Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Nggak mau bangun


__ADS_3

"Malas ah, paling si pria banyak istri, yang telepon, siapa lagi? orang cuma dia yang tau kontak aku yang baru," gumam Laras sembari tarik selimut.


Sampai tengah malam, Laras masih terjaga. Ia tidak bisa tidur, waktunya hanya dia habiskan untuk menonton televisi saja. "Uuh ... mata ku tak bisa dipejamkan juga," gumamnya.


Pada akhirnya Ia mematikan televisi, kalau lampu sudah jelas di ganti dari masih sore juga, sudah temaram di kamar yang ukurannya luas itu. Laras berbaring menghadap dinding yang dihiasi dengan hiasan-hiasan dinding yang indah.


Manik mata Laras menyusuri setiap hiasan yang menempel di sana, sampai akhirnya manik-manik mata Laras fokus pada foto pernikahan nya dengan Ibra. Dimana dia mengenakan kebaya putih dan Ibra dengan setelan abu.


"Mungkin ... sekarang ini kamu sedang memeluk Dian. Ah, semoga hari-hari kalian di sana sangat menyenangkan." Harap Laras sembari tetap memandangi foto itu.


Telapak tangan mengusap perutnya. "Beberapa hari ini Mama tidak merasakan mual dan pusing yang sangat menyiksa, seperti sebelumnya. Kau begitu baik, Nak. Tidak membuat ku repot lagi." Laras tersenyum. "Em ... sabar ya sayang, mungkin beberapa hari ini papa mu pulang dan akan menjenguk mu."


Lama-lama kelopak mata Laras tertutup juga. Ia tertidur langsung nyenyak, sampai-sampai ia bermimpi, dia tidur dalam pelukan Ibra, membenamkan kepalanya di dada bidang itu. Belaian tangan Ibra begitu lembut di kepalanya menyapu sampai ke ujung rambut.


****


Sementara Ibra pun masih terjaga, tidurnya tak lena. Balik kanan kemudian balik kiri tak nyaman juga, lalu terlentang, merasa panas. Buang selimut ke ujung sofa. Buka kancing piyama, hingga bertelanjang dada, ia duduk tegak dan meneguk segelas air putih yang sudah tersedia di meja.


Dian yang sudah tidur pulas. Terbangun dan mendapati Ibra bertelanjang dada di sofa, Dian semakin memicingkan matanya. Kemudian menggeliatkan tubuhnya, melirik jam baru pukul 01.30 waktu setempat.


"Sayang, kamu belum tidur atau baru bangun?" suara parau Dian membuat Ibra menoleh.


"Aku ... belum bisa tidur sayang sulit untuk tidur," sahut Ibra menatap sekilas.


Dian turun, menghampiri Ibra dan duduk di Sofa sekitar kurang dari satu meter dari duduknya Ibra. "Sayang. Apa kamu tidak mencium kalau aku memakai parfum milik mu, wangi, kan?"


Meskipun masih muka bantal, Namun terlihat jelas sumringah. Dalam hatinya punya harapan baru. Ibra menatap lekat dan sedikit mengendus, namun hidung nya tidak bisa mencium apapun. Dari tubuh Dian.


Dengan senyum yang mengembang Dian bergegas mendekat dan mengalungkan tangan di leher Ibra. Wajahnya berdekatan dengan wajah Ibra. Bola mata Ibra menyapu pemandangan indah yang ada di depan mata, bagaimana tidak? matanya melihat dada Dian yang menyembul keluar.


Dulu ia suka bermain-main di sana. Menikmati keindahan milik Dian. Namun setelah beberapa hari berada di sini tidak pernah ia lakukan lagi. Jangankan menyentuh, mendekat saja enggan.


Dian semakin mengembangkan senyum bahagia, sebab ia pikir kali ini Ibra tidak akan menolaknya lagi. Ia langsung menunjukan keagresifan nya, bibir Dian segera ******* bibir Ibra dengan sangat buas. Lalu menelusuri pipi, leher, pindah ke kening, turun lagi ke bibir, leher.


Sementara Ibra hanya diam. Duduk bersandar di sofa dengan tangan direntangkan, Dian semakin leluasa, ia beralih posisi duduk di paha Ibra. Dian menyeringai dan melanjutkan sentuhannya yang ganas. Telapak tangan Dian menyusuri dada Ibra yang duduk nyender ke belakang.


Jelas terlihat gairah Dian yang naik, dari mata dan tingkah lakunya, ia terus mencium pipi, kening, leher Ibra yang mulai tergugah napsu nya. Napas Dian yang memburu semakin tak karuan. Tangannya semakin bebas menjamah milik Ibra yang anehnya, walau Ibra sudah mulai menikmati dan napas terengah-engah. Namun entah kenapa benda pusaka alias juniornya tidak bangun juga.


Dian terus saja menaikan gairahnya Ibra dengan segala usahanya, Dan Ibra pun mulai mengimbangi keagresifan Dian. Ibra membalas setiap sentuhan sang istri, namun tetap nihil hasilnya. Tetap saja juniornya tertidur, tak dapat di ganggu sama sekali. Dian mulai kecewa, sedangkan ia sudah sangat siap untuk melakukannya.


Dian menggelinjang, hatinya amat kecewa, sebab benda pusaka Ibra gak bangun-bangun.

__ADS_1


Betapa gondoknya perasaan Dian saat ini, marah, kesal. Sedih, pokoknya kacau bercampur jadi satu, tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia menjerit, mengacak-ngacak rambutnya dan teriak-teriak frustasi.


Ibra hanya bengong dengan napas yang masih memburu. Napsu sudah naik di ubun-ubun tapi benda pusaka nya tak berdaya sama sekali. Dian menangis sejadi-jadinya, duduk di sofa sembari memeluk lutut.


Ibra jadi bingung tak tau harus gimana? kemarin gak mau dekat dengan sang istri karena bau, sekarang setelah agak baikan. Malah miliknya yang gak mau bangun.


Tangan Ibra menyentuh bahu Dian seraya berkata. "Sayang, maafkan aku?"


Namun Dian menepis tidak suka dan terus menangis semakin pilu. Harapan untuk bersenang-senang di Luar Negeri pupus sudah. Apalagi ini malam terakhir dan besok bersiap untuk pulang ke tanah air.


Yang bisa Ibra lakukan saat hanyalah bengong, tak mampu berkata-kata lagi. Dengan pikirannya yang melayang-layang, benar-benar tak habis pikir.


****


Hari ini jadwal Laras periksakan kandungan seperti yang direncanakan sebelumnya. Dokter sudah datang dan Laras mengikuti serangkaian pemeriksan di ruangan khusus, yang terletak masih di dalam mension ini. Laras di temani oleh bu Rika.


"Gimana dok, keadaan kandungan Nyonya muda?" tanya bu Rika pada dokter kandungan sembari melirik Laras yang duduk di hadapannya.


"Kandungannya baik, sangat Sehat, cuma ... hindari stres, jangan banyak pikiran juga. Dan ini resep bila terasa mual dan pusing yang berlebihan," ucap dokter Siska.


"Makasih dok," bu Rika mengangguk.


"Iya, dok makasih ya?" sambung Laras sembari mengukir senyum di bibirnya.


"Sekali lagi ... saya ucapkan terima kasih dok?" ucap bu Rika.


"Sama-sama bu, salam buat tuan Ibra." Dokter Siska pergi dan meninggalkan bu Rika.


Selepas dokter pulang, Laras berjalan-jalan ke kebun sayuran yang letaknya di lantai atas itu. Di Sana ada banyak sayuran seperti sawi, kol, wortel. Terong juga bawang-bawangan dan cabe serta tomat. Laras melongo sangat kagum, waktu itu ke sini sih tidak selengkap ini.


"Aku ingin metik ... tapi metik apa ya?" mengetuk-ngetukan jari ke dagunya.


"Ya ... bikin terong kecap, atau sambal terong. Ya-ya ..." Laras segera memetik terong panjang. Kebetulan ada keranjang di sana. Tidak lupa ia pun memetik cabe besar, tomat dan cabe rawit.


"Nyonya, biar saya ambilkan untuk Nyonya, jangan repot-repot turun sendiri. Kotor," suara tukang kebun dengan ramah, yang muncul di belakang Laras.


Laras memutar kepalanya, dan membalas senyumnya sebelum bicara. "Nggak pa-pa Mas. Jangan ngerepotin, lagian sudah kok!"


"Oh, tidak mau di tambah lagi?" tanya nya lagi.


Laras menggeleng. "Tidak, nanti saja kalau butuh lagi. Aku cuma butuh segini aja."

__ADS_1


Si tukang kebun mengangguk hormat pada Laras yang bersiap pergi, menjinjing terong panjang di keranjang.


Kini Laras sudah berada di dapur dan langsung mencuci yang dia bawa.


"Nyonya dari kebun rupanya?" tegur bu Rika. Menatap Laras yang mencuci terong panjang, kemudian di potong-potong sesuai keinginannya.


"Eh. Iya, Bu. Tadi aku dari kebun, aku lihat sayuran segar-segar. Jadinya tertarik buat metik," ucap Laras nyengir.


"Oh, mau di masak apa tuh, Nyonya? biar asisten lain membantu Nyonya muda," sambung bu Rika.


"Tidak, Bu. Aku bisa sendiri. Aku mau bikin terong balado pedas, em ... rasanya sudah di lidah." Timpal Laras, kini ia asyik memasak terong balado pedas gak jadi bumbu kecap. Seperti yang ia inginkan.


Setelah matang, tentunya Laras langsung melahapnya dengan nikmat, bu Rika dan yang lain pun mencicipi masakan Laras dan semua bilang enak. Tukang masak bilang, ini akan menjadi masakan kesukaan Laras, dan akan mereka sajikan untuk majikannya yang satu ini.


Langit mulai memerah. Senja pun datang pertanda malam akan datang menggantikan siang. Laras yang sedang berbaur dengan para asisten, segera memasuki kamarnya sebab adzan magrib sudah mulai berkumandang, dan Laras akan bersiap menunaikan kewajibannya sebagai muslim.


Selepas menunaikan salat. Tiba-tiba Laras pengen banget makan sate ayam tapi langsung di tempatnya. "Aduh ... pengen makan sate, berasa sudah di lidah. Gimana dong? apa keluar aja ya, ngajak Susi aja kali ya?"


Laras bergegas menuju lift turun ke dapur. Untuk menemukan Susi atau asisten lainnya. Setelah sampai di dapur langsung menghampiri bu Rika. "Bu, aku mau keluar, mau mencari sate, rasanya pengen banget makan sate."


"Kenapa gak suruh asisten untuk membelinya Nyonya, atau pesan online saja." Bu Rika menatap ke arah Laras.


"Tidak, Bu. Aku ingin makan langsung di tempat, Bu ... rasanya sudah di lidah." Rajuk Laras.


"Oh, ya sudah, biar aku panggilkan Susi dan pak Barko untuk mengantarkan kalian." Bu Rika langsung menelpon pak Barko supaya menyiapkan mobil, dan Susi yang akan menemani.


Kemudian Laras berjalan menuju teras, Susi mengikuti dari belakang.


Keduanya sudah berada di dalam mobil. "Pak, cari tukang sate ya? sate ayam. Atau kambing juga gak pa-pa lah." titah Laras menatap ke arah supir.


Pak Barko mengangguk dan langsung tancap gas, melajukan mobilnya mencari yang jualan sate.


"Nyonya, bukan tukang sate, tapi yang jualan sate kali ya? sebab biarpun kita menemukan tukang sate, kalau gak jualan, kan percuma." Susi menoleh Laras yang di sampingnya.


"Oh, iya, ya? pinter kamu Susi." Laras nyengir sambil memegang tas nya.


Sekitar 15 menit langsung menemukan sate kambing yang terdekat. Laras langsung pesan 25 tusuk dan mau di makan di tempat, tidak selang lama pesanan Laras siap di meja. Ia tersenyum dan segera mencicipinya. "Ayo Sus makan?" kata Laras pada Susi yang diam saja.


"Nyonya, sedari tadi kita duduk di sini ada seseorang lihatin Nyonya." Bisik Susi.


"Siapa?" Laras menoleh ke arah yang Susi maksud ....

__ADS_1


****


Terima kasih buat yang selalu menantikan novel ini up 🙏 selamat membaca ... semoga tambah suka ya.


__ADS_2