Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Salam dari Jodi


__ADS_3

"Dari siapa?" tanya Ibra menatap lekat.


"Sudah ku bilang dari bu panti. Masih nanya lagi."


"Iya, mana ku lihat?" pinta Ibra.


"Aduh gimana nih, aku gak bisa bohong, kalau dia minta lihat, isi chat nya, kan. Salam dari Jodi," batin Laras namun perlahan memperlihatkan isi chat dari bu panti.


Ibra melotot melihat chat yang ada di ponsel Laras. "Nak, ada salam dari Jodi." Ibra membacakan chat dari bu panti.


Ibra, semakin terbakar cemburu, bisa-bisanya bu panti seperti itu. "Bu panti, kan sudah tahu kamu itu istri orang." Gerutu Ibra.


Laras terdiam. Tidak bisa menjawab, merasa memang, mungkin bu panti juga salah. "Ya, sudah aku mau makan dulu."


"Ya, sudah, bilang sama Jodi mu itu. Bahwa dirimu sudah sudah bersuami," tegas Ibra, kemudian mematikan sambungan VC nya.


"Aish ... main matikan saja, marah apa?" Laras kembali mengambil ponsel lamanya, lalu menelepon bu panti, ia khawatir kalau nanti keterusan seperti itu. Bagaimanapun. Laras harus menjaga hati Ibra sebagai suami.


Setelah tersambung. "Halo, Assalamu'alaikum ... Bu? bisa aku bicara sebentar!"


"Iya, Wa'alaikumus salam ... ada apa La? oya tadi Jodi titip salam," kata bu panti.


"Bu, maaf banget, laki-laki siapapun kalau ada yang titip salam atau pesan, tolong ... jangan disampaikan ke Laras, apalagi lewat ponsel. Aku gak enak sama suami ku, Bu," ujar Laras lembut.


"Oh, iya, Ibu minta maaf ya, La ... Ibu khilaf. Sekali lagi maaf ya sayang?" bu panti merasa bersalah.


"Nggak pa-pa Bu, yang sudah ya sudah aja. Aku cuma harap lain kali gak usah bilang, gak enak sama suami aku," sambung Laras.


"Iya, Ibu ngerti, ya ... udah dulu ya? Ibu lagi menyiapkan makan."


"Makasih, Bu. Sekali lagi maaf banget sudah ganggu waktunya." Laras merasa tidak enak.


"Nggak pa-pa. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikumus salam." Laras menutup teleponnya.


Ia menghela napas dalam-dalam. Kemudian keluar dari kamar menuju meja makan, baru menutup pintu, Susi sudah menjemput.


"Eh ... kebetulan Nyonya sudah keluar. Nyonya belum makan dari siang." Susi menatap ke arah Laras.


"Iya, makanya sekarang aku mau makan, lapar nih." Laras mengusap perutnya yang sudah minta makan.


"Ayo, Nyonya." Susi mengikuti langkah Laras dari belakang.


"Eh ... Nyonya Laras baru datang?" suara Yulia yang tiba-tiba muncul di sana.


"Kak Yulia? kapan datang, apa kabar." Dengan senyuman ramah Laras.


"Baik, aku ke sini ... ada yang ingin aku bicarakan dengan suami mu, ada?" Yulia celingukan.

__ADS_1


"Tuan, sedang tidak ada di mension Nyonya Yulia, dia sedang ada urusan di luar Negeri. Kenapa tidak telepon saja langsung?" Susi menjawab pertanyaan Yulia.


"Saya tidak bertanya padamu, lagian saya tidak bisa menghubungi dia, nomor saya di blok." Ketus Yulia.


"Tapi ... yang di katakan Susi benar kak, Abang sedang ada di luar Negeri saat ini. apa ada pesan? nanti aku sampaikan. Oya kita duduk di sana, biar enak ngobrolnya." Laras berjalan menuju sofa.


"Tidak perlu, biar saya nanti balik lagi lain kali," sahut Yulia angkuh. Kemudian pergi meninggalkan Laras dan Susi yang tadinya mau duduk di sofa.


"Biar saya nanti balik lagi!" Susi mengulang kata-kata Yulia sambil bibir mencibir.


"Susi ... jangan begitu ah, pamali."


"He ... he ... he ... habis, dianya gitu. Bikin dedek." Susi nyengir.


Tiba-tiba Yulia membalikan badannya dan kembali mendekati Laras, dengan tatapan tidak suka. "Oya, kamu jangan bangga dulu deh Laras. Kamu di sini itu, hanya untuk mengandung saja. Nanti, setelah melahirkan. Kamu di usir dari mension ini." Menatap tajam pada Laras.


Dengan nada tenang. Laras membalas tatapan Yulia. "Terserah Kak Yulia mau bilang apa, yang jelas apa yang kamu maksud itu, tidak akan terbukti, aku pastikan itu. Dan sebelum aku di usir dari sini, aku akan keluar lebih dulu dari sini. Dan sebutan cuma mengandung, itu ... tidak ada lagi. Sebab, aku akan merawat sendiri anak ku ini."


Tatapan Yulia semakin tajam. Tatapan yang penuh dengan kebencian. "Hem, kamu PD amat ya? apa kau tidak tahu, kalau cinta Ibra hanya untuk Dian seorang. Aku lebih dulu, jadi istrinya tapi aku gak bisa mendapatkan cintanya, karena hanya Dian yang dia cintai. Jadi ... baiknya jangan bermimpi ataupun ke PD an segala. Mereka hanya ingin anak mu saja," ucap Yulia sambil memutar tubuhnya kemudian bergegas pergi. Meninggalkan tempat tersebut.


Mendengar ucapan Yulia, tubuh Laras lemas bagaikan kapuk, turun duduk bersimpuh di lantai. Air matanya jatuh, sakit yang di rasakan hatinya kali ini membuat ia tak mampu membendung air mata yang langsung berjatuhan.


Mungkin benar, cinta Ibra hanya untuk Dian seorang. sikap manis Ibra padanya hanyalah sikap seorang suami yang bertanggung jawab. Mungkin benar mereka hanya ingin anak saja darinya, tidak pernah sedikitpun memerlukan kehadirannya. Kehadiran ia disini hanya untuk mengandung, setelah itu. Peran dia sebagai ibu, tidak diperlukan lagi.


Tangis Laras semakin pilu. Air matanya kian deras membasahi pipi, dadanya terasa sesak menyiksa batin. Kedua telapak tangannya menutupi wajah yang basah. Bahunya bergoyang akibat tangis yang terisak-isak. Susi berjongkok, mengusap pundak Laras. Mata Susi pun berkaca-kaca, tidak sanggup melihat majikannya menangis sedih.


"Sudah, Nyonya, jangan menangis. Gak usah di dengarkan, dia itu iri sama Nyonya. Susi yakin kalau tuan itu mencintai Nyonya. Aku yakin seratus %, seribu% malah, Susi yakin. Dia itu iri sama Nyonya muda yang langsung dapat perhatian dari tuan, bahkan mertua juga sangat sayang sama Nyonya muda. Jangan mau kalah, tunjukan kalau omongan si ular itu tidak benar." Ujar Susi panjang lebar sambil mengusap sudut matanya yang basah juga.


Laras masih saja terisak, namun berangsur tenang. Lama-lama Laras pun berhenti menangis. Susi memberikan segelas air putih pada Laras. Laras pun segera meminumnya, Susi kembali mengambil gelas tersebut dari tangan Laras.


"Anda belum makan dari siang, baiknya makan dulu Nyonya." lirih bu Rika.


"Aku gak boleh kena omongan orang, aku harus fokus pada tujuan atau tekad ku. Aku harus dapat hak ku sebagai istri dan ibu dari anak ku, tidak ada yang bisa memisahkan kami berdua. Walau ayahnya sekalipun." Batin Laras sambil bengong, pandangan nya kosong jauh ke depan.


"Nyonya?" panggil bu Rika.


"Ha? iya bu Rika," sahut Laras menoleh sembari mengusap pipinya yang masih basah.


Susi mengambilkan tisu buat majikannya, Laras. Tangan Laras mengambil tisu ia pakai mengusap, mengeringkan wajahnya. "Makasih Sus."


Susi mengangguk dan menoleh bu Rika yang berada di sebelah Laras.


"Nyonya mau makannya di meja makan atau di kamar? biar kami siapkan." tanya bu Rika.


Laras menghela napas panjang. "Aku makan di meja saja, Bu ... jangan merepotkan." Sembari senyum getir.


"Oh, tidak apa-apa sih, kalau seandainya mau makan di kamar juga, ya ... sudah yo makan dulu?" bu Rika membantu Laras berdiri lagi dan menuntunnya menuju meja makan.


Susi menarik kursi untuk Laras duduk. Kemudian menyiapkan masakan kesukaan Laras, agar dia mau makan. Segelas susu bumil pun sudah disediakan dekat segelas air putih.

__ADS_1


Meskipun tak berselera makan, Laras berusaha untuk makan. Apalagi tadi siang juga tidak sempat makan. Jadi mau tidak mau harus makan.


"Nyonya, tidak boleh stres, nanti bisa mengganggu kandungannya Nyonya, jangan dengar kata orang yang iri, jalani saja apa adanya dan yakin kalau Nyonya akan mendapat yang terbaik, Nyonya muda orang baik dan banyak orang yang sangat sayang pada Nyonya, jadi jangan dengar omongan orang iri sama Nyonya. Cuma buang waktu," ujar bu Rika seolah tahu yang Laras alami.


Susi mengangguk setuju dengan omongan bu Rika itu. "Bener tuh, Nyonya. Sekarang jangan banyak pikiran, yang harus di banyakin itu makan saja biar sehat, iya, kan Bu Rika?" menoleh bu Rika yang menanggapi dengan anggukan.


Laras tersenyum, ia bersyukur juga di kelilingi orang-orang yang baik dan sayang sama dirinya. "Terima kasih semuanya?"


"Sama-sama Nyonya muda. Biarlah yang jahat sama Nyonya akan menerima balasannya."


"Oya, Kak Mery mana sudah makan?" Laras jadi ingat sama Mery yang malam ini tidak ia lihat.


"Dia ... sepertinya tidak pulang tuh," sahut Susi sembari menaikan bahunya.


"Kemana?" tanya Laras lagi penasaran dengan istri Ibra yang satu itu.


"Mana Susi tahu." Lagi-lagi menaik turunkan bahunya.


"Ya, sudah! eh kalian sudah makan belum?" tanya Laras pada asistennya.


"Kami sudah," serempak.


Laras menghabiskan makannya walau sulit, di akhiri degan segelas air putih, dan segelas susu bumil.


"Oya, Nyonya muda. Besok jadwal periksa kandungan." Bu Rika mengingatkan.


"Di RS mana, Bu?" Laras menoleh bu Rika.


"Di mension ini, biar dokter nya yang datang ke mari.


"Oke." Laras mengangguk.


Selesai makan, Laras diantar Susi ke kamarnya. Untuk memastikan nyonya muda nya baik-baik saja sampai berada di kamar.


"Susi pergi dulu ya, Nyonya?" kata Susi berpamitan.


"Iya, Sus, makasih ya," sahut Laras sambil mengulas senyumnya.


"Iya, Nyonya, jangan sedih lagi. Percaya deh, tuan sangat sayang sama Nyonya muda."


"Iya, pergilah ..."


Susi keluar, tidak lupa menutup pintu. Laras berbaring sambil menyalakan televisi.


Kring-kring!


Kring-kring!


Ponsel Laras berbunyi, namun Laras hanya menatap ponsel yang ada di atas meja. Tanpa mau mengambil atau mengangkatnya ....

__ADS_1


****


Assalamu'alaikum ... reader ku semua ... selamat membaca dan semoga suka! tak bosan aku ucapkan terima kasih banyak. Pada kalian yang sudah menunggu novel ini up🙏


__ADS_2