Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Pengertian


__ADS_3

Sepersekian waktu. Laras bangun mengecek keadaan baby boy yang cuma menggeser posisi tidurnya. Melirik waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.


"Nih anak, nyenyak banget bobo nya, jagoan papi ini." Gumam Laras sambil membenarkan selimut baby boy.


Laras berniat turun. Mau ke kamar mandi. Namun tangannya ada yang menarik, rupanya Ibra pun terbangun.


"Bobo lagi sayang. Baby kita sangat pengertian kalau papi dan mammy nya sedang melepas rindu." Melingkarkan tangannya si purut Laras yang terbungkus selimut sampai di bawah ketiak.


Bibir Laras melukiskan senyuman dan mengacak t


rambut suaminya gemas. "Hem ... itu sih maunya Abang."


"Emang, kamu gak mau apa? bukannya dari tadi kamu yang menggoda ku? aku kan maunya melakukan itu nanti, Di Bali. Bukan di sini," ucap Ibra menempelkan dagu di ceruk leher Laras.


Laras berusaha menoleh. "Apaan? siapa yang menggoda! enak saja. Membalikan fakta, kamu tuh nyosor mulu." Ketus Laras sembari tersenyum tipis.


"Ha ha ha ... nyosor? bebek kali ah," elak Ibra, lalu memberikan kecupan kecil di beberapa tempat sekitar ceruk leher dan bahu bagian depan.


Terus saja ia melakukannya. Sehingga tanpa sadar Laras. mengeluarkan de***** kecil yang terdengar indah di telinga Ibra, sehingga Ibra semakin terbakar gairahnya. Jantung yang berdegup lebih dari normal dan napas yang kian memburu, darah panas yang mengalir di tubuh keduanya menjadi pertanda kalau mereka tengah naik lagi hasrat bercinta nya.


Perlahan tapi pasti. Tangan Ibra menarik tubuh sang istri agar berbaring kembali dengan posisi berada di bawahnya.


"Ea ..." suara baby boy sembari menggerakkan tangannya.


Membuat keduanya sontak menoleh. Namun anak itu malah diam kembali dan tampak nyenyak.


Hening!


Sesaat kemudian mereka saling tatap dengan bibir tertarik membentuk senyuman. Ibra menyatukan bibirnya dengan milik sang istri. Perlahan ******* nya dengan mesra, penuh kehangatan dan birahi yang meluap-luap. Dengan posisi yang sudah pas, Ibra melakukan kewajibannya sebagai suami. Laras pasrah dan juga sangat menikmati. Walau dalam hati merasa was-was takut baby boy bangun di waktu yang tidak tepat.


Untunglah. Sampai ritual Ibra dan Laras berakhir yang ke sekian kalinya, anak itu masih saja tidur nyenyak walaupun sesekali bersuara menandakan ia ada.


Ibra mengecup kening Laras berkali-kali sebagai ucapan terima kasih. Kali ini ia benar-benar merasa puas, sungguh merasa lega dan ringan. Kepala pun yang biasanya terasa berat menjadi sangat nyaman.


"Makasih sayang. Kau sudah buat ku happy, banget-banget." Bisik Ibra. Mengecup lagi bibir sang istri dengan durasi yang cukup lama.


Lalu melepaskannya dan mengusap sangat lembut dengan jarinya. "Capek kah sayang?"


Laras menanggapinya dengan anggukan, memang benar ia merasa sangat capek, lelah. Badan berasa remuk. Tulang-tulang terasa sakit banget. Mungkin akibat lama tidak melakukannya kali, yang jelas bangun pun seolah tak sanggup.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau sayang capek. Berendam yu dengan air hangat?" ajak Ibra bangun dan duduk.


Laras hanya menatap sayu. Sungguh ia malas bangun, seluruh tubuhnya terasa sakit. Jadi bingung, gimana kalau baby boy bangun. Gimana dengan acara besok? yang tidak mungkin ia undur lagi. Pikirannya terus ke mana-mana sehingga tak menyadari dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang, berada dalam pangkuan sang suami.


"Eeh, apa-apaan nih?" Laras terkesiap dan mengalungkan tangan di pundak Ibra yang terus berjalan membawanya ke kamar mandi.


Sesampainya di kamar mandi, laras diturunkan langsung di dalam bahthub lantas di isi dengan air hangat, Laras tertawa geli setelah menyadari sang suami jalan ke sana ke mari dengan tubuh polos. Membuat yang di depan menggantung terekspos bebas bergelayutan.


Mulanya Ibra bengong melihat istrinya tertawa geli. Namun pada akhirnya ia pun menyadari, lalu melihat tubuh bagian bawahnya yang ada sesuatu menggantung. Tapi Ibra dengan percaya diri, terus saja berjalan sampai ia pun masuk ke dalam air hangat dan berendam berdua.


Saling menggosokkan sabun ke tubuh satu sama lain bergantian. Juga shampo ke kepala bergantian, sesekali bercanda saling siram.


"Jangan lama-lama, nanti baby boy bangun." Gumam Laras.


Ibra melirik pintu kamar yang terbuka lebar. Sengaja tidak di kunci agar kalau baby boy bangun ketahuan. "Masih bobo sayang, dia. Pengertian banget baby boy." Tersenyum bahagia.


"Iya, soleh nya anak Mammy." Timpal Laras sambil menoleh ke arah kamar.


"Anak Papi juga." Ibra tak mau kalah sambil menjepit hidung Laras yang bangir itu.


"Ih, suka amat jepit hidung orang," jari Laras membalas dan menjepit hidung Ibra.


Setelah beberapa saat, mereka menyudahi ritual mandinya. Dan Laras lebih terburu-buru. Sebab ia sudah punya filing kalau baby boy akan segera bangun. Benar saja, baru aja menyiapkan pakaian ganti buat Ibra. Baby boy sudah bagun dan suaranya kencang bergema ke seluruh ruangan kamar itu.


"Iya, sayang. Mammy datang, baby bangun ya, lapar ya sayang?" Laras langsung menggendong dan membawanya ke tempat tidur mereka.


Putaran jam dinding sudah menunjukkan pukul 03 dini hari.


"Masya Allah ... nyenyak banget kamu Nak, padahal kamu baru sunat loh. Kuat banget kamu Nak." Laras mencium kening baby boy berkali.


Ibra, duduk di dekat Laras dengan masih mengenakan handuk. "Baby Satria kuat ya Mam? sholeh nya Papi haus ya. Bobonya nyenyak banget." Mengelus pipi sang baby.


"Segera pakai baju sayang ... nanti masuk angin, dingin juga ih." Laras menoleh suaminya yang betah bertelanjang dada.


Ibra malah tersenyum bahagia. Mendengar panggilan sayang dari Laras yang termasuk jarang-jarang. "Iya, sayang ku."


Ibra beranjak dari duduknya semula. Mengambil pakaian nya yang sudah Laras sediakan di atas kasur. Langsung menurunkan handuknya hingga terlihat polos.


"Ih, Abang ... bisa gak sih gak gitu-gitu amat?" protes Laras sambil membuang wajahnya. "Nggak malu apa di lihatin anak kita."

__ADS_1


Bibir Ibra malah menyeringai, melihat ekspresi sang istri. "Emangnya kenapa? baby boy itu fokus mimi. Gak perduli sama Papinya."


"Aihs! dasar gak punya malu." Gerutu Laras sambil menatap wajah sang putra yang merem melek sambil minum asi.


"Siapa bilang gak punya malu? malu itu telanjang di depan orang banyak. Ini kan cuma di depan istriku, baru di pake lagi." Sambil mencolek dagu Laras gemas.


"Ish-ish, ish ..." ucap Laras sambil menggeleng.


Ibra terduduk kembali di samping sang istri, setelah rapi. Bibirnya menyeringai, seraya berkata. "Kalau mau yu tempur lagi? Abang masih kuat kok. Tenang aja, gak akan tumbang kalau cuma 6 ronde lagi."


"Abang ..." mata Laras mendelik. "Aku yang remuk nih badan. Abang enak-enak aja. Aku yang tersiksa."


"Badannya yang berasa remuk. Kalau perasaannya kan sangat menikmati, iya, kan? iya, kan?" sembari menaik turunkan alisnya.


"Nggak tau ah, males deh." Laras mesem tipis. Matanya beralih mengarah pada baby boy dan membelai kepalanya.


Ibra berjalan mendekati dispenser, tuk mengambil minuman hangat untuk dirinya dan istri dengan gelas yang sama. "Minum sayang." sebelumnya ia teguk setengahnya.


Lalu meminumkan air tersebut ke mulut Laras. "Tambah lagi?"


"Nggak, cukup." Jawab Laras menggeleng pelan.


Setelah menyimpan gelas ke tempatnya. Ibra mengambil dan membuka laptopnya di sofa, sorot matanya tampak sangat serius menatap layar laptopnya.


Laras menoleh sebentar. Lanjut menggantikan popok baby boy. "Huuh ..." membuang napasnya. "Badan ku rasanya remuk nih, sakit." Batin Laras. Sampai subuh menjelang anak itu malah mengajak bundanya bermain.


Di kamar itu hanya Ibra yang tertidur di sofa. Itupun menjelang subuh. Sementara Laras menemani baby Satria bermain. "Bobo lagi sayang. Mau subuh nih, bobo ya. Nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo di gigit nyamuk."


"Oek. Oek, oek."


"Oo ... gak mau di nyanyiin, boleh. sholawat aja ya?"


Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah.


Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah.


"Masya Allah ... baby boy lebih suka dengar sholawatan! ya Allah ... sampai bobo lagi." Gumamnya Laras. Bibirnya tak berhenti tersenyum ....


****

__ADS_1


Reader ku yang baik hati, makasih ya kalian masih setia menunggu up lagi cerita ini. Jangan lupa kunjungi dan Fav "Bukan Suami Harapan" 🙏


__ADS_2