Surat Kontrak Menikah

Surat Kontrak Menikah
Mau ke Semarang


__ADS_3

Laras naik dan duduk dekat Ibra menyandarkan kepalanya di dada sang Suami. Ibra senang kalau Laras lebih berani dan tidak terlalu canggung lagi terhadap dirinya.


Tangan Ibra merengkuh bahunya Laras, dan dicium keningnya. "Sekarang istri aku lebih berani dan manja ya? dan aku sangat senang sekali."


Laras mengangkat kepalanya dan menjauh. "Nggak boleh ya?"


"Loh ... barusan juga aku bilang, aku senang kalau istri ku seperti ini." kembali menarik tubuh Laras, biar rapat dengannya.


Bibir Laras di tarik agar menunjukkan senyumnya. "Em ..." tangan Laras membalas pelukan Ibra yang sangat erat.


"Sayang?" panggil Ibra lirih.


"Hem ... kenapa?" tanya Laras yang betah dengan posisinya.


"Gimana, kalau kita tinggal di mension lagi? di sana akan lebih aman. Lagian di sana ... saat ini kosong juga, Dian pun tak ada."


Laras mendongak. Menatap dalam ke arah Ibra, Laras menggeleng. "Aku gak mau, aku mau di sini aja," ucap Laras dan kembali ke posisi semula.


Tangan Ibra membelai rambut Laras yang bergelombang itu. "Aku, tidak memaksa sayang ... kalau mau. Kalau gak mau ya gak pa-pa."


"Aku, gak pa-pa kok, biar kamu gak setiap hari ke sini juga. Mungkin ... kamu seminggu sekali ke sini nya pun tak apa!" ungkap Laras.


"Kamu, gak pa-pa, tapi aku yang pasti apa-apa!" sambung Ibra dan mengecup kepala Laras.


"Kenapa?" kepala Laras mendongak sekilas, kemudian menundukkan lagi pandangannya.


"Iyalah, sayang ... aku kangen sama kamu. Sehari aja gak ketemu gelisah." Jawab Ibra yang terus membelai rambutnya.


"Bisa vc, kan?" gumam Laras dengan tetap membenamkan wajahnya di dada Ibra.


"Iya, sih ... tapi, kalau vc aja. Gak kuat, sayang." Sambung Ibra, sambil mengeratkan pelukannya.


"Apa yang gak kuat?" sedikit memukul bahu Ibra.


"Masa gak ngerti sih?" timpal Ibra kembali.


"Hem ... di sana juga sama istri, apa yang gak kuat! aneh?" lanjut Laras, tangannya bergerak menari di permukaan leher Ibra seolah memberi sinyal-sinyal.


"Sekarang berani ya," Ibra menggelitik pinggang Laras membuat Laras terus menggeliat geli dan terikikik ketawa.


Ibra menarik dan meringkup tubuh keduanya engan selimut, Laras terus menggelinjang dan membalas gelitikan Ibra.


Setelah keduanya merasa capek, bercanda dan tertawa, akhirnya aktifitas yang mereka lakukan berhenti. Saling bertukar pandangan dengan tatapan lekat di balik selimut.


Hening!


Kemudian, Ibra memposisikan tubuhnya menghadap Laras yang terlentang. Menempelkan bibirnya dengan bibir Laras, yang mengalungkan kedua tangan di punggung Ibra.


Saat ini tubuh Ibra mengungkung tubuh Laras yang pasrah dengan apa yang akan Ibra lakukan terhadap dirinya. Setelah puas bermain di bagian tubuh Laras yang bagian atas, kedua tumpukkan milik Laras pun tak luput dari kenakalan tangan dan mulut Ibra. Perlahan jemarinya menarik tali gaun tidur Laras dan tangan satunya mengelus pipinya, dengan tatapan mendamba.


"Boleh ya?" bisik Ibra tepat dekat telinga Laras. Sehingga hembusan napasnya yang mulai memburu, berhembus ke semua permukaan telinga dan leher Laras. Menjadikannya meremang.


Dengan tatapan sayu dan pasrah. Laras mengangguk pelan, jari-jarinya membuka kancing kimono Ibra satu demi satu. Sampai semuanya terlepas.


Semakin ke sini Laras lebih berani dan tidak terlalu malu-malu lagi di dekat Ibra. Mungkin karena keseringan bersama dan melakukannya, mampu hilangkan rasa canggung. Serta ritual itu sudah menjadi candu bagi mereka.


Malam pun. Semakin dingin, dan mereka semakin larut dengan ritualnya yang penuh kenikmatan tersebut. Pergulatan yang semakin memanas, membuat keringat dingin pun bercucuran di seluruh badan keduanya.


Sesekali suara halus lolos dari bibir Laras, yang menambah Ibra tambah semangat dan bergairah untuk melakukan ritual yang jadi faporit nya.


Satu jam lebih mereka melalukan ritual tersebut, diakhiri dengan tubuh Laras yang bergetar hebat. Di susul oleh Ibra yang melenguh nikmat, hingga tubuh keduanya merasa lelah dan keringat membanjiri kedua tubuh itu.

__ADS_1


Keduanya berbaring di bantal yang sama, lalu Laras meletakkan kepalanya di bahu Ibra. Tangan Ibra merangkul bahu Laras.


"Sayang?" panggil Ibra lembut.


"Hem ..." gumamnya Laras.


"Besok lusa, aku mau ke Semarang. Mau menjemput Dian, dia minta aku jemput."


"Oh, gak pa-pa. Pergi lah." Laras mengangguk pelan.


"Hati-hati di rumah ya?" ucap Ibra sambil mengusap bahu Laras.


"Iya, kamu juga hati-hati. Bawa mobil, kan?" selidik Laras.


"Hem ...."


Hening!


Kerena tak ada sahutan dari Ibra lagi, membuat Laras mendongak. Rupanya kelopak mata Ibra sudah terpejam, mungkin dia kelelahan. Laras menarik bibirnya senyum, kemudian mencium pipi sang suami dengan hangat.


"Em ... makasih sayang ... met bobo. Aku ngantuk." Gumam Ibra tanpa sedikitpun membuka mata, merekatkan pelukannya.


Senyum Laras kian mengembang. Melirik ke arah jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 23.45 wib.


Laras pun memejamkan matanya dan membalas memeluk pinggang Ibra. Untuk menjemput mimpi-mimpi yang indah.


****


Suatu hari, Ibra bersiap untuk ke kantor dan siangnya ke Semarang menjemput Dian yang katanya minta di jemput.


"Aku mau ke kantor dulu, setelah itu langsung ke Semarang. Baik-baik di rumahnya?" mengelus pipi Laras yang sedang memasangkan dasinya.


"Iya, berarti nginep dulu di sana? besoknya baru pulang. Lusa acara empat bulanan," sahut Laras menatap wajah Ibra.


"Baiklah," gumam Laras sambil mengenakan jas nya.


Setelah rapi, Laras langsung di peluk Ibra. "Em ... hari ini gak akan ketemu nih, pasti kangen." Dan menghujaninya dengan ciuman.


Laras hanya diam dan pasrah dengan yang Ibra lakukan. Ia tidak tahu harus bicara apa? dia gak boleh egois. Sebab Ibra bukan hanya suaminya, tapi juga suami orang.


"Tapi, sayang benget. Istriku yang satu ini tidak pernah merindukanku," ucap Ibra lesu.


Laras menjauhkan dirinya dari Ibra, kedua netra matanya menatap kedua mata ibra tanpa terucap satu patah katapun. Kemudian merapikan meja riasnya.


Ingin sekali bilang kalau dirinya juga akan merindukannya, namun lidahnya terasa kelu, kaku untuk mengucapkan itu.


Ibra mengenakan jam tangan sambil berjalan mendekati pintu. Laras menatap punggung Ibra yang lebar itu, setengah berlari ia mengejar dan memeluk Ibra dari belakang.


Langkah Ibra terhenti ketika tubuh Laras menubruk dan memeluknya erat. Kepalanya menoleh ke samping, tangannya mengeratkan tangan Laras yang memeluk perutnya.


Hati Laras bergemuruh. Dan bibirnya tak sanggup berkata-kata, bukan tidak ikhlas Ibra pergi. Dua kata yang ingin ia ucapkan saat ini, namun bibirnya seolah terkunci rapat. Ya itu ... aku kangen.


Kemudian tangan Ibra membuka tangan Laras, lantas memutar badannya agar berhadapan. "Sayang ... apa kau akan buat aku kenyang dengan pelukanmu ini?"


Laras tersipu malu, baru ingat kalau mereka belum sarapan. "He he he ... iya, ya udah kita sarapan."


Habis bicara seperti itu, perut Laras bersuara pertanda cacing di perutnya sudah demo kelaparan.


"Tuh, kan ... perut mu sudah bunyi." Kata Ibra. Lantas menggandeng tangan Laras keluar kamar, menuju meja makan.


Di sana sudah ada orang tua Ibra dan Susi. "Pagi sayang?" sapa bu Rahma.

__ADS_1


"Pagi juga, Mah ..." sahut Laras sembari duduk di kursi yang Ibra sediakan.


"Jadi kamu ke Semarang siang ini?" selidik pak Marwan pada Ibra.


"Jadi, Pa. Titip Laras ya Pa, Ma," ucap Ibra melihat arang tua nya bergantian.


"Iya, tenang saja. Kami akan menjaga Laras, oya gimana soal yang menelor itu? sudah selesai belum?" sambung pak Marwan kembali.


"Sudah, kemarin pelakunya sudah di tangkap. Dan dalang nya biasa saingan bisnis." Kata Ibra sambil meneguk minumnya.


Laras menyuguhkan sarapan buat Ibra. Kemudian Mereka semua melahap sarapannya. Sesekali Ibra menyuapi Laras.


"Syukurlah kalau sudah beres, kan tenang? dengarnya."ujar bu Rahma nimrung di sela-sela makannya.


"Oya, Ib ... besok rumah ini mau dihias dan pasang tenda sampai ke depan. Pokoknya rumah ini akan di sulap menjadi ruangan luas agar menampung banyak tamu." Lanjut bu Rahma kembali.


"Iya, Mah ... gimana baiknya saja," ucap Ibra memasrahkan semuanya pada sang bunda.


"Kamu, mau nginap di Semarang nya?" selidik bu Rahma menatap putranya sangat lekat.


"Maunya sih langsung pulang," jawab Ibra sambil melirik Laras yang juga meliriknya sambil mengunyah. "Tapi lihat situasi aja."


"Emang Dian gak bawa mobil, sampai harus kamu jemput segala? lagian ada pak Barko. Suruh jemput ke sana," ujar bu Rahma kembali.


"Mama ... gak ngerti aja, mungkin Dian ingin romantis-romantisan sama suaminya, pengen berduan--"


"Ohok-ohok ohok," Laras terbatuk-batuk, dengan sigap Ibra memberikan minum air mineral.


Langsung Laras meminumnya. Tenggorokannya terasa gatal.


"Kenapa sayang?" bu Rahma menatap cemas.


"Nggak, nggak Mah ... cuman gatal aja ini tenggorokan." Akunya Laras sambil lagi minum air putih.


"Dian, gak bawa mobil Mah ... lagian pak Barko lagi ada urusan keluarga," jawab Ibra tentang Dian dan supirnya.


"Oh ... gitu. Ya ... kalau begitu hat-hati saja dan cepat pulang. Di sini, kan mau ada acara juga." timpal bu Rahma lagi.


"Iya, akan aku usahakan. Setelah selesai acara barang sehati atau dua, aku akan pergi ke Balikpapan. Ada urusan kerja di sana." Jelas Ibra, lalu menghabiskan makannya sampai tandas.


"Kok baru bilang?" Laras terkesiap mendengarnya, dia baru tahu kalau Ibra mau berangkat ke Balikpapan.


"Iya, sayang ... mudah-mudahan kamu bisa ikut ke sana!" meremas jemari Laras.


Laras tak menjawab. Setelah selesai sarapan, Ibra berdiri dan merapikan kursinya. "Sus, tolong ambilkan tas laptop di kamar.


"Baik Tuan," Susi pergi ke kamar Laras dan Ibra.


"Ma, Pa. Saya pergi dulu." Menyalami kedua tangan orang tua nya.


"Hati-hati sayang jangan ngebut?" pesan sang bunda.


"Assalamua'laikum," Ibra melangkah keluar rumah dengan tas laptop di tangan. Di buntuti oleh sang istri dari samping.


"Wa'alaikum salam ..." kemudian bu Rahma dan Marwan mengikuti langkah Ibra dan Laras ke teras.


Saat ini Ibra berdiri dekat Laras dan merangkul pinggang sang istri sangat erat. "Aku pergi ya?" cuph! mencium kening, pipi dan hidung Laras. "Akan akan merindukan dirimu." Bisik Ibra sangat pelan dan mengelus perut sang istri.


Laras mengangguk. "Iya, hati-hati ya?" dengan seutas senyumnya. Tidak lupa mencium tangan Ibra.


Ibra bersiap untuk memasuki mobil sebelumnya melambaikan tangan pada orang-orang yang ada di teras tersebut ....

__ADS_1


****


Aduh ... bawaannya ngantuk terus nih. Terimakasih reader semua yang telah setia dengan tulisan ini, terus dukung aku ya? mana nih like nya komen juga agar aku tambah semangat lagi.🙏


__ADS_2