
"Aku, harus bisa mengambilnya, aku semangat. Pantang menyerah, demi anak dan istri ku," sekarang tak berani lagi melihat ke bawah. Pandangannya hanya tertuju pada kelapa muda.
Dengan perlahan tapi pasti, ia terus menggerakkan tubuhnya agar sampai puncak. "Sayang, ternyata tidak gampang ya? untuk mendapatkan kamu, ngidamnya saja tidak segampang membuang air **** ku," gumam Ibra sambil terus merangkak naik.
"Apalagi wanita yang mengandung dan melahirkannya? besar benar pengorbanan mu wahai wanita."
Tidak terasa, akhirnya ia sampai di puncak. Sehingga tangan Ibra leluasa memetiknya, Ibra mengambil dua buah kelapa. Ia lempar ke bawah tentunya melihat-lihat lebih dulu agar tidak kena kepala orang.
Huuh ... Ibra menghembuskan napas yang begitu panjang. Merasa sangat lega. "Akhirnya ... dapat juga. Tapi, gimana turunnya nih? kok aku jadi bingung. Mundur apa maju ya?" menggaruk kepala yang tidak gatal itu.
"Bang, turunnya gimana? mundur atau gimana sih? apa terbang aja kali ya?" Teriak Ibra pada orang yang di bawah sana.
"Mundur aja, mundur ... hati-hati," balas teriak orang-orang di bawah.
Ibra memejamkan matanya kuat-kuat sambil memundurkan tubuhnya supaya turun. "Aw sakit ... sialan benda pusaka ku ke tekan." gerutu Ibra dan membuka matanya.
Terus ... saja dia mundur sampai tinggal setengah jalan lagi. Terdiam sejenak untuk mengumpulkan tenaganya.
Laras, yang duduk menunggu. Terus saja matanya mengamati gerakan Ibra dari jauh. Dengan hati terus berdoa semoga suaminya selamat sampai turun lagi. "Ya, Allah ... lindungi dia, jangan sampai terjadi apapun padanya."
Kecemasan nampak di wajahnya Laras, dan kedua netra mata Laras terus perhatikan Ibra yang jauh di sana. Sampai akhirnya mata Laras mendapati Ibra sudah mulai turun dan berada di seperempatnya pohon kelapa.
Dari pada terus menunggu di sana, Laras memutuskan berdiri dan menemuinya di sana. Laras mengayunkan langkah kakinya, ke tempat Ibra memanjat pohon kelapa.
Saat ini Ibra sudah menapakkan kakinya di tanah dengan lutut yang bergetar. Keringat bercucuran, rasa was-was yang menyelimuti hatinya berakhir sudah, ia sudah selamat dan berada di bawah lagi tanpa kurang apa pun.
Ibra langsung, membaringkan badan, terlentang di bawah pohon kelapa, memejamkan matanya, merasakan lelah di tubuh. Yang tepatnya bukan lelah tapi was-was, rasa ketakutan. Cemas dan sebagainya. Ketika masih berada di atas pohon.
Langkah Laras sampai di tempat, mendapati Ibra yang tergeletak di tanah. Langsung aja mendekati dengan wajah cemas. Ia berlutut di dekat tubuh Ibra. "Abang?" suara Laras bergetar.
Namun mata Ibra tetap terpejam. Seakan tidak mendengar suara cemasnya Laras. "A-Abang, bangun?" suara Laras semakin bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca, perlahan, tangan Laras menepuk pipi Ibra. "Ba-bangun ... Abang bangun, jangan buat aku cemas," Laras terus di bikin cemas.
Orang-orang bengong melihat Ibra terbaring, mereka pikir Ibra baik-baik saja kok barusan juga, gak mungkin ke napa-napa.
Laras menempelkan jarinya depan hidung Ibra. Terus menempelkan pipinya di dada Ibra untuk mendengar detak jantungnya. Kemudian Laras Bangkit lagi dan lagi-lagi menepuk pipi Ibra. "Bangun, jangan main-main. Aku gak suka, Abang bangun," Lirih Laras sambil menyeka air mata yang berjatuhan.
Namun Ibra tetap seperti semula. Kaku tak bergerak sama sekali, kekalutan Laras semakin menjadi. Laras mengedarkan pandangan pada orang-orang yang di sana. "Tolong, suami saya, tolong dia?" Suaranya sangat lirih dan tenggorokannya sudah dipenuhi rasa sesak tangisan.
Mereka kebingungan, harus berbuat apa, mereka beranggapan Ibra tidak ke napa-napa, yakin.
Laras memeluk tubuh Ibra, dan tangisnya pecah di dada Ibra. Ia menangis tersedu sambil terus bergumam. "Abang ... bukannya sudah janji, akan menjaga ku? aku tu ... gak serius nyuruh kamu manjat, kan tadi juga aku sudah bilang gak usah, Abang gak akan membiarkan anak kita yatim, kan? Bangun ..." hik hik hik.
Tiba-tiba, tangan Ibra membelai rambut Laras membuat Laras terkesiap. Mendongak melihat Ibra yang memicingkan matanya melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa nangis? takut ya kalau aku ke napa-napa." Ibra menyeringai dan memeluk pundak Laras.
Setelah sadar, kalau Ibra baik-baik saja. Laras bangun, menjauh dari dada Ibra. Duduk sambil merapikan rambutnya, serta mengusap pipinya yang basah.
Ibra akhirnya tertawa puas, yang ingin tertawa sedari tadi, merasa lucu dengan tingkah Laras yang terus membangunkan dan menangis dalam peluknya. "Kamu, kenapa sayang? takut kehilangan aku ya?" Ibra duduk dekat Laras yang membuang muka.
Orang-orang pun menjauh, mereka merasa lega setelah Ibra bangun.
Ha ha ha ... "Kok diam sayang?" mencolek dagu Laras. Namun Laras tepis tidak suka.
"Nggak lucu!" ketus Laras sambil menyeka sisa-sisa air matanya.
"Siapa juga yang ngelucu, Nona ... aku cuma capek aja," kembali membaringkan kembali badan dengan berbantalkan tangan.
Kali ini tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibir Laras.
"Tadi ... aku cemas, takut tubuh ku hilang keseimbangan, kalau terbang begitu saja, terjatuh ke tanah."
Seketika Laras menoleh dengan wajah pucat, membayangkan yang Ibra ucapkan.
"Lutut ku bergetar hebat, bisa saja kalau tangan ini ... terlepas genggaman. Huh ... ini pengalaman pertama ku. Seumur hidup baru kali ini manjat pohon, pohon kelapa lagi, bukan pohon buah yang tingginya cuma 4 atau lima meter. Demi siapa? istri dan anak ku ini," Ibra kembali duduk dan mengusap perut Laras.
Laras hanya menatap lekat wajah lelah Ibra, semua yang Ibra tuturkan. Terbayang jelas di pikiran Laras, membuat dia cemas dan merasa bersalah.
Detik kemudian, Laras menundukkan kepalanya air mata pun deras berjatuhan. dia tidak bisa membayangkan kalau saja sesuatu terjadi pada Ibra, dia sendiri bisa mandiri, bisa hidup berjuang sendiri. Tapi gimana status anaknya kelak? apa harus seperti statusnya juga! yang yatim? bahkan tak beribu.
Kedua bahu Laras bergetar karena tangisnya yang begitu pilu, menangkupkan kedua telapak tangannya. Menutupi wajah yang banjir dengan air mata.
Ibra sangat terkejut. Dan memposisikan dirinya depan Laras. Menarik tangan Laras yang menutup wajahnya. "Sayang, kok nangis sih? aku minta maaf. Kalau sudah menyakiti hatimu?" mengusap pipi Laras yang basah, dan menariknya ke pelukan.
"Sudah, jangan menangis! aku baik-baik saja kok, cuma satu aja yang terasa sakit dan ngilu saat ini." ungkap Ibra sambil mengusap punggung sang istri.
Laras mendongak, seraya berkata. "Apa?" yang nyaris tak terdengar dengan getaran bibirnya.
"Pusaka ku, ke jepit, eh ke tekan. Eh entah apalah namanya? yang jelas sakit dan ngilu." bisik Ibra di telinga Laras.
Laras menarik bibirnya senyum, sedikit memukul dada Ibra sebelah kiri. Kemudian membenamkan kembali wajahnya di dada Ibra.
"Asli, sayang. Bukan bercanda! ngilu nih." Ulang Ibra meyakinkan. Laras cuma merespon dengan gelengan kepala.
Hari sudah begitu terik, keduanya beranjak setelah meminum air kelapa yang penuh perjuangan itu.
"Sudah siang, jam berapa nih? balik yu, mandi. Ih semuanya kotor gitu." Memandangi kondisi Ibra yang kotor, lusuh jauh dari kata rapi dan formal.
__ADS_1
"Oke, sebagai bayaran tadi aku manjat pohon. Aku akan minta di manjakan, dan itu harus. Gak bisa di tolak." Jelas Ibra.
Laras hanya menggerakkan kelopak matanya ke arah Ibra.
"Iya, gak?" tanya Ibra ingin kepastian.
"Emang yang ngidam itu siapa sih?" Laras balik nanya.
"Ya, terserah, maunya aku lah. Lagian gak ada hubungannya juga, aku hanya ingin di manjakan, ya ... anggap saja timpal balik dari yang tadi," sahut Ibra sambil berjalan.
Laras mengikuti langkah Ibra yang lebar itu. "Tunggu ih ..."
Ibra menoleh dan mengulurkan tangannya, yang di sambut oleh Laras dengan senyuman yang mengembang.
"Makan dulu gak?" tanya Ibra sambil menghentikan langkahnya.
"Nggak ah, masih kenyang," timpal Laras menggeleng.
"Ya, sudah. Nanti saja di hotel," sambung Ibra kembali.
Keduanya berjalan. Menuju hotel, setelah berada di hotel, Ibra langsung minta di temani mandi.
"Aku duluan ya ke kamar mandi, sebentar. Mau salat dulu." Langsung mendahului Ibra yang sudah membuka kemejanya.
Ibra duduk di sofa, menunggu Laras selesai.
Beberapa saat kemudian, Laras selesai dari salatnya. Mengambil pakaian kotor Ibra di sofa, melihat Ibra malah sibuk dengan laptopnya. "Katanya mau mandi?"
"Bentar lagi," sahutnya sambil tetap fokus ke layar laptop.
"Aish ... tadi minta mandi, sekarang malah sibuk dengan laptop," Laras ngedumel.
"Bentar sayang ..." tanpa menoleh Laras.
Laras masuk kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Berendam di bahthub dengan air dingin. "Huh ... seger nya!" memejamkan mata sejenak, terbayang kejadian tadi, dimana Ibra tergeletak kaku, membuat dada Laras kembali berdebar-debar, perasaannya bergemuruh kuat. "Aku tidak bisa membayangkan lagi, bisa-bisa. Aku menjadi orang yang paling di benci oleh keluarga Malik Ibrahim."
Ritual mandi Laras pun selesai, mengenakan jubah handuk yang tersedia di sana.
Blak!
Laras membuka pintu, dan Ibra sudah berdiri depan pintu dengan bertelanjang dada, mengedipkan mata nakalnya ....
****
__ADS_1
Apa kabar reader ku semua? semoga ada dalam lindungan yang maha kuasa selalu ya. Terima kasih banyak masih menjadi pembaca setiaku.