
Laras memeluk tangan Ibra, hatinya cemas kalau yang datang itu dua pemuda tadi.
Ibra menenangkan Laras, dengan cara mengusap punggung tangan sang istri. "Tenang, sepertinya pesanan makan malam kita yang datang," ucap Ibra dengan santainya.
Ibra beranjak dari sofa, Laras pun sama dan masih memeluk tangan Ibra dangan rasa cemas yang tergurat jelas di wajahnya.
Blak! pintu Ibra buka dan benar saja, resepsionis yang datang membawa makan malam untuk mereka berdua.
Plong! hati Laras merasa lega. Ternyata bukan orang yang ia takutkan.
"Sayang, ada uang kes gak? kasih mbak ini uang insentif," ujar Ibra menoleh ke arah sang istri yang kini tidak terlalu pucat seperti barusan.
"Iya, bentar aku ambil." Laras membalikan badan dan berjalan untuk mengambil dompetnya.
Ibra membawa makan malam ke dalam kamar, sesaat Laras kembali dan memberikan uang insentif pada mbak yang mengantar makan. "Makasih ya Mbak?" tutur Laras dengan ramahnya.
Ibra mengunci pintu, setelah mbak yang tadi pergi. Ia menoleh sang istri yang barusan jalannya seperti kesakitan. "Kakinya sakit sayang?"
Laras mengangguk. "Iya, mungkin tadi lari-lari gak pake sendal," sahut Laras sembari menundukkan pandangan ke kakinya.
"Kasian banget istriku!" ia mencondongkan tubuhnya, kemudian menggendong tubuh Laras yang langsung mengalungkan tangan di lehernya.
Ibra bawa duduk di sofa depan makanan di meja. "Makan dulu yu, pasti kamu kelaparan, kan? tadi yang niatnya beli cemilan gak jadi, sebab pemuda berandalan itu."
"Iya, tadinya aku belanja, pengen makanan ringan. Gak sempet deh," ucap Laras penuh kecewa.
"Nggak pa-pa sayang, nanti aku pesankan. Sekarang makan aja dulu, baby kita pasti sudah kelaparan." Ajak Ibra sambil menyuapi makan ke mulut Laras.
"Aku, bisa makan sendiri. Kamu juga pasti lapar," Laras mengambil sendok dari tangan Ibra.
"Ya sudah ... kalau gak mau aku suapi, aku aja yang kamu suapi," pinta Ibra sambil memainkan matanya.
"Aish ... manja," gumam Laras namun tak ayal juga Laras menyuapi sang suami.
Tentunya Ibra berbunga-bunga di hatinya. Bahagia karena istrinya ini selalu mau memanjakan dirinya. "Kamu juga makan yang banyak sayang," di sela mengunyah. Ibra mengambil ponsel untuk memesan makanan ringan, dan salep buat kakinya Laras yang memerah.
Selesai makan, Ibra meneguk segelas air. "Sayang, makan yang banyak, dan sebentar aku tinggal, mau melaporkan berandalan yang tadi." Ia berdiri.
Laras menoleh. "Tapi jangan lama-lama," pinta Laras dengan mulut yang masih penuh.
Ibra senyum-senyum melihat pipi Laras yang penuh itu. "Iya, gak lama, bentar aja," cuph kecupan hangat mendarat di kening Laras.
Ibra bergegas pergi meninggalkan Laras yang masih makan, ia pergi dengan tujuan untuk melaporkan pemuda yang mengganggu Laras tadi sore.
__ADS_1
Ia di temani scurity hotel, menemui polisi setempat. Ia geram dengan perilaku dua pemuda itu, takutnya mereka berbuat ulah lagi pada Laras ataupun yang lainnya.
Setelah selesai membuat laporannya, Ibra berpamitan, dan kembali ke hotel. Penjaga di sana memberikan Ibra peket makanan ringan dan salep yang Ibra Pesan tadi, yang mengantar menitipkannya di sana. Ia terus berjalan dan langkahnya kian lebar, ingin segera sampai di kamar, bertemu dengan sang istri.
Cekrek!
Kenop pintu Ibra putar dan pintu pun terbuka, di dalam Laras sedang duduk bersandar di atas tempat tidur. Menoleh ke arah Ibra yang saat ini mengunci pintu. "Tidak lama, kan?" ucapnya sambil berjalan menghampiri Laras.
"Gimana udah, bikin laporannya?" tanya Laras sambil menatap ke arah Ibra yang nampak lelah.
"Sudah, akan mereka cari dan tindak lanjuti. Oya aku bawakan cemilan nih." Ibra memberikan sebuah kantong pada Laras.
Laras langsung menyambut dengan wajah sumringah, matanya berbinar karena makanan yang ia inginkan sudah ada, tinggal makan. "Terima kasih ya?" dengan refleks Laras mencium pipi Ibra dan langsung memakan makanan itu.
Ibra terkesiap mendapat ciuman dari Laras, sebab jarang-jarang dapat itu dari Laras. Yang ada harus di paksa dulu, bibir Ibra tertarik mengukir senyuman. "Mana kakinya, aku obati," Tangan Ibra langsung menyibakkan selimut yang menutupi kaki Laras.
Ibra oleskan perlahan salep itu ke telapak kaki Laras, sesekali ia pijit lembut dengn penuh perasaan. Laras memandangi Ibra yang memijit kakinya itu hatinya benar-benar menghangat akan perhatain dia sebagai suami.
"Laras sadar! ini perlakuan dia sementara saja, nanti juga pulang ke mension gak akan selembut ini. Dia pasti lebih memilih bersama istri tuanya! Laras, biar saja sementara juga, jurstru kamu kudu nikmati kebersamaan ini sama dia. Terus nikmati dan buat dia kecanduan kepada dirimu, jangan Nyerah! kalau kamu sudah menjadi candu Ibra. Otomatis dia akan kergantungan padamu, jangan berkecil hati. Apalagi sekarang kamu sudah mulai mencintai Ibra, raih cinta mu, dapatkan kebahagianmu. Laras." Di dalam hati Laras saling beradu argumen.
"Kenapa melamun hem ... kagum ya punya suami seganteng aku?" tanya Ibra sambil memainkan mata genitnya.
"Iih ... GR banget," Laras mengedarkan pandangan ke lain arah sambil tersenyum simpul.
Laras menoleh Ibra. "Iya," menutupi lagi kakinya.
"Aku kangen dengan baby ku, mau aku ajak ngobrol ah," ucap Ibra dan langsung memposisikan tubuhnya berbaring dan mengarahkan wajahnya di depan perut Laras. Menurunkan selimut serta menaikan baju tidur Laras tepat di perutnya.
Beberapa kali Ibra mendaratkan kecupan di sana. "Apa kabar malam ini sayang? Papi kangen nih, apa kau mendengar suara Papi?" menempelkan pipinya di perut Laras.
Laras hanya Diam memperhatikan tingkah Ibra yang kadang ia pikir konyol. Jari-jari Laras membelai lembut rambut Ibra.
"Anak baik, jaga Mommy ya, jangan sampai ada yang mengganggu. Papi gak rela bila ada yang mengganggu Mommy kamu." sambil mendongak melihat Laras yang memicingkan matanya itu.
Sebelum beranjak, Ibra mencium lagi perut Laras. Kemudian ia duduk di samping Laras. Merangkul bahunya, Laras menarik selimut. Menutupi perutnya.
"Besok, kita pulang ya?" ucap Ibra sambil mengecup kecil bahu Laras.
Laras tidak segera menjawab, rasanya ragu untuk mengiyakan pulang. Rasanya sungkan untuk kembali ke mension itu, sebab kalau pulang, berarti kebersamaan juga akan berakhir.
Laras menatap dalam suaminya. "Besok?"
Ibra mengangguk. "Iya, kerjaan ku lagi banyak, lain kali kita ke sini lagi," menarik kepala Laras ke dalam pelukannya dan mengusap pucuk kepala Laras.
__ADS_1
Lagi-lagi Laras terdiam di dalam pelukan Ibra, ia menautkan jemarinya yang tiba-tiba berkeringat dingin. Hatinya yang terdalam menolak pulang, lebih-lebih akan jauh Dari Ibra.
Laras melepaskan diri dari pelukan Ibra, ia memposisikan bantalnya. Lalu berbaring memunggungi Ibra. Ibra memandangi Laras, sesaat kemudian membaringkan juga tubuhnya di samping sang istri dan memeluknya sangat erat dari belakang. Kecupan-kecupan kecil mendarat di bahu dan leher Laras yang memejamkan mata kuat-kuat, merasakan gelenyaran aneh di tubuhnya.
"Geli ... ih, bisa diam gak?" gumam Laras dengan masih di posisi yang sama.
"Tapi, suka, kan?" bisik Ibra sambil menyeringai dan terus menggencarkan kecupan nakalnya.
"Iih ..." gumam Laras membalikkan badan. Terlentang dan menarik selimut sampai leher.
"Apa yang ih? seandanya ... kamu tidak selamat, apa kamu bisa bayangakan. Apa yang akan terjadi padamu?" tanya Ibra sambil mengelus pipi Laras.
Laras menggerakakan netra matanya pada Ibra lalu ke langit-langi, seketika ia meremang. Ngeri bila membayangkan itu, Laras bergidik dan memukul bahu Ibra dengan tangan kanannya. "Emangnya Abang mau aku jadi korban mereka ha? sembarangan! suruh aku membayangkan nya segala."
Ibra menangkap tangan Laras lalu di ciumnya. "Nggak sayang, gak rela sama sekali, makanya jangan suka pergi sendiri, atau kalau pergi hati-hati," tutur Ibra sangat lembut di telinga Laras. Kemudian memposisikan tubuhnya memeluk Laras.
Netra mata Laras bergerak melihat kedua netra mata Ibra. Dengan tatapan yang amat dalam, Laras menggigit bibir bawahnya. Bergidik dan memejamkan mata sambil menggeleng, tidak sanggup membayangkan itu terjadi menimpanya.
Seketika Laras membulatkan matanya ketika merasakan ada benda lembab menempel di ***** nya. Makin lama makin dalam, ******* dan ******** benda kenyal dan lembut itu. Laras berusaha menahan napasnya yang mulai memburu dan tidak mengeluarkan suara apa pun.
Namun ia tak sanggup menahannya, ketika tangan Ibra menyusup di balik selimut. Dan bermain-main di tempat paforitnya itu, ******* dan ******** dengan kuat, sehingga keluar suara aneh dari bibir Laras. Suara dimana Ibra semakin mendamba.
"Boleh ya?" suara Ibra setengah berbisik.
"Tadi siang, sudah," sahut Laras sangat lirih.
Ibra membuang napas kesal. "Itu, kan tadi sayang. Belum sekarang." Lesu.
Laras jadi gak tega, lagian apa salahnya nikmati malam ini sampai puas. Besok belum tentu, dan itu sudah pasti. Dia akan melewati waktu bersama istri nya yang lain.
Tangan Laras memebelai rambut Ibra yang membenamkan wajahnya di bantal penuh kecewa. Biasa nya kalau sedang ingin, biarpun Laras menolak, Ibra gak perduli. Main paksa aja nanti juga Laras mau, tapi setelah Laras hamil. Dia bilang gak mau, ia gak berani paksa.
Ibra mengangkat kepalanya. Menoleh Laras yang menatap sendu. Ia tersenyum senang dan tidak membuang waktu lagi langsung saja masuk ring pertandingan, yang sedari tadi ia nantikan.
Setelah melewati waktu yang cukup panjang namun tetap dalam ke hati-hatian. Jangan sampai mengganggu kehamilan sang istri, Ibra sangat kelelahan selepas menikmati ritual yang selalu ia dambakan. Menggerakan kedua netra matanya melihat sang istri yang terlihat kecewa.
"Kenapa?" dengan nada lembut dan mengeluskan ibu jari ke pipi sang istri.
"Ngggak." Sahut Laras memunggungi Ibra.
Ibra memposisikan dirinya memeluk Laras dari belakang ....
****
__ADS_1
Hi ... apa kabar hari ini ... semoga baik-baik saja, ayo mana like dan dll nya. Makasih ya masih setia menunggu up Laras & Ibra.