtub. Mengibas-ngibaskan tangannya ke air, kesal, kecewa sudah berapa kali keinginannya gagal dan gagal lagi. Lagi-lagi mengepalkan tangan, dan memukul-mukul kan pada bibir bathtub.


Gigi nya mengerat, rahangnya mengeras. Hanya Laras yang kadang menolak hasratnya, dan terpaksa ia tahan. Walaupun tersalurkan pada yang lain, namun rasanya tetap berbeda. Dengan kesal ia alihkan pada sabun!


Menggosok badannya.


Laras duduk di sofa sesaat kemudian berdiri menghampiri pintu menuju balkon, menghirup udara pagi di sana yang begitu segar. Namun beberapa saat kemudian ia merasa mual. Laras setengah berlari ke kamar mandi, tanpa melihat kanan dan kiri yang ia tuju hanyalah wastafel.


Ibra terkejut, melihat Laras tiba-tiba masuk. Tergesa-gesa mendekati wastafel. "Sayang? gumamnya Ibra dan segera membersihkan diri di bawah shower.


"Oo ... oo ..." suara Laras memuntahkan isi perutnya sampai bersih.


Dengan lembut Ibra memijit kedua pundak Laras. Laras membasuh mulutnya kemudian mengelapnya dengan tisu.


Wajah cemas Ibra terpampang jelas di cermin melihat wajah Laras yang mendadak pucat. "Kamu tidak kenapa-napa, butuh apa?" tanya Ibra menatap cemas.


Laras menggeleng dan mengangkat tangannya. "Tidak, aku tidak butuh apa-apa."


"Ya, sudah. Minum saja." Ibra memberikan segelas air mineral yang sempat ia ambil tadi.


"Terima kasih." Laras mengambil dan meneguknya sampai tersisa setengahnya. Kemudian keluar meninggalkan Ibra di sana.


Ibra pun mengikuti dari belakang, langsung mengambil pakaian yang sudah di siapkan oleh Laras. Dengan tulus Laras membantu mengancingkan kemeja Ibra, memasang dasi dan membantu mengenakan jas yang kali ini berwarna hitam. Mata Ibra tak lepas dari gerak gerik nya Laras sedari tadi, yang terakhir merapikan rambut. Perawatan wajah dan minyak wangi.


Tanpa sadar, ada sepasang mata mengawasi sedari tadi ketika Laras mengancingkan pakaian Ibra. Seseorang itu berdiri sisi pintu ....


,,,,

__ADS_1


Untuk para reader ku yang selalu setia menunggu up nya novel ini, aku sangat-sangat ucapkan makasih banyak pada kalian semua. Semoga kalian tidak bosan dan terus menjadi pembaca setia, terus dukung aku ya🙏 agar tambah semangat untuk up nya.


__ADS_2