Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Menginginkan


__ADS_3

Mendengar baby boy rewel, Ibra segera masuk kamar. tampak sang istri sedang menggoyang sang putra yang nangis. Laras menoleh ke arah sang suami.


Kemudian Ibra mendekat. "Kenapa rewel sayang ... jagoan Papi. Yu sama Papi." mengambil baby boy dari tangan Laras yang tampak pegal tangannya.


"Cup, cup ... jangan rewel sayang. yang anteng, bobo yang nyenyak ya? lain kali main lagi sama Papi. Oke!" anak itu langsung terdiam memasukan jari ke mulutnya. Netra mata yang bening itu menatap wajah sang ayah.


Laras tersenyum melihat itu, tangannya terasa pegal-pegal. Ibra terus mengabing. Dengan pelang menggoyang nya, sambil membacakan sholawat. Menenangkan memang, sehingga baby boy tidur kembali dengan tenangnya.


"Tuh, kan sayang. Baby boy tenang kalau sama aku, bobo lagi Nih." Ibra melirik sang istri, suaranya pelan. Menunjuk pada baby boy yang mulai tertidur.


Laras menunjukkan senyum bahagianya. "Iya Nanti bobo kan aja." Laras memilih membereskan tempat tidurnya.


Ibra terus menggoyangkan tubuhnya pelan-pelan. Sambil menggendong baby boy, setelah tampak nyenyak. Ia tidurkan di tempatnya. "Bismillah ... bobo sayang, yang nyenyak yang anteng juga."


Netra mata Ibra mengarah ke sang istri yang kini duduk di sofa menonton televisi. Kaki Ibra melangkah mendekatinya lantas berbaring di sofa menempelkan kepalanya di pangkuan Laras.


Tangan Ibra menarik tangan Laras agar terulur membelai rambutnya. "Baby boy sudah aku tidurkan. Kapan aku akan kamu tidurkan?"


Laras menoleh perlahan, membelai rambut sang suami. "Bobo aja, tinggal pejamkan aja kan?"


"Tapi di nina bobo kan dong." Pinta Ibra mendongak.


Jari yang lentik Laras, mengelus pipi Ibra dengan lembut. "Abang?"


"Hem, apa sayang?" Ibra yang sudah memejamkan mata terbuka kembali. Lalu Ibra terbangun, duduk tegak di samping sang istri dan merangkul bahunya erat.


Kini Justru Laras yang menempelkan kepalanya di dada Ibra, yang langsung di sambut dengan elusan di pipi. "Mau makan gak?"


"Mau, tapi makan kamu." Jawab Ibra. Meletakkan dagu di pucuk kepala Laras. Tangan yang satu meraba-raba sesuatu yang empuk menjadikan si empu memejamkan mata di dadanya.


Laras menggelinjang geli tapi tapi ketagihan. Dia kembali terdiam menikmati sentuhan lembut dari sang suami.


Ibra menyeringai melihat melihat sang istri ke enakan. Perlahan menautkan bibir keduanya penuh cinta. Dengan perlahan bibir Ibra bergerak menyapu setiap inci bibir Laras. Kemudian bergerak turun ke leher lantas turun lagi ke bawah, naik lagi menelusuri leher jenjang sang istri. Sebentar kegiatan terhenti. Ibra menatap kedya mata Laras begitu dalam dan mulai berkabut gairah yang rasanya tak mampu lagi ia tahan.

__ADS_1


Tangan nya menarik piyama Laras ke samping. Membuat bukit nya terekspos sempurna di depan mata Ibra. Tak ingin membuang kesempatan lagi ia langsung melahap sesuatu yang siap di depan matanya itu. I***** nya begitu kuat membuat keluar asi nya. Masuk ke mulut Ibra lalu ke perutnya.


Tangannya menjamah yang ada terus bergantian. Begitupun mulutnya melahap dengan sangat lembut, membuat Laras merasakan bagai ada sengatan listrik di bawah sana dan menjalar ke seluruh tubuhnya. Jemari Laras meremas rambut Ibra dan menarik, membenamkan wajah sang suami diantara kedua bukitnya.


Ibra terus membuat sang istri terbuai dengan sentuhan-sentuhan kecilnya yang mengairahkan itu. Tubuh Laras sesekali menggelinjang nikmat, segera Ibra mengangkat tubuh Laras agar tiduran di atas sofa.


Kini Ibra lah yang berada di atas tubuh Laras, mengungkung dan terus mencumbu tiada henti. Sepertinya malam ini jadi buka puasa, di sebabkan ia tak mampu lagi menahan diri.


Sejenak kedua mata mereka saling tatap mesra. Jari Ibra menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah sang istri, lalu mengarahkan pandangan matanya pada keindahan yang ada di depan mata.


Tangan Laras melingkar sempurna di pundak Ibra. Sesekali suara kecil lolos dari bibir Laras, membuat Ibra bertambah semangat untuk melanjutkan aktifitasnya. Hasratnya semakin memuncak.


"Aku, benar-benar menginginkan mu sayang." Ibra membisikan sesuatu.


Suara bisikan Ibra berasa angin surga yang membuat jiwanya melayang tinggi, Laras terhanyut dengan sentuhan dan bisikan kata cinta dari sang suami. Ia memejamkan mata dalam buaian cinta.


"Aku mencintai mu. Aku menginginkan mu malam ini." Lagi-lagi Ibra berbisik, kemudian kembali mendaratkan serangan-serangan kecil namun dahsyat di rasakan keduanya.


Ibra tersenyum lebar mendengar ucapan sang istri, Kini ia mulai bersiap untuk bertempur yang sesungguhnya, setelah sebulan lebih berpuasa dan menahan diri untuk melakukan nya.


Ketika mereka berada di tengah jalan dan menikmati keindahan yang ada, terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


Tok ....


Tok ....


Tok ....


"Sayang ... kok gak makan malam?" suara bu Rahma yang memekik dari balik pintu.


Ibra dan Laras sangat terkejut. Sejenak menghentikan ritualnya, namun tak sedikitpun ada niat Ibra tuk melepasnya. Laras sempat mau bangun dan minta di lepas, takut sang mama mertua masuk. Mana di sofa lagi. Jauh dari selimut.


"Pintunya aku kunci." Bisik Ibra sambil menempelkan bibirnya di bibir Laras. Agar Laras tak menjawab panggilan sang bunda.

__ADS_1


"Sayang ... apa kalian sudah tidur?" tanya bu Rahma lagi.


Namun tak sepatah kata pun yang keluar dari mulut keduanya yang merasa tanggung, derap langkah bu Rahma terdengar semakin menjauh. Setelah tidak terdengar lagi, keduanya merasa lega dan Ibra melanjutkan ritual yang barusan tertunda. Ibra semakin semangat tuk melakukannya kembali.


"Pelan ...."


Ibra tak segera mengindahkan ucapan sang Istri. Melainkan semakin erotis melakukannya. Lagi-lagi suara lenguhan lolos dari bibir sang istri. Peluh keduanya sudah membanjiri sekujur tubuhnya mereka. Hingga akhirnya. Tubuh mereka menegang dan bergetar hebat pertanda sudah mendapatkan puncaknya.


"Huuh ..." Ibra segera melepaskan pisang yang sudah mulai mengecil. Membaringkan dirinya di dekat sang istri, wajahnya sangat merona bahagia. Lantas memeluk tubuhnya sang pujaan hati sangat erat.


"Malu," gumam Laras.


"Malu kenapa?" balas Ibra heran.


"Malu gak ada selimut." Tangan Laras menutup pisang Ibra yang menunduk dengan bantal sofa.


Ibra tertawa terkekeh, melihat istrinya yang menempelkan bantal sofa di atas sesuatu milik nya. Detik kemudian Ibra bangun dan turun, tanpa aba-aba. Ia menggendong tubuh sang istri dengan ringannya, di bawa ke tempat tidur.


Di baringkan dengan perlahan.Di susul oleh dirinya. Berbaring di samping Laras, mendekat dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Laras. Lantas saling berpelukan mesra. "Bobo sayang, dah malam. Nanti keburu baby boy bangun." Suara Ibra terdengar lembut. Tidak lupa menarik selimutnya supaya menutup kedua tubuh mereka.


"Kalau bangun, kamu aja yang menjaganya. Abang kan sekarang lebih lihai." Gumam Laras yang berada di dadanya Ibra.


"Iya-iya, sekarang bobo aja dulu sayang ... Aku capek akibat bertempur barusan sayang." Timpal Ibra. "Sakit gak?"


"Hem, sakit sih ... tapi masih bisa diatasi kok," sahut Laras dengan mata terpejam.


"Makasih sayang, aku bahagia banget." Ibra semakin mengeratkan pelukannya penuh kasih.


Tidak butuh waktu lama, keduanya pun. Memejamkan mata, memasuki alam mimpinya masing-masing ....


****


Hi ... semoga kabar kalian baik semua ya! dukung terus semua karya ku. Semoga suka.

__ADS_1


__ADS_2