Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Sungguh menyakitkan


__ADS_3

Ibra semakin geram melihat Mery semakin menjadi, tangannya sudah gatal ingin melakukan sesuatu. Ibra melangkah kan kakinya dengan lebar mendekati Mery seraya membentak. "Mery ..." bentak Ibra sambil mencengkram tangan bagian atas Mery sedikit kasar. Membuat Mery sedikit meringis kesakitan.


Ibra setengah menggusur Mery ke kamarnya. Ibra sudah tidak bisa menguasai amarahnya yang dia tahan dari kemarin malam, ditambah sekarang malah sengaja membuat ulah.


Yulia bengong, melihat Mery di seret Ibra, tidak menyangka suaminya akan bersikap seperti itu pada Mery, namun dalam hatinya Yulia tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan.


Lain lagi dengan Laras dia benar-benar sok, dengan semua ini, ia berdiri dan berlari kecil menuju kamarnya. Ingin menjerit sekencang mungkin, baru kali ini dia di hina. Dengan caci makian dari seseorang yang belum lama ia kenal.


"Lepaskan, sakit ..." pekik Mery sambil meringis kesakitan dan meronta, belum lagi mengimbangi langkahnya dengan langkah Ibra yang lebar.


Pekikan Mery sama sekali tidak di gubris Ibra, ia terus menyeret Mery sampai kamarnya. Mery di dorong ke sofa sampai dia terduduk, Mery menangis memegang tangan bagian atasnya.


"Kamu bicara apa ha? atas dasar apa kau menghina Laras? dan tau apa tentang dia. Lihat dirimu sendiri! seperti apa sebelum kau menikah denganku. Kamu bukan apa-apa juga, saya tidak mengerti! kenapa mulutmu lancang begitu, bahkan kau tidak mendengarkan saya sama sekali," cerca Ibra sambil berdiri bertolak pinggang dan kepala menggeleng.


Mendengar ucapan Ibra yang seolah mengingatkan akan masa lalunya, Mery semakin merasa sakit hati, dan semakin beranggapan bahwa Laras lah penyebab dari semua ini "A-aku--"


"Sekarang kau puas dengan segala ucapan mu, itu ha?" sambung Ibra dengan suara masih meninggi.


"Tuh kan ... gara-gara dia kau juga menghinaku, berani membentak ku, semua gara-gara dia." teriak Mery semakin berani.


Melihat putaran jam yang sudah memasuki waktunya masuk kerja, "Kau?" menunjuk kearah Mery. "Kau semakin berani ya sekarang! tapi baik lah kita sudahi dulu, tapi..."


"Tapi apa?" masih dengan suara tinggi.


"Tapi ... kau harus menerima hukuman dariku." Ibra senyum samar.


"Ma-maksud mu, sayang?" suaranya berubah lirih.


Ibra tersenyum sinis. "Hari ini, kau di larang keluar! sekalipun pemotretan atau apalah, mengerti?"


"Hah ... ? aku harus pergi, ada pemotretan sayang, gak boleh nggak. Harus masuk juga," rengek Mery mendekati dan menggenggam tangan Ibra.


Ibra menepis tangan Mery. "Pokok nya tidak boleh keluar, kalau keluar juga. Hukuman akan bertambah jadi dua hari, dan tidak boleh keluar kamar sama sekali."


Malik Ibrahim keluar dari kamar Mery dan menutup pintu secara kasar, bruggh pintu di tutup Ibra, langkahnya kian tergesa-gesa mengingat waktu sudah terlambat.


Mery yang di dalam kamar. Semakin geram dan mengumpat sendiri. "Semua ini gara-gara kamu Laras! awas, kamu akan ditendang dari rumah ini, lihat saja kau Laras. Aku tidak akan tinggal diam," mengeratkan giginya dengan pandangan penuh amarah! tangan mengepal di pukul-pukul kan ke sofa.


****

__ADS_1


Laras duduk memeluk lututnya sambil menangis tersedu, sungguh menyakitkan perkataan Mery tadi.


Namun dia tidak mau larut dalam tangisnya, dia menyeka air matanya kasar. Walau dada masih terasa sesak, turun menapakkan kakinya di lantai, niatnya mau ke balkon untuk menghirup udara segar namun terdengar ponselnya berdering.


Laras mencari keberadaan ponselnya yang ternyata berada di bawah bantal.


Sembari menggulir ikon hijau. "Halo ...?


"Kamu masih nangis?" suara berat Ibra dari sebrang sana.


"Ti-tidak," sahut Laras.


"Bagus lah, jangan lupa siap-siap! satu jam lagi pak Barko menjemput mu. Jadi siap-siap dari sekarang, perawatan dulu biar fres."


"Baik Tuan?" jawab Laras singkat. Sambungan telepon terputus.


Setelah itu Laras menyimpan kembali ponselnya. "Satu jam lagi! bukankah pertemuannya nanti siang?"


Kemudian Laras keluar dari kamarnya menuju ruang salon, langkahnya terus ke tempat tujuan.


Bu Rika yang juga berjalan kearah yang sama tersenyum dan manggut-manggut hormat. "Nyonya mau perawatan?"


"Iya. Aku mau perawatan, ribet juga ya Bu mau pergi pertemuan saja harus perawatan dulu," mengerucutkan sedikit bibirnya.


Laras menatap heran. "Ibu mau ke mana?"


"Oh. Saya akan menyiapkan pakaian formal buat Nyonya." bu Rika menunjuk sopan Laras.


Tak lama di berjalanan melewati lorong rumah mewah itu. Mereka sampai juga di salon kecantikan.


Laras langsung dilayani pegawainya di sana dengan ramah, mulai spa, perawatan kulit dan rambut.


Kini Laras sedang perawatan rambut dan dia mencoba membuka pembicaraan dengan pegawai di sana.


"Kau sudah lama kerja di sini?" tanya Laras.


"Oh, sudah dua tahun Nyonya," sahutnya.


"Oh lama juga ya?"

__ADS_1


"Iya. Aku betah kerja di sini, tuan itu! baik pada semua pekerja," sambungnya lagi.


"Iya kah?"


Bu Rika yang sedari tadi tidak tau ke mana, kini dia muncul kembali bersama Susy, menenteng pakaian formal.


Susi melirik bu Rika. "Bu, saya puas dengan hukuman tuan sama Nyonya Mery! malah yang lebih berat kek, perangainya itu loh bikin kesal. Masa kalau aku lagi beres-beres di kamarnya, pakaian kotor, suka di lempar, kan gak sopan."


Bu Rika membalas. "Iya. Cuman di larang keluar rumah, tadi dia mau pergi, tapi saya larang. Karena begitu perintah tuan Ibra. Sama saya."


"Bagus lah." lihat saja bikin ulah lagi, hukuman pasti di tambah," timpal Susi.


Laras memasang telinganya, mendengarkan obrolan bu Rika dengan Susi. Laras jadi penasaran. "Kak Mery kenapa?"


"Em ... it-itu Nyonya, dia dilarang keluar oleh tuan," sahut Susi menoleh Laras.


"Loh ... dia, kan harus bekerja?" Laras terkejut.


"Gara-gara tadi, jadi tuan melarang Nyonya Mery keluar," ungkap Susi.


Laras membisu kemudian kembali bersuara. "Kasian, seharusnya tuan tidak begitu. Diakan harus ada pemotretan hari ini."


"Nyonya ... sudah jelas dia itu menghina Nyonya tadi, wajarlah! kalau tuan marah sama dia." Susi tidak setuju bila Nyonya muda nya merasa kasian pada Mery.


Melihat Laras dan Susy membicarakan Mery. bu Rika memberikan pakaian formal buat Laras. "Ini Nyonya muda, pakailah. Sebentar lagi pak Barko datang menjemput Nyonya muda."


"Oh Iya. Bu Rika, terima kasih?"


Laras bergegas ke ruang ganti, 10 menit kemudian Laras kembali dengan penampilan yang formal nya.


Nampak sangat cantik, penampilan sangat menarik, rambut di sanggul kecil, di tunjang lagi dengan tas kecilnya yang berisi ponsel. Yang sudah di siapkan oleh, Bu Rika.


Kemudian mereka turun ke lantai satu. Siapa tahu pak Barko sudah menunggu di sana. Namun belum kelihatan mobil yang di bawa pak Barko.


"Tunggu sebentar. Nyonya muda, pak Barko nya masih di jalan menuju ke mari."


Laras melirik bu Rika, membalas dengan anggukan. Susi pergi mau mengurusi kerjaan lain katanya, tinggallah Laras dan bu Rika yang berada di sana.


Dari jauh terlihat sebuah mobil meluncur kearah sana. Namun bukanlah pak Barko yang datang melainkan ....

__ADS_1


,,,,


Reader semua yang baik hati ... coba dong kalau ada tulisanku yang kurang tepat atau salah atau juga kurang huruf misalnya, komen dong biar segera aku perbaiki lagi🙏🙏 terimakasih sebelumya.


__ADS_2